Masuk"Ap-- apa kamu bilang, Mbak?!" getar suara Bi Siti yang tak terima dengan sindiran ibu.
"Selama ini aku tak pernah menuntut banyak pada bapak yang jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku, Sit. Apapun yang kamu minta selalu diturutinya, sementara aku hanya bisa menitikkan air mata. Saat kamu, ibumu dan bapak pergi jalan-jalan ataupun piknik bersama, aku hanya menangis di sudut kamar tanpa bisa menuntut apa-apa. Kepergian ibuku membuat hidupku hancur, namun jauh lebih hancur saat ibumu datang dan merebut cinta bapak sampai kamu terlahir ke dunia. Apakah masih kurang banyak pengorbananku untukmu, sampai akhirnya kamu merebut Mas Ridwan dariku? Seburuk apapun dia adalah bapak dari anak-anakku. Aku bertahan selama ini bukan semata-mata karena cinta, tapi aku hanya tak ingin anakku kehilangan sosok bapaknya. Tapi kenapa kamu hadir lagi di hidupku setelah sekian lama aku berusaha mengikhlaskan masa lalu yang pahit itu?!" Ibu meradang. Lidahku kelu mendengar pengakuan ibu. Selama ini tak pernah sekalipun ibu menceritakan masa lalunya yang penuh luka. Ibu berusaha menutupinya dan menganggap semua baik-baik saja, apalagi setelah kedua orang tuanya tiada. Namun kini kutahu sakit hati dan kecewanya sedalam itu. "Tak perlu membahas masa lalu, Mbak. Aku malas mendengarnya. Kamu sengaja menceritakan itu semua agar Mas Ridwan luluh? Agar dia tak tega menyakiti hatimu dan lebih memilihmu dibandingkan aku. Iya kan?! Jangan mimpi, Mbak! Mas Ridwan sudah tak mencintaimu lagi!" sentak Bi Siti tak mau kalah. Tak tahan melihat ibuku dihina dan disakiti berulang kali, aku buru-buru masuk ke rumah tanpa salam. Kuusap kasar kedua pipiku yang basah. Tiga orang dewasa itu pun menoleh bersamaan. Mereka sama-sama shock melihatku datang tiba-tiba. "Zizi ...." Ibu berujar lirih. Seperti biasanya, ibu berusaha tenang dan melangkah mendekatiku. Sayangnya aku sudah mendengar semuanya. Aku tak bisa dibohongi lagi dengan ekspresi tenang dan tatap matanya yang teduh itu. "Berpisahlah, Bu. Jangan korbankan hati dan hidupmu hanya demi Zizi dan Amy. Sejatinya selama ini kami juga tak pernah merasakan sosok bapak, meskipun dia tinggal di atap yang sama. Zizi dan Amy lebih senang melihat kalian bercer4i. Percayalah, kita akan jauh lebih bahagia tanpanya," ucapku tegas sembari menatap sepasang lelaki dan perempuan tak tahu diri itu. "Zizi! Jangan ikut campur urusan orang tua. Anak kemarin sore tahu apa soal-- "Bapak benar. Anak kemarin sore sepertiku tahu apa soal hidup. Bukankah selama ini bapak selalu mencukupi kebutuhan kami? Seharusnya kami bersyukur dan bahagia, tak perlu banyak protes apalagi menuntut. Bapak adalah sosok ayah terhebat yang kami miliki. Mana pernah bapak tega membiarkan kami cari duit sendiri untuk biaya sekolah. Bapak selalu mencukupi semua kebutuhan kami tanpa diminta. Bapak tak mungkin rela melihat anak-anaknya keliling kampung menjajakan keripik singkong tiap pulang sekolah dan hari libur tiba. Bapak pasti akan memberikan uang jajan yang cukup untuk anak-anaknya, mengajak mereka jalan-jalan ke alun-alun atau makan makanan lezat di restoran ternama. Mana mungkin bapak membiarkan kedua anaknya makan hanya dengan lauk tempe atau kerupuk seribuan saja. Bapak pasti akan selalu memberikan kasih sayang yang cukup untuk kami, sampai akhirnya kami tahu bagaimana rasanya memiliki sosok bapak yang sempurna. Kami-- Plak! Detik ini pipiku terasa perih, tapi jauh lebih perih hatiku. Teganya bapak menamparku kembali seperti kemarin bahkan kini seolah dengan sekuat tenaga sampai membuat tubuhku oleng seketika. "Tutup mulutmu! Bicaramu benar-benar kelewatan, Zi! Sekolah belum lulus saja sudah merasa paling hebat. Mau jadi apa kamu, hah!" sentak bapak sembari melayangkan telapak tangannya kembali. "Tampar aku saja kalau kamu belum puas! Jangan sakiti anak-anakku. Selama ini mereka sudah cukup menderita memiliki sosok bapak sepertimu!" ucap ibu sembari menarik tubuhku ke belakang. Ibu tak membiarkan bapak menyentuh pipiku kedua kalinya. "Kamu lihat sendiri bagaimana didikan Mbak Sri kan, Mas? Anak-anakmu itu memang susah