MasukSinar matahari pagi menerobos celah-celah dinding kayu rumah nenek, membentuk garis-garis debu yang menari di udara pengap. Aku mengerjap, merasakan sisa-sisa kelelahan semalam masih menggelayut di pundakku.
Di sampingku, Nadia tertidur pulas dengan posisi meringkuk, wajahnya yang tanpa riasan terlihat begitu polos dan rapuh—sangat jauh dari citra manajer HRD yang galak dan perhitungan.
"Bangun, Nadia. Siapkan air untukku."
Nadia tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Tanpa membantah, dia segera bangkit, mengabaikan rambutnya yang berantakan. "Baik, Tuan. Segera."
Aku memperhatikannya berjalan menuju dapur dengan langkah yang masih sedikit goyah. Kepatuhan absolut. Kacamata ini benar-benar tidak main-main. Aku menyentuh tulang pipiku, memanggil layar sistem yang langsung muncul dengan pendar biru yang tenang.
[STATUS TERBARU NADIA: KEPATUHAN ABSOLUT (PERMANEN)]
Aku tersenyum tipis. "Nadia, aku harus ke rumah Pak RT. Kamu tetap di sini. Jangan biarkan siapapun masuk, dan jangan pernah keluar tanpa izin dariku. Mengerti?"
Nadia muncul dari balik sekat dapur, tangannya masih basah. Dia menunduk dalam, menyembunyikan tatapan yang kini sepenuhnya menjadi milikku. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan menunggu Anda di sini."
Aku melangkah keluar, meninggalkan keheningan rumah itu menuju pemukiman warga. Jalanan tanah desa masih lembap oleh embun pagi. Bau kotoran ternak dan asap tungku dari rumah-rumah tetangga menyambutku.
Tak jauh dari sana, rumah Pak RT yang berdinding semen—satu dari sedikit rumah permanen di desa ini—berdiri tegak.
"Bejo! Akhirnya kamu datang juga."
Pak RT berdiri di teras, tangannya memegang segelas kopi hitam yang masih mengepul. Dia menyambutku dengan senyum iba yang membuat hatiku sedikit perih.
"Maaf, Pak RT. Semalam saya sampai terlalu larut."
Pak RT meletakkan gelasnya di atas meja jengki yang sudah kusam. "Bapak mengerti. Kamu pasti lelah luar biasa. Mari, Bapak antar ke makam Nenekmu."
Kami berjalan menyusuri pematang sawah menuju pemakaman umum desa. Tanah merah yang masih basah di bawah pohon kamboja besar itu menjadi tempat peristirahatan terakhir satu-satunya orang yang menyayangiku. Aku berdiri terpaku, menatap gundukan tanah yang masih segar dengan taburan bunga yang mulai layu.
"Kenapa di sini, Pak?"
Pak RT menghela napas panjang, matanya menatap kejauhan, menghindari tatapanku. "Maksudmu?"
"Nenek pernah bilang berkali-kali. Beliau ingin dimakamkan di halaman belakang rumah. Itu tanahnya sendiri, Pak. Kenapa malah dibawa ke pemakaman umum?"
Wajah Pak RT berubah resah. Dia mengusap leher belakangnya dengan tangan yang kasar. "Jo... ini rumit. Pamanmu, Tarman. Dia datang kemarin saat kami baru saja hendak menggali liang lahat di belakang rumah nenekmu."
Darahku mendidih seketika. "Pakde Tarman? Apa urusannya dia dengan ini?"
"Dia melarangnya, Jo. Dia bilang, tanah itu aset keluarga. Dia tidak mau ada kuburan di sana karena... karena itu bisa menurunkan harga jual tanahnya nanti. Dia mengamuk di depan jenazah Nenekmu sendiri."
Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. "Menurunkan harga jual? Dia berniat menjual rumah Nenek?"
Pak RT mengangguk lemah. "Begitulah katanya. Dia bilang harta Nenek adalah haknya sebagai anak satu-satunya yang tersisa. Dia tidak peduli dengan wasiat Nenekmu. Kami tidak punya pilihan, Jo. Daripada jenazah Nenek tertahan karena keributan, kami putuskan membawanya ke sini."
"Binatang," desisku.
Aku tidak membuang waktu lagi. Tanpa pamit pada Pak RT yang terus memanggil namaku, aku melangkah lebar menuju sisi lain desa, tempat rumah Paman Tarman berdiri. Rumahnya jauh lebih mewah dari rumah Nenek, hasil dari bertahun-tahun merampas sedikit demi sedikit jatah hidup Nenek yang seharusnya dikirimkan oleh mendiang ayahku dulu.
Pintu depan rumahnya terbuka lebar. Aku masuk tanpa mengetuk, kemarahan menutupi rasa hormat yang seharusnya ada. Tarman sedang duduk santai di kursi rotan, menghisap rokok kreteknya sambil membolak-balik lembaran kertas yang sangat kukenali: sertifikat tanah Nenek.
"Oh, si anak pungut datang."
Tarman melirikku tanpa minat, tawanya keluar bersama kepulan asap yang bau. Dia tidak beranjak dari kursinya, malah sengaja mengangkat kakinya ke atas meja.
"Di mana rasa sopan santunmu, Pakde? Nenek meninggal, dan hal pertama yang Pakde pikirkan adalah menjual tanahnya?"
Tarman meletakkan kertas itu, menatapku dengan mata licik yang tertutup lemak. "Jaga bicaramu, Bejo. Aku ini anak kandungnya. Aku yang punya hak bicara soal harta. Kamu itu cuma cucu dari masku yang sudah mati. Tidak punya suara di sini."
Aku melangkah maju, berdiri tepat di depan mejanya. "Selama tiga tahun terakhir Nenek sakit, di mana Paman? Kenapa tidak pernah datang? Kenapa aku yang harus mengirim uang dari kota tiap bulan padahal gajiku cuma seberapa? Sekarang, saat beliau tidak bisa lagi bicara, Paman datang seperti burung bangkai?"
Tarman meludah ke samping, nyaris mengenai ujung sepatuku. "Nenekmu itu sudah tua. Sudah waktunya mati. Kenapa harus repot-repot diurus? Menghabiskan uang saja. Sekarang, rumah itu adalah modal usahaku. Kamu lebih baik balik ke kota, bersihkan toilet lagi, jangan ikut campur urusan orang dewasa."
"Harta... hanya itu yang ada di otakmu Pakde? Bahkan untuk tempat peristirahatan terakhir ibumu sendiri, Kau masih menghitung untung rugi?"
Tarman tertawa parau, sebuah suara yang membuatku ingin menghantam wajahnya yang berminyak itu.
"Dunia ini soal uang, jo! Memangnya kamu pikir mengubur orang di pekarangan rumah itu keren? Tanah itu luas, posisinya strategis. Ada pengembang yang sudah mengincarnya. Aku tidak akan membiarkan bangkai Nenekmu itu menghalangi rezekiku!"
Suara pintu kamar terbuka memecah ketegangan. Seorang wanita muda dengan daster sutra tipis yang mengekspos terlalu banyak kulit keluar sambil menguap.
Sari. Istri muda Paman Tarman yang usianya bahkan mungkin setahun di bawahku. Dia merangkul pundak Tarman dengan manja, menempelkan dadanya yang sengaja dibusungkan ke bahu Paman.
"Mas Tarman, siapa sih yang berisik begini? Mengganggu tidurku saja."
Sari melirikku dengan pandangan merendahkan, bibirnya yang dipulas lipstik tebal mencibir. "Oh, cucu ibumu yang miskin itu. Mau minta bagian warisan juga? Mas, jangan dikasih. Dia kan sudah kerja di kota, pasti sudah banyak uang dari hasil memeras keringat di lubang WC."
"Dengar itu? Istriku saja tahu kalau kamu cuma numpang hidup," timpal Tarman sambil mengelus tangan Sari.
