Share

Bab 2

Auteur: Lilian
Pesan itu dikirim.

Namun di ujung sana, Arthur sama sekali tidak membalas.

Cahaya layar ponsel perlahan meredup, memantulkan bayangan wajah Naomi yang samar.

Senyum dingin tersungging di sudut bibirnya.

Ya.

Di mata dan hati Arthur, hanya ada Nadine.

Dia bahkan pernah menunda rapat direksi perusahaan yang mendesak demi wanita itu. Bagaimana mungkin dia mau meluangkan waktunya untuk sebuah pesan singkat tidak penting darinya?

Ketika senja tiba, kepala pelayan mengetuk pintu kamar untuk mengingatkannya berganti pakaian.

Malam ini ada jamuan bisnis penting terkait proyek baru keluarga Pradana yang membutuhkan pendamping wanita.

Naomi sudah menyanggupi sejak awal.

Meski telah bertekad meninggalkan Arthur, dia tetap tidak ingin merusak kerja sama bisnis keluarga Pradana.

Setelah menata rambut dan merias wajahnya, dia berangkat sendirian ke lokasi acara.

Begitu memasuki aula, pandangannya langsung tertuju pada pria yang mengabaikan pesannya, Arthur.

Pria itu berdiri tegap dalam setelan jas rapi dan satu tangannya melingkar di pinggang Nadine sambil bercakap santai dengan tamu-tamu lain.

Yang paling mencolok mata adalah dasi Arthur serasi dengan gaun Nadine. Ini jelas dipilih dengan sengaja.

Nadine menoleh dan melihat Naomi. Kemudian dengan santai menyandarkan kepalanya ke bahu Arthur dan mencium pipinya hingga terdengar suara kecupan ringan.

Kemudian dia mengangkat alis ke arah Naomi. Dia menatap tajam dengan binar penuh kemenangan.

Tatapan tajam itu menusuk hati Naomi, memadamkan sisa kehangatan terakhir dalam dirinya.

Dia berbalik hendak pergi. Namun Arthur justru melangkah menghampirinya, “Kamu datang? Di jalan dingin tidak?”

Dia berbicara seraya melepas jasnya dan langsung menyampirkannya ke bahu Naomi tanpa sempat menolak, “Malam ini akan banyak minum-minum. Aku tidak mau kamu ikut tersiksa bersamaku.”

Naomi tertegun. Seolah ada pukulan keras yang menghantam batinnya dalam sekejap.

Kenangan lama tiba-tiba menyerbu pikirannya.

Saat itu, mereka baru saja bersama, tepat di masa transisi kelulusan dan awal meniti karier. Bagaikan dua perahu tanpa kompas yang dilempar ke lautan bisnis yang luas.

Orang tua Arthur sengaja memberikan mereka proyek sulit sebagai ujian, dan membiarkan mereka menegosiasikannya sendiri.

Dalam jamuan makan itu, partner kerja samanya itu berulang kali mengangkat gelasnya untuk bersulang.

Lambung Arthur lemah, sama sekali tidak bisa minum.

Sementara Naomi, alergi alkohol. Namun demi menjaga kerja sama, dia menggertakkan gigi dan meneguk satu gelas demi satu gelas menggantikan Arthur.

Begitu kontrak ditandatangani dan mitra kerja samanya pergi, Naomi langsung pingsan setelah berusaha menahan.

Malam itu, Arthur menggendongnya berjalan lebih dari setengah jam untuk mencari rumah sakit.

Setelah Naomi siuman, barulah dia mengetahui bahwa Arthur mendatangi mitra kerjasamanya itu untuk menuntut permintaan maaf dan langsung memutuskan kerja sama. Kesepakatan besar yang sebelumnya sudah tercapai pun langsung dibatalkan.

Arthur duduk di samping ranjangnya, ujung jarinya membelai lembut rambutnya, “Tidak apa-apa. Tidak ada yang lebih penting selain kesehatanmu.”

Hati Naomi merasa hangat, tidak menyangka bahwa Arthur ternyata begitu peduli padanya.

Aroma bunga yang lembut dari jas itu menariknya kembali ke kenyataan.

