Accueil / Thriller / Kacamata Penakluk / 7. Istri muda pamanku

Share

7. Istri muda pamanku

Auteur: Lincooln
last update Date de publication: 2026-02-15 12:00:35

Sinar matahari pagi menerobos celah-celah dinding kayu rumah nenek, membentuk garis-garis debu yang menari di udara pengap. Aku mengerjap, merasakan sisa-sisa kelelahan semalam masih menggelayut di pundakku.

Di sampingku, Nadia tertidur pulas dengan posisi meringkuk, wajahnya yang tanpa riasan terlihat begitu polos dan rapuh—sangat jauh dari citra manajer HRD yang galak dan perhitungan.

"Bangun, Nadia. Siapkan air untukku."

Nadia tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Tanpa membantah, dia segera bangkit, mengabaikan rambutnya yang berantakan. "Baik, Tuan. Segera."

Aku memperhatikannya berjalan menuju dapur dengan langkah yang masih sedikit goyah. Kepatuhan absolut. Kacamata ini benar-benar tidak main-main. Aku menyentuh tulang pipiku, memanggil layar sistem yang langsung muncul dengan pendar biru yang tenang.

[STATUS TERBARU NADIA: KEPATUHAN ABSOLUT (PERMANEN)]

Aku tersenyum tipis. "Nadia, aku harus ke rumah Pak RT. Kamu tetap di sini. Jangan biarkan siapapun masuk, dan jangan pernah keluar tanpa izin dariku. Mengerti?"

Nadia muncul dari balik sekat dapur, tangannya masih basah. Dia menunduk dalam, menyembunyikan tatapan yang kini sepenuhnya menjadi milikku. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan menunggu Anda di sini."

Aku melangkah keluar, meninggalkan keheningan rumah itu menuju pemukiman warga. Jalanan tanah desa masih lembap oleh embun pagi. Bau kotoran ternak dan asap tungku dari rumah-rumah tetangga menyambutku.

Tak jauh dari sana, rumah Pak RT yang berdinding semen—satu dari sedikit rumah permanen di desa ini—berdiri tegak.

"Bejo! Akhirnya kamu datang juga."

Pak RT berdiri di teras, tangannya memegang segelas kopi hitam yang masih mengepul. Dia menyambutku dengan senyum iba yang membuat hatiku sedikit perih.

"Maaf, Pak RT. Semalam saya sampai terlalu larut."

Pak RT meletakkan gelasnya di atas meja jengki yang sudah kusam. "Bapak mengerti. Kamu pasti lelah luar biasa. Mari, Bapak antar ke makam Nenekmu."

Kami berjalan menyusuri pematang sawah menuju pemakaman umum desa. Tanah merah yang masih basah di bawah pohon kamboja besar itu menjadi tempat peristirahatan terakhir satu-satunya orang yang menyayangiku. Aku berdiri terpaku, menatap gundukan tanah yang masih segar dengan taburan bunga yang mulai layu.

"Kenapa di sini, Pak?"

Pak RT menghela napas panjang, matanya menatap kejauhan, menghindari tatapanku. "Maksudmu?"

"Nenek pernah bilang berkali-kali. Beliau ingin dimakamkan di halaman belakang rumah. Itu tanahnya sendiri, Pak. Kenapa malah dibawa ke pemakaman umum?"

Wajah Pak RT berubah resah. Dia mengusap leher belakangnya dengan tangan yang kasar. "Jo... ini rumit. Pamanmu, Tarman. Dia datang kemarin saat kami baru saja hendak menggali liang lahat di belakang rumah nenekmu."

Darahku mendidih seketika. "Pakde Tarman? Apa urusannya dia dengan ini?"

"Dia melarangnya, Jo. Dia bilang, tanah itu aset keluarga. Dia tidak mau ada kuburan di sana karena... karena itu bisa menurunkan harga jual tanahnya nanti. Dia mengamuk di depan jenazah Nenekmu sendiri."

Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. "Menurunkan harga jual? Dia berniat menjual rumah Nenek?"

Pak RT mengangguk lemah. "Begitulah katanya. Dia bilang harta Nenek adalah haknya sebagai anak satu-satunya yang tersisa. Dia tidak peduli dengan wasiat Nenekmu. Kami tidak punya pilihan, Jo. Daripada jenazah Nenek tertahan karena keributan, kami putuskan membawanya ke sini."

"Binatang," desisku.

Aku tidak membuang waktu lagi. Tanpa pamit pada Pak RT yang terus memanggil namaku, aku melangkah lebar menuju sisi lain desa, tempat rumah Paman Tarman berdiri. Rumahnya jauh lebih mewah dari rumah Nenek, hasil dari bertahun-tahun merampas sedikit demi sedikit jatah hidup Nenek yang seharusnya dikirimkan oleh mendiang ayahku dulu.