Aku memejamkan mata, mencoba menahan ledakan amarah yang hampir meledak. Di saat itulah, kacamata tak kasat mataku bergetar hebat. Sebuah jendela sistem muncul, berwarna merah darah, menandakan ada informasi krusial yang baru saja terdeteksi.
[TARGET TERDETEKSI: SARI]
[HASIL SCANNING RAHASIA: TARGET MEMILIKI SKANDAL BESAR YANG DAPAT MENGHANCURKAN STRUKTUR SOSIAL DESA INI.]
Aku mengerutkan kening, tetap mempertahankan wajah datarku di depan mereka berdua. "Apa maksudnya?" bisikku dalam hati.
[DETAIL RAHASIA: TARGET SEDANG MENJALIN HUBUNGAN GELAP DENGAN BENDAHARA DESA DAN KEPALA POLISI SEKTOR UNTUK MENGURAS DANA DESA. TARGET MEMILIKI REKAMAN DAN BUKTI TRANSAKSI DI PONSELNYA.]
Seketika, rasa sakit hati yang menyiksa tadi berubah menjadi seringai tipis yang hampir tidak terlihat. Aku menatap Sari, yang kini sedang sibuk memeriksa kuku-kukunya yang dicat merah, sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh rahasia busuknya baru saja terpampang di depan mataku.
"Kenapa diam saja? Takut?" Sari mencibir lagi, matanya yang tajam menatapku penuh kebencian.
"Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum aku panggil warga dan bilang kamu mau merampok rumah ini. Kamu tahu kan, Pakdemu ini orang terpandang di sini. Kata-kataku lebih dipercaya daripada kata-katamu yang cuma bau sampah."
Aku menarik napas panjang, menenangkan detak jantungku. "Begitu ya? Orang terpandang?"
Tarman berdiri, mencoba mengintimidasi dengan perutnya yang buncit. "Pergi kamu dari sini, Bejo! Sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu tidak bisa balik ke kota sama sekali!"
Aku tidak bergerak. "Baiklah Pakde, aku akan pergi. Tapi ingat satu hal. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Pakde.. mungkin akan butuh lebih dari sekadar uang, saat kau tahu siapa sebenarnya orang-orang di sekitarmu."
Sari tertawa nyaring, suara yang terdengar seperti gesekan besi. "Bicara apa sih kamu? Sudah, Mas, usir saja dia. Aku lapar, ayo makan di luar."
Aku berbalik, melangkah keluar dari rumah itu. Namun, sebelum benar-benar melewati ambang pintu, aku menyentuh pelipisku, memberikan perintah mental pada sistem.
"Kunci target: Sari. Jadikan dia target berikutnya setelah urusanku di sini selesai."
[KONFIRMASI: TARGET SARI TELAH DIKUNCI. PROSES PEMANTAUAN DIMULAI.]
Aku berjalan kembali ke arah rumah Nenek dengan langkah yang jauh lebih ringan. Kebencianku masih ada, menggunung di dalam dada, namun kini dibarengi dengan rasa haus akan keadilan yang gelap.
Tarman menganggapku sampah. Sari menganggapku kecoa. Mereka tidak tahu bahwa aku sekarang memegang kendali atas kehancuran mereka.
Begitu sampai di halaman rumah, aku melihat Nadia sedang berdiri di teras, persis seperti yang kuperintahkan. Dia langsung turun saat melihatku, membawakan segelas air putih dengan tangan yang gemetar halus.
"Tuan... Anda terlihat sangat marah. Apa yang terjadi?"
Aku mengambil gelas itu, meneguk isinya hingga habis, lalu menatap Nadia dalam-dalam.
"Sepertinya urusanku di kampung ini akan jauh lebih lama dan lebih rumit dari yang kubayangkan, Nadia."
Aku meletakkan gelas kosong itu di meja teras yang berdebu. Nadia menatapku dengan patuh, menunggu perintah selanjutnya tanpa berani menyela.
Matanya menunjukkan sedikit rasa ingin tahu, namun tertutup oleh pengabdian yang sudah terkunci sistem.
