Home / Pendekar / Kaisar Dewa Gombal / Bab 9 Sang Naga Pertama

Share

Bab 9 Sang Naga Pertama

Author: Sayap Uranus
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-28 12:04:55

Hening yang menyusul kalimat itu terasa lebih berat dari delapan orang berpakaian gelap yang baru saja kalah.

Bagas masih menatap orang muda yang baru saja melepas kain penutup wajahnya. Orang itu menatap balik dengan ekspresi kekaguman yang tidak ia sembunyikan sama sekali, seperti seseorang yang sudah menunggu sangat lama dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

"Sang Naga Pertama," ulang Bagas pelan, mencoba merasakan apakah kalimat itu cocok diletakkan di depan namanya.

Tidak cocok.

"Saya Bagas Surolegowo," kata Bagas akhirnya. "Juru bersih istal. Mantan juru bersih istal. Saya tidak tahu apa itu Sang Naga Pertama tapi sepertinya itu bukan saya."

Orang muda itu berbicara lagi dalam bahasa punah. Kali ini lebih panjang.

Kekuatan mental Bagas menerjemahkan dengan lambat, seperti membaca tulisan yang sebagian hurufnya hilang tapi masih bisa ditebak maknanya dari konteks.

Kurang lebih artinya, tanda di tanganmu tidak bisa berbohong. Kami sudah menunggumu tiga ratus tahun.

"Tiga ratus tahun," ulang Bagas datar. "Saya baru dua puluh tahun. Kalian menunggu orang yang salah."

Orang muda itu menggeleng, bicara lagi.

Bagas menerjemahkan. Roh Sang Naga Pertama bereinkarnasi. Tanda itu membuktikannya.

"Reinkarnasi," kata Bagas. Ia menoleh ke Mbah Suro yang masih berdiri sangat diam di belakangnya. "Mbah Suro, mereka bilang saya reinkarnasi seseorang."

"Saya dengar."

"Mbah percaya reinkarnasi?"

Mbah Suro tidak menjawab.

"Mbah," kata Bagas lebih pelan, "tangan Mbah gemetar lagi."

Mbah Suro mengepalkan tangannya dan memasukkannya ke dalam lipatan jubah kusamnya. "Tidak gemetar."

"Tadi gemetar."

"Angin."

"Tidak ada angin."

"Di sini selalu ada angin. Ini kaki Gunung Merapi."

Bagas menatapnya sebentar, lalu menoleh kembali ke orang muda di depannya.

"Kalian datang ke sini untuk apa?" tanya Bagas.

Orang muda itu menjawab. Bagas menerjemahkan.

Untuk mengawal Sang Naga Pertama kembali ke tempatnya.

"Tempat saya adalah istal," kata Bagas. "Tapi istal itu sudah saya tinggalkan. Jadi sekarang tempat saya adalah perguruan ini yang atapnya berlubang empat."

Orang muda itu seperti tidak menyangka jawaban itu. Ia terdiam sebentar, lalu berkata sesuatu yang nadanya terdengar seperti pertanyaan.

Bagas menerjemahkan. Apakah Sang Naga Pertama menolak takdirnya?

"Saya tidak menolak takdir," kata Bagas dengan sangat serius. "Saya hanya menolak julukan yang tidak saya pilih sendiri. Kalau mau memanggil saya sesuatu, panggil saja Bagas. Atau Mas Bagas kalau mau sopan."

Orang muda itu menatapnya lama. Kemudian untuk pertama kalinya sesuatu di sudut bibirnya bergerak. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Namun kekuatan mental Bagas menangkapnya dengan jelas.

Orang itu hampir tersenyum.

Ia berbicara lagi, kali ini singkat. Bagas menerjemahkan. Seperti yang diceritakan. Sang Naga Pertama selalu seperti ini.

"Seperti apa?" tanya Bagas.

Orang muda itu tidak menjawab. Ia memberi isyarat kepada tujuh rekannya untuk bangkit. Mereka berdiri satu per satu, menepuk debu, tidak ada yang terlihat marah atau malu. Orang muda itu membungkuk sedikit ke arah Bagas, lalu berbalik, dan berjalan keluar bersama ketujuh rekannya.

Sebelum melewati gerbang yang sudah patah, ia berhenti sebentar, dan berbicara tanpa menoleh.

Bagas menerjemahkan. Kami akan kembali. Bukan untuk memaksa. Hanya untuk menemani.

