Share

BAB 5

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2026-02-05 17:54:32

"Ap-- apa kamu bilang, Mbak?!" getar suara Bi Siti yang tak terima dengan sindiran ibu.

"Selama ini aku tak pernah menuntut banyak pada bapak yang jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku, Sit. Apapun yang kamu minta selalu diturutinya, sementara aku hanya bisa menitikkan air mata. Saat kamu, ibumu dan bapak pergi jalan-jalan ataupun piknik bersama, aku hanya menangis di sudut kamar tanpa bisa menuntut apa-apa. Kepergian ibuku membuat hidupku hancur, namun jauh lebih hancur saat ibumu datang dan merebut cinta bapak sampai kamu terlahir ke dunia. Apakah masih kurang banyak pengorbananku untukmu, sampai akhirnya kamu merebut Mas Ridwan dariku? Seburuk apapun dia adalah bapak dari anak-anakku. Aku bertahan selama ini bukan semata-mata karena cinta, tapi aku hanya tak ingin anakku kehilangan sosok bapaknya. Tapi kenapa kamu hadir lagi di hidupku setelah sekian lama aku berusaha mengikhlaskan masa lalu yang pahit itu?!" Ibu meradang.

Lidahku kelu mendengar pengakuan ibu. Selama ini tak pernah sekalipun ibu menceritakan masa lalunya yang penuh luka. Ibu berusaha menutupinya dan menganggap semua baik-baik saja, apalagi setelah kedua orang tuanya tiada. Namun kini kutahu sakit hati dan kecewanya sedalam itu.

"Tak perlu membahas masa lalu, Mbak. Aku malas mendengarnya. Kamu sengaja menceritakan itu semua agar Mas Ridwan luluh? Agar dia tak tega menyakiti hatimu dan lebih memilihmu dibandingkan aku. Iya kan?! Jangan mimpi, Mbak! Mas Ridwan sudah tak mencintaimu lagi!" sentak Bi Siti tak mau kalah.

Tak tahan melihat ibuku dihina dan disakiti berulang kali, aku buru-buru masuk ke rumah tanpa salam. Kuusap kasar kedua pipiku yang basah. Tiga orang dewasa itu pun menoleh bersamaan. Mereka sama-sama shock melihatku datang tiba-tiba.

"Zizi ...." Ibu berujar lirih. Seperti biasanya, ibu berusaha tenang dan melangkah mendekatiku. Sayangnya aku sudah mendengar semuanya. Aku tak bisa dibohongi lagi dengan ekspresi tenang dan tatap matanya yang teduh itu. 

"Berpisahlah, Bu. Jangan korbankan hati dan hidupmu hanya demi Zizi dan Amy. Sejatinya selama ini kami juga tak pernah merasakan sosok bapak, meskipun dia tinggal di atap yang sama. Zizi dan Amy lebih senang melihat kalian bercer4i. Percayalah, kita akan jauh lebih bahagia tanpanya," ucapku tegas sembari menatap sepasang lelaki dan perempuan tak tahu diri itu.

"Zizi! Jangan ikut campur urusan orang tua. Anak kemarin sore tahu apa soal--

"Bapak benar. Anak kemarin sore sepertiku tahu apa soal hidup. Bukankah selama ini bapak selalu mencukupi kebutuhan kami? Seharusnya kami bersyukur dan bahagia, tak perlu banyak protes apalagi menuntut. Bapak adalah sosok ayah terhebat yang kami miliki. Mana pernah bapak tega membiarkan kami cari duit sendiri untuk biaya sekolah. Bapak selalu mencukupi semua kebutuhan kami tanpa diminta. Bapak tak mungkin rela melihat anak-anaknya keliling kampung menjajakan keripik singkong tiap pulang sekolah dan hari libur tiba. Bapak pasti akan memberikan uang jajan yang cukup untuk anak-anaknya, mengajak mereka jalan-jalan ke alun-alun atau makan makanan lezat di restoran ternama. Mana mungkin bapak membiarkan kedua anaknya makan hanya dengan lauk tempe atau kerupuk seribuan saja. Bapak pasti akan selalu memberikan kasih sayang yang cukup untuk kami, sampai akhirnya kami tahu bagaimana rasanya memiliki sosok bapak yang sempurna. Kami--

Plak!

Detik ini pipiku terasa perih, tapi jauh lebih perih hatiku. Teganya bapak menamparku kembali seperti kemarin bahkan kini seolah dengan sekuat tenaga sampai membuat tubuhku oleng seketika.

"Tutup mulutmu! Bicaramu benar-benar kelewatan, Zi! Sekolah belum lulus saja sudah merasa paling hebat. Mau jadi apa kamu, hah!" sentak bapak sembari melayangkan telapak tangannya kembali.

