INICIAR SESIÓNSuperhero berpostur gagah dan besar itupun terbang lagi dan memadamkan api dengan meniupkan udara dingin dari mulutnya. Dan tak butuh waktu lama, seluruh api padam. Semua orang bertepuk tangan.
"Terimakasih!" seru warga, "Kau memang superhero sejati!"
Si wanita tua pun turut senang, lalu menatapku marah dan memberiku penilaian 'bintang satu' pada aplikasi.
"Lambat, payah! Tak pantas jadi superhero!" tulisnya sebagai ulasan.
Ahh, dasar wanita itu!
"Jangan berkecil hati, Keris Man!" hibur High Quality Man menghampiriku setelah berhasil memadamkan api, "Aku hanya menjalankan tugasku. Kau harap kau juga bisa menjalankan tugasmu dengan baik. Mau tumpangan pulang?"
"Tidak! Aku bisa naik ojek!"
"Oke, bye!" jawab superhero itu segera terbang pergi.
"Aku kasih 'bintang lima'!" seru warga yang memesannya.
Huh, aku segera pergi dari sana dengan perasaan kesal. Ini 'bintang satu' untuk kesekian kalinya yang kudapatkan.
Banyak warga yang mengejekku di sepanjang gang. Para pemadam kebakaran menggeleng-gelengkan kepala kagum pada High Quality Man dari luar gang. Mereka tak menghiraukanku lewat.
Aku kembali ke warung kopi Pak Yono. Menunggu pelanggan berikutnya.
"Jangan lesu Kris!" hibur Pak Yono, "Ini cuma pagi yang buruk."
"Darimana Bapak tahu?"
"Kejadianmu sudah ada di Herostube!"
"Apa?!"
Pak Yono memutar Herostube di televisi warung. Itu bukan televisi biasa, namun televisi pintar yang tersambung internet.
Herostube adalah situs penyedia layanan video superhero. Semua hal tentang superhero dapat diunggah dan disaksikan di sana.
Terlihat rekaman amatir bagaimana High Quality Man berhasil menyelamatkan wanita itu dan mendapatkan sorak sorai. Sedangkan aku mendapatkan hujatan.
"High Quality Man tadi juga menyiarkannya siaran langsung proses penyelamatan itu di Herogram." Imbuh Istri Pak Yono.
Herogram adalah aplikasi media sosial yang membahas para superhero. Biasanya berisi foto-foto, video pendek dan video siaran langsung.
"Menolong orang sambil live di Herogram?" gerutuku, "Sangat tak profesional!"
"Tapi nyatanya ia berhasil!" balas istri Pak Yono, "Mereka memasang kamera kecil di kelopak mata. Bisa merekam segala kejadian yang dilihat, dan bisa langsung diunggah ke internet."
"Uhh!"
"Teknologi yang keren, ya Kris?!" tanya Pak Yono.
"Bukankah itu berbahaya? Baik bagi mata mereka sendiri ataupun profesionalitas pekerjaan!"
"Yah, dasar superhero jaman sekarang, Kris! Hanya ingin tampil di media sosial, mendapatkan banyak like dan subcriber. Mirip orang-orang kurang kerjaan yang coba-coba terkenal dan cari uang dari internet."
"Betul, Pak! Minta es burjo dong."
"Oke. Hari yang berat dan panas begini memang paling enak didinginkan dengan es burjo."
"Kau harus bersyukur kami masih menyediakan burjo," ujar istri Pak Yono menyiapkan burjo, "Sekarang ini banyak yang mengaku sebagai warung burjo tapi tak menyediakan bubur kacang hijau. Hanya menyediakan mie instan! Menyedihkan."
"Padahal ini makanan bergizi daripada mie instan," sahutku, "Aku paling suka paduan manis ketan hitam dan gurihnya santan dan kacang hijau. Ini menu sehat yang mulai banyak dilupakan orang."
"Yah, kebanyakan makan mie instan," balas Pak Yono, "kemana-mana naik ojek online! Bagaimana kesehatan pemuda-pemudi negeri ini kelak?!"
Baru beberapa saat menikmati burjo, muncul pesanan lagi di aplikasi. Tertulis; seorang anak menangis. Butuh pertolongan superhero.
Teman-temanku yang lain belum kembali. Akupun mengambil pesanan itu dan segera menuju ke sana.
Lagi-lagi harus naik ojek online karena lokasinya cukup jauh.Ternyata pesanan datang dari sebuah apartemen mewah. Kutanyakan tempat pastinya kepada si pemesan. Jawabnya, berada di kamar 815. Lantai delapan.
Aku pun naik lift untuk menuju ke kamar itu. Ada bahaya apa gerangan? Aku harus waspada!
