共有

32. Ketagihan

作者: Lincooln
last update 公開日: 2026-03-11 23:30:36

"Aah, akhirnya pulang juga."

Bau apek dari kasur kapuk yang sudah kempes menyambut hidungku saat aku membanting tubuh di kamar kos sempit ini. Dinding triplek di sekelilingku lembap, dipenuhi noda jamur yang membentuk pola-pola menjijikkan.

Di luar, suara knalpot motor yang bising dari gang sempit pemukiman padat ini tak henti-hentinya menusuk telinga. Aku menatap plafon yang melengkung, menyadari bahwa rutinitas mengirim uang untuk almarhumah Nenek sudah berakhir.

Kini, setiap perak dari gajik
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kacamata Penakluk   57. Menjebak Herman

    Aku lalu bergegas kembali ke unit karena yakin Sari akan berbuat nakal. Aku begitu penasaran, karena Sari kerap melakukan hal-hal tidak terduga yang menggairahkan. Begitu sampai di sofa, aku langsung menghempaskan tubuhku sambil memegang gagang kacamata."Mode monitor: Pelayan 2, Sari."Dunia di sekitarku seketika memudar, berganti dengan proyeksi tiga dimensi yang jernih. Aku melihat Sari sedang berada di dalam kamar rumah Pakde Tarman yang remang.Dia baru saja meletakkan ponselnya, namun kacamata ini menangkap riwayat aktivitasnya dengan presisi digital. Alisku bertaut. Ternyata, setelah mengirimkan rentetan foto panas itu kepadaku, dia meneruskan foto-foto yang sama kepada Herman."Apa yang sedang kau rencanakan, Sari? Kenapa kau mengirimkan foto-foto itu pada Herman?"Suaraku menggelegar langsung di pusat kesadaran Sari. Dia tersentak, hampir terjungkal dari tepi tempat tidur. Matanya yang sayu membelalak, menoleh panik ke penjuru kamar yang kosong."T-tuan? Ampun, Tuan Bejo!"Sa

  • Kacamata Penakluk   56. Tarman kembali

    Layar kacamata emas itu masih menampilkan visual tiga dimensi Mila yang sedang gelisah di lorong rak, tapi dorongan adrenalin di nadiku menuntut sesuatu yang lebih nyata daripada sekadar proyeksi digital. Aku melepaskan kacamata itu, menyeringai menatap pantulan diriku yang kerempeng namun penuh kuasa di cermin ruang kerja. Unit penthouse ini terasa terlalu sunyi. Aku butuh melihat langsung bagaimana pelayan baruku itu gemetar di bawah tatapanku di tempat umum. Aku menyambar kemeja flanel gelap, memakainya tanpa dikancing untuk menutupi kaus oblongku, lalu melangkah keluar menuju lift pribadi. Denting halus lift membawa perasaanku turun ke lantai dasar. Begitu pintu terbuka di area komersial yang sejuk oleh angin sore, aku berjalan santai menuju minimarket berlogo merah-biru itu. Lonceng di atas pintu berdenting saat aku melangkah masuk. Aroma khas pembersih lantai dan roti murah langsung menyambut. Mila sedang membelakangiku, berjinjit untuk menata deretan susu kotak di rak pal

  • Kacamata Penakluk   55. Tanpa pelindung

    Mila melangkah keluar dari toilet dengan gerakan yang kaku, seolah-olah setiap sendinya terbuat dari kaca yang hampir retak. Aku menikmati keresahannya sambil bersandar di kursi kulit kerjaku, melihat pemandangan tiga dimensi dari Mila yang yang terpampang nyata. Kain kemeja seragam minimarket yang berbahan poliester kasar itu bergesekan langsung dengan kulit payudaranya yang sensitif. Setiap helai napas yang ia tarik membuat kain itu mengikis kuncup dadanya, menciptakan sensasi geli yang menyiksa sekaligus membangkitkan gairah yang terpancar dari rona merah di pipinya. Sepasang tonjolan kecil tercetak jelas di balik kain tipis seragamnya. Tanpa penyangga bra, gundukan kembar itu bergoyang bebas mengikuti irama langkahnya yang ragu. Untungnya, sore itu minimarket cukup lengang, hanya deru mesin pendingin dan suara barang yang digeser dari arah gudang yang memecah keheningan. Rekan kerjanya, seorang wanita berambut dikuncir kuda, mendongak dari balik meja kasir. Matanya menyi

