Share

Bab 3

Auteur: Lilian
Akhir pekan tiba. Tersisa lima hari sebelum dia kembali ke kampung halamannya.

Barang-barang Naomi hampir sepenuhnya dikemas.

Hanya tersisa beberapa barang yang berkaitan dengan Arthur. Sementara dia menumpuknya di dekat pintu masuk.

Siang hari, keluarga besar Arthur datang makan bersama seperti biasa.

Ibu Arthur mengambil sebuah kotak di dekat pintu, membukanya dengan rasa ingin tahu, “Apa ini?”

Sejak awal, keluarga Arthur memang kurang menyukai Naomi. Di mata mereka, Nadine yang tumbuh bersama dan setara secara latar belakang adalah menantu ideal.

Tanpa menunggu persetujuan Naomi, dia membuka buku harian di dalam kotak dan mulai membacanya dengan lantang.

3 September 2020, cerah.

Upacara penyambutan mahasiswa baru.

Dia berdiri di bawah sinar matahari, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung santai.

Saat itu aku mengerti apa arti ‘bersinar’.

Namanya Arthur Pradana. Bahkan namanya saja terdengar seperti puisi.

15 September 2020, hujan.

Kudengar dia menyukai Nadine. Membaca cerita-cerita manis mereka di forum kampus membuat hatiku perih. Tapi lebih dari itu, ada perasaan tak berdaya yang tak terhindarkan.

20 Maret 2021, mendung.

Nadine bilang, orang tua mereka dulu pernah bercanda ingin menjodohkan mereka berdua sejak kecil.

Dia menggandeng lenganku sambil tertawa, “Kamu suka Arthur? Kejarlah. Lelucon itu jangan dianggap serius.”

Aku menggeleng. Aku tidak mungkin mengkhianati mereka.

Lagipula, bahkan jika aku mengejarnya, aku tidak punya kesempatan untuk menang.

30 Juni 2024, hujan berganti cerah.

Nadine pergi. Di hari pertunangan, tanpa sepatah kata. Arthur minum banyak. Mata merahnya menatapku dan bertanya apakah aku mau bersamanya.

Aku menjawab mau.

Aku tahu dia tidak mencintaiku.

Tapi pada saat itu, aku berpikir mungkin .... Bahkan hati sekeras batu pun bisa luluh.

Arthur tampak terkejut ketika mendengarkan sang ibu membaca lantang buku harian Naomi. Pandangannya tertuju pada Naomi.

Ini adalah pertama kalinya dia benar-benar dan dengan sungguh-sungguh menatap wanita yang dia akan nikahi karena impulsif.

Jadi dia benar-benar menyukaiku?

Arthur selalu mengira Naomi mau bersamanya hanya demi menikah dengan keluarga kaya.

Dia lembut, perhatian, dan teliti dalam segala hal, seolah-olah memainkan peran sebagai pacar yang sempurna.

Ternyata, di balik itu semua, tanpa disadari siapa pun, Naomi menyimpan cinta yang tertahan namun mendalam untuknya.

Arthur terpaku memandang Naomi. Perasaan aneh tak terjelaskan muncul dalam hatinya, seolah sebuah senar telah dipetik lembut.

Namun belum sempat dia memahami perasaan itu, nada dering ponsel yang tajam memecah keheningan.

Nada dering khusus untuk panggilan dari Nadine.

“Arthur, kamu di mana? A-aku sendirian di rumah. Tadi aku melihat ada bayangan orang di luar jendela. Aku takut ....” suara isakan sesekali terdengar, “Apa kamu bisa… datang menemaniku ....”

Arthur mengambil kunci mobil dan menghilang ke luar pintu, bahkan belum sempat menyentuh satu suap pun hidangan di meja.

Setengah jam kemudian, layar ponsel Naomi menyala.

Nadine mengirimkan sebuah video.

Di layar tampak ruang tamu vila tepi danau milik Arthur, hunian yang terkenal akan privasi dan sistem keamanan tingkat tinggi. Di luar jendela, samar terlihat para pengawal berpakaian hitam sedang berpatroli.