"Aku ingin kamu kembali ke kota sore ini. Orang-orang kantor akan curiga kalau kau tidak masuk. Lalu, urus kehadiranku, sehingga aku tidak tercatat bolos beberapa hari ke depan. Atau mungkin.. beberapa minggu."
Nadia mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Apapun perintah Anda."
Kruuukk...
Perut Nadia tiba-tiba berbunyi cukup keras, memecah ketegangan di antara kami. Wajahnya merona merah karena malu, dia menunduk sambil meremas ujung blusnya.
"Maafkan saya, Tuan... saya..."
Aku tersenyum tipis, mataku menyapu tubuh Nadia yang tampak sempoyongan. Sejak pagi dia hanya menungguku dengan kepatuhan membatu, tanpa menyentuh makanan apapun.
Rambut hitamnya yang semula rapi kini mulai berantakan, dan wajahnya menampakkan jejak kelelahan yang dalam.
"Bersihkan dirimu dan rapikan rambutmu," suaraku terdengar lembut namun tegas. "Aku tahu perutmu sudah menjerit kelaparan."
Kakiku melangkah ringan menuju mobil SUV hitamnya, yang terparkir di bawah pohon nangka tua dengan daun-daun yang bergoyang pelan. Ranting-ranting pohon membuat bayangan remang di atas kap mobil mengkilat.
"Kita akan makan di luar sebelum kamu berangkat," ujarku sambil melirik Nadia yang berdiri di belakangku. "Kita makan di tempat terbaik yang bisa ditemukan di sekitar desa ini."
Aku kembali mengenakan kacamata dan mengaktifkan mode monitor. Layar hologram biru di kornea mataku berkedip, menampilkan jalan setapak yang remang-remang di tepi hutan.Sosok Sari berjalan sendirian, langkahnya anggun, dengan jeans ketat dan jaket denim lusuh yang tidak dikancingkan sepenuhnya. Malam mulai merayap, menyelimuti desa dengan keheningan.Kilatan cahaya di kacamata ini berkedip, menandai lokasi gudang. Tidak jauh dari sana, cahaya lampu sorot yang remang-remang memecah kegelapan. Sebuah truk kontainer besar terparkir di halaman.Sepuluh pria berbadan kekar, dengan otot-otot menonjol di balik kaus lusuh mereka, tampak sibuk memindahkan karung-karung pupuk ke dalam truk. Mereka bukan wajah-wajah desa yang kukenal. Sepertinya mereka preman bayaran dari luar yang biasa digunakan untuk pekerjaan kotor.Sari semakin mendekat. Setiap langkah kakinya yang jenjang, setiap ayunan pinggulnya, adalah magnet yang
Layar hologram di sudut mataku kembali berpijar, menampilkan interior rumah mewah Tarman yang pengap oleh hawa ketegangan. Sari melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, jejak-jejak pertemuanku dengannya tadi masih membekas di rona merah pipinya.Tarman sedang mondar-mandir di ruang tengah, puntung rokok berserakan di asbak kristal."Dari mana saja kamu? Bu RT bicara apa sampai lama sekali?"Sari meletakkan tasnya dengan dentum pelan di meja marmer, matanya menatap lurus ke arah suaminya yang tampak rapuh."Soal program desa, Mas. Tapi lupakan dulu. Aku baru saja berpikir, sebaiknya malam ini biar aku saja yang mengawasi pemindahan barang di gudang."Tarman menghentikan langkahnya, keningnya berkerut dalam. "Kamu? Sendirian? Sari, di sana itu cuma ada kuli-kuli bayaran dari luar desa. Mereka itu kasar, tidak kenal siapa kamu.""Justru itu, Mas. Kalau Kades baru itu atau intelny