Kemudian mereka pergi.

Cempaka berjalan pelan dari kandangnya, berdiri di samping Bagas, dan mendengus sekali.

"Kamu melihat semua itu," kata Bagas datar.

Cempaka mendengus lagi.

"Kamu tidak terkejut sama sekali."

Cempaka tidak bergerak.

Bagas menatap kuda tua itu dengan pandangan baru. Kekuatan mentalnya memproses sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Cara Cempaka selalu ada di tempat yang tepat. Cara kuda itu mengikutinya sejak malam pertama di istal tanpa alasan yang jelas. Cara Lurah Kandang tidak pernah benar-benar melarangnya membawa Cempaka pergi.

"Mbah Suro," kata Bagas tanpa menoleh, "Apakah kuda ini juga bagian dari sesuatu yang perlu saya ketahui?"

Tidak ada jawaban.

Bagas menoleh. Mbah Suro menatap Cempaka dengan ekspresi orang yang ketahuan menyembunyikan sesuatu, tapi belum siap mengakuinya.

"Mbah kenal Lurah Kandang, kan?" kata Bagas pelan.

"Ya." Suara Mbah Suro keluar lebih pelan dari biasanya. "Saya kenal."

"Mbah tahu siapa saya sebenarnya sebelum saya datang ke sini?"

Hening yang lebih panjang.

"Ya."

Bagas akhirnya menoleh sepenuhnya. Mbah Suro berdiri di beranda dengan cangkir teh di tangan, menatapnya dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu tidak menyembunyikan apapun. Lelah, lega, dengan sesuatu yang mungkin bisa disebut permintaan maaf kalau kakek itu lebih pandai mengucapkannya dengan kata-kata.

"Ada banyak yang perlu kamu ketahui," kata Mbah Suro pelan.

Bagas menatapnya lama. Kekuatan mentalnya memproses, mengamati, dan menghitung. Lalu menyimpulkan.

Kesimpulannya satu.

Jawaban yang akan ia dengar malam ini akan mengubah segalanya. Cara ia memandang dirinya sendiri. Cara ia memandang Lurah Kandang. Cara ia memandang setiap hal yang sudah terjadi sejak batu biru itu masuk ke telapak tangannya.

Setelah malam ini, tidak ada cara untuk kembali menjadi orang yang tidak tahu.

"Boleh saya minta teh dulu?" kata Bagas. "Rasanya informasi sepenting itu lebih baik didengar sambil duduk."

Mbah Suro menatapnya sebentar. Lalu untuk pertama kalinya sejak Bagas tiba di perguruan ini, kakek itu tersenyum kecil, singkat, tapi ada.

"Masuk," kata Mbah Suro.

Malam itu, di dalam bangunan kecil yang fondasinya miring tiga derajat, Bagas Surolegowo akhirnya mendengar cerita tentang siapa sebenarnya dirinya.

Ketika ia keluar keesokan paginya, langkahnya berbeda.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kaisar Dewa Gombal   BAB 39 — Bukti Palsu, Tunangan Palsu, dan Perang yang Tidak Palsu

    Istana Kerajaan Candra Mukti di malam hari lebih sunyi dari biasanya. Bukan sunyi yang tenang. Sunyi yang dipilih. Raden Wisnupada berdiri di depan Raja Candra Mukti dengan satu kotak kecil di tangannya, kotak yang permukaannya tidak menunjukkan apapun tapi beratnya cukup untuk mengubah arah satu kerajaan. "Ini ditemukan di dekat perbatasan," katanya pelan. "Bersama sisa-sisa yang tidak bisa saya ceritakan dengan rinci tanpa membuat Kakanda berduka." Raja Candra Mukti menatap kotak itu. Tidak membukanya. "Kamu yakin?" tanya Raja. "Saya tidak mau yakin, Kakanda." Raden Wisnupada meletakkan kotak itu di meja dengan cara orang yang melakukan sesuatu yang sangat berat. "Tapi lambang yang ada di sana adalah lambang Sasana Anggrek Loka. Pembunuh bayaran yang selama ini digunakan Medang Raya untuk urusan yang tidak mau mereka akui." Raja Candra Mukti tidak bergerak. "Sekar," katanya pelan. "Kakanda—" "Sekar pergi ke perbatasan itu." "Ya." Raden Wisnupada menundukkan kepala. "Say