Dia menunduk tanpa sadar dan melihat sehelai rambut menempel di kerah jasnya. Berkilau lembut di bawah cahaya lampu.

Itu adalah rambut Nadine.

“Sudah larut, tidak aman,” kata Arthur, seolah masih tak menyadari apa pun, tangannya melayang di bahu Naomi, “Aku antar pulang, ya.”

Tepat pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan melengking Nadine dari belakang, “Jangan sentuh aku! Aku sudah bilang aku tidak mau minum!”

Begitu menoleh, terlihat Nadine sedang terjebak di antara dua pria dengan gelas yang hampir menempel ke bibirnya.

Wajah Arthur langsung berubah. Tanpa menoleh lagi pada Naomi, dia melangkah cepat menghampiri Nadine. Dia langsung merebut gelas itu dan meneguknya sendiri.

Nadine mendorongnya dengan kesal, “Kenapa kamu ke sini? Tidak menemani istri barumu?”

Arthur tersenyum samar, suaranya rendah, “Kamu tahu itu hubungan seperti apa.”

“Aku dan dia, hanya kerja sama.”

“Aku hanya ingin menikah denganmu.”

Nadine memalingkan wajah, “Aku tidak mau menikah karena perjodohan.”

Andai ini terjadi pada saat dahulu, hati Naomi pasti hancur berkeping-keping.

Namun sekarang, dia menontonnya seperti kisah orang lain.

Dia berbalik dan berjalan sendiri di malam yang gelap.

Arthur, aku benar-benar sudah tidak mencintaimu lagi.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 24

    Dua tahun kemudian, pada suatu senja musim kemarau.Naomi berdiri di balkon rumah barunya, kedua tangannya sedang memegang secangkir teh bunga yang masih hangat.Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi pencahayaannya sangat baik. Saat ini, cahaya matahari senja menembus pintu kaca, mewarnai interior dengan rona keemasan yang hangat.Di taman kecil di bawah, pohon-pohon yang baru ditanam mulai bermekaran jarang-jarang. Setiap kali angin berembus, aroma samar yang lembut ikut terangkat ke udara.Rio memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.“Sedang melihat apa sampai melamun begitu?”“Tidak apa-apa,” Naomi sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyerap kehangatan yang menenangkan dari tubuhnya. “Hanya merasa ... Musim ini benar-benar sudah tiba.”Suara Naomi terdengar tenang dan lembut.Namun Rio tahu, di balik ketenangan itu, ada proses pemulihan yang berjalan perlahan selama dua tahun penuh.Beberapa bulan pertama adalah masa yang pal

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 23

    Arthur dilarikan ke ruang gawat darurat.Peluru menembus sisi kiri dadanya, dengan presisi merobek organ vital dan pembuluh darah utama. Meski dokter dan perawat bergerak cepat melakukan penyelamatan, angka-angka di monitor tetap merosot tajam.Saat Arthur didorong keluar dari ruang operasi, pada detik terakhir sebelum kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan tak bertepi, penglihatannya yang kabur justru menembus bayangan ganda dan terfokus dengan susah payah.Dia melihat sosok yang tidak jauh darinya, Naomi yang dipeluk erat oleh Rio.Wajah Naomi pucat pasi. Air mata mengalir tak terkendali, meluruhkan debu dan noda darah di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya terpaku ke arahnya. Tak bergeser sedikit pun.Sepasang mata yang begitu dikenalnya, kini penuh cahaya air mata yang membasahi wajahnya. Menjadi secercah cahaya terakhir yang bergetar di dunia Arthur yang kian meredup.Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tipis tanpa disadari orang-orang, seolah ingin memeras sisa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 22