Arthur spontan menarik Nadine ke dalam pelukannya.

“Jangan takut, di sini aman. Selama aku di sini, tak seorang pun bisa menyakitimu.”

Cahaya layar terpantul di mata Naomi, membuatnya sedikit perih.

Dia tiba-tiba teringat masa-masa awal bersama Arthur.

Suatu malam, Arthur sedang lembur di kantor. Dia sendirian di rumah ketika seseorang dengan kasar memutar gagang pintu dan mencoba mendobrak masuk.

Dengan gemetar, dia menelepon Arthur. Suaranya terdengar penuh ketidaksabaran, “Sekarang sangat aman, mana mungkin ada orang masuk? Aku masih ada urusan di sini. Kamu tenang dulu saja.”

Ternyata, perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai terlihat begitu jelas.

Setelah makan siang keluarga selesai, Arthur akhirnya pulang.

“Tadi ....” dia berdeham, berusaha menjelaskan, “Situasi di tempat Nadine agak mendesak. Ada orang masuk ke rumahnya, emosinya jadi tidak stabil.”

Naomi hanya duduk dengan tenang. Di wajahnya tak tampak kemarahan, keluhan, atau tuduhan seperti yang dia bayangkan.

Dada Arthur terasa sesak.

Tanpa sengaja, pandangannya menyapu sudut ruang tamu. Dua koper berdiri rapi di sana, di sampingnya terdapat beberapa kardus yang sudah tersegel.

“Ini ....” Jakunnya bergerak, dan untuk pertama kalinya suara itu terdengar bergetar, “Apa maksudnya?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 24

    Dua tahun kemudian, pada suatu senja musim kemarau.Naomi berdiri di balkon rumah barunya, kedua tangannya sedang memegang secangkir teh bunga yang masih hangat.Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi pencahayaannya sangat baik. Saat ini, cahaya matahari senja menembus pintu kaca, mewarnai interior dengan rona keemasan yang hangat.Di taman kecil di bawah, pohon-pohon yang baru ditanam mulai bermekaran jarang-jarang. Setiap kali angin berembus, aroma samar yang lembut ikut terangkat ke udara.Rio memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.“Sedang melihat apa sampai melamun begitu?”“Tidak apa-apa,” Naomi sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyerap kehangatan yang menenangkan dari tubuhnya. “Hanya merasa ... Musim ini benar-benar sudah tiba.”Suara Naomi terdengar tenang dan lembut.Namun Rio tahu, di balik ketenangan itu, ada proses pemulihan yang berjalan perlahan selama dua tahun penuh.Beberapa bulan pertama adalah masa yang pal

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 23

    Arthur dilarikan ke ruang gawat darurat.Peluru menembus sisi kiri dadanya, dengan presisi merobek organ vital dan pembuluh darah utama. Meski dokter dan perawat bergerak cepat melakukan penyelamatan, angka-angka di monitor tetap merosot tajam.Saat Arthur didorong keluar dari ruang operasi, pada detik terakhir sebelum kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan tak bertepi, penglihatannya yang kabur justru menembus bayangan ganda dan terfokus dengan susah payah.Dia melihat sosok yang tidak jauh darinya, Naomi yang dipeluk erat oleh Rio.Wajah Naomi pucat pasi. Air mata mengalir tak terkendali, meluruhkan debu dan noda darah di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya terpaku ke arahnya. Tak bergeser sedikit pun.Sepasang mata yang begitu dikenalnya, kini penuh cahaya air mata yang membasahi wajahnya. Menjadi secercah cahaya terakhir yang bergetar di dunia Arthur yang kian meredup.Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tipis tanpa disadari orang-orang, seolah ingin memeras sisa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 22

