Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

Share

Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

Author: Sayap Uranus
last update Last Updated: 2026-02-25 18:01:54

Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi.

Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro.

"Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya.

Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya.

"Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan."

Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan.

"Tunjukkan tanda itu."

Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas.

"Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro.

"Mbah bisa melihatnya?"

"Tidak. Tapi saya bisa merasakan energinya." Mbah Suro menarik tangannya kembali dan menyeruput tehnya. "Kamu tahu kenapa tanda itu berbahaya?"

"Tidak."

"Bagus. Orang yang tahu biasanya sudah mati."

Bagas menatapnya. "Itu tidak meyakinkan sama sekali, Mbah."

"Tidak dimaksudkan untuk meyakinkan." Mbah Suro meletakkan cangkirnya. "Kekuatan mental bekerja seperti api di dalam ruangan tertutup. Kalau apinya kecil, ruangannya hangat. Kalau apinya terlalu besar untuk ruangannya, ruangannya terbakar dari dalam."

"Ruangannya adalah wadah induk saya."

"Tepat."

"Dan api saya terlalu besar."

"Api kamu setingkat Maharaja. Ruangan kamu Bibit Bintang Satu." Mbah Suro menatapnya datar. "Kamu paham masalahnya."

Bagas menatap telapak tangannya lagi. Denyutan tanda Naga terasa lebih jelas sekarang, lebih hangat dari seharusnya, seperti sesuatu di dalam sana yang mulai tidak sabar.

"Kenapa belum meledak dari tadi?"

"Karena tanda itu menahannya." Mbah Suro menunjuk telapak tangan Bagas dengan dagunya. "Tanda kepala Naga bukan sekadar tanda. Itu semacam katup. Menahan tekanan dari dalam supaya tidak keluar sekaligus."

"Berapa lama katup itu bisa bertahan?"

Mbah Suro tidak langsung menjawab. Ia menyeruput tehnya sampai habis, meletakkan cangkirnya, dan menatap Bagas dengan ekspresi yang sudah Bagas kenali sebagai ekspresi orang yang akan menyampaikan berita buruk dengan cara yang sangat tenang.

"Tiga hari."

Bagas mencerna angka itu.

"Tiga hari sebelum apa?"

"Sebelum katupnya tidak kuat lagi menahan. Kekuatan mental sebesar itu, kalau keluar tanpa kendali dari wadah induk sekecil milikmu ... " Mbah Suro berhenti sejenak, " ... tidak akan ada yang tersisa dari kamu untuk dikubur."

Hening.

Di luar, Cempaka mendengus. Ayam hitam mematuk tanah. Angin bertiup dari arah gunung.

"Jadi saya harus belajar mengendalikannya dalam tiga hari," kata Bagas.

"Idealnya."

"Kalau tidak berhasil dalam tiga hari?"

"Kamu mati. Dan kemungkinan besar setengah lereng gunung ini ikut rusak."

Bagas menatap langit-langit bangunan itu sebentar. Memikirkan seluruh rangkaian peristiwa yang membawanya ke titik ini. Batu biru yang tersandung.

Tanda Naga yang masuk ke telapak tangannya. Lima hari perjalanan dengan satu sandal. Ujian menangkap ayam. Sekarang ini, duduk di depan kakek eksentrik yang baru saja memberitahunya bahwa ia punya tiga hari sebelum meledak.

"Oke," kata Bagas.

Mbah Suro mengerutkan dahi. "Oke?"

"Oke. Kita mulai latihan sekarang."

"Kamu tidak panik?"

Bagas memikirkannya sebentar. "Kalau saya panik, apakah tiga harinya jadi lebih panjang?"

"Tidak."

"Kalau begitu tidak ada gunanya panik."

Mbah Suro menatapnya lama dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara kagum, curiga, dan sesuatu yang mungkin bisa disebut lega kalau kakek itu lebih ekspresif.

"Pejamkan mata," kata Mbah Suro akhirnya. "Rasakan aliran di dalam tubuhmu. Bukan di wadah indukmu. Di tempat yang lebih dalam dari itu."

Bagas memejamkan mata. Halaman di luar masih terdengar, dengkuran Cempaka, patok-patok ayam, angin di antara bambu. Tapi ia mencoba memusatkan perhatian ke dalam, ke tempat yang Mbah Suro maksud.

Kehangatan itu masih ada di sana. Sama seperti malam pertama di istal. Namun kali ini terasa jauh lebih besar, lebih penuh, seperti air yang mengisi wadah sampai hampir tumpah.

"Saya merasakannya," kata Bagas pelan.

"Jangan sentuh. Hanya amati."

Bagas mengamati. Kehangatan itu bergerak perlahan, mengalir ke sana ke sini di dalam dirinya, mencari celah, mencari jalan keluar.

"Sekarang bayangkan dinding," kata Mbah Suro. "Bukan untuk menghentikannya. Hanya untuk mengarahkan."

Bagas mencoba. Susah. Seperti mencoba mengarahkan sungai dengan telapak tangan.

Ia mencoba lagi. Dan lagi. Setiap kali gagal, kekuatan mentalnya mencatat di mana letaknya salah, menyesuaikan, mencoba sudut yang berbeda. Seperti memecahkan teka-teki yang aturan mainnya tidak ada yang memberitahu, tapi jawabannya entah kenapa terasa seperti sesuatu yang pernah ia tahu.

Namun kekuatan mentalnya bekerja diam-diam, mengamati pola aliran itu, mencari titik-titik di mana tekanannya paling lemah, menghitung kemungkinan.

Perlahan, sangat perlahan, aliran itu mulai bergerak ke arah yang berbeda.

Tanda Naga di telapak tangannya berdenyut sekali, keras, lalu meredup.

Bagas membuka matanya.

Mbah Suro menatapnya dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tidak bisa Bagas baca sama sekali.

"Berapa lama kamu berlatih kultivasi sebelumnya?" tanya Mbah Suro pelan.

"Tidak pernah."

Mbah Suro terdiam cukup lama.

"Kamu baru saja melakukan sesuatu yang murid terbaik saya butuhkan enam bulan untuk menguasainya."

Bagas menoleh ke tanda Naga di tangannya yang kini berdenyut lebih tenang.

"Tiga hari masih cukup, Mbah?"

Mbah Suro tidak menjawab. Ia hanya meraih cangkir tehnya yang sudah kosong, menatapnya sebentar, lalu bangkit untuk menuang teh baru.

Tangan kakek itu, untuk pertama kalinya sejak Bagas tiba di perguruan ini, sedikit gemetar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama bergerak paling cepat, menyerang dari kanan dengan gerakan tangan yang terlatih, sudut serangannya tepat, kecepatannya tidak main-main. Bagas miringkan kepala tiga senti ke kiri. Serangan itu lewat di samping telinganya. "Hampir," gumam Bagas. Orang itu menyerang lagi. Kali ini dari kiri. Bagas mundur satu langkah. "Masih hampir." Orang ketiga ikut masuk dari belakang. Bagas tidak menoleh tapi tangannya terangkat, benang tak kasat mata yang ia lihat lewat mata kirinya menangkap tubuh orang itu, mengangkatnya setengah meter dari tanah. Lalu mendorongnya ke samping cukup keras untuk membuatnya me

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan cangkir teh ketiga pagi itu, mengamati Bagas yang bersila di atas batu pipih dengan mata setengah terpejam. Aliran kekuatan mental di dalam tubuh Bagas sudah mulai bisa ia kendalikan arahnya, meski masih seperti mengarahkan sungai banjir dengan dua telapak tangan. "Lebih pelan," kata Mbah Suro. "Saya sudah pelan." "Lebih pelan dari itu." "Kalau lebih pelan lagi saya tidak bergerak sama sekali." "Bagus. Diam dulu. Amati dulu. Bergerak belakangan." Bagas menghela nafas, dan mencoba lagi. Kekuatan mentalnya bekerja seperti biasa, mengamati, menghitung, dan memproses. Namun kali ini ia mencoba mengarahkannya ke dalam, bukan ke luar. Menggunakannya untuk memetakan aliran energi di dalam

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro mengangguk pelan. Bukan anggukan orang yang puas dengan jawaban, tapi anggukan orang yang sudah menduga itulah jawabannya. "Masuk. Ada yang perlu kita bicarakan." Mereka duduk di dalam bangunan kecil itu lagi. Mbah Suro menuang teh baru, tidak menawarkan cangkir kedua untuk Bagas, dan duduk dengan cara orang yang akan menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia tahan. "Tunjukkan tanda itu." Bagas mengulurkan telapak tangan kirinya. Tanda kepala Naga bersinar samar di sana, hanya terlihat oleh Bagas, tapi Mbah Suro menatap tepat ke arahnya seperti ia bisa melihat sesuatu meski tidak sejelas Bagas. "Seperti yang saya duga," gumam Mbah Suro. "Mbah bisa melihatnya?" "Tidak. Tapi saya bisa meras

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu harus lulus ujian masuk terlebih dahulu."Bagas mengangguk. Ia sudah menduga ada ujian. Semua perguruan kultivasi punya ujian masuk. Itu hal yang wajar."Ujian pertama," kata Mbah Suro, "tangkap ayam itu."Bagas menoleh ke arah yang ditunjuk Mbah Suro. Di sudut halaman, seekor ayam jantan berbulu hitam berdiri dengan tenang, mematuk-matuk tanah seolah tidak peduli dengan keberadaan siapa pun."Ayam itu?" tanya Bagas."Ayam itu.""Dengan tangan kosong?""Dengan tangan kosong."Bagas menatap ayam itu. Ayam itu menatap balik. Matanya kecil, tajam, dan memancarkan energi seekor makhluk yang sudah terlalu sering berurusan dengan manusia dan tidak terkesan sama sekali.Bagas melangkah maju dengan

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 4 Perguruan Angin yang Anginnya Lebih Hidup dari Penghuninya

    Tiga hari perjalanan ternyata bukan tiga hari perjalanan.Itu tiga hari perjalanan kalau orang yang bepergian tahu arah. Bagas tidak tahu arah. Maka dari itu tiga hari perjalanan menjadi lima hari perjalanan, ditambah satu malam tidur di bawah pohon yang ternyata sarangnya lebah, dan satu pagi dikejar ayam hutan yang tidak terima wilayahnya dimasuki kuda asing.Cempaka menikmati semuanya. Setidaknya itulah yang Bagas simpulkan dari cara kuda itu mendengus setiap kali Bagas tersandung atau mengeluh.Ketika kaki Gunung Merapi akhirnya terlihat di kejauhan, Bagas sudah kehabisan separuh bekal, seluruh cadangan semangatnya, dan satu sandal yang hilang di rawa pada hari ketiga.Ia berjalan dengan satu sandal.Tidak ada yang mengomentari hal ini karena tidak ada orang lain di sana kecuali Cempaka, dan Cempaka tidak memakai sandal sama sekali jadi tidak punya hak bicara.Perguruan itu berdiri di lereng bawah gunung, tersembunyi di balik deretan pohon bambu yang sudah kuning di beberapa bagia

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 3 Salah Nasib, Kata Lurah Kandang

    Lurah Kandang tidak langsung bicara setelah orang-orang berpakaian gelap itu pergi.Ia duduk di lantai kandang Cempaka, memandang kosong ke arah pintu istal yang kini sepi, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya. Bagas menunggu. Cempaka juga menunggu, meski kemungkinan besar karena tidak punya pilihan lain.Akhirnya Lurah Kandang bicara."Kamu harus pergi dari sini malam ini."Bagas menatapnya. "Ke mana?""Ke mana saja yang jauh dari sini.""Itu bukan jawaban, Pak Lurah.""Itu satu-satunya jawaban yang saya punya."Bagas membuka mulut. Menutupnya lagi. Membukanya sekali lagi."Pak Lurah, saya tidak punya uang. Saya tidak punya keluarga. Satu-satunya harta saya adalah sekop yang gagangnya sudah retak dan separuh bungkus gula merah di bawah kasur.""Bawa sekopnya. Tinggalkan gulanya.""Itu bukan ... " Bagas menghela nafas. "Kenapa saya harus pergi?"Lurah Kandang akhirnya menatapnya langsung. Matanya lelah, lebih lelah dari yang biasa Bagas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status