เข้าสู่ระบบSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Quantum Teknik, Kak Pungki, Kak Saripto, Kak Al Walid Mohammad, Kak Munjaedi Boyolali, Kak Ridhofatahilah99, dan Kak Rayhan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada satu bab bonus lagi malam ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Debu dan serpihan marmer masih beterbangan memenuhi balai.Beberapa detik kemudian, ketika pandangan mulai kembali jelas, semua orang melihat Ryan masih berdiri di tempat semula. Posisi kakinya bahkan tidak bergeser sedikit pun. Tangan kanannya perlahan kembali terlipat di belakang punggung, seolah serangan tadi tidak membutuhkan tenaga apa pun.Di sisi lain, darah hangat masih memercik ke udara.Kepala Desmond Devlin, bagian paling rapuh dari tubuhnya, sudah hancur berkeping-keping. Tengkoraknya remuk seperti semangka yang dihantam palu, sementara tubuh tanpa kepala itu terjungkal ke belakang. Kedua kakinya sempat mengejang dua kali sebelum akhirnya diam.Senyap.Seluruh balai kembali tenggelam dalam keheningan yang mencekam.Tatapan semua orang membeku.Kalau Tyrell Lockwood, peringkat delapan puluh enam Daftar Maestro, yang dