Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

Share

Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-27 13:00:32

Tujuh orang bergerak maju.

Bagas tidak bergerak.

Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya.

Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main.

Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri.

Serangan itu lewat di samping telinganya.

"Hampir," gumam Bagas.

Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri.

Bagas mundur satu langkah.

"Masih hampir."

Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya menghantam orang kedua.

Keduanya jatuh bersamaan.

"Oh," kata Bagas dengan nada orang yang baru menemukan cara kerja sesuatu yang menarik. "Jadi begitu."

Di sisi lain halaman, Mbah Suro bergerak dengan cara yang sama sekali tidak cocok dengan jubah kusamnya dan cara ia berjalan sehari-hari.

Tidak ada gerakan berlebihan. Tidak ada teriakan. Setiap langkahnya menempatkan tubuhnya tepat di titik yang membuat tiga orang yang menyerangnya bersamaan justru menghalangi satu sama lain.

Satu orang terdorong ke kiri oleh rekannya sendiri. Satu lagi kehilangan keseimbangan ketika tempat pijakannya tiba-tiba diambil alih Mbah Suro. Satu yang terakhir menghantam udara kosong, karena target yang dituju sudah tidak ada di sana.

Mbah Suro tidak memukul satu pun dari mereka.

Mereka jatuh sendiri.

Bagas memperhatikan ini sambil mendorong orang keempat yang mencoba menyerangnya dari samping menggunakan telekinesis, tidak terlalu keras, cukup untuk membuatnya tergelincir di tanah basah, dan jatuh dengan wajah duluan.

"Mbah Suro," kata Bagas di sela-sela pertarungan, "Cara Mbah bertarung itu namanya apa?"

"Diam."

"Saya hanya bertanya."

"Fokus."

Orang kelima menyerang dengan senjata, sebuah bilah tipis yang bergerak dengan kecepatan yang seharusnya tidak bisa diikuti mata biasa. Mata kiri Bagas melihatnya dengan jelas, lintasannya, kecepatannya, titik di mana ia akan tiba.

Bagas melangkah mundur dua langkah.

Bilah itu mengiris udara tepat di depan dadanya.

"Itu dekat sekali," kata Bagas dengan suara sangat tenang untuk seseorang yang baru saja hampir tertusuk. "Saya hampir tidak sempat minggir."

Orang itu menyerang lagi. Kali ini Bagas tidak menghindar. Tangannya terangkat, benang tak kasat mata menangkap pergelangan tangan orang itu, membekukannya di udara selama satu detik.

Satu detik cukup.

Bagas meraih bilah itu dari tangan yang tiba-tiba tidak bisa bergerak, membaliknya, dan mengembalikannya ke sarungnya yang ada di pinggang orang itu.

"Tolong hati-hati dengan ini," kata Bagas. "Berbahaya."

Orang itu menatapnya dengan ekspresi yang bahkan kain penutup wajahnya tidak bisa menyembunyikan kebingungannya.

Di pojok halaman, Cempaka berdiri di depan kandangnya dengan tatapan penonton yang menilai pertunjukan, dan belum memutuskan apakah terkesan atau tidak.

Dua orang terakhir yang masih berdiri bertukar pandang. Sesuatu yang tidak terucap lewat di antara mereka. Keduanya menarik senjata masing-masing.

Mbah Suro melangkah ke samping Bagas, berdiri sejajar.

"Dua lagi," kata Bagas.

"Saya lihat."

"Mbah ambil yang kiri atau kanan?"

"Kamu ambil keduanya."

Bagas menatapnya. "Saya?"

"Latihan."

"Ini bukan latihan, Mbah. Ini pertarungan sungguhan."

"Bedanya apa?"

Bagas tidak punya jawaban untuk itu.

Keduanya menyerang bersamaan, dari kiri dan kanan, menutup sudut pelarian. Kekuatan mental Bagas memproses dalam sepersekian detik, menghitung lintasan, kecepatan, dan titik pertemuan kedua serangan itu.

Ada celah.

Sangat kecil. Tepat di tengah, di detik di mana kedua serangan itu akan saling menghalangi kalau targetnya tidak ada di sana.

Bagas melangkah maju, bukan mundur, tepat ke tengah.

Kedua serangan lewat di kanan dan kirinya dengan jarak yang bisa ia rasakan anginnya di kedua pipi.

Sebelum keduanya sempat menyesuaikan posisi, telekinesis Bagas mendorong mereka berdua ke belakang, tidak keras, tapi cukup untuk membuat mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.

Halaman perguruan hening.

Delapan orang berpakaian gelap tergeletak di berbagai titik, tidak ada yang pingsan, tidak ada yang terluka serius, tapi semuanya memilih untuk tidak bangkit dulu.

Bagas berdiri di tengah halaman, nafas sedikit tersengal, menatap sekeliling dengan ekspresi orang yang masih tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.

"Saya menang?" gumamnya pelan.

"Kita menang," koreksi Mbah Suro dari sampingnya.

"Mbah tidak melakukan apa-apa."

"Saya berdiri di samping kamu. Itu kontribusi moral."

Salah satu dari delapan orang itu bangkit perlahan. Bukan untuk menyerang. Ia melepas kain penutup wajahnya.

Wajah yang muncul di baliknya muda, lebih muda dari yang Bagas bayangkan untuk seseorang dengan kemampuan setinggi itu. Matanya menatap Bagas bukan dengan amarah atau rasa malu karena kalah.

Akan tetapi dengan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan dari itu.

Kekaguman.

Ia membuka mulutnya, berbicara dalam bahasa punah itu, kalimatnya pendek, nadanya bukan ancaman.

Kali ini Bagas mengerti sepenuhnya.

Bukan hampir mengerti. Sepenuhnya.

"Dia berkata apa?" tanya Mbah Suro pelan di sampingnya.

Bagas terdiam sebentar.

"Dia bilang ... " Bagas menoleh ke Mbah Suro dengan ekspresi yang tidak bisa ia sembunyikan, " ... 'Akhirnya kamu kembali, Sang Naga Pertama.'"

Mbah Suro tidak menjawab.

Namun untuk kedua kalinya sejak Bagas tiba di perguruan ini, tangan kakek itu bergerak sangat pelan ke sisi tubuhnya, menggenggam udara kosong seperti mencari sesuatu untuk dipegang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status