Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

Share

Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-25 17:38:24

Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.

Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.

Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.

Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.

Ia berjalan dengan satu sandal.

Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.

Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagian. Gerbangnya ada. Atau setidaknya ada sesuatu yang dulunya gerbang, dua tiang kayu dengan papan nama yang tulisannya hampir tidak terbaca karena catnya sudah mengelupas hampir seluruhnya.

Bagas memiringkan kepala, mencoba membaca sisa tulisan itu.

"Pergur ... an ... ngin ... " ia mengerutkan dahi. "Perguruan Angin?"

Tidak ada jawaban.

Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Halamannya luas, atau dulunya luas, sekarang sebagian besar ditumbuhi rumput liar setinggi lutut. Ada beberapa bangunan di sekitarnya, satu yang kelihatan seperti aula latihan dengan atap yang berlubang di dua tempat, satu bangunan kecil yang pintunya tertutup rapat, dan satu sumur di pojok halaman yang talinya sudah putus.

Bagas berdiri di tengah halaman itu, menatap sekeliling dengan saksama. Kekuatan mentalnya bekerja diam-diam. Mengamati. Memproses.

Hasilnya tidak menggembirakan.

Atap aula retak di empat titik, bukan dua. Pondasi bangunan kecil di pojok miring ke kiri sekitar tiga derajat.

Sumur itu talinya tidak hanya putus, tapi ember di ujungnya sudah tidak ada, kemungkinan jatuh ke dalam dan tidak ada yang repot-repot mengambilnya. Rumput liar di halaman menunjukkan tidak ada aktivitas selama minimal dua bulan.

Ini bukan perguruan yang hampir bangkrut.

Ini perguruan yang sudah lama seharusnya bangkrut tapi entah kenapa masih berdiri.

Cempaka mendengus di belakangnya, seolah setuju.

"Kamu juga melihatnya," kata Bagas datar.

Cempaka mendengus lagi.

"Lurah Kandang bilang gurunya tidak biasa. Dia tidak bilang perguruannya tidak layak huni."

Cempaka melangkah masuk ke halaman tanpa diajak, menuju genangan air kecil di sudut, dan mulai minum dengan tenang. Ia tampak paling nyaman di antara keduanya.

"Halo?" Bagas mencoba memanggil.

Angin menjawab.

"Ada orang?"

Seekor burung terbang dari atap aula latihan, terkejut oleh suaranya.

Namun kekuatan mentalnya menangkap hal lain. Bekas tapak kaki di dekat sumur yang masih segar. Asap tipis yang keluar dari celah bangunan kecil di pojok. Suara yang sangat samar, seperti dengkuran, dari arah yang sama.

Bagas mendekati bangunan kecil itu. Mengetuk pintunya tiga kali.

Dengkurannya berhenti.

Hening sebentar.

"Tidak ada orang!" suara dari dalam terdengar serak, setengah mengantuk, dan sama sekali tidak meyakinkan.

"Saya bisa mendengar suara Bapak."

"Itu angin."

"Angin tidak bicara."

"Angin di sini bicara. Ini kaki Gunung Merapi. Anginnya istimewa."

Bagas menunggu.

Dari dalam terdengar suara gesekan, sesuatu yang jatuh, lalu umpatan pelan yang tidak cukup keras untuk ditangkap kata-katanya tapi cukup keras untuk ditangkap niatnya. Pintu terbuka.

Yang muncul adalah seorang kakek dengan rambut putih yang tersebar ke segala arah seperti kapas yang terkena angin, jubah cokelat kusam yang sepertinya belum dicuci dalam waktu yang bisa dipertanyakan, dan mata yang sepertiga masih mengantuk tapi dua pertiga sisanya memandang Bagas dengan sorot yang anehnya sangat tajam untuk orang yang baru saja pura-pura tidak ada.

"Siapa kamu?" tanya kakek itu.

"Bagas Surolegowo. Saya datang dari Kerajaan Medang Raya untuk berguru."

Kakek itu menatapnya dari atas ke bawah. Berhenti sebentar di bagian kaki.

"Kamu pakai satu sandal."

"Satu hilang di rawa."

"Kenapa tidak diambil?"

"Rawanya dalam."

"Kenapa tidak melompati rawanya?"

"Saya tidak bisa melompati rawa, Mbah."

Kakek itu mengangguk pelan seperti itu adalah jawaban yang sangat mendalam. "Masuk."

Bagian dalam bangunan itu lebih kecil dari yang terlihat dari luar. Ada meja, dua kursi, tumpukan kitab yang sebagian besar berdebu tebal, dan satu dipan di pojok yang selimutnya masih kusut bekas tidur. Di atas meja ada cangkir teh yang masih mengepul.

Mbah Suro duduk di kursinya, menyeruput teh dengan santai, dan menatap Bagas yang berdiri canggung di depannya.

"Jadi kamu mau berguru di sini."

"Ya, Mbah."

"Perguruan ini hampir tidak punya murid."

"Saya lihat."

"Hampir tidak punya dana."

"Saya perhatikan dari atapnya."

"Dan gurunya," Mbah Suro menyeruput tehnya lagi, "sudah lama tidak mengajar siapa-siapa."

"Berapa lama?"

"Dua belas tahun."

Bagas mencerna informasi itu sebentar. "Kenapa saya harus berguru di sini kalau begitu?"

"Kamu yang datang ke sini, bukan saya yang mengundang."

Itu benar. Bagas tidak punya argumen untuk membantahnya.

"Lurah Kandang yang menyuruh saya ke sini," kata Bagas akhirnya.

Sesuatu berubah di wajah Mbah Suro. Sangat cepat, sangat kecil, namun kekuatan mental Bagas menangkapnya dengan jelas. Sedikit ketegangan di sudut mata. Rahang yang mengencang sedetik sebelum kembali rileks. Jari-jari yang berhenti menggenggam cangkir selama satu detik penuh sebelum kembali seperti semula.

"Lurah Kandang," ulang Mbah Suro datar. "Nama yang sudah lama tidak saya dengar."

"Bapak kenal?"

"Tidak." Mbah Suro menyeruput tehnya. "Sama sekali tidak kenal."

Bagas menatapnya lama.

Kekuatan mentalnya sudah selesai memproses.

Kesimpulannya jelas dan sederhana.

Mbah Suro berbohong. Dan bohongnya terlalu rapi untuk orang yang mengaku sama sekali tidak kenal siapa-siapa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status