    Gudang nomor 3 di area pertambangan tua tampak gelap dan rusak.Di tengah gudang, Naomi terikat pada sebuah kursi besi. Nadine menggenggam pistol tua, menunggu dengan gelisah kedatangan Arthur dan Rio.Di sudut gudang, dua preman saling bertukar pandang cemas. Telapak tangan mereka sudah basah oleh keringat.Mereka menunduk menatap layar ponsel, berniat menghubungi orang di luar saat situasi kacau. Namun ketika Arthur dan Rio muncul bergantian di pintu masuk gudang bagian bawah, gerakan mereka seketika membeku.Salah satu preman bergumam pelan, “Sial … ini jadi masalah besar.”“Kita cuma mau cari uang, bukan bikin perkara ....”Preman lainnya meraih ponsel di pinggang untuk meminta bantuan, tetapi di detik berikutnya suara jerit Nadine yang tajam membuatnya terpaku di tempat.“Jangan bergerak!”Nadine sepenuhnya kehilangan kendali. Kedua preman mundur beberapa langkah, tak berani bergerak lagi.Udara seperti tong mesiu yang terbakar. Ketegangan meledak seketika.Salah satu preman tanpa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 21

    “Kenapa pria seperti Arthur yang bahkan tak kuinginkan, justru berputar-putar mengelilingimu?!”“Karena kamu, Arthur sampai membatalkan kerja sama antara Keluarga Pradana dan keluargaku!”Suara Nadine makin melengking, nyaris merobek udara.“Kamulah yang merampas segalanya dariku! Kalau bukan karena kamu, Arthur tidak akan berubah! Aku masih akan menjadi putri Keluarga Ravelly, masih menjadi Nadine yang dikagumi semua orang! Semua ini karena kamu! Kamu pembawa sial!”“Kamu gila!” Naomi menatap wajahnya tajam. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuh.“Apa pun yang dilakukan Arthur adalah pilihan mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Itu karena kamu sendiri ....”“Diam!!”Nadine menjerit, lalu tiba-tiba meraih sesuatu di sampingnya.Jantung Naomi seakan berhenti berdetak.Itu sebuah pistol model lama!Meski moncongnya belum tepat mengarah padanya, lubang hitam itu sudah cukup untuk membekukan darah siapa pun.“Berani bicara satu kata lagi,” suara Nadine merendah, namu

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 20

    Di sebuah sore yang tampak biasa.Toko bunga menerima pesanan mendesak untuk rangkaian bunga pernikahan, namun mendadak kekurangan beberapa jenis bunga pendamping khusus.Kebetulan, toko buku Rio sedang melakukan inventaris bulanan sehingga dia tidak bisa membantu.Setelah mengecek peta di ponselnya, Naomi pun pergi sendiri dengan sepeda motor listrik menuju pasar grosir bunga di pinggiran kota.Pasar itu ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Saat perjalanan pulang, langit sudah gelap, dan keranjang motornya berisi beberapa kotak bahan bunga.Ketika melewati ruas jalan yang sepi, sebuah van tua berwarna abu-abu tiba-tiba mempercepat laju dari belakang, hampir menempel pada motornya.Hati Naomi menegang. Dia refleks menghindar ke kanan.Namun mobil van itu justru memotong ke arah yang sama dengan kasar.Motor listriknya terjepit dan terdorong ke tepi jalan, oleng hebat beberapa kali. Nyaris menabrak pembatas jalan barulah akhirnya berhenti.Belum sempat Naomi menarik napas, pintu depan

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 19

    Senja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.Naomi dan Rio baru saja keluar dari toko buku. Masing-masing menenteng beberapa buku pilihan baru, bersiap menuju sebuah rumah makan rumahan yang terkenal enak di ujung jalan.Tepat ketika mereka hendak berbelok ke lorong menuju restoran itu, sebuah sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pohon di tepi jalan, menghadang langkah mereka.Itu Arthur.Tampaknya dia baru keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya pun terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.Tatapan Arthur terpaku lurus pada wajah Naomi, lalu menyapu Rio di sampingnya, sebelum akhirnya berhenti pada jarak dekat yang begitu alami di antara mereka. Seluruh tubuhnya memancarkan ketegangan dan kegigihan yang terasa asing di tengah suasana jalan yang hangat dan membumi.“Naomi.”Dia membuka mulut dengan suaranya yang serak.“Kita perlu bicara.”Langkah Naomi terhenti. Senyum ringan di wajahnya memudar seketika. Alisnya berkerut, dan tanpa sad

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status