MasukCahaya biru redup dari lensa kacamata tak kasat mata itu berdenyut pelan, menyiram wajah Nadia yang masih bersimpuh di depanku. Aku menyandarkan punggung pada dinding kayu yang lapuk, menikmati pemandangan di bawah kakiku.
Perubahan itu tidak hanya terjadi pada angka di layar sistem, tapi meresap ke dalam pori-pori kulitnya.
Wajah Nadia yang tadinya kaku dan penuh kebencian kini melunak. Bibirnya yang dipulas lipstik merah mahal sedikit terbuka, mengeluarkan napas pendek yang gemetar.
Matanya tidak lagi menatapku dengan kilat amarah yang ingin membunuh, melainkan dengan tatapan kosong yang pasrah, seolah-olah jiwanya telah diserahkan sepenuhnya padaku.
"Tuan... apakah makanannya sudah boleh saya habiskan?"
Suaranya rendah, nyaris seperti dengkur kucing yang meminta perhatian. Keangkuhan manajer HRD yang dulu sanggup membuat seluruh lantai kantor gemetar kini menguap, digantikan oleh aura submisif yang begitu kental hingga aku bisa merasakannya di udara.
Aku menyodorkan piring itu kembali, membiarkannya mendarat di lantai kayu yang berdebu. "Habiskan. Jangan sisakan sebutir nasi pun."
Nadia tidak membuang waktu. Dia makan dengan jemarinya, mengabaikan sendok kayu yang tadi dia genggam dengan jijik. Setiap gerakannya kini terlihat lebih lentur, bahkan ada sesuatu yang menggoda dalam caranya menjilat sisa lemak telur dari ujung jarinya. Dia sesekali mendongak, memastikan aku masih mengawasinya.
"Piring-piring sudah menumpuk sejak kemarin lusa," aku menunjuk ke arah dapur kecil yang pengap. "Nenek belum sempat mencucinya sebelum... sebelum dia pergi. Bersihkan semuanya."
Nadia segera berdiri. Dia tidak lagi menggerutu atau menghentakkan kaki seperti saat menyapu tadi. "Baik, Tuan. Akan saya pastikan semuanya bersih."
Aku memperhatikannya dari belakang. Rok span mahalnya yang ketat bergesekan dengan paha saat dia melangkah menuju ember tempat mencuci piring di sebelah kompor. Dia menyingsingkan lengan blus sutranya, membiarkan kulit lengannya yang putih mulus terkena sabun colek murahan.
Suara denting piring dan gemericik air mengisi kesunyian rumah. Tidak ada keluhan. Hanya kepatuhan yang bisu.
"Kenapa diam saja?" aku mendekat, berdiri tepat di belakangnya hingga bisa mencium aroma parfumnya yang kini bercampur bau sabun colek. "Biasanya kamu punya banyak hal untuk dikomentari tentang kemiskinan tempat ini."
Nadia berhenti sejenak, bahunya sedikit tegang namun tidak menjauh. "Tempat ini... sekarang terasa berbeda, Tuan. Saya hanya ingin melakukan apa yang Tuan perintahkan."
Dia memutar tubuhnya, menatapku dengan bulu mata yang masih basah sisa tangis tadi. Ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang melampaui rasa takut. "Apakah ada hal lain yang Tuan inginkan setelah ini?"
Aku menyeringai, merasakan kekuatan kacamata ini semakin menyatu dengan aliran darahku. "Selesaikan itu dulu. Aku mau mandi."
Aku melangkah menuju pintu belakang, area terbuka yang hanya dibatasi oleh tembok semen setinggi dada dan atap seng yang sudah berlubang.
Di sana terdapat sumur tua dengan katrol kayu yang berderit setiap kali ember ditarik ke atas. Lantai semennya kasar dan berlumut di sudut-sudutnya, dingin menyentuh telapak kaki telanjangku.
Satu per satu pakaianku lepas. Seragam OB yang bau keringat dan debu kantor itu teronggok di atas bangku kayu kecil. Aku berdiri di bawah cahaya bulan yang menembus lubang atap, membiarkan kulit kerempengku diterpa angin malam desa yang menggigit.
