Share

6. Absolut

Author: Lincooln
last update publish date: 2026-02-14 08:59:06

Cahaya biru redup dari lensa kacamata tak kasat mata itu berdenyut pelan, menyiram wajah Nadia yang masih bersimpuh di depanku. Aku menyandarkan punggung pada dinding kayu yang lapuk, menikmati pemandangan di bawah kakiku.

Perubahan itu tidak hanya terjadi pada angka di layar sistem, tapi meresap ke dalam pori-pori kulitnya.

Wajah Nadia yang tadinya kaku dan penuh kebencian kini melunak. Bibirnya yang dipulas lipstik merah mahal sedikit terbuka, mengeluarkan napas pendek yang gemetar.

Matanya tidak lagi menatapku dengan kilat amarah yang ingin membunuh, melainkan dengan tatapan kosong yang pasrah, seolah-olah jiwanya telah diserahkan sepenuhnya padaku.

"Tuan... apakah makanannya sudah boleh saya habiskan?"

Suaranya rendah, nyaris seperti dengkur kucing yang meminta perhatian. Keangkuhan manajer HRD yang dulu sanggup membuat seluruh lantai kantor gemetar kini menguap, digantikan oleh aura submisif yang begitu kental hingga aku bisa merasakannya di udara.

Aku menyodorkan piring itu kembali, membiarkannya mendarat di lantai kayu yang berdebu. "Habiskan. Jangan sisakan sebutir nasi pun."

Nadia tidak membuang waktu. Dia makan dengan jemarinya, mengabaikan sendok kayu yang tadi dia genggam dengan jijik. Setiap gerakannya kini terlihat lebih lentur, bahkan ada sesuatu yang menggoda dalam caranya menjilat sisa lemak telur dari ujung jarinya. Dia sesekali mendongak, memastikan aku masih mengawasinya.

"Piring-piring sudah menumpuk sejak kemarin lusa," aku menunjuk ke arah dapur kecil yang pengap. "Nenek belum sempat mencucinya sebelum... sebelum dia pergi. Bersihkan semuanya."

Nadia segera berdiri. Dia tidak lagi menggerutu atau menghentakkan kaki seperti saat menyapu tadi. "Baik, Tuan. Akan saya pastikan semuanya bersih."

Aku memperhatikannya dari belakang. Rok span mahalnya yang ketat bergesekan dengan paha saat dia melangkah menuju ember tempat mencuci piring di sebelah kompor. Dia menyingsingkan lengan blus sutranya, membiarkan kulit lengannya yang putih mulus terkena sabun colek murahan.

Suara denting piring dan gemericik air mengisi kesunyian rumah. Tidak ada keluhan. Hanya kepatuhan yang bisu.

"Kenapa diam saja?" aku mendekat, berdiri tepat di belakangnya hingga bisa mencium aroma parfumnya yang kini bercampur bau sabun colek. "Biasanya kamu punya banyak hal untuk dikomentari tentang kemiskinan tempat ini."

Nadia berhenti sejenak, bahunya sedikit tegang namun tidak menjauh. "Tempat ini... sekarang terasa berbeda, Tuan. Saya hanya ingin melakukan apa yang Tuan perintahkan."

Dia memutar tubuhnya, menatapku dengan bulu mata yang masih basah sisa tangis tadi. Ada kilatan aneh di matanya, sesuatu yang melampaui rasa takut. "Apakah ada hal lain yang Tuan inginkan setelah ini?"

Aku menyeringai, merasakan kekuatan kacamata ini semakin menyatu dengan aliran darahku. "Selesaikan itu dulu. Aku mau mandi."

Aku melangkah menuju pintu belakang, area terbuka yang hanya dibatasi oleh tembok semen setinggi dada dan atap seng yang sudah berlubang.

Di sana terdapat sumur tua dengan katrol kayu yang berderit setiap kali ember ditarik ke atas. Lantai semennya kasar dan berlumut di sudut-sudutnya, dingin menyentuh telapak kaki telanjangku.

Satu per satu pakaianku lepas. Seragam OB yang bau keringat dan debu kantor itu teronggok di atas bangku kayu kecil. Aku berdiri di bawah cahaya bulan yang menembus lubang atap, membiarkan kulit kerempengku diterpa angin malam desa yang menggigit.

Baru saja aku hendak menurunkan ember ke dalam sumur, suara langkah kaki pelan terdengar di ambang pintu kamar mandi.

Nadia berdiri di sana. Dia mematung melihatku tanpa sehelai benang pun. Wajahnya memerah seketika, matanya membelalak kaget. Dia buru-buru menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Maaf! Maafkan saya, Tuan! Saya pikir Anda belum... saya hanya ingin memberitahu kalau dapur sudah bersih."

Suaranya bergetar hebat. Aku membiarkan ember itu menggantung, menatapnya dengan tenang. Rasa malu yang terpancar darinya justru memicu rasa ingin tahuku tentang sejauh mana sistem ini telah merusak benteng pertahanannya.

"Turunkan tanganmu, Nadia."

Dia ragu sejenak, lalu perlahan menurunkan tangannya. Matanya yang sembab menatap tubuhku yang kurus, namun dia tidak berpaling. Napasnya mulai memburu, dadanya yang montok naik turun di balik kain blus tipis itu.

"Apa Tuan butuh bantuan untuk menimba air?"

Aku menggeleng pelan. "Lebih dari sekadar menimba air. Lepas pakaianmu."

Hening. Hanya suara jangkrik dari luar rumah yang menyahut. Nadia menelan ludah, matanya bergerak gelisah antara wajahku dan lantai semen yang basah. "Di sini? Tapi Tuan... suhunya sangat dingin..."

"Apakah aku terdengar seperti ingin berdiskusi ?"

Aku melangkah satu kaki ke arahnya. Nadia gemetar. Tangannya naik ke kancing paling atas blusnya. Jemarinya yang biasanya lincah mengetik laporan pemecatan karyawan kini tampak kikuk. Satu kancing terbuka, memperlihatkan pangkal lehernya yang jenjang.

"Tolong... jangan lihat saya seperti itu..." bisiknya, namun tangannya terus bergerak ke kancing kedua.

Blus sutra itu merosot ke lantai, menumpuk di atas semen yang kotor. Dia hanya mengenakan bra renda hitam yang tampak sangat kontras dengan kulitnya yang putih susu.

Nadia menutup dadanya dengan lengan, wajahnya tertunduk dalam. Rasa malu itu nyata, namun tidak ada kemarahan yang tersisa.

"Semuanya, Nadia. Jangan biarkan selembar benang pun menempel di tubuhmu."

Satu per satu, sisa pakaiannya jatuh. Dia berdiri di hadapanku, telanjang bulat.

Aku terpana. Tubuhnya adalah sebuah karya seni yang dirawat dengan sangat teliti di salon-salon kelas atas kota besar. Dadanya yang kencang dan membusung, perutnya yang rata tanpa lemak sedikit pun, dan lekukan pinggul yang menuju ke arah bokong yang bulat sempurna.

Dia tampak seperti dewi yang tersesat di kamar mandi kumuh seorang yatim piatu.

"Mendekatlah. Mandi bersamaku."

Nadia melangkah maju, kakinya yang mungil berjinjit menghindari lumut. Begitu dia berdiri di sampingku, aku merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Dia tidak berani menyentuhku, hanya berdiri kaku menunggu instruksi selanjutnya.

Aku lalu duduk di bangku kecil tempat Nenek biasa mencuci baju. Nadia menurut. Dia bersimpuh di belakangku dengan posisi yang membuat semua lekuk tubuhnya terlihat semakin menonjol.

Aku menyerahkan kain waslap kasar padanya. "Bersihkan punggungku. Dan pastikan kamu melakukannya dengan benar."

Nadia mengambil waslap itu. Tangannya yang lembut mulai menggosok punggungku. Awalnya gerakannya sangat hati-hati, seolah takut kulitku akan lecet.

Namun lama-kelamaan, gerakannya menjadi lebih mantap. Aku bisa merasakan napas hangatnya di tengkukku saat dia membungkuk.

"Apakah ini cukup kuat, Tuan?"

Aku memejamkan mata, menikmati sensasi tangan halus manajer HRD yang biasanya hanya tahu cara menunjuk dan menghina. "Lebih kuat lagi. Buat aku merasakan setiap jengkal tanganmu."

Nadia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merapatkan tubuhnya ke punggungku. Aku bisa merasakan gesekan dadanya yang kenyal di kulit punggungku yang kasar.

Sensasi itu membuat darahku berdesir hebat. Kejantananku yang sudah lama tertidur sejak perceraian beberapa tahun lalu mulai terbangun, menegang karena sentuhan lembut dan patuh dari Nadia.

"Sekarang bagian depan."

Nadia masih jongkok di belakangku, tidak langsung bergerak ke depan. Tangannya melingkar ke depan untuk membersihkan dadaku.

Tindakan itu membuat dadanya yang ranum terus menggesek punggungku secara konstan. Aku mengerang pelan saat merasakan dagingnya yang lembut serta puncaknya yang mengeras menyapu kulitku.

"Maafkan saya, Tuan... saya tidak bermaksud..."

Bisikannya terdengar sangat dekat di telingaku. Dia terus membersihkan area perutku, lalu turun semakin rendah. Gerakan tangannya melambat saat mendekati pangkal pahaku.

"Jangan berhenti, Nadia. Kamu tahu tugasmu belum selesai."

Nadia menarik napas panjang. Tanpa disuruh lagi, dia merangkak pelan, berputar dari belakang hingga kini berada tepat di antara kedua lututku. Karena aku duduk di tepi sumur dan dia berada di atas lantai semen yang lebih rendah, wajahnya tepat berada di depan kejantananku yang sudah berdiri tegak.

Dia mendongak, menatapku dengan mata yang dipenuhi gairah yang mulai mengalahkan rasa malunya. "Bolehkan saya... Tuan?"

Aku hanya mengangguk singkat. Nadia merendahkan kepalanya. Rambut panjangnya yang wangi menutupi pahaku saat dia mulai melayani batangkku dengan telaten.

Dia melakukannya dengan inisiatif yang mengejutkan, lidahnya menjelajahi setiap inci dengan keahlian yang tidak pernah kubayangkan dimiliki oleh wanita sekaku dia.

Aku mencengkeram rambutnya, menarik kepalanya agar dia melakukan lebih dalam. Nadia tidak mengeluh, dia justru mengeluarkan suara lenguhan tertahan di sela-sela aktivitasnya. Aku bisa melihat bokongnya yang montok bergetar hebat setiap kali dia bergerak maju mundur.

"Cukup, Nadia. Aku sudah tidak tahan lagi."

Aku menariknya berdiri. Lantai semen yang kasar ini menjadi saksi bisu saat aku memaksanya bersandar pada tembok sumur. Dia menerima setiap sentuhanku dengan pasrah, bahkan mulai membalas dengan pelukan yang erat.

Rasa dendam yang selama ini kusimpan, rasa sakit hati karena mantan istriku yang pergi bersama pria kaya, semuanya tumpah kepada Nadia.

"Lebih keras, Tuan... Tolong, lebih keras lagi!"

Nadia mengerang, kukunya mencakar bahuku saat kami bercinta di tengah kegelapan malam desa. Suara napas kami yang memburu bersaing dengan suara air sumur yang menetes.

Dia bukan lagi manajer yang angkuh. Dia hanyalah seorang wanita yang benar-benar takluk di bawah kekuasaanku.

Setiap kali aku menghantamnya, dia memohon untuk tidak berhenti. Kekuatannya yang selama ini dia gunakan untuk menindas orang lain kini seolah terserap habis olehku.

Di saat kami mencapai puncak kenikmatan bersama, sebuah cahaya terang tiba-tiba menyambar pandanganku.

[PEMBERITAHUAN SISTEM: SINYAL OTAK TARGET TELAH TERKUNCI SEPENUHNYA.]

[PROGRES MISI: 100% SELESAI.]

[STATUS TERBARU NADIA: KEPATUHAN ABSOLUT (PERMANEN).]

[HADIAH: AKSES PENUH KE SEMUA ASET DAN RAHASIA TARGET.]

Aku ambruk di atas tubuh Nadia yang lemas, napas kami masih tersengal-sengal. Air sumur yang dingin mulai terasa menyegarkan di kulit kami yang panas.

Nadia memeluk leherku erat, menciumi bahuku dengan penuh pengabdian.