Pintu depan rumahnya terbuka lebar. Aku masuk tanpa mengetuk, kemarahan menutupi rasa hormat yang seharusnya ada. Tarman sedang duduk santai di kursi rotan, menghisap rokok kreteknya sambil membolak-balik lembaran kertas yang sangat kukenali: sertifikat tanah Nenek.

"Oh, si anak pungut datang."

Tarman melirikku tanpa minat, tawanya keluar bersama kepulan asap yang bau. Dia tidak beranjak dari kursinya, malah sengaja mengangkat kakinya ke atas meja.

"Di mana rasa sopan santunmu, Pakde? Nenek meninggal, dan hal pertama yang Pakde pikirkan adalah menjual tanahnya?"

Tarman meletakkan kertas itu, menatapku dengan mata licik yang tertutup lemak. "Jaga bicaramu, Bejo. Aku ini anak kandungnya. Aku yang punya hak bicara soal harta. Kamu itu cuma cucu dari masku yang sudah mati. Tidak punya suara di sini."

Aku melangkah maju, berdiri tepat di depan mejanya. "Selama tiga tahun terakhir Nenek sakit, di mana Paman? Kenapa tidak pernah datang? Kenapa aku yang harus mengirim uang dari kota tiap bulan padahal gajiku cuma seberapa? Sekarang, saat beliau tidak bisa lagi bicara, Paman datang seperti burung bangkai?"

Tarman meludah ke samping, nyaris mengenai ujung sepatuku. "Nenekmu itu sudah tua. Sudah waktunya mati. Kenapa harus repot-repot diurus? Menghabiskan uang saja. Sekarang, rumah itu adalah modal usahaku. Kamu lebih baik balik ke kota, bersihkan toilet lagi, jangan ikut campur urusan orang dewasa."

"Harta... hanya itu yang ada di otakmu Pakde? Bahkan untuk tempat peristirahatan terakhir ibumu sendiri, Kau masih menghitung untung rugi?"

Tarman tertawa parau, sebuah suara yang membuatku ingin menghantam wajahnya yang berminyak itu.

"Dunia ini soal uang, jo! Memangnya kamu pikir mengubur orang di pekarangan rumah itu keren? Tanah itu luas, posisinya strategis. Ada pengembang yang sudah mengincarnya. Aku tidak akan membiarkan bangkai Nenekmu itu menghalangi rezekiku!"

Suara pintu kamar terbuka memecah ketegangan. Seorang wanita muda dengan daster sutra tipis yang mengekspos terlalu banyak kulit keluar sambil menguap.

Sari. Istri muda Paman Tarman yang usianya bahkan mungkin setahun di bawahku. Dia merangkul pundak Tarman dengan manja, menempelkan dadanya yang sengaja dibusungkan ke bahu Paman.

"Mas Tarman, siapa sih yang berisik begini? Mengganggu tidurku saja."

Sari melirikku dengan pandangan merendahkan, bibirnya yang dipulas lipstik tebal mencibir. "Oh, cucu ibumu yang miskin itu. Mau minta bagian warisan juga? Mas, jangan dikasih. Dia kan sudah kerja di kota, pasti sudah banyak uang dari hasil memeras keringat di lubang WC."

"Dengar itu? Istriku saja tahu kalau kamu cuma numpang hidup," timpal Tarman sambil mengelus tangan Sari.

Aku memejamkan mata, mencoba menahan ledakan amarah yang hampir meledak. Di saat itulah, kacamata tak kasat mataku bergetar hebat. Sebuah jendela sistem muncul, berwarna merah darah, menandakan ada informasi krusial yang baru saja terdeteksi.

[TARGET TERDETEKSI: SARI]

[HASIL SCANNING RAHASIA: TARGET MEMILIKI SKANDAL BESAR YANG DAPAT MENGHANCURKAN STRUKTUR SOSIAL DESA INI.]

Aku mengerutkan kening, tetap mempertahankan wajah datarku di depan mereka berdua. "Apa maksudnya?" bisikku dalam hati.

[DETAIL RAHASIA: TARGET SEDANG MENJALIN HUBUNGAN GELAP DENGAN BENDAHARA DESA DAN KEPALA POLISI SEKTOR UNTUK MENGURAS DANA DESA. TARGET MEMILIKI REKAMAN DAN BUKTI TRANSAKSI DI PONSELNYA.]

Seketika, rasa sakit hati yang menyiksa tadi berubah menjadi seringai tipis yang hampir tidak terlihat. Aku menatap Sari, yang kini sedang sibuk memeriksa kuku-kukunya yang dicat merah, sama sekali tidak menyadari bahwa seluruh rahasia busuknya baru saja terpampang di depan mataku.

