Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 2 Naga di Telapak Tangan dan Kentut yang Tidak Tepat Waktu

Share

Bab 2 Naga di Telapak Tangan dan Kentut yang Tidak Tepat Waktu

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-25 17:23:12

"Buang batu itu. Sekarang. Sebelum mereka datang."

Bagas mencoba.

Ia benar-benar mencoba.

Tangannya terangkat, siap melempar, tapi batu itu tiba-tiba berpendar kebiruan dan meresap masuk ke telapak tangannya seperti air yang diserap tanah kering. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada bunyi. Yang tersisa hanya tanda berbentuk kepala Naga yang bersinar samar di telapak tangan kirinya.

Bagas membalik tangannya. Menatap tanda itu. Membaliknya lagi.

"Pak Lurah," katanya pelan, "Batunya masuk ke dalam tangan saya."

Lurah Kandang menatap telapak tangan Bagas. Tidak ada apa-apa yang terlihat. Hanya telapak tangan biasa yang terlalu sering memegang sekop.

"Bagas ... kamu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa. Tapi ada gambar naga di tangan saya."

Lurah Kandang menarik napas panjang. "Kamu kerasukan."

"Saya tidak kerasukan, Pak Lurah. Tandanya benar-benar ada. Hanya saya yang bisa melihatnya."

"Itu namanya kerasukan."

Bagas membuka mulut untuk membantah. Kemudian sesuatu terjadi di dalam dirinya yang jauh lebih mengejutkan dari batu yang masuk ke telapak tangan. Seperti pintu besar yang selama ini terkunci mati tiba-tiba terbuka lebar sekaligus. Bukan satu pintu. Ratusan pintu. Semuanya sekaligus.

Kepalanya terasa seperti diisi penuh dalam satu detik.

Ia mengedipkan mata. Memandang sekeliling istal. Semuanya terlihat sama seperti biasa, jerami, kandang, kotoran kuda, dan Lurah Kandang yang wajahnya semakin pucat.

Namun sekarang ia bisa melihat lebih dari itu. Pola retakan di papan dinding yang kalau ditendang di titik yang tepat akan roboh seketika. Sudut cahaya yang masuk dari celah atap, menandakan posisi matahari dan berapa lama lagi sebelum senja. Derap langkah di luar istal, setidaknya lima orang, bergerak dengan pola yang terlalu teratur untuk sekadar prajurit patroli biasa.

Ini bukan perasaan. Ini bukan tebakan. Ini ... kepastian.

Bagas tidak tahu dari mana kepastian itu datang. Namun ia tahu bahwa ia tahu, dan itu sendiri sudah cukup membingungkan untuk dipikirkan nanti.

Bagas menoleh ke arah pintu istal.

"Pak Lurah," katanya datar, "Ada lima orang di luar. Bukan prajurit kerajaan. Gerakannya terlalu senyap. Mereka menyisir dari sisi timur, artinya pintu belakang sudah ditutup lebih dulu."

Lurah Kandang membeku. "Bagaimana kamu tahu itu?"

"Saya ... tidak tahu bagaimana saya tahu." Bagas mengerutkan dahi. "Saya hanya tahu."

Lurah Kandang menatapnya dengan ekspresi orang yang sangat ingin menyangkal sesuatu, tetapi tidak punya cukup argumen untuk melakukannya.

Keduanya terdiam. Di luar, suara langkah itu semakin dekat.

Lurah Kandang mencengkeram lengan Bagas. "Mereka yang saya maksud. Kita harus sembunyi sekarang."

"Di mana?"

Lurah Kandang menatap sekeliling dengan panik. Matanya berhenti di kandang Cempaka.

Bagas mengikuti arah pandangnya. Menatap kandang itu. Lalu menatap Lurah Kandang. Setelah itu menatap kandang itu lagi.

"Pak Lurah, saya baru saja membersihkan kandang itu pagi tadi."

"Masuk."

"Tapi .... "

"Masuk, Bagas!"

Tiga puluh detik kemudian, Bagas Surolegowo berjongkok di dalam kandang Cempaka, diapit antara dinding kayu, dan seekor kuda tua yang mendengus tidak senang atas tamu tak diundang di rumahnya.

Lurah Kandang berjongkok di sebelahnya dengan wajah putih seperti kapas. Cempaka berdiri di sudut kandang, menatap keduanya dengan tatapan yang kalau bisa diartikan kira-kira berbunyi, ini kandangku bukan tempat persembunyian kalian.

Bagas menatap balik dengan tatapan yang tidak kalah ekspresif, yang kira-kira berbunyi, tolong jangan rusak suasana.

Cempaka mendengus. Tetap di tempat.

Dari celah papan, Bagas mengamati lima orang yang masuk ke istal. Pakaian mereka gelap, wajah tertutup kain tipis, dan gerakan mereka terlalu tenang untuk orang yang sedang mencari sesuatu. Mereka menyisir setiap sudut dengan metodis, membalik jerami, membuka peti, mengetuk dinding.

Kekuatan mentalnya bekerja tanpa ia minta. Mengamati. Menghitung. Memproses.

"Pak Lurah," bisiknya, "Saya tahu cara keluar dari sini tanpa ketahuan."

Lurah Kandang menatapnya dengan campuran harapan dan curiga. "Bagaimana?"

"Kita tunggu Cempaka kentut dulu. Perlu pengalihan."

Lurah Kandang menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Cempaka, seolah mengerti situasi, mendengus keras. Sayangnya bukan jenis dengus yang dimaksud Bagas.

Salah satu orang berpakaian gelap berhenti. Kepalanya berputar perlahan ke arah kandang Cempaka. Ia melangkah mendekat, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, berhenti tepat di depan pintu kandang.

Bagas menahan nafas. Lurah Kandang menahan nafas. Bahkan Cempaka seperti menahan nafas.

Tangan orang itu terangkat, siap mendorong pintu.

Kemudian ia berhenti. Menoleh ke rekannya. Mengucapkan sesuatu dengan suara rendah.

Bukan bahasa Jawa. Bukan bahasa Melayu. Bukan bahasa mana pun yang pernah Bagas dengar di pasar, di kerajaan, atau di mana pun selama dua puluh tahun hidupnya.

Akan tetapi yang lebih mengejutkan dari bahasanya adalah kenyataan bahwa Bagas, entah kenapa, hampir mengerti artinya.

Hampir.

Seperti kata-kata yang pernah ia tahu di kehidupan lain, di waktu yang berbeda, yang kini tinggal bayangan samar di tepi ingatannya.

Rekan orang itu menjawab singkat. Orang yang berdiri di depan pintu kandang menurunkan tangannya. Mereka keluar dari istal satu per satu, tanpa suara, seperti datangnya.

Bagas tidak bergerak sampai langkah itu benar-benar hilang.

"Mereka pergi," bisik Lurah Kandang lega.

"Iya." Bagas masih menatap pintu istal yang kini kosong. "Pak Lurah ... bahasa apa yang mereka pakai tadi?"

Lurah Kandang terdiam lama sekali.

"Bahasa yang tidak seharusnya ada yang bisa bicara lagi. Sudah mati tiga ratus tahun lalu bersama peradaban yang memakainya."

Bagas menoleh ke telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga itu masih bersinar samar, hanya terlihat olehnya seorang.

"Tapi tadi saya hampir mengerti artinya."

Lurah Kandang tidak menjawab. Wajahnya berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk dari sekadar takut.

Sesuatu yang terlihat seperti duka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status