Baru saja aku hendak menurunkan ember ke dalam sumur, suara langkah kaki pelan terdengar di ambang pintu kamar mandi.
Nadia berdiri di sana. Dia mematung melihatku tanpa sehelai benang pun. Wajahnya memerah seketika, matanya membelalak kaget. Dia buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Maaf! Maafkan saya, Tuan! Saya pikir Anda belum... saya hanya ingin memberitahu kalau dapur sudah bersih."
Suaranya bergetar hebat. Aku membiarkan ember itu menggantung, menatapnya dengan tenang. Rasa malu yang terpancar darinya justru memicu rasa ingin tahuku tentang sejauh mana sistem ini telah merusak benteng pertahanannya.
"Turunkan tanganmu, Nadia."
Dia ragu sejenak, lalu perlahan menurunkan tangannya. Matanya yang sembab menatap tubuhku yang kurus, namun dia tidak berpaling. Napasnya mulai memburu, dadanya yang montok naik turun di balik kain blus tipis itu.
"Apa Tuan butuh bantuan untuk menimba air?"
Aku menggeleng pelan. "Lebih dari sekadar menimba air. Lepas pakaianmu."
Hening. Hanya suara jangkrik dari luar rumah yang menyahut. Nadia menelan ludah, matanya bergerak gelisah antara wajahku dan lantai semen yang basah. "Di sini? Tapi Tuan... suhunya sangat dingin..."
"Apakah aku terdengar seperti ingin berdiskusi ?"
Aku melangkah satu kaki ke arahnya. Nadia gemetar. Tangannya naik ke kancing paling atas blusnya. Jemarinya yang biasanya lincah mengetik laporan pemecatan karyawan kini tampak kikuk. Satu kancing terbuka, memperlihatkan pangkal lehernya yang jenjang.
"Tolong... jangan lihat saya seperti itu..." bisiknya, namun tangannya terus bergerak ke kancing kedua.
Blus sutra itu merosot ke lantai, menumpuk di atas semen yang kotor. Dia hanya mengenakan bra renda hitam yang tampak sangat kontras dengan kulitnya yang putih susu.
Nadia menutup dadanya dengan lengan, wajahnya tertunduk dalam. Rasa malu itu nyata, namun tidak ada kemarahan yang tersisa.
"Semuanya, Nadia. Jangan biarkan selembar benang pun menempel di tubuhmu."
Satu per satu, sisa pakaiannya jatuh. Dia berdiri di hadapanku, telanjang bulat.
Aku terpana. Tubuhnya adalah sebuah karya seni yang dirawat dengan sangat teliti di salon-salon kelas atas kota besar. Dadanya yang kencang dan membusung, perutnya yang rata tanpa lemak sedikit pun, dan lekukan pinggul yang menuju ke arah bokong yang bulat sempurna.
Dia tampak seperti dewi yang tersesat di kamar mandi kumuh seorang yatim piatu.
"Mendekatlah. Mandi bersamaku."
Nadia melangkah maju, kakinya yang mungil berjinjit menghindari lumut. Begitu dia berdiri di sampingku, aku merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Dia tidak berani menyentuhku, hanya berdiri kaku menunggu instruksi selanjutnya.
Aku lalu duduk di bangku kecil tempat Nenek biasa mencuci baju. Nadia menurut. Dia bersimpuh di belakangku dengan posisi yang membuat semua lekuk tubuhnya terlihat semakin menonjol.
Aku menyerahkan kain waslap kasar padanya. "Bersihkan punggungku. Dan pastikan kamu melakukannya dengan benar."
Nadia mengambil waslap itu. Tangannya yang lembut mulai menggosok punggungku. Awalnya gerakannya sangat hati-hati, seolah takut kulitku akan lecet.
Namun lama-kelamaan, gerakannya menjadi lebih mantap. Aku bisa merasakan napas hangatnya di tengkukku saat dia membungkuk.
"Apakah ini cukup kuat, Tuan?"
Aku memejamkan mata, menikmati sensasi tangan halus manajer HRD yang biasanya hanya tahu cara menunjuk dan menghina. "Lebih kuat lagi. Buat aku merasakan setiap jengkal tanganmu."
Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merapatkan tubuhnya ke punggungku. Aku bisa merasakan gesekan dadanya yang kenyal di kulit punggungku yang kasar.