"Kenapa diam saja? Takut?" Sari mencibir lagi, matanya yang tajam menatapku penuh kebencian.

"Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum aku panggil warga dan bilang kamu mau merampok rumah ini. Kamu tahu kan, Pakdemu ini orang terpandang di sini. Kata-kataku lebih dipercaya daripada kata-katamu yang cuma bau sampah."

Aku menarik napas panjang, menenangkan detak jantungku. "Begitu ya? Orang terpandang?"

Tarman berdiri, mencoba mengintimidasi dengan perutnya yang buncit. "Pergi kamu dari sini, Bejo! Sebelum aku kehilangan kesabaran dan membuatmu tidak bisa balik ke kota sama sekali!"

Aku tidak bergerak. "Baiklah Pakde, aku akan pergi. Tapi ingat satu hal. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai. Pakde.. mungkin akan butuh lebih dari sekadar uang, saat kau tahu siapa sebenarnya orang-orang di sekitarmu."

Sari tertawa nyaring, suara yang terdengar seperti gesekan besi. "Bicara apa sih kamu? Sudah, Mas, usir saja dia. Aku lapar, ayo makan di luar."

Aku berbalik, melangkah keluar dari rumah itu. Namun, sebelum benar-benar melewati ambang pintu, aku menyentuh pelipisku, memberikan perintah mental pada sistem.

"Kunci target: Sari. Jadikan dia target berikutnya setelah urusanku di sini selesai."

[KONFIRMASI: TARGET SARI TELAH DIKUNCI. PROSES PEMANTAUAN DIMULAI.]

Aku berjalan kembali ke arah rumah Nenek dengan langkah yang jauh lebih ringan. Kebencianku masih ada, menggunung di dalam dada, namun kini dibarengi dengan rasa haus akan keadilan yang gelap.

Tarman menganggapku sampah. Sari menganggapku kecoa. Mereka tidak tahu bahwa aku sekarang memegang kendali atas kehancuran mereka.

Begitu sampai di halaman rumah, aku melihat Nadia sedang berdiri di teras, persis seperti yang kuperintahkan. Dia langsung turun saat melihatku, membawakan segelas air putih dengan tangan yang gemetar halus.

"Tuan... Anda terlihat sangat marah. Apa yang terjadi?"

Aku mengambil gelas itu, meneguk isinya hingga habis, lalu menatap Nadia dalam-dalam.

"Sepertinya urusanku di kampung ini akan jauh lebih lama dan lebih rumit dari yang kubayangkan, Nadia."

Aku meletakkan gelas kosong itu di meja teras yang berdebu. Nadia menatapku dengan patuh, menunggu perintah selanjutnya tanpa berani menyela.

Matanya menunjukkan sedikit rasa ingin tahu, namun tertutup oleh pengabdian yang sudah terkunci sistem.

"Aku ingin kamu kembali ke kota sore ini. Orang-orang kantor akan curiga kalau kau tidak masuk. Lalu, urus kehadiranku, sehingga aku tidak tercatat bolos beberapa hari ke depan. Atau mungkin.. beberapa minggu."

Nadia mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Apapun perintah Anda."

Kruuukk...

Perut Nadia tiba-tiba berbunyi cukup keras, memecah ketegangan di antara kami. Wajahnya merona merah karena malu, dia menunduk sambil meremas ujung blusnya.

"Maafkan saya, Tuan... saya..."

Aku tersenyum tipis, mataku menyapu tubuh Nadia yang tampak sempoyongan. Sejak pagi dia hanya menungguku dengan kepatuhan membatu, tanpa menyentuh makanan apapun.

Rambut hitamnya yang semula rapi kini mulai berantakan, dan wajahnya menampakkan jejak kelelahan yang dalam.

"Bersihkan dirimu dan rapikan rambutmu," suaraku terdengar lembut namun tegas. "Aku tahu perutmu sudah menjerit kelaparan."

Kakiku melangkah ringan menuju mobil SUV hitamnya, yang terparkir di bawah pohon nangka tua dengan daun-daun yang bergoyang pelan. Ranting-ranting pohon membuat bayangan remang di atas kap mobil mengkilat.

