Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

Share

Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-26 09:28:57

Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan.

Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama.

Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan.

"Lebih pelan," kata Mbah Suro.

"Saya sudah pelan."

"Lebih pelan dari itu."

"Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali."

"Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan."

Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam tubuhnya sendiri seperti memetakan denah bangunan.

Hasilnya mengejutkan.

Aliran itu tidak sekacau yang ia rasakan kemarin. Ada polanya. Seperti sungai yang punya anak sungai, masing-masing mengalir ke titik yang berbeda, dan kalau ia tahu letak bendungannya, ia bisa mengatur semuanya dari sana.

"Mbah Suro," katanya pelan, "Aliran ini punya titik pusatnya."

Mbah Suro tidak menjawab. Tapi suara seruputan tehnya berhenti sedetik.

"Di sini." Bagas menyentuh titik tepat di bawah tulang dadanya. "Kalau saya kendalikan dari sini, sisanya ikut."

"Coba."

Bagas mencoba. Perlahan, aliran itu mulai merapikan dirinya sendiri, mengikuti jalur yang sudah ada, berhenti mendorong ke segala arah tanpa tujuan. Tanda Naga di telapak tangannya berdenyut stabil, lebih tenang dari kemarin.

Ia membuka matanya.

Mbah Suro menyeruput tehnya dengan tenang, menatap ke arah lain, seolah tidak terjadi hal yang luar biasa.

"Hari ini kita cukup sampai di sini," kata Mbah Suro.

"Masih pagi, Mbah."

"Istirahat juga bagian dari latihan."

Bagas membuka mulut untuk membantah, tetapi sesuatu menghentikannya. Kekuatan mentalnya yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja, menangkap sesuatu yang berbeda dari biasanya. Suara di luar pagar perguruan. Bukan angin. Bukan burung. Bukan Cempaka.

Langkah kaki. Lebih dari lima orang. Bergerak dengan pola yang sudah pernah ia kenali sebelumnya.

Terlalu teratur. Terlalu senyap.

"Mbah Suro," kata Bagas pelan.

"Saya dengar."

"Mereka kembali."

"Saya tahu."

Keduanya tidak bergerak. Di luar, suara langkah itu berhenti tepat di depan gerbang perguruan. Hening sebentar. Kemudian suara kayu yang patah ketika gerbang itu didorong masuk dengan paksa.

Delapan orang berpakaian gelap masuk ke halaman. Lebih banyak dari sebelumnya. Wajah mereka tertutup, tapi cara mereka bergerak, dan menyebar ke setiap sudut halaman menunjukkan mereka sudah tahu denah tempat ini.

Salah satu dari mereka melangkah maju, berbicara dalam bahasa punah itu, suaranya tidak keras tapi mengisi seluruh halaman.

Bagas tidak sepenuhnya mengerti artinya. Namun kekuatan mentalnya menangkap cukup banyak dari nada, ritme, dan konteksnya untuk menyimpulkan satu hal.

Mereka tidak datang untuk bertanya.

"Mbah Suro," bisik Bagas, "Kita harus lari."

"Ke mana?"

Bagas menatap sekeliling dengan cepat. Pintu belakang bangunan kecil. Celah di pagar bambu sebelah timur yang pondasinya miring tiga derajat. Posisi kedelapan orang itu di halaman, dua di dekat sumur, tiga menyisir aula, tiga lagi bergerak ke arah mereka.

"Celah pagar timur. Dua puluh langkah dari sini. Kalau kita bergerak sekarang, tiga dari mereka belum sampai ke posisi yang menutup jalur itu."

Mbah Suro menatapnya sebentar. "Kamu hitung semua itu dalam tiga detik?"

"Dua detik. Ayo."

Mereka bergerak. Mbah Suro ternyata lebih cepat dari yang terlihat untuk orang seusianya, jubah cokelat kusamnya berkibar ketika ia berlari melewati sisi bangunan menuju pagar timur. Bagas mengikuti, kekuatan mentalnya terus memperbarui posisi kedelapan orang itu seperti peta yang bergerak.

Celah pagar tinggal sepuluh langkah.

Kemudian suara Cempaka meringkik keras dari arah kandang.

Bagas berhenti.

"Jangan!" desis Mbah Suro.

Akan tetapi Bagas sudah berbalik. Dua orang berpakaian gelap berdiri di depan kandang Cempaka. Salah satunya memegang tali kekang kuda itu dengan cara seseorang yang sudah terbiasa menangani hewan, dan tidak peduli kalau hewannya terluka.

Sesuatu di dalam diri Bagas yang selama ini hanya mengamati, dan menghitung tiba-tiba berhenti berpikir.

Tanda Naga di telapak tangannya membakar panas dalam satu denyutan.

Di mata kirinya, sesuatu terbuka. Bukan secara fisik. Tapi seperti lensa baru yang tiba-tiba ada, memperlihatkan benang-benang tak kasat mata yang menghubungkan setiap benda di halaman itu.

Orang yang memegang tali kekang Cempaka terangkat dari tanah.

Satu meter. Dua meter.

Lalu terlempar ke dinding aula dengan bunyi yang cukup keras untuk membuat tujuh rekannya berhenti serentak, dan menoleh.

Bagas berdiri di tengah halaman dengan tangan terentang, nafas tersengal, dan ekspresi orang yang sama sekali tidak menyangka apa yang baru saja terjadi.

Cempaka mendengus. Terlihat puas.

Tujuh orang berpakaian gelap menatap Bagas dalam diam.

Bagas menatap tangannya sendiri.

"Saya tidak tahu saya bisa melakukan itu," gumamnya pelan.

Di belakangnya, Mbah Suro berdiri sangat diam dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, menatap mata kiri Bagas yang kini memiliki satu titik hitam kecil berputar perlahan di dalamnya seperti pusaran air yang sangat tenang.

Tujuh orang berpakaian gelap mulai bergerak maju secara bersamaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status