"Saya milik Anda, Tuan. Selamanya."

Aku menatap layar sistem yang masih melayang di udara. Dunia ini benar-benar telah berubah bagiku. Seorang OB yang pagi tadi tidak punya apa-apa, kini memiliki manajer HRD paling berpengaruh di perusahaannya sebagai budak pribadi yang setia.

"Bangun, Nadia," kataku sambil mengusap rambutnya yang basah. "Kita harus beristirahat. Besok adalah hari yang panjang."

"Baik, Tuan. Apapun yang Tuan inginkan."

Nadia berdiri, dia tidak lagi mencoba menutupi tubuhnya. Dia justru membantu aku memakai kembali pakaianku dengan gerakan yang sangat sopan, layaknya seorang pelayan pribadi yang terlatih. Matanya kini hanya tertuju padaku, seolah-olah seluruh dunianya hanya berputar di sekelilingku.

Aku berjalan masuk kembali ke dalam rumah, diikuti oleh Nadia yang berjalan satu langkah di belakangku. Rasa dingin malam itu tidak lagi terasa mengancam.

Aku tahu, dengan kacamata ini dan kepatuhan absolut Nadia, kematian Nenek bukan lagi akhir dari hidupku, melainkan awal dari kekaisaran yang akan kubangun di atas puing-puing orang-orang yang dulu meremehkanku.

Aku menoleh sekilas ke arah foto Nenek di dinding. 'Nenek, lihatlah,' pikirku dengan senyum gelap. 'Cucumu sekarang punya pelayan tercantik yang pernah ada.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kacamata Penakluk   73. Permainan selesai (?)

    Aku melepaskan kacamata emas dari wajahku lalu meletakkannya di atas meja kaca yang berada di samping sofa. Cahaya biru pada bingkainya meredup perlahan hingga akhirnya menghilang, menyisakan pantulan lampu kota yang masuk melalui dinding kaca penthouse. Dari sini, jalanan di bawah sana tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti bergerak. Jika dilihat dari kejauhan, semuanya terlihat damai, seolah dunia berjalan sebagaimana mestinya.Aku terkekeh pelan.Damai hanyalah ilusi yang dinikmati oleh orang-orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Semakin tinggi seseorang naik, semakin jelas terlihat bahwa dunia tidak pernah dibangun oleh kejujuran seperti yang diajarkan dalam buku-buku. Dunia bergerak karena kepentingan. Karena ambisi. Karena ketakutan manusia kehilangan apa yang sudah mereka miliki. Dan malam ini, aku sedang memandangi hasil dari semua ketakutan itu.Aku menyandarkan tubuh ke sofa dan menutup mata beberapa saat. Rasanya aneh ketika menyadari

  • Kacamata Penakluk   72. Jalanan raya

    Uap air masih menyelimuti cermin kamar mandi yang buram saat Sari melangkah keluar dengan tubuh yang masih lembap. Aku menyesuaikan fokus kacamata emasku, memperhatikan bagaimana jemarinya yang gemetar menarik kain denim biru pudar itu melewati paha mulusnya yang kini dipenuhi memar kemerahan. Kain itu bergesekan kasar dengan kulitnya yang sensitif, membuatnya sedikit meringis."Sialan, lihat cara dia memakai celana itu. Masih saja menantang."Herman menyulut rokok barunya, mengembuskan asap pekat ke arah Sari yang sedang berjuang menarik resleting jaket kulit hitamnya. Dua gundukan payudaranya yang montok terhimpit hebat, nyaris meluap dari balik potongan jaket yang terlalu pendek itu."Bang Bokir, mau kau bawa ke mana bini si Tarman ini? Jangan sampai hilang, bisa berabe urusannya."Pria botak bertato itu—Bokir—menyeringai lebar sambil melangkah mendekati Sari. Tanpa aba-aba, tangan kasarnya melingka