  • Kacamata Penakluk   54. Mulai mengerjai Mila

    Lantai marmer penthouse menyambut langkah kakiku dengan keheningan yang mahal. Istana rahasiaku ini terasa semakin seperti rumah, jauh lebih nyaman daripada bilik kantor yang menyesakkan dan penuh tekanan atasan. Aku meregangkan bahu, merasakan empuknya sofa kulit yang menyangga tubuh kerempengku. Nadia belum pulang. Di kantor, aku juga tidak melihat batang hidungnya. Tapi biarlah, sepertinya dia sedang "bertugas" menjadi santapan para elit politik busuk itu. Bayangan dia sedang melayani pria-pria berjas itu sempat melintas, namun rasa penasaranku justru tertuju pada mangsa lain. Mila. Pelayan ketigaku yang baru saja kutaklukkan semalam. Aku berjalan menuju meja kerja, tempat kacamata berbingkai emas itu tergeletak diam. Seharian ini aku sengaja meninggalkannya. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak bergantung pada benda ini. Namun, rindu akan kendali mutlak itu mulai menggerogoti kewarasanku. "Kamu m

  • Kacamata Penakluk   53. Membeli kesetiaan

    Lampu-lampu taman di sekitar kolam renang memantul redup pada permukaan air yang tenang, menciptakan riak cahaya yang menari-nari di kulit Mila yang masih berkeringat. Aku merapikan ikat pinggang, mengabaikan Mila yang sibuk memunguti pakaian dalamnya dari lantai semen yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, aku membalikkan badan, melangkah meninggalkan kegelapan gudang alat itu menuju lobi utama. "Mas! Eh.. Tuan Bejo, tunggu!" Derap langkah kecil yang terburu-buru mengejarku. Sebuah tangan yang ramping dan masih gemetar mencengkeram lengan kemejaku, menahan gerakanku. Mila berdiri di depanku dengan napas tersengal, kancing kemejanya salah pasang dan kerudungnya tersampir asal-asalan, membingkai wajahnya yang pucat penuh harap. "Uang itu... Tuan akan benar-benar membayar semua hutang-hutang saya, kan?" Aku berhenti, memutar tubuh perlahan hingga bayanganku yang tinggi menutupi sosok mungilnya. Ujung t

  • Kacamata Penakluk   52. Pelayan ketiga: Mila

    Jarum jam di dinding penthous menunjukkan pukul 00.30. Sudah lewat setengah jam dari janji pertemuan dengan Mila. Sial, semua gara-gara aku terlalu fokus mengerjai Sari. Aku bergegas turun dan melintasi lobi apartemen yang mulai sepi, hanya tersisa aroma pembersih lantai yang tajam dan dengung pelan mesin pendingin ruangan. Langkah kakiku menggema di lantai marmer saat aku menuju area kolam renang yang terletak di dekat zona komersial. Sesosok wanita duduk meringkuk di salah satu kursi santai kayu di pinggir kolam. Cahaya dari layar ponselnya menerangi wajahnya yang cemas di tengah kegelapan. Mila. Begitu menyadari kehadiranku, dia langsung melompat berdiri. Napasnya terembus panjang, seolah seluruh beban di pundaknya baru saja luruh. "Kira-kira lima menit lagi Mas Bejo nggak muncul, aku sudah mau pulang." Mila merapikan kemejanya yang sedikit kusut, matanya yang bulat menatapku dengan binar lega sekaligus lelah. "Ada urusan yang

  • Kacamata Penakluk   20. Combat mode

    Langkah kaki mereka berat, mencabut aspal jalanan desa yang sepi dengan amarah yang mendidih. Pak RT memimpin di depan, obor di tangan kanannya menari-nari ditiup angin malam, menyinari wajah-wajah pria paruh baya yang biasanya ramah namun kini tampak seperti

  • Kacamata Penakluk   19. Menahan mereka bekerja

    Sari bergoyang pelan di atas karung goni, pinggulnya terangkat, membiarkan jeans yang melorot tadi bertengger di pangkal pahanya. Kulit putih mulusnya berkilau di bawah cahaya lampu sorot yang temaram, memantulkan bayangan samar di dinding gudang.Napasnya mem

  • Kacamata Penakluk   18. Aksi di gudang herman

    Aku kembali mengenakan kacamata dan mengaktifkan mode monitor. Layar hologram biru di kornea mataku berkedip, menampilkan jalan setapak yang remang-remang di tepi hutan.Sosok Sari berjalan sendirian, langkahnya anggun, dengan jeans ketat dan jaket denim lusuh

  • Kacamata Penakluk   17. Merasa dikhianati

    Layar hologram di sudut mataku kembali berpijar, menampilkan interior rumah mewah Tarman yang pengap oleh hawa ketegangan. Sari melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, jejak-jejak pertemuanku dengannya tadi masih membekas di rona merah pipinya.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status