"Kita akan makan di luar sebelum kamu berangkat," ujarku sambil melirik Nadia yang berdiri di belakangku. "Kita makan di tempat terbaik yang bisa ditemukan di sekitar desa ini."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kacamata Penakluk   69. Ancaman Herman

    Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da

  • Kacamata Penakluk   68. Sari ingin dilihat

    Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,

  • Kacamata Penakluk   67. Mengunjungi Mila

    Langkahku terasa ringan saat menyusuri lantai marmer lobi apartemen yang dingin. Seringai lebar tidak bisa lepas dari wajahku; memori tentang Citra yang terengah-engah di atas meja pantry bersama Hardi masih terputar jelas di balik lensa kacamata emas ini. Aku memegang kendali penuh sekarang. Satu unggahan video, dan dunia putri kecil pemegang saham itu akan hancur berkeping-keping.Sebelum naik ke unitku, aku membelokkan langkah menuju area komersial. Lampu neon minimarket yang benderang menarik perhatianku. Di balik kaca transparan, aku melihat Mila. Pelayanku yang satu ini tampak sangat berbeda sore ini.Aku berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di depannya dari balik rak pajangan majalah. Mila mengenakan kemeja seragam yang ukurannya jelas dua nomor terlalu kecil. Kain sintetis itu meregang hingga batas maksimal, memperlihatkan tarikan benang yang nyaris putus di sekitar kancingnya. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memamerkan belahan dadanya yang tertekan hebat hingga ta

  • Kacamata Penakluk   66. Rahasia Citra

    Lantai koridor yang sepi memantulkan bunyi langkah kakiku yang sengaja kubuat seringan mungkin. Aku baru saja mengunci pintu gudang arsip, masih membawa aroma debu kertas tua di seragam OB-ku, ketika sosok mungil itu melintas di persimpangan menuju pantry. Citra. Rambut cokelat madunya bergoyang mengikuti langkahnya yang terburu-buru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada.Ada apa dengan si anak manja ini? Bukannya dia tadi sudah mengancam akan memecatku dan pergi ke salon?Aku menempelkan jari ke bingkai kacamata emas ini, mengaktifkan mode siluman. Pandanganku sedikit menajam, kontras warna di sekitarku berubah saat sistem mulai memproses fokus maksimal. Aku membuntutinya, bersembunyi di balik bayangan pilar beton besar saat dia mendorong pintu pantry yang sedikit terbuka.Di dalam sana, bayangan seorang pria yang sangat kukenal berdiri membelakangi dispenser. Pak Hardi.Aku merapat ke dinding luar pantry, memiringkan kepala agar sensor kacamata bisa menangkap frekue

  • Kacamata Penakluk   65. Tidak berani pulang

    Lantai kantor terasa sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang mengisi kekosongan koridor. Aku melirik jam dinding di atas meja resepsionis yang mulai sepi.Masih pukul empat sore, tapi kubikel Citra sudah melompong. Kursinya yang berwarna abu-abu itu tampak seperti ejekan setelah insiden tamparan tadi. Dia pasti sedang mengadu pada ayahnya, atau mungkin meratapi nasib rok putihnya yang kini bernoda lumpur."Lari saja yang jauh, Citra. Kau baru saja menandatangani kontrak nerakamu," gumamku sambil membenarkan letak kacamata emas yang masih dalam mode siluman.Aku melangkah pelan menuju bagian belakang gedung, tempat gudang arsip berada. Ini adalah benteng pribadiku, ruangan pengap penuh tumpukan kertas tua di mana aku sering mengurung diri dari dunia luar.Aku mengunci pintu kayu itu dari dalam, membiarkan bau apek dan debu menenangkan syarafku. Aku duduk di atas sebuah boks plastik besar, menarik napas dalam-dalam

  • Kacamata Penakluk   64. Target baru: Citra

    Hardi masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menggoyangkan ponsel di depan mataku ketika pintu ruangannya terdorong terbuka tanpa ketukan. Sosok mungil dengan langkah yang dibuat-buat anggun masuk begitu saja. Citra. Rambutnya yang dicat cokelat madu tergerai berantakan namun disengaja, membingkai wajahnya yang mungil dengan bibir yang selalu dipoles lipstik merah menyala.Hardi tersentak, jempolnya bergerak secepat kilat menyembunyikan layar ponsel ke dalam saku jas."Aduh, Om Hardi! Kok pintunya nggak dikunci sih? Kan aku jadi bisa masuk seenaknya."Citra melirikku sekilas, sudut bibirnya terangkat meremehkan seolah aku hanyalah seonggok sampah yang lupa dibuang. Dia berjalan mendekati meja Hardi, pinggulnya bergoyang berlebihan di balik rok kantor yang sangat ketat."Lagi asyik apa sih? Kok kayaknya serius banget sama... siapa tadi namanya? Oh, Bejo ya?"Hardi berdehem, mencoba mengatur kembali raut wajahnya yang sempat panik."Bukan apa-apa, Cit. Ini si Bejo cuma penasaran mau l

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status