Semua tampak tenang-tenang saja. Ada bahaya apa ini?! Kutempelkan telinga di pintu. Samar-samar terdengar jeritan anak-anak.
Wah, bahaya! Kudobrak pintu sekuat tenaga. Brakk!
Pintu roboh, dan sekitar sepuluh anak berteriak kaget.
Lalu mereka berseru-seru, "Yeee, Keris Man, Keris Man!"
"Dia sudah datang!" seru seorang anak lelaki bertubuh agak gendut.
Mereka pun segera mengerumuniku. Beberapa orang dewasa tampak senang mengamati mereka di berbagai sudut kamar yang cukup luas dan mewah ini.
"Ada apa?" tanyaku, "Siapa yang memesanku?"
"Aku," jawab seorang bapak dengan tampang dan badan agak gendut. Pakaiannya rapi, mungkin seorang manajer atau direktur perusahaan, atau mungkin programmer sukses.
"Begini Keris Man," jelasnya mendekatiku dengan tatapan kagum dan sedikit gugup, "Anakku ini sedang ulang tahun," katanya mengelus seorang lelaki agak gendut yang tadi menyambutku, "Ia ingin dirayakan bersama teman-teman dan seorang superhero. Karena itulah, aku memanggilmu. Tolong, hibur anakku."
"Astaga, superhero bukan untuk ini Pak," jawabku, "Tapi untuk keadaan darurat!"
"Saya tahu, saya tahu, maaf. Saya tahu saya salah. Tapi tolonglah, untuk kali ini saja. Demi anakku. Aku akan beri uang banyak."
"Tidak Pak. Cari badut atau tukang sulap saja untuk ulang tahun. Superhero bukan untuk hiburan! Sekarang banyak aplikasi badut dan musisi online."
"Lalu kenapa orang-orang bikin film dan komik superhero jika bukan untuk hiburan?" sahut seorang ibu sinis. Ia tampak cantik dan terpelajar. Sepertinya pengusaha atau karyawan sukses. Entah dia ibu atau istri siapa.
"Itu cuma film Bu," jawabku, "Untuk cari duit!"
"Kan kau jadi superhero juga untuk cari duit?!"
"Tapi untuk menolong orang, Bu. Bukan hiburan."
"Apa bedanya?!" debatnya mendekatiku.
Ia terlihat semakin cantik dan aromanya pun wangi. Pengusaha atau orang kantoran biasanya memang suka berdebat dan ingin menang sendiri. Semakin sukses, semakin tak mau kalah.
Lebih baik kutinggalkan saja pesta para eksekutif sukses ini. Mereka memang orang-orang yang merasa paling segalanya. "Maaf, aku harus pergi!" pamitku.
"Jangan, jangan!" rengek anak-anak mencegahku. Sebagian menarik-narik tanganku.
Aku tetap beranjak pergi.
"Yahhh!" seru anak-anak itu kecewa, "Mamaa..."
Aku berhenti melangkah dan menghela nafas. Hatiku tak tahan melihat kekecewaan mereka.
"Baiklah," kataku kemudian berbalik, "Tapi hanya untuk kali ini saja! Lain kali, jangan begini. Superhero bukan mainan!"
"Yeee!" seru anak-anak girang.
Aku pun mengikuti pesta ulang tahun itu. Ternyata cukup seru. Entah kapan terakhir kali aku merayakan ulang tahun. Orang desa tak terbiasa merayakannya. Apalagi yang miskin sepertiku.
Anak-anak bermain dengan riang mengitariku. Sesekali berpura-pura jadi penjahat dan bertarung denganku.
Kami lalu bernyanyi-nyanyi. Ada yang meminta lagu dangdut! Ah, dasar anak sekarang. Kekurangan lagu anak!
Mereka lalu menanyakan banyak hal padaku, "Apakah sulit jadi superhero?"
"Yah, lumayan." jawabku seramah mungkin.
"Bagaimana caranya jadi superhero?" tanya si anak gendut, pemesanku, "Aku juga ingin jadi salah-satunya kalau besar nanti."
"Ehm, yah. Minimal kau harus berusia delapan belas tahun," jawabku, "Punya kekuatan super, dan lolos uji verifikasi dari negara. Setelah itu, kau bisa mendaftar di aplikasi online pilihanmu."
"Kereen!"
"Tapi yang paling penting," sambungku, "untuk jadi superhero, kau harus punya keinginan untuk membantu orang lain."
"Yeeah!"
Para ibu menatapku kagum dan senang. Bahkan si ibu yang suka berdebat tadi. Kulihat ia tak bersama suaminya.