    Gudang nomor 3 di area pertambangan tua tampak gelap dan rusak.Di tengah gudang, Naomi terikat pada sebuah kursi besi. Nadine menggenggam pistol tua, menunggu dengan gelisah kedatangan Arthur dan Rio.Di sudut gudang, dua preman saling bertukar pandang cemas. Telapak tangan mereka sudah basah oleh keringat.Mereka menunduk menatap layar ponsel, berniat menghubungi orang di luar saat situasi kacau. Namun ketika Arthur dan Rio muncul bergantian di pintu masuk gudang bagian bawah, gerakan mereka seketika membeku.Salah satu preman bergumam pelan, “Sial … ini jadi masalah besar.”“Kita cuma mau cari uang, bukan bikin perkara ....”Preman lainnya meraih ponsel di pinggang untuk meminta bantuan, tetapi di detik berikutnya suara jerit Nadine yang tajam membuatnya terpaku di tempat.“Jangan bergerak!”Nadine sepenuhnya kehilangan kendali. Kedua preman mundur beberapa langkah, tak berani bergerak lagi.Udara seperti tong mesiu yang terbakar. Ketegangan meledak seketika.Salah satu preman tanpa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 21

    “Kenapa pria seperti Arthur yang bahkan tak kuinginkan, justru berputar-putar mengelilingimu?!”“Karena kamu, Arthur sampai membatalkan kerja sama antara Keluarga Pradana dan keluargaku!”Suara Nadine makin melengking, nyaris merobek udara.“Kamulah yang merampas segalanya dariku! Kalau bukan karena kamu, Arthur tidak akan berubah! Aku masih akan menjadi putri Keluarga Ravelly, masih menjadi Nadine yang dikagumi semua orang! Semua ini karena kamu! Kamu pembawa sial!”“Kamu gila!” Naomi menatap wajahnya tajam. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuh.“Apa pun yang dilakukan Arthur adalah pilihan mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Itu karena kamu sendiri ....”“Diam!!”Nadine menjerit, lalu tiba-tiba meraih sesuatu di sampingnya.Jantung Naomi seakan berhenti berdetak.Itu sebuah pistol model lama!Meski moncongnya belum tepat mengarah padanya, lubang hitam itu sudah cukup untuk membekukan darah siapa pun.“Berani bicara satu kata lagi,” suara Nadine merendah, namu

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 20

    Di sebuah sore yang tampak biasa.Toko bunga menerima pesanan mendesak untuk rangkaian bunga pernikahan, namun mendadak kekurangan beberapa jenis bunga pendamping khusus.Kebetulan, toko buku Rio sedang melakukan inventaris bulanan sehingga dia tidak bisa membantu.Setelah mengecek peta di ponselnya, Naomi pun pergi sendiri dengan sepeda motor listrik menuju pasar grosir bunga di pinggiran kota.Pasar itu ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Saat perjalanan pulang, langit sudah gelap, dan keranjang motornya berisi beberapa kotak bahan bunga.Ketika melewati ruas jalan yang sepi, sebuah van tua berwarna abu-abu tiba-tiba mempercepat laju dari belakang, hampir menempel pada motornya.Hati Naomi menegang. Dia refleks menghindar ke kanan.Namun mobil van itu justru memotong ke arah yang sama dengan kasar.Motor listriknya terjepit dan terdorong ke tepi jalan, oleng hebat beberapa kali. Nyaris menabrak pembatas jalan barulah akhirnya berhenti.Belum sempat Naomi menarik napas, pintu depan

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 19

    Senja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.Naomi dan Rio baru saja keluar dari toko buku. Masing-masing menenteng beberapa buku pilihan baru, bersiap menuju sebuah rumah makan rumahan yang terkenal enak di ujung jalan.Tepat ketika mereka hendak berbelok ke lorong menuju restoran itu, sebuah sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pohon di tepi jalan, menghadang langkah mereka.Itu Arthur.Tampaknya dia baru keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya pun terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.Tatapan Arthur terpaku lurus pada wajah Naomi, lalu menyapu Rio di sampingnya, sebelum akhirnya berhenti pada jarak dekat yang begitu alami di antara mereka. Seluruh tubuhnya memancarkan ketegangan dan kegigihan yang terasa asing di tengah suasana jalan yang hangat dan membumi.“Naomi.”Dia membuka mulut dengan suaranya yang serak.“Kita perlu bicara.”Langkah Naomi terhenti. Senyum ringan di wajahnya memudar seketika. Alisnya berkerut, dan tanpa sad

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status