"Tampar aku saja kalau kamu belum puas! Jangan sakiti anak-anakku. Selama ini mereka sudah cukup menderita memiliki sosok bapak sepertimu!" ucap ibu sembari menarik tubuhku ke belakang. Ibu tak membiarkan bapak menyentuh pipiku kedua kalinya.

"Kamu lihat sendiri bagaimana didikan Mbak Sri kan, Mas? Anak-anakmu itu memang susah diatur. Siapa lagi dalangnya kalau bukan ibunya!" Bi Siti kembali mengompori dan bapak seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Laki-laki itu tak berprinsip dan mengikuti saja semua ucapan selingkuhannya.

"Ceraikan ibuku jika bapak mau menikah dengannya," ucapku cepat.

Bapak melotot, sementara ibu berusaha menenangkanku. Sayangnya aku tak bisa bersikap lembut seperti ibu. Aku berbeda.

"Heh! Kalau ngomong dipikir pakai otak. Sok minta cerai segala, memangnya kamu mau hidup gelandangan kalau bapak menceraikan ibumu?!" Bi Siti menaikkan sebelah bibirnya saat menatapku.

"Lebih baik hidup gelandangan daripada serumah dengan serigala sepertimu. Ibuku juga tak bod0h. Nggak mungkin mau dimadu apalagi dengan saudara senasabnya. Ibuku tahu agama, tak sepertimu yang menjadikan agama hanya sebagai pajangan belaka!"

"Kamu--

Bi Siti melayangkan tangannya ke udara, tapi ibu menatapnya tajam. Kedua wanita itu saling tatap sampai akhirnya Bi Siti kembali menurunkan telapak tangannya.

"Selama ini ibu selalu menyangkal tiap Zizi cerita soal mereka, tapi sekarang ibu melihat sendiri bagaimana hubungan tak wajar bapak dan Bi Siti kan? Ibu nggak boleh diam saja. Ibu harus mengambil sikap," ujarku sambil menatap lekat wajah ibu yang sudah basah oleh air mata.

"Ibu hanya tak menyangka jika mereka benar-benar setega itu," lirihnya tertunduk di lantai.

"Syetan bisa datang kapan saja, Bu. Kalau hidup tak berpegang pada Iman, tentu akan mudah terjerumus godaannya." Aku mendongak, menatap pasangan tak halal itu lagi. Mereka tengah berunding entah apa.

"Sekarang apa maumu? Mau bercerai? Ayo!" ucap bapak tegas sembari menuding wajah ibu dengan telunjuknya.

Ibu kembali beristighfar. Wajahnya menegang. Terlihat kecemasan di wajah menua itu. Ibu masih saja tak percaya jika bapak pasti akan lebih memilih selingkuhannya dibandingkan kami. Ibu masih begitu berharap bapak sadar dan menghentikan sikap konyolnya ini.

"Istighfar, Pak. Ada anak-anak kita," lirih ibu mengiba.

"Kamu lihat sendiri bagaimana sikap mereka. Bukannya mereka bilang sudah besar dan bisa hidup sendiri tanpaku?!" ujar bapak pongah.

"Aku tak peduli, Sri. Aku hanya ingin membahagiakan Siti dan tak rela jika Rudy kembali datang menyakitinya. Kalau kamu mau, ikuti semua kemauanku. Kalau nggak, kita berpisah saja. Keputusanku sudah bulat!" Bapak menghela napas panjang.

Senyum kemenangan Bi Siti terlihat di kedua sudut bibirnya, sementara ibu masih ternganga seolah tak percaya jika pengorbanan dan kesetiaannya selama lebih dari dua puluh tahun ini sia-sia belaka.

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 5

    "Ap-- apa kamu bilang, Mbak?!" getar suara Bi Siti yang tak terima dengan sindiran ibu."Selama ini aku tak pernah menuntut banyak pada bapak yang jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku, Sit. Apapun yang kamu minta selalu diturutinya, sementara aku hanya bisa menitikkan air mata. Saat kamu, ibumu dan bapak pergi jalan-jalan ataupun piknik bersama, aku hanya menangis di sudut kamar tanpa bisa menuntut apa-apa. Kepergian ibuku membuat hidupku hancur, namun jauh lebih hancur saat ibumu datang dan merebut cinta bapak sampai kamu terlahir ke dunia. Apakah masih kurang banyak pengorbananku untukmu, sampai akhirnya kamu merebut Mas Ridwan dariku? Seburuk apapun dia adalah bapak dari anak-anakku. Aku bertahan selama ini bukan semata-mata karena cinta, tapi aku hanya tak ingin anakku kehilangan sosok bapaknya. Tapi kenapa kamu hadir lagi di hidupku setelah sekian lama aku berusaha mengikhlaskan masa lalu yang pahit itu?!" Ibu meradang.Lidahku kelu mendengar pengakuan ibu. Selama ini tak per