"Aku sering lihat tips-tips jadi superhero di Herostube!" ujar perempuan cilik yang cantik, sepertinya anak ibu tadi, "Tidak sulit! Kita bisa belajar apa saja dari internet!"
"Yah, kadang apa yang kau lihat di internet tak semudah kenyataannya." Jawabku.
"Tunjukkan kekuatan keris saktimu!" pinta gadis cilik itu.
"Jangan, itu bukan untuk mainan!"
"Yaah, ayo dong! Ayo dong!" tuntut anak-anak.
"Tidak, tidak boleh!"
"Aku jadi ragu, kau superhero betulan atau tidak!" cecar gadis itu lagi, "Pantas ulasan tentangmu selalu buruk! Apakah kekuatan supermu itu nyata atau cuma editan?!"
Tank-tank itu terhenti dan seperti menabrak sesuatu yang keras. Yah, para perusuh menahan kendaraan-kendaraan tempur itu dengan kekuatan super. Laju kendaraan tentara itu terhenti. Bagian depan terangkat ke atas dan sedikit rusak. Akhirnya mereka terjungkal dan terbalik. Seperti kecoa yang terhempas dan terjengkang tak bisa bangkit. Kendaraan tentara itu telah lumpuh. Terbalik dan meraung-raung seperti kura-kura yang panik dengan punggung berada di bagian bawah. Tentara yang tersisa terus berusaha menembaki para perusuh. Namun semua sia-sia. Sebagian melemparkan granat. Namun ledakan tak memberikan efek apapun pada para perusuh. Bahkan sebagian granat berhasil ditangkap. Lalu dilemparkan kembali pada para tentara yang berlindung. Duarr, duarr, duarr! Ledakan menewaskan beberapa tentara. Pasukan yang lain terpaksa mundur. Sebagian memasuki markas. Dan sebagian keluar area markas. Tembakan senapan otomatis terlihat dari dalam gedung. Rat tat tat tat! Keras dan melun
Para perusuh terus melangkah lengang. Para polisi telah menyingkir karena ketakutan. Begitu juga para warga dan pekerja di sekitar. Para perusuh itupun terus menghancurkan berbagai fasilitas dan gedung-gedung yang mereka lewati. Baik gedung perkantoran maupun pertokoan dan pusat hiburan. Orang-orang berlarian panik. Mereka menyingkir ke tempat aman. Anak-anak, orang tua ataupun peliharaan yang mereka ajak sebisa mungkin mereka selamatkan. Kekuatan super para perusuh itu memang tak bisa dianggap remeh. Mereka mampu menghancurkan berbagai benda. Baik dengan hantaman langsung ataupun hentakan energi dari jarak jauh. "Astaga," ungkap staff yang lain di ruang monitor. "Kenapa?" tanya Dina. "Mereka juga menyerang markas tentara!" Terlihat di monitor lain, beberapa orang berpakaian serba hitam menyerang markas tentara. Mereka ditembaki dengan senapan laras panjang dan otomatis. Namun tak membuat mereka bergeming. Mereka terus melangkah maju. Sebagian mengeluarkan energi dari
Yah, mereka kian tak tertandingi. Pasukan polisi itu kewalahan. Bahkan mobil-mobil mereka terhempas dan sebagian hancur. Mobil panser mereka pun tak bisa berbuat apa-apa. Diserang dengan kekuatan super para anggota kelompok Kerbau Merah. Dengan tangan kosong, salah satu di antara mereka menghentikan mobil perkasa itu. Bak atraksi adu balap, mobil itu tak bisa melaju ke depan meski sudah ditancap gasnya. Suara desing mesin, roda beradu dengan jalanan beraspal. Menimbulkan suara bising dan asap yang mengepul besar. Anggota kelompok Kerbau Merah yang lain mendekati mobil itu dan memukul dari samping. Membuat kerusakan parah pada sang kereta besi. Sebuah lubang menganga dengan penyokan yang cukup besar terlihat. Anggota polisi yang berada di dalam mobil itu terperangah. Kesombongan mereka selama ini dalam melawan rakyat kecil dengan panser luluh seketika. Baru kali ini ada orang yang mampu merusak keperkasaan penguasa itu. Dengan hantaman-hantaman keras berikutnya, mobil itu
