Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 1 Batu Biru, Kuda Gila, dan Akhir Hidup yang Tidak Direncanakan

Share

Kaisar Dewa Gombal
Kaisar Dewa Gombal
Author: Sayap Uranus

Bab 1 Batu Biru, Kuda Gila, dan Akhir Hidup yang Tidak Direncanakan

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-25 17:01:05

"Tangkap maling istal! Dia kabur ke arah pasar!" teriak Lurah Kandang dengan suara membelah pagi.

Bagas Surolegowo berlari sekencang mungkin dengan dua kaki yang bisa ia ayunkan. Nafasnya tersengal sejak menit pertama.

Kaki Bagas tersandung batu yang sama untuk ketiga kalinya. Sarungnya hampir melorot dua kali. Kalau ada lomba lari yang dinilai dari seberapa kacau gayanya, Bagas pasti juara tanpa saingan.

Di belakang Bagas, delapan prajurit Kerajaan Medang Raya mengejar dengan tombak terhunus, dan muka merah padam.

Masalahnya, Bagas tidak mencuri kuda itu. Kuda itu yang mengikutinya.

"Ini bukan salahku!" teriaknya sambil menoleh ke belakang, lupa bahwa menoleh sambil lari itu ide yang sangat buruk.

Hidungnya menghantam tiang pasar. Bunyi benturannya memuaskan semua orang, kecuali Bagas sendiri. Ia terhuyung, bintang-bintang kecil menari di depan matanya, tetapi kakinya tetap bergerak karena rupanya naluri bertahan hidup lebih pintar dari pemiliknya.

Cempaka, kuda cokelat biang kerok itu, berlari setia di sampingnya sambil sesekali mendengus.

"Kamu jahat," desis Bagas sambil memegang hidung yang mulai membengkak.

***

Tiga jam sebelumnya.

Bagas sedang melakukan hal yang sama seperti setiap hari sejak usia dua belas tahun membersihkan kotoran kuda di istal Kerajaan Medang Raya.

Ia bukan orang istimewa. Bahkan jauh dari itu. Anak yatim yang dipungut Lurah Kandang karena kasihan. Lalu dijadikan juru bersih istal, karena tidak ada yang mau. Hidungnya kebal bau. Tangannya kasar dari sekop. Harga dirinya ... sedang dalam kondisi bisa dipertanyakan.

Pagi itu, seorang bangsawan muda masuk ke istal dengan lagak seperti langit miliknya sendiri.

"Hei, budak istal! Kuda milikku mau ditambatkan di sini. Jaga baik-baik atau aku potong gajimu!" bentaknya tanpa menoleh.

Bagas membungkuk dalam-dalam. "Baik, Tuan Muda."

Bangsawan itu pergi. Bagas menatap kuda yang baru ditambatkan itu dengan tatapan kosong. Gajinya sudah sangat kecil. Kalau dipotong lagi, nilainya mungkin tinggal setara satu biji kacang rebus.

"Nasib," gumamnya.

Dari kandang sebelah, Cempaka menggelengkan kepala. Ringkikan Cempaka terdengar seperti ejekan.

"Kamu jangan ikut komentar," kata Bagas datar.

Cempaka mendengus.

"Aku tahu hidupmu juga susah. Tapi minimal kamu tidak disuruh membersihkan kotoranmu sendiri."

Ketika Bagas membuka pintu kandang, kuda itu langsung keluar, dan berdiri tepat di sampingnya.

Tidak mau pergi ke mana pun. Didorong, tidak bergerak. Disuap rumput, dimakan tapi tetap di sana.

Bagas bahkan sempat berlutut memohon, yang memang tidak ada hubungannya dengan masalah, tetapi sudah menjadi kebiasaan kalau ia tidak tahu harus berbuat apa.

Lurah Kandang masuk. Salah paham. Pengejaran dimulai.

***

Bagas terjepit di sudut lorong sempit belakang pasar. Kedelapan prajurit mengepung dari depan. Cempaka masih berdiri setia di sampingnya seperti sahabat yang tidak punya kepekaan situasi.

"Menyerahlah, pencuri!" seru pemimpin prajurit.

"Saya tidak mencuri kuda ini," kata Bagas meyakinkan, yang langsung gugur. Karena ia baru sadar satu tangannya masih menggenggam tali kekang Cempaka.

Ia menatap tangannya. Menatap para prajurit. Setelah itu menatap tangannya lagi.

"Ini ... bisa dijelaskan. Aku mohon … ini … ini salah paham."

Pemimpin prajurit melangkah maju. Bagas mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Sudah tamat.

“Bohong! Cepat serahkan! Atau aku potong kedua kakimu!” ancam prajurit itu dengan tombak terhunus ke arah Bagas.

Di usia dua puluh tahun, hidupnya akan berakhir di lorong berbau ikan asin, dituduh mencuri kuda tua yang bahkan tidak ada yang mau beli.

Ironi terbesar dalam sejarah hidupnya yang memang sudah penuh ironi.

Tepat ketika ujung tombak hampir menyentuh dadanya, kaki Bagas tersandung sesuatu. Benda itu bundar, bersinar samar kebiruan, hangat saat Bagas refleks meremasnya ketika jatuh.

Rasanya seperti menggigit cabai sambil menelan petir.

Bagas menjerit. Cempaka meringkik. Para prajurit mundur bingung.

Semuanya gelap.

***

Langit-langit istal menyambut ketika Bagas membuka matanya.

Ia masih hidup.

Entah kenapa, itu terasa mengejutkan.

Tangannya utuh. Tidak ada luka. Tidak ada bekas tombak. Bahkan hidung yang tadi terbentur tiang pasar sudah tidak sakit lagi. Hanya ada kehangatan aneh di dalam dada, seperti bara kecil yang baru dinyalakan.

"Dia siuman!" teriak Lurah Kandang, suaranya terdengar lega sebelum langsung berubah galak. "Bagas! Kamu mau ke mana tadi bawa Cempaka?!"

"Cempaka yang bawa saya," jawab Bagas jujur.

Lurah Kandang menatapnya lama. "Kamu kerasukan atau bagaimana?"

Bagas membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Ia tidak tahu apa. Hanya bisa merasakannya, seperti pintu yang selama ini terkunci rapat tiba-tiba terbuka sedikit.

Kehangatan itu bergerak lagi. Lebih dalam kali ini.

"Pak Lurah," kata Bagas pelan, "Apa nama batu biru kecil yang bisa bikin orang pingsan kalau disentuh?"

Lurah Kandang pucat seketika. Bibirnya bergerak tanpa suara. Matanya terpaku pada kepalan tangan Bagas, lalu ia mundur selangkah dengan wajah seperti orang yang baru sadar sedang berdiri di atas sarang ular.

"Di mana kamu dapat batu itu?" suaranya turun jadi bisikan.

"Tersandung tadi. Kenapa?"

Tidak ada jawaban. Hanya tatapan campuran antara takut, tidak percaya, dan sesuatu yang sangat mirip dengan kasihan tulus.

Satu hal yang ia tahu pasti, malam ini tidak akan jadi malam yang tenang.

Bagas menatap kepalan tangannya. Menatap Lurah Kandang. Setelah itu menatap tangannya lagi.

Lurah Kandang akhirnya membuka mulutnya. Bukan untuk menjawab. Tapi untuk berbisik dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Buang batu itu. Sekarang. Sebelum mereka datang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status