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 4

    "Apa yang kamu lakukan, Pak?! Kenapa dia ada di ranjang kita?!" Suara parau ibu terdengar dari luar rumah saat aku dan adikku baru pulang jualan keripik keliling kampung. "Ibu kenapa, Mbak?" lirih Amy begitu cemas dan takut.Aminah teramat ketakutan sampai memelukku erat. Sebenarnya aku pun cemas dan takut, tapi sebagai seorang kakak aku harus terlihat lebih kuat dan berani. Dengan begitu aku berharap bisa sedikit mengurangi ketakutan Amy saat ini. Yang pasti aku tak ingin membuatnya semakin panik jika dia melihat kepanikan yang sama padaku. "Apa yang kalian lakukan?! Katakan!" sentak ibu lagi dengan suara yang berbeda, benar-benar tak seperti biasanya.Tak pernah kudengar suara ibu setinggi ini. Semarah apapun ibu selalu berusaha bicara dengan lembut dan sopan pada bapak, tapi sepertinya kali ini berbeda. Tujuh belas tahun bersamanya, baru kali ini kudengar suaranya meninggi. Apa mungkin ibu sudah melihat sendiri bagaimana hubungan bapak dengan adiknya?"Mbak, aku takut. Ibu kenap

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 3

    "Mbak, boleh menginap semalam di sini? Mas Rudy tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, Mbak. Aku takut dia berbuat onar lagi," ujar Bi Siti dengan mimik memelas."Duduk dulu, Sit," pinta ibu sembari menarik lengan adik senasabnya itu."Tolong ambilkan minum buat Bibi sama Mira, My." Amy mengangguk lalu melangkah tergesa ke dapur. Tak selang lama, dia membawa dua gelas air putih di atas nampan.Kedatangan Bi Siti kali ini benar-benar membuat pikiranku kemana-mana. Biasanya dia tak pernah mau menginap di rumah sederhana kami dengan alasan macam-macam, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda?Mendadak teringat cerita Amy siang tadi soal bapak dan Bi Siti. Apa sekarang Bi Siti sengaja memperlihatkan hubungannya dengan bapak di depan ibu? Sekeji itukah sikap seorang adik yang selama ini selalu disayangi dan dirawat sepenuh hati oleh ibuku?"Cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu penuh perhatian. Sesekali mengusap lengan Bi Siti untuk menenangkan, sementara bapak masih terdia

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 2

    "Jangan bilang ibu soal tadi ya, Mbak. Amy nggak mau bikin ibu pusing," ujar Amy saat aku dan dia keluar rumah dengan membawa sekeranjang keripik singkong."Nggak, Dek. Lagipula belum tentu yang dikatakan Mira benar. Bisa jadi Bi Siti titip uang ke bapak buat beliin Mira sepeda. Iya kan?""Tapi kenapa bapak harus menginap di rumahnya segala, Mbak?""Mungkin bapak kemalaman saat antar sepeda Mira atau karena hujan deras makanya bapak menginap di sana. Amy tahu kan kalau semalam memang hujan." Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar dia tak berpikir macam-macam."Benar juga, Mbak. Semalam memang hujan, makanya bapak menginap di sana. Mungkin sekarang bapak langsung ke toko Haji Abdullah, jadi nggak sempat pulang dulu," lirihnya mengiyakan alasanku."Betul itu. Sudah, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Yang penting sekarang kita harus semangat jualan keripik biar lekas pulang sebelum maghrib."Amy mengangguk lalu kembali ikut menawarkan keripik singkong yang kami bawa untuk p

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 1

    "Bapak belum pulang, Bu?" tanyaku pada ibu yang masih sibuk memasak di dapur. "Belum, Zi.""Dari kemarin nggak pulang? Memangnya lembur lagi?" tanyaku memastikan. "Sepertinya begitu." Ibu menoleh lalu tersenyum tipis ke arahku. "Ibu nggak tanya kenapa bapak nggak pulang semalaman?""Bapak itu supir kepercayaan Pak Abdullah, Zi. Wajar jika sering diminta lembur dadakan atau bantu ini itu," ujar ibu menjelaskan. Aku menghela napas panjang. Tiap kali aku mulai bertanya tentang bapak, ibu selalu berusaha membuatku tenang dan tak berpikir macam-macam, meski dalam hatinya kuyakin muncul keraguan. Ragu akan jawabannya sendiri. "Hari ini ibu goreng tempe lagi? Apa bapak nggak ngasih uang belanja? Apa uang hasil jualan keripik kemarin diminta bapak buat beli rokok?" tanyaku menggebu. "Zi ....""Sudahlah, Bu. Zizi sudah dewasa. Zizi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tak perlu menutup-nutupinya lagi. Bapak memang keterlaluan." Aku berdecak kesal. "Jangan begitu, Zi. Kalau sudah gajian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status