Dengan terhempasnya para tukang parkir dan satpam, para perusuh itu semakin leluasa melamcarkan aksi mereka. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Serangan mereka terus meraja-lela. Gedung-gedung lain jadi sasaran. Terutama pusat-pusat bisnis di sekitarnya. Para pembeli berhamburan. Beberapa yang sok jago berusaha melawan. Barangkali mereka telah mempelajari ilmu bela diri. Mereka maju dibantu oleh beberapa pegawai toko atau kantor dan satpam. Dengan peralatan satpam sederhana, juga beberapa senjata yang ada, seperti kayu atau helm, mereka berusaha menyerang. Lagi-lagi dengan mudah mereka dikalahkan. Kayu-kayu tak mampu melukai gerombolan Kerbau Merah itu. Dengan mudah patah atau hancur. Dan tak butuh usaha keras, mereka dikalahkan dan terhempas kesana-kemari. Bahkan terluka parah atau pingsan. Semakin banyak orang yang nekat dan berani untuk melawan. Mereka maju dengan menggunakan senjata yang ada. Bahkan sebagian melemparkan apa saja yang mampu melukai musuh. Dengan
Penjahat makin garang. Mereka menyerang dan mengobrak-abrik kawasan perbelanjaan dan sekitarnya. Orang-orang makin ketakutan dan berlarian. Para polisi kewalahan dan terpuruk. Tak ada yang bisa menghentikan mereka. Sebagian orang nekat melawan, namun mereka dihajar dan terhempas tak berdaya. Yang lain pun kian ketakutan dan berlarian. Panggilan permintaan superhero datang dari aplikasi. Tertera pada layar monitor di ruang kontrol. "Banyak sekali panggilan!" terang salah seorang staf yang mengawasi. Dina hanya bisa menghela nafas. Begitu juga denganku dan bos. "Ada peristiwa lain," ujar pegawai menunjukkan layar pada bagian lain perkotaan. "Itu kantor polisi?!" tanya Dina. "Yah," jawab staf. Terlihat di layar, para perusuh lain menyerang kantor polisi. Para aparat yang berjaga berusaha menghalau merek. Namun berhasil dikalahkan dan terlempar jauh. Pasukan yang berjaga pun menembaki para perusuh itu. Namun hujan peluru tak mampu menembus tubuh mereka. Yah, mereka be
Monitor kami terhadap kelompok Kerbau Merah belum juga membuahkan hasil. Beberapa layar petunjuk belum bisa mencari keberadaan mereka ataupun teman-teman yang diculik. Tiba-tiba salah seorang staf berkata, "Apakah mereka kelompok Kerbau Merah?!" Kami lihat di layar. Hal mengejutkan terjadi. Terjadi penyerangan ke sebuah pusat perbelanjaan. Beberapa orang berpakaian serba hitam pelakunya. Mata mereka merah menyala. "Itu mereka!" kesahku. "Kenapa mereka menyerang pusat perbelanjaan?!" gumam Dina, "Hendak merampok?" "Aku harus menghadapi mereka!" kataku geram. "Jangan Kris!" cegah Dina, "Terlalu berbahaya!" "Dari mereka bisa kucari tahu dimana teman-teman!" kukuhku. "Kamu satu-satunya superhero yang tersisa!" jawab Dina, "Mungkin ini untuk memancingmu ke sana!" Aku menghela nafas dalam. "Lalu kita harus diam saja?" kesahku. "Sepertinya polisi berdatangan!" ungkap salah seorang staf. Kami lihat di layar. Beberapa mobil polisi memang terlihat berdatangan ke lokasi.
Di sekitaran minimarket, para superhero terus berupaya melawan musuh berbadan besar dan kekar itu. Namun mereka terus kewalahan. Dihajar habis-habisan dan tersungkur lemah. "Ia akan membunuh mereka!* ungkap Buaya Budiman. Dan di area kerusuhan, para superhero kian kewalahan menghadapi para perusu
Yah, orang-orang senang karena kebakaran yang melanda rumah dan lingkungan mereka mereda. Tapi mereka cukup kesal dengan bau dan entitas air sungai yang kotor dan jorok. Bahkan beberapa tumpukan sampah menimpa mereka. "Uh, siapa yang buang popok bayi ke sungai?!" keluh salah seorang warga yang terti
Dari layar terlihat beberapa perusuh nampak aneh. Tubuh mereka kecil, layaknya orang pedesaan. Menenteng berbagai senjata. Mulai dari senjata tajam hingga tongkat kayu. "Siapa kalian?!" tanya para superhero, "Sengaja membikin rusuh?! Pulanglah! Kalian tak nampak seorang demonstran!" Mereka seolah
Terlihat dari video live, para superhero bantuan mulai datang. Ada dua superhero yang hendak membantu melawan monster api. Video dari para superhero bantuan pun dapat terlihat di layar. Mereka beterbangan dan meloncat-loncat dari gedung ke gedung untuk mengatasi musuh. "Bagaimana kita akan mengata