diatur. Siapa lagi dalangnya kalau bukan ibunya!" Bi Siti kembali mengompori dan bapak seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Laki-laki itu tak berprinsip dan mengikuti saja semua ucapan selingkuhannya. "Ceraikan ibuku jika bapak mau menikah dengannya," ucapku cepat. Bapak melotot, sementara ibu berusaha menenangkanku. Sayangnya aku tak bisa bersikap lembut seperti ibu. Aku berbeda. "Heh! Kalau ngomong dipikir pakai otak. Sok minta cerai segala, memangnya kamu mau hidup gelandangan kalau bapak menceraikan ibumu?!" Bi Siti menaikkan sebelah bibirnya saat menatapku. "Lebih baik hidup gelandangan daripada serumah dengan serigala sepertimu. Ibuku juga tak bod0h. Nggak mungkin mau dimadu apalagi dengan saudara senasabnya. Ibuku tahu agama, tak sepertimu yang menjadikan agama hanya sebagai pajangan belaka!" "Kamu-- Bi Siti melayangkan tangannya ke udara, tapi ibu menatapnya tajam. Kedua wanita itu saling tatap sampai akhirnya Bi Siti kembali menurunkan telapak tangannya. "Selama ini ibu selalu menyangkal tiap Zizi cerita soal mereka, tapi sekarang ibu melihat sendiri bagaimana hubungan tak wajar bapak dan Bi Siti kan? Ibu nggak boleh diam saja. Ibu harus mengambil sikap," ujarku sambil menatap lekat wajah ibu yang sudah basah oleh air mata. "Ibu hanya tak menyangka jika mereka benar-benar setega itu," lirihnya tertunduk di lantai. "Syetan bisa datang kapan saja, Bu. Kalau hidup tak berpegang pada Iman, tentu akan mudah terjerumus godaannya." Aku mendongak, menatap pasangan tak halal itu lagi. Mereka tengah berunding entah apa. "Sekarang apa maumu? Mau bercerai? Ayo!" ucap bapak tegas sembari menuding wajah ibu dengan telunjuknya. Ibu kembali beristighfar. Wajahnya menegang. Terlihat kecemasan di wajah menua itu. Ibu masih saja tak percaya jika bapak pasti akan lebih memilih selingkuhannya dibandingkan kami. Ibu masih begitu berharap bapak sadar dan menghentikan sikap konyolnya ini. "Istighfar, Pak. Ada anak-anak kita," lirih ibu mengiba. "Kamu lihat sendiri bagaimana sikap mereka. Bukannya mereka bilang sudah besar dan bisa hidup sendiri tanpaku?!" ujar bapak pongah. "Aku tak peduli, Sri. Aku hanya ingin membahagiakan Siti dan tak rela jika Rudy kembali datang menyakitinya. Kalau kamu mau, ikuti semua kemauanku. Kalau nggak, kita berpisah saja. Keputusanku sudah bulat!" Bapak menghela napas panjang. Senyum kemenangan Bi Siti terlihat di kedua sudut bibirnya, sementara ibu masih ternganga seolah tak percaya jika pengorbanan dan kesetiaannya selama lebih dari dua puluh tahun ini sia-sia belaka. ****"Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek
"Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk
Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga
Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri
"Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe
"Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah
"Kenapa, Zak? Tumben telepon," ujar Sarah yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru selesai mandi sore, rencananya mau jalan-jalan dengan bapaknya ke mall terdekat. "Apa Zizi pernah cerita sesuatu sama kamu, Sar?" tanya Zaki sedikit ragu.Sebenarnya dia tak ingin kembali melibatka
"Anak sama suami saya muntah-muntah setelah makan nasi rames buatannya, Mas. Saya nggak mau tahu, dia harus tanggungjawab!" sentak wanita berhijab coklat itu lagi setelah duduk di ruang tamu Santi. Di sana sudah ada keluarga Zizi dan beberapa tetangga yang ingin tahu permasalahan mereka. "Ibu sud
Bulan telah berganti. Ujian sekolah pun sudah terlewati dengan baik. Semua siswa lulus dengan hasil yang pasti berbeda. Zizi masih menempati urutan pertama dengan nilai nyaris sempurna. Dia bahkan mendapatkan beasiswa untuk jenjang pendidikan berikutnya. Hari ini semua siswa saling bergerombol mem
"Kenapa kalian nggak bilang kalau Yessy itu penipu?!" teriak Siti pada teman-temannya. "Kalian sengaja melakukan semua ini kan? Apa jangan-jangan Yessy memberi kalian uang tutup mulut agar rencananya berhasil?! Supaya banyak korban yang terjebak mulut manisnya itu?!" cecarnya lagi. "Pantas saja k







