Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

Share

Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-25 17:30:02

Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.

Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.

Akhirnya Lurah Kandang bicara.

"Kamu harus pergi dari sini malam ini."

Bagas menatapnya. "Ke mana?"

"Ke mana saja yang jauh dari sini."

"Itu bukan jawaban, Pak Lurah."

"Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."

Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi.

"Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur."

"Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya."

"Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"

Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas lihat, dan di balik kelelahan itu ada sesuatu yang terlihat seperti rasa bersalah yang sudah disimpan terlalu lama.

"Karena tanda itu di tanganmu bukan sesuatu yang bisa disembunyikan selamanya. Mereka akan kembali. Dan kali berikutnya jumlahnya tidak akan lima."

"Mereka siapa?"

"Orang yang tidak boleh kamu temui sebelum kamu cukup kuat untuk menghadapi mereka."

Bagas menatap telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga itu masih bersinar samar, tenang, seolah tidak peduli sudah membuat hidupnya kacau dalam satu hari.

"Saya Bibit Bintang Satu, Pak Lurah. Satu-satunya hal yang bisa saya lawan adalah kotoran kuda dan itu pun dengan sekop."

"Maka dari itu kamu harus pergi ke tempat yang bisa membuatmu lebih dari itu."

Bagas mendongak. "Perguruan kultivasi?"

Lurah Kandang tidak menjawab. Namun ekspresinya sudah cukup sebagai jawaban.

"Pak Lurah," kata Bagas pelan, "perguruan kultivasi terdekat jaraknya tiga hari perjalanan. Saya tidak tahu jalannya. Saya tidak punya bekal. Dan satu-satunya kemampuan kultivasi saya adalah kekuatan mental yang bahkan tidak bisa saya gunakan untuk mengangkat batu."

"Kamu akan menemukan jalan."

"Itu kalimat yang sangat tidak membantu."

"Saya tahu."

Keduanya terdiam. Di luar, angin malam mulai masuk dari celah dinding istal, membawa bau jerami kering dan tanah basah. Bagas menatap langit-langit kandang. Memikirkan seluruh hidupnya yang sudah cukup menyedihkan sebelum hari ini, dan menjadi jauh lebih menyedihkan sesudahnya.

Dua puluh tahun hidup sebagai juru bersih istal. Tidak punya teman dekat kecuali seekor kuda tua yang bahkan bukan miliknya. Tidak punya masa depan yang jelas kecuali membersihkan kotoran kuda sampai punggungnya tidak bisa tegak lagi.

Akan tetapi setidaknya itu pekerjaan yang ia mengerti.

Pergi ke perguruan kultivasi dengan tanda misterius di tangan, kekuatan mental yang belum bisa ia kendalikan, dan musuh yang bahkan ia tidak tahu siapa, itu pekerjaan yang sama sekali di luar kemampuannya.

"Pak Lurah," katanya akhirnya, "kalau saya pergi dan mati di jalan, itu salah siapa?"

"Salah nasib."

"Jawaban yang sangat memuaskan."

Lurah Kandang berdiri, menepuk debu dari celananya, dan merogoh sesuatu dari balik bajunya. Sebuah kantong kecil yang berbunyi gemerincing ketika dilemparkan ke pangkuan Bagas.

"Bekal perjalanan. Tidak banyak. Tapi cukup untuk tiga hari kalau kamu tidak boros."

Bagas menimbang kantong itu di tangannya. "Ini tabungan Pak Lurah?"

"Sudah lama saya simpan untuk keperluan darurat."

"Ini darurat?"

"Anak yang saya besarkan sejak kecil harus lari dari orang-orang berbahaya dengan tanda naga di tangannya." Lurah Kandang menatapnya datar. "Menurut kamu?"

Bagas tidak menjawab. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, bukan karena terharu, tapi karena ia tidak pernah tahu bahwa Lurah Kandang menganggapnya seperti itu. Selama ini ia pikir ia hanya tenaga kerja gratis yang kebetulan tinggal di istal.

Ia berdiri. Mengambil sekopnya yang gagangnya retak. Menatap kandang Cempaka untuk terakhir kalinya.

Cempaka sudah berdiri di depan pintu kandang, mendengus tidak sabar.

Bagas mengerutkan dahi. "Kamu tidak diajak."

Cempaka melangkah keluar dari kandang dan berdiri tepat di samping Bagas.

"Ini serius. Kamu tinggal di sini."

Cempaka tidak bergerak.

"Kuda ini milik istal kerajaan, Pak Lurah. Saya tidak bisa membawanya."

Lurah Kandang menatap Cempaka sebentar. "Dia sudah dianggap tidak terpakai sejak dua tahun lalu. Tidak ada yang akan mencarinya."

Bagas menatap Cempaka. Menatap Lurah Kandang. Menghela nafas panjang.

"Baik." Ia melangkah ke arah pintu istal, berhenti sebentar. "Pak Lurah ... perguruan mana yang harus saya tuju?"

Lurah Kandang terdiam lebih lama dari yang seharusnya untuk pertanyaan sesederhana itu.

"Ada satu perguruan di kaki Gunung Merapi. Namanya tidak terkenal. Muridnya tidak banyak. Gurunya ... " ia berhenti sejenak, " ... tidak biasa."

"Tidak biasa bagaimana?"

"Pergi saja. Kamu akan mengerti sendiri kalau sudah sampai."

Bagas menatapnya lama. Kekuatan mentalnya yang baru bangkit bekerja diam-diam, membaca ekspresi Lurah Kandang, menghitung kemungkinan, memproses setiap detail kecil yang tersembunyi di balik kalimat-kalimatnya.

Kesimpulannya satu.

Lurah Kandang tahu lebih banyak dari yang ia ceritakan. Jauh lebih banyak.

Namun malam ini bukan waktunya untuk menggali lebih dalam.

Bagas mengangguk sekali, berbalik, dan melangkah keluar dari istal bersama seekor kuda tua yang tidak diajak tapi ikut juga.

Di depannya, jalan menuju Gunung Merapi membentang dalam gelap.

Di belakangnya, pertanyaan yang belum terjawab menumpuk seperti kotoran kuda yang belum dibersihkan.

Dan di telapak tangan kirinya, tanda kepala Naga berdenyut pelan, seolah mengingatkan bahwa ia belum benar-benar siap untuk apapun yang menunggunya di depan sana.

Masalahnya, siap atau tidak, ia sudah terlanjur melangkah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status