Aku harus segera menyiapkan rencana karena nanti malam mereka akan beraksi. Jemariku menari di atas layar ponsel, mengetik pesan singkat kepada Sari."Ke rumah Nenek. Sekarang. Aku tidak suka menunggu."Di monitor, aku melihat ponsel Sari yang tergeletak di samping paha Tarman bergetar. Wanita itu menyambarnya dengan gerakan kilat. Matanya membelalak, binar kegembiraan yang liar terpancar dari pupilnya yang melebar.Dia mencoba menahan senyum, tapi napasnya yang tiba-tiba memburu tidak bisa membohongi suaminya. Melihat Sari yang tiba-tiba bersemangat mendapatkan pesan, Tarman sepertinya curiga. Dia menyipitkan mata, tangannya berhenti meremas paha Sari."Siapa itu, sayang? Kok wajahmu sampai merah begitu?""Ini... ini Bu RT, Mas. Katanya ada urusan mendesak soal bantuan sosial untuk ibu-ibu di blok sebelah. Dia minta aku datang sekarang juga."Sari menjawab tanpa ragu, suaranya ter
Sari mencapai televisi, jari-jari tangannya menyentuh dudukan TV yang rendah. Punggungnya melengkung indah, bokongnya menungging penuh tantangan ke arah para pekerja yang kini terdiam mematung.Tangan kanannya terulur meraih tombol fisik di sisi bawah tv led besar itu, sementara tangan kirinya bertumpu pada lututnya yang berlipat. Posisi itu semakin menonjolkan lekukan pinggangnya, membuat daster tipisnya melar menampakkan celana dalam yang tipis.Dia menekan tombol berkali-kali, seolah sungguh-sungguh mencari saluran. Setiap penekanan, tubuhnya sedikit berguncang, membuat pinggulnya ikut bergoyang pelan.Goyangan kecil itu, meskipun sepele, mengirimkan gelombang sensasi ke tubuhnya yang sensitif maksimal, membuat napasnya sedikit memberat."Aduh, kok enggak bisa diganti-ganti sih?" Sari menggumam, suaranya sedikit sengau.Dia menyandarkan tubuhnya lebih jauh ke depan, membuat bokongnya semakin terangka
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu, membiarkan pikiranku berputar liar memproses informasi di gudang tersembunyi itu. Bau korupsi ini jauh lebih menyengat daripada aroma bangkai tikus busuk yang tersembunyi di balik lemari.Di persimpangan dekat balai desa, sosok Pak RT muncul dengan bahu merosot dan langkah gontai. Wajahnya yang keriput terlihat lebih tua sepuluh tahun di bawah terik matahari siang ini. Aku langsung menghampiri dan mengiringi langkahnya dari samping."Lagi mikirin apa Pak RT? Sepertinya masalahnya berat."Sambil terus berjalan, Pak RT menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Ia menghela napas berat, asap dari rokok lintingannya mengepul pelan."Berat banget, Jo. Ini masalah perut warga desa.""Ada masalah apa sebenarnya?""Jadi, beberapa hari lalu gudang desa dicuri. Semua alat pertanian dan pupuk subsidi yang baru datang untuk musim tanam
Aku menghela napas, menyandarkan punggung ke tiang kayu teras yang kasar. Sari dan Herman sudah cukup membuat perutku mual dengan kemurahan mereka. Kini, aku butuh tontonan yang lebih berkelas.Aku beralih ke menu monitor Nadia. Layar monitor di kornea mataku berkedip, beralih dari pemandangan kumuh di kantor bendahara desa menuju kemewahan dingin sebuah gedung perkantoran di pusat kota.Nadia duduk di balik meja mahoni besarnya yang mengilap. Wajah oriental itu tampak sangat gelisah. Blazer hitam yang tadi pagi ia kenakan kini tersampir di sandaran kursi, meninggalkan tubuh bagian atasnya hanya dibalut blouse tanpa lengan setelan crop top yang tipis.Karena sensitivitas tubuhnya yang masih kusetting maksimal, aku bisa melihat bagaimana ia terus bergeser di kursi empuknya, seolah permukaan kulitnya terbakar oleh udara AC yang dingin.Setiap gerakan kecil membuat kain blouse itu menggesek ujung dadanya. Nadia memej