Sensasi itu membuat darahku berdesir hebat. Kejantananku yang sudah lama tertidur sejak perceraian beberapa tahun lalu mulai terbangun, menegang karena sentuhan lembut dan patuh dari Nadia.
"Sekarang bagian depan."
Nadia masih jongkok di belakangku, tidak langsung bergerak ke depan. Tangannya melingkar ke depan untuk membersihkan dadaku.
Tindakan itu membuat dadanya yang ranum terus menggesek punggungku secara konstan. Aku mengerang pelan saat merasakan dagingnya yang lembut serta puncaknya yang mengeras menyapu kulitku.
"Maafkan saya, Tuan... saya tidak bermaksud..."
Bisikannya terdengar sangat dekat di telingaku. Dia terus membersihkan area perutku, lalu turun semakin rendah. Gerakan tangannya melambat saat mendekati pangkal pahaku.
"Jangan berhenti, Nadia. Kamu tahu tugasmu belum selesai."
Nadia menarik napas panjang. Tanpa disuruh lagi, dia merangkak pelan, berputar dari belakang hingga kini berada tepat di antara kedua lututku. Karena aku duduk di tepi sumur dan dia berada di atas lantai semen yang lebih rendah, wajahnya tepat berada di depan kejantananku yang sudah berdiri tegak.
Dia mendongak, menatapku dengan mata yang dipenuhi gairah yang mulai mengalahkan rasa malunya. "Bolehkan saya... Tuan?"
Aku hanya mengangguk singkat. Nadia merendahkan kepalanya. Rambut panjangnya yang wangi menutupi pahaku saat dia mulai melayani batangkku dengan telaten.
Dia melakukannya dengan inisiatif yang mengejutkan, lidahnya menjelajahi setiap inci dengan keahlian yang tidak pernah kubayangkan dimiliki oleh wanita sekaku dia.
Aku mencengkeram rambutnya, menarik kepalanya agar dia melakukan lebih dalam. Nadia tidak mengeluh, dia justru mengeluarkan suara lenguhan tertahan di sela-sela aktivitasnya. Aku bisa melihat bokongnya yang montok bergetar hebat setiap kali dia bergerak maju mundur.
"Cukup, Nadia. Aku sudah tidak tahan lagi."
Aku menariknya berdiri. Lantai semen yang kasar ini menjadi saksi bisu saat aku memaksanya bersandar pada tembok sumur. Dia menerima setiap sentuhanku dengan pasrah, bahkan mulai membalas dengan pelukan yang erat.
Rasa dendam yang selama ini kusimpan, rasa sakit hati karena mantan istriku yang pergi bersama pria kaya, semuanya tumpah kepada Nadia.
"Lebih keras, Tuan... Tolong, lebih keras lagi!"
Nadia mengerang, kukunya mencakar bahuku saat kami bercinta di tengah kegelapan malam desa. Suara napas kami yang memburu bersaing dengan suara air sumur yang menetes.
Dia bukan lagi manajer yang angkuh. Dia hanyalah seorang wanita yang benar-benar takluk di bawah kekuasaanku.
Setiap kali aku menghantamnya, dia memohon untuk tidak berhenti. Kekuatannya yang selama ini dia gunakan untuk menindas orang lain kini seolah terserap habis olehku.
Di saat kami mencapai puncak kenikmatan bersama, sebuah cahaya terang tiba-tiba menyambar pandanganku.
[PEMBERITAHUAN SISTEM: SINYAL OTAK TARGET TELAH TERKUNCI SEPENUHNYA.]
[PROGRES MISI: 100% SELESAI.]
[STATUS TERBARU NADIA: KEPATUHAN ABSOLUT (PERMANEN).]
[HADIAH: AKSES PENUH KE SEMUA ASET DAN RAHASIA TARGET.]
Aku ambruk di atas tubuh Nadia yang lemas, napas kami masih tersengal-sengal. Air sumur yang dingin mulai terasa menyegarkan di kulit kami yang panas.
Nadia memeluk leherku erat, menciumi bahuku dengan penuh pengabdian.
"Saya milik Anda, Tuan. Selamanya."