  • Kaisar Dewa Gombal   BAB 38 — Pil Ajaib, Guru Gila, dan Besok Subuh

    Bagas berlutut di depan Mbah Suro, menatap sesuatu gelap yang bergerak di bawah kulit sisi kiri dada itu, meluas pelan dengan cara yang kekuatan mentalnya tidak perlu waktu lama untuk menyimpulkan. Racun kultivasi. Tingkat tertinggi. "Mbah Suro, saya perlu memeriksa." "Tehnya masih hangat," kata Mbah Suro lagi. "Mbah." "Kamu mau teh?" Bagas mengalirkan energi Jalan Dewa ke ujung jari, membentuk Jarum Langit Satu Tusukan, menusuk tiga titik di sisi kiri dada Mbah Suro berurutan. Cahaya biru menyebar dari tiga titik itu. Berhenti di tepi racun. Tidak bisa masuk lebih dalam. Racun Kehancuran Seribu Dinasti terlalu pekat untuk Jarum Langit Satu Tusukan yang baru pertama kali dipakai dalam situasi darurat. Bagas menarik jarinya. Dewi Sekar berdiri di sebelahnya. "Bisa?" "Tidak cukup." "Pil Bulat Semesta." Bagas menatap Dewi Sekar. "Kamu yang bilang simpan untuk nanti," katanya. "Ini nanti," kata Dewi Sekar. Bagas merogoh kantong tak kasat mata di sisi Jalan Dewa, mengelu

  • Kaisar Dewa Gombal   BAB 37 — Teh yang Tidak Diletakkan dan Racun yang Tidak Diduga

    Arya Wirabumi berdiri di tengah jalan hutan dengan tangan terlipat di belakang punggung. Sama persis seperti malam di istal. Tapi kali ini tidak ada atap penginapan, tidak ada jarak tiga ratus meter, tidak ada anak buah di sebelahnya. Hanya ia, jalan hutan, dan cahaya sore yang miring di antara pohon-pohon besar. "Jalan Dewa terbuka," katanya. Bukan pertanyaan. "Baru saja," kata Bagas. "Di gua perbatasan." "Kamu mengikuti dari tadi." "Saya mengikuti sejak istal." Arya Wirabumi melangkah maju dengan Langkah Pewaris Darah, setiap pijakan membawa tekanan yang berbeda. "Saya hanya menunggu waktu yang tepat." "Waktu yang tepat untuk apa?" tanya Dewi Sekar. Arya Wirabumi tidak menjawab Dewi Sekar. Ia menatap Bagas. "Jurus ketiga tidak boleh terbuka penuh," katanya. "Kamu tahu konsekuensinya." "Saya tahu konsekuensinya lebih baik dari kamu," kata Bagas. "Karena saya yang merasakannya dari dalam." "Maka serahkan tanda Naga sekarang sebelum jurus keempat mulai terbuka." "Tidak b

  • Kaisar Dewa Gombal   BAB 36 — Ranah Baru, Jurus Dewa, dan Pil yang Tidak Ada Jaminannya

    Suara Mbah Suro muda mengucapkan nama Bagas bergema di dalam Limbo. Kemudian semuanya pecah. Bukan pecah seperti mimpi yang berakhir, tapi pecah seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditahan akhirnya dilepaskan sekaligus, energi dari gua mengalir ke seluruh wadah Bagas dalam satu gelombang terakhir yang jauh lebih besar dari semua gelombang sebelumnya. Bagas tersadar di lantai batu gua. Tangan kiri terangkat di udara. Tanda Naga di telapak tangan tidak hitam pekat lagi. Biru. Biru yang lebih terang dari sebelumnya, bukan biru samar yang biasanya, tapi biru yang menerangi sebagian dinding gua di sekitarnya. Dewi Sekar berlutut di sebelahnya, menatap tanda Naga dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan apapun. "Kamu pingsan lagi," katanya. "Berapa lama?" "Dua belas menit." "Lebih lama dari biasanya." "Ya." Bagas duduk perlahan, merasakan sesuatu yang berbeda di seluruh tubuhnya, bukan sakit, bukan lelah, tapi seperti sesuatu yang baru saja dipasang di tempat yang sebelum

  • Kaisar Dewa Gombal   BAB 35 — Gua Utara, Kentut Bersiul Kedua, dan Nama yang Tidak Seharusnya Ada