  • Kacamata Penakluk   71. Di kamar mandi

    Sari tergeletak tak berdaya di atas seprai yang kini berubah warna menjadi abu-abu kusam, penuh noda dan bau amis yang menyengat. Napasnya tersengal, dadanya yang montok naik-turun dengan cepat seolah baru saja berlari maraton. Aku mengatur fokus kacamata emasku, memperbesar gambar tepat ke arah wajahnya. Tidak ada gurat penyesalan di sana. Yang kulihat hanyalah binar kepuasan yang menjijikkan namun menggairahkan. Jemari telunjuk dan jari tengah Sari bergerak perlahan, mengusap perutnya yang putih mulus. Di sana, cairan kental milik para preman itu menggenang, berkilau di bawah lampu kamar yang temaram. Dia mengumpulkan cairan itu di ujung jarinya, lalu dengan gerakan sensual yang disengaja, dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut, menjilatnya habis sambil menatap sayu ke arah para pria yang masih mengatur napas di sekelilingnya. "Gila, lihat pecun ini. Masih belum puas juga dia rupanya." Seorang preman

  • Kacamata Penakluk   70. Hadiah untuk preman

    Sari menarik napas panjang, membiarkan bahunya merosot lemas. Tatapan matanya yang tadi sempat menyalang, kini meredup, menyisakan kepasrahan yang pekat."Lakukan apa saja yang Pak Herman mau. Aku tidak akan melawan lagi."Herman menyeringai lebar, menampakkan deretan giginya yang kuning karena asap rokok. Dia mendorong bahu Sari dengan kasar hingga wanita itu terjerembap ke atas kasur hotel yang berderit."Bagus. Begitu dong jadi perempuan. Harus tahu diri siapa yang berkuasa di sini."Herman berbalik, melambaikan tangan ke arah pintu yang masih terbuka lebar. Empat orang pria berbadan besar lainnya masuk, memenuhi ruangan sempit itu dengan aroma keringat dan bir murahan. Aku menyesuaikan letak kacamata emasku di atas sofa penthouse, menghitung jumlah mereka. Delapan orang. Delapan serigala lapar mengelilingi satu domba binal."Silakan, Bapak-bapak. Ini bonus dari saya karena kalian sudah setia menjaga saya dan Tarman

  • Kacamata Penakluk   69. Ancaman Herman

    Pintu kamar hotel yang ringkih itu berderit terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang memuakkan. Aku menyesuaikan posisi kacamata emasku, menikmati visual tiga dimensi yang begitu jernih seolah-olah aku berdiri tepat di samping tempat tidur.Herman masuk lebih dulu, aromanya yang campuran antara keringat dan tembakau murah seakan menembus sistem sensorik kacamata. Di belakangnya, tiga orang preman berbadan kotak dengan tato yang mencuat dari balik kaos singlet mereka mengekor, mata mereka langsung terkunci pada tubuh Sari.Sari segera bangkit dari tepi ranjang. Dia memaksakan sebuah senyum binal, mendekati Herman dan melingkarkan lengannya ke leher pria itu dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat."Mas Tarman sudah bilang kalau Mas Herman bakal datang berkunjung malam ini. Kok lama sekali? Aku sudah menunggu sampai lumayan bosan."Herman tidak langsung menjawab. Matanya menyisir tubuh Sari dari atas ke bawah, berhenti lama pada belahan da

  • Kacamata Penakluk   68. Sari ingin dilihat

    Lampu kristal di lobi penthouse milikku memantulkan cahaya yang menyilaukan saat aku melangkah masuk. Seragam OB biru kusam yang masih melekat di tubuhku terasa sangat kontras dengan kemewahan marmer Italia di bawah sepatuku. Aku baru saja akan menekan tombol lift pribadi ketika ponsel di saku bergetar pendek. Satu pesan dari Sari. "Tuan, malam ini aku harus menemui Herman lagi. Katanya ini perintah langsung dari Mas Tarman." Aku mendengus, sudut bibirku terangkat membentuk seringai sinis. Jempolku bergerak lincah di atas layar retak ponsel murah yang kugunakan untuk penyamaran. "Sepertinya kau akan dikerjai lagi, Sari. Sudah siap jadi piala bergilir untuk teman-teman premannya?" Balasannya muncul hanya dalam hitungan detik. Sepertinya dia memang sedang memegang ponselnya, menunggu instruksiku dengan napas tertahan. "Sepertinya begitu, Tuan Bejo. Apakah Tuan mau menonton pertunjukannya malam ini?" Aku melangkah masuk ke dalam lift, membiarkan pintu baja itu tertutup perlahan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status