Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

Share

Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-25 17:44:22

Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.

Tentu saja tidak.

Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang.

"Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."

Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar.

"Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."

Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun.

"Ayam itu?" tanya Bagas.

"Ayam itu."

"Dengan tangan kosong?"

"Dengan tangan kosong."

Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.

Bagas melangkah maju dengan hati-hati.

Ayam itu tidak bergerak.

Ia semakin dekat, satu langkah, dua langkah, tiga langkah, lalu melompat dengan kedua tangan terentang.

Ayam itu menghindar dengan santai ke kiri.

Bagas menghantam tanah dengan wajah.

Cempaka mendengus dari balik pagar.

Bagas bangkit, mengibaskan debu dari wajahnya, dan mencoba lagi. Kali ini dari arah berbeda. Ayam itu menghindar ke kanan tanpa terburu-buru, seperti sudah tahu ke mana Bagas akan melompat sebelum Bagas sendiri tahu.

Tujuh kali percobaan kemudian, Bagas berdiri di tengah halaman dengan lutut kotor, siku lecet, dan nafas tersengal, sementara ayam itu kembali mematuk-matuk tanah di sudut yang sama seperti awal.

"Ayam ini tidak normal," kata Bagas.

"Semua ayam normal," jawab Mbah Suro dari kursinya di beranda, masih menyeruput teh. "Kamu yang tidak bisa menangkap ayam normal."

Bagas menatap ayam itu lama. Kekuatan mentalnya mulai bekerja tanpa ia minta, mengamati pola gerak ayam itu, menghitung reaksinya, memproses setiap detail kecil dari cara kaki berbulu itu berpijak di tanah.

Ayam itu selalu bergerak ke arah yang berlawanan dari tangan dominan penyerangnya. Kalau Bagas melompat dengan tangan kanan di depan, ayam itu ke kiri. Kalau tangan kiri, ke kanan. Sederhana, tapi efektif melawan orang yang tidak memperhatikan polanya.

Bagas menghela nafas. Melangkah maju lagi, kali ini dengan kedua tangan di posisi yang sama, tidak ada tangan dominan yang terlihat jelas. Ayam itu memiringkan kepala sedikit, bingung sedetik, dan di detik itulah Bagas menjatuhkan diri ke samping, bukan ke depan, tangannya menyapu dari bawah.

Ayam itu ada di genggamannya.

Mbah Suro berhenti menyeruput teh.

Bagas berdiri, memegang ayam yang meronta tidak senang di tangannya, dan menoleh ke Mbah Suro dengan ekspresi datar.

"Sudah."

Mbah Suro menatapnya lama sekali. Kemudian menatap ayam itu. Kemudian menatap Bagas lagi.

"Tidak mungkin."

"Saya pegang ini dengan kedua tangan saya sendiri, Mbah."

"Kamu beruntung."

"Saya mencobanya delapan kali."

"Percobaan kedelapan adalah keberuntungan."

Bagas melepaskan ayam itu. Ayam itu berlari ke sudut halaman, mendengus sekali dengan cara yang sangat mirip Cempaka, dan mulai mematuk tanah lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ujian kedua," kata Mbah Suro, seperti ujian pertama tidak baru saja terjadi.

"Masih ada ujian lagi?"

"Tiga ujian total."

Bagas menatap tangannya yang lecet. "Baik."

"Duduk di sana." Mbah Suro menunjuk sebuah batu pipih di tengah halaman. "Pejamkan mata. Jangan buka sampai saya bilang."

Bagas duduk di batu itu, memejamkan mata. Angin bertiup pelan dari arah gunung, membawa bau tanah dan daun basah. Halaman itu hening kecuali suara Cempaka yang sesekali mendengus dan ayam yang mematuk tanah.

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Lima menit.

"Mbah Suro?" Bagas memanggil pelan.

Tidak ada jawaban.

Sepuluh menit.

Bagas membuka matanya sedikit, cukup untuk melihat bahwa kursi di beranda itu kosong. Mbah Suro tidak ada di sana.

Ia membuka matanya sepenuhnya dan menatap sekeliling. Halaman kosong. Beranda kosong. Pintu bangunan kecil tertutup rapat.

"Ujian kedua adalah menunggu tanpa tahu apa yang ditunggu," gumam Bagas pada dirinya sendiri.

Ia memejamkan matanya lagi.

Dua puluh menit kemudian, suara pintu terbuka. Langkah kaki yang tidak terburu-buru. Bunyi cangkir diletakkan di suatu tempat.

"Buka mata."

Bagas membuka matanya. Mbah Suro berdiri di depannya dengan cangkir teh baru dan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

"Ujian kedua lulus," kata Mbah Suro datar. "Kebanyakan orang membuka mata sebelum lima menit."

"Saya hampir membuka mata di menit kesepuluh."

"Tapi tidak jadi."

"Tidak jadi."

Mbah Suro mengangguk sangat pelan. "Ujian ketiga."

Bagas menunggu.

"Jawab pertanyaan saya dengan jujur."

"Baik."

Mbah Suro menatapnya dengan mata yang tiba-tiba terasa jauh lebih tajam dari sebelumnya, seperti dua pertiga yang tadi mengantuk sekarang sudah sepenuhnya terjaga dan menilai sesuatu yang tidak terlihat di permukaan.

"Kenapa kamu benar-benar datang ke sini?"

Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Ada beberapa jawaban yang bisa ia berikan. Karena Lurah Kandang menyuruh. Karena orang berpakaian gelap mengejarnya. Karena tanda Naga di tangannya membutuhkan penjelasan.

Namun kekuatan mentalnya memproses sesuatu yang lain dari pertanyaan itu. Bukan apa yang ditanya. Tapi bagaimana cara Mbah Suro menanyakannya. Nada yang terlalu tenang. Mata yang terlalu fokus. Cara tubuhnya sedikit condong ke depan tanpa sadar.

Mbah Suro sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin tahu apakah Bagas akan jujur.

"Karena saya tidak punya pilihan lain," jawab Bagas akhirnya. "Dan karena saya rasa Mbah Suro tahu lebih banyak tentang tanda ini dari yang Mbah akui."

Hening.

Mbah Suro menatapnya sangat lama.

"Kamu lulus," katanya akhirnya, dengan nada orang yang tidak sepenuhnya senang dengan hasil ujiannya sendiri.

Bagas menghela nafas lega.

"Tapi," Mbah Suro mengangkat satu jari, "saya masih tidak mengerti bagaimana kamu bisa menangkap ayam itu."

"Saya perhatikan polanya."

"Ayam itu sudah saya latih selama tiga tahun untuk menghindar dari kultivator berbakat." Mbah Suro menatap ayam yang masih mematuk tanah di sudut halaman dengan tatapan yang campuran antara tidak percaya dan sedikit tersinggung atas nama ayamnya. "Belum pernah ada yang berhasil menangkapnya dalam percobaan pertama."

"Saya butuh delapan percobaan."

"Tetap saja." Mbah Suro memandangnya dengan ekspresi yang susah ditebak. "Siapa sebenarnya kamu, Bagas Surolegowo?"

Bagas menatap telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang seperti biasa, seolah pertanyaan itu bukan ditujukan pada Bagas seorang.

Seolah sesuatu yang lain di dalam dirinya juga sedang menunggu jawaban atas pertanyaan yang sama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status