    Dewi Sekar diam cukup lama setelah Bagas selesai bicara. Bukan diam karena tidak percaya. Diam seperti orang yang sedang menyusun ulang semua yang sudah ia susun sebelumnya dan menemukan bahwa susunan barunya lebih masuk akal dari yang lama tapi jauh lebih tidak menyenangkan. "Mbah Suro," katanya akhirnya. "Ya." "Guru kamu." "Ya." "Yang minum teh sepanjang waktu." "Ya." "Sang Naga Pertama." "Kemungkinan besar." Dewi Sekar menoleh ke tiga penjaga yang masih berdiri di antara pohon-pohon besar. "Kalian tahu ini," katanya, bukan pertanyaan. Penjaga tengah tidak langsung menjawab. "Kalian tahu siapa Mbah Suro sebenarnya." "Kami tahu ada satu orang yang menyimpan sebagian dari apa yang seharusnya sudah pergi tiga ratus tahun lalu," kata penjaga tengah pelan. "Kami tidak tahu namanya sekarang." "Tapi kamu baru bilang tahu," kata Bagas. "Kami tahu ada orang itu. Tidak tahu siapa orangnya di dunia sekarang." Bagas memproses perbedaan itu. "Jadi Sang Naga Pertama tidak mati

  • Kaisar Dewa Gombal   BAB 34 — Kaki Gunung, Limbo Tidak Sengaja, dan Siulan yang Tidak Ada di Peta Manapun

    Gunung perbatasan mulai terlihat dari celah pohon dua jam sebelum mereka sampai di kakinya. Bukan karena gunungnya tinggi. Tapi karena kabut di puncaknya tidak bergerak meski angin di bawahnya cukup kencang untuk menggerakkan rambut Dewi Sekar ke kiri. Bagas menatap kabut itu sambil berjalan. Kekuatan mental memproses, meraba ke arah gunung dari jarak dua jam perjalanan, dan menemukan sesuatu di sana yang tidak ia temukan di hutan sekitarnya. Berat. Seperti udara di sekitar gunung itu lebih padat dari udara di tempat lain. "Kamu merasakan sesuatu?" tanya Dewi Sekar tanpa menoleh. "Ya." "Saya juga." Dewi Sekar menatap puncak yang berkabut. "Waktu kecil saya tidak merasakannya. Tapi waktu itu ranah saya masih rendah." "Sekarang kamu merasakan apa?" "Seperti gunung itu bernapas." Bagas memproses kalimat itu. "Deskripsi yang bagus," katanya. "Terima kasih." "Bukan pujian. Itu deskripsi yang akurat dan sedikit mengkhawatirkan." Mereka berjalan lagi dalam diam. Tanda Naga d

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 8 Terbukanya Jalan Manusia

    Tujuh orang bergerak maju. Bagas tidak bergerak. Bukan karena berani. Akan tetapi karena kekuatan mentalnya sedang memproses terlalu banyak hal sekaligus, dan tubuh Bagas memilih untuk diam sambil menunggu hasilnya. Orang pertama berger

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 7 Cempaka Tidak Boleh Disentuh

    Hari kedua latihan berjalan lebih baik dari yang Bagas bayangkan. Itu adalah kalimat paling menyedihkan yang pernah ia pikirkan tentang dirinya sendiri. Karena standar 'lebih baik' yang ia pakai adalah berhasil tidak meledak dalam dua puluh menit pertama. Mbah Suro duduk di depannya dengan ca

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 6 Katup, Tiga Hari, dan Setengah Lereng Gunung yang Ikut Terancam

    Pertanyaan itu menggantung di udara halaman perguruan yang sunyi. Mbah Suro masih menatapnya. Bagas masih menatap telapak tangannya. Tanda kepala Naga itu berdenyut samar, tenang, seolah pertanyaan itu bukan hanya milik Mbah Suro. "Saya tidak tahu," jawab Bagas akhirnya. Mbah Suro menganggu

  • Kaisar Dewa Gombal   Bab 5 Ujian Masuk Perguruan yang Tidak Ada di Buku Panduan Mana pun

    Mbah Suro tidak langsung menerima Bagas sebagai murid.Tentu saja tidak.Itu terlalu mudah untuk perguruan yang atapnya berlubang dan gurunya pura-pura tidak ada ketika ada tamu datang."Sebelum kamu berguru di sini," kata Mbah Suro sambil menyeruput tehnya yang entah sudah cangkir keberapa, "kamu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status