Aku menatap layar sistem yang masih melayang di udara. Dunia ini benar-benar telah berubah bagiku. Seorang OB yang pagi tadi tidak punya apa-apa, kini memiliki manajer HRD paling berpengaruh di perusahaannya sebagai budak pribadi yang setia.
"Bangun, Nadia," kataku sambil mengusap rambutnya yang basah. "Kita harus beristirahat. Besok adalah hari yang panjang."
"Baik, Tuan. Apapun yang Tuan inginkan."
Nadia berdiri, dia tidak lagi mencoba menutupi tubuhnya. Dia justru membantu aku memakai kembali pakaianku dengan gerakan yang sangat sopan, layaknya seorang pelayan pribadi yang terlatih. Matanya kini hanya tertuju padaku, seolah-olah seluruh dunianya hanya berputar di sekelilingku.
Aku berjalan masuk kembali ke dalam rumah, diikuti oleh Nadia yang berjalan satu langkah di belakangku. Rasa dingin malam itu tidak lagi terasa mengancam.
Aku tahu, dengan kacamata ini dan kepatuhan absolut Nadia, kematian Nenek bukan lagi akhir dari hidupku, melainkan awal dari kekaisaran yang akan kubangun di atas puing-puing orang-orang yang dulu meremehkanku.
Aku menoleh sekilas ke arah foto Nenek di dinding. 'Nenek, lihatlah,' pikirku dengan senyum gelap. 'Cucumu sekarang punya pelayan tercantik yang pernah ada.'
Lantai kantor terasa sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang mengisi kekosongan koridor. Aku melirik jam dinding di atas meja resepsionis yang mulai sepi.Masih pukul empat sore, tapi kubikel Citra sudah melompong. Kursinya yang berwarna abu-abu itu tampak seperti ejekan setelah insiden tamparan tadi. Dia pasti sedang mengadu pada ayahnya, atau mungkin meratapi nasib rok putihnya yang kini bernoda lumpur."Lari saja yang jauh, Citra. Kau baru saja menandatangani kontrak nerakamu," gumamku sambil membenarkan letak kacamata emas yang masih dalam mode siluman.Aku melangkah pelan menuju bagian belakang gedung, tempat gudang arsip berada. Ini adalah benteng pribadiku, ruangan pengap penuh tumpukan kertas tua di mana aku sering mengurung diri dari dunia luar.Aku mengunci pintu kayu itu dari dalam, membiarkan bau apek dan debu menenangkan syarafku. Aku duduk di atas sebuah boks plastik besar, menarik napas dalam-dalam
Hardi masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menggoyangkan ponsel di depan mataku ketika pintu ruangannya terdorong terbuka tanpa ketukan. Sosok mungil dengan langkah yang dibuat-buat anggun masuk begitu saja. Citra. Rambutnya yang dicat cokelat madu tergerai berantakan namun disengaja, membingkai wajahnya yang mungil dengan bibir yang selalu dipoles lipstik merah menyala.Hardi tersentak, jempolnya bergerak secepat kilat menyembunyikan layar ponsel ke dalam saku jas."Aduh, Om Hardi! Kok pintunya nggak dikunci sih? Kan aku jadi bisa masuk seenaknya."Citra melirikku sekilas, sudut bibirnya terangkat meremehkan seolah aku hanyalah seonggok sampah yang lupa dibuang. Dia berjalan mendekati meja Hardi, pinggulnya bergoyang berlebihan di balik rok kantor yang sangat ketat."Lagi asyik apa sih? Kok kayaknya serius banget sama... siapa tadi namanya? Oh, Bejo ya?"Hardi berdehem, mencoba mengatur kembali raut wajahnya yang sempat panik."Bukan apa-apa, Cit. Ini si Bejo cuma penasaran mau l
Cahaya pagi menerjang kelopak mataku, menyambar kesadaran dari balik gorden yang tersingkap tipis. Aku meraba sisi tempat tidur yang luas. Dingin. Kosong. Sudah tiga malam Nadia tidak mengisi celah di bawah selimut ini. Sepertinya para serigala tua di lapangan padel itu benar-benar tidak membiarkan mangsa mereka lepas begitu saja. Aku bangkit, merenggangkan otot-ototku yang kaku, sambil menyeringai tipis. Biarlah dia remuk di sana. Semakin hancur dia di tangan mereka, semakin dalam dia tertanam di sana sebagai pion pengintai yang tak ternilai. Langkahku terhenti di ambang pintu kamar saat suara denting lift pribadi berbunyi. Pintu baja itu bergeser, menyingkap sosok wanita yang selama ini kucari. Nadia melangkah keluar dengan tungkai yang tampak gemetar. Meskipun pakaian formalnya sudah kembali rapi—blus sutra putih dan rok pensil hitam yang membalut lekuk tubuhnya—dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah yang seolah habis diperas habis-habisan. Matanya yang biasa berkilat
Bunyi kaca tempered yang bergetar hebat menjadi musik latar di telingaku saat aku memperhatikan layar monitor. Nadia, dengan wajah yang ditekan ke dinding transparan itu, tampak seperti lukisan penderitaan yang indah. Napasnya yang memburu meninggalkan uap tipis di permukaan kaca, sementara pria tua berperut buncit itu menghajarnya dari belakang tanpa ampun."Liat, Hardi! Manajer kebanggaanmu ini ternyata punya tenaga kuda di pinggulnya!"Pria tua itu terengah, tangannya yang dipenuhi bintik penuaan mencengkeram erat rambut panjang Nadia, menariknya ke belakang hingga leher putih itu membentuk busur yang tegang. Hardi tertawa terbahak-bahak dari pinggir lapangan, asap cerutunya mengepul abu-abu di bawah sorot lampu neon yang tajam."Hajar saja, Om! Jangan kasih kendor. Dia memang didesain untuk menampung beban berat, bukan cuma beban kerja di kantor!"Hardi mengembuskan asapnya ke udara, matanya yang merah menatap lapar ke arah tubuh Nadia yang bergetar. Nadia hanya bisa mengerang,
Aku menyandarkan kepala pada bantalan sofa kulit yang dingin, membiarkan dengung kepuasan mengalir di sekujur tubuhku. Visual Mila yang sedang melayani pelanggan dengan kemeja terbuka di minimarket perlahan memudar saat aku menjentikkan jari ke bingkai kacamata emas ini. Mila benar-benar kejutan yang manis. Dari pelayan toko yang tampak pemalu, berubah menjadi piala bergilir yang menikmati setiap jengkal permainan para lelaki di bawah lampu neon. Kebinalannya sungguh tidak masuk akal."Sistem, matikan monitor Pelayan 3."Keheningan penthouse menyergapku. Aku melirik jam di sudut layar ponsel yang tergeletak di meja marmer. Pukul sebelas malam. Jakarta di luar jendela sana masih berdenyut dengan lampu-lampu kota, tapi perhatianku teralih pada satu nama yang belum memberikan laporan sejak tadi sore: Nadia.Manajer HRD-ku yang angkuh itu seharusnya sudah masuk jauh ke dalam lingkaran setan para elit. Aku penasaran, sejauh mana Hardi menyeretnya malam ini. Nadia bukan tipe wanita yang mu
Pintu gudang berderit tajam, membelah keheningan pengap yang baru saja ditinggalkan Doni. Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa penthouse, menatap proyeksi Mila yang masih terkapar di atas tumpukan kardus dengan tungkai yang bergetar hebat."Gantian, Don. Udah nggak tahan gue denger suaranya dari tadi."Sesosok pria bertubuh gempal bernama Budi melangkah masuk. Dia menyeringai, matanya menyapu tubuh polos Mila yang masih berkilau oleh keringat dan sisa cairan Doni."Sikat, Bud. Barangnya masih panas, tinggal pake. Tapi inget, jangan lama-lama. Yanto sama yang lain udah ngantre di balik rak detergen."Doni menepuk bahu Budi sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan dentuman pelan namun mutlak. Budi tidak membuang waktu. Dia melucuti seragamnya dengan gerakan kasar, membiarkan pakaiannya jatuh berantakan di lantai semen yang dingin."Mila, Mila... biasanya lu jual mahal. Sekarang liat lu, kayak kucing minta kawin."Mila hanya mendesah parau, matanya yang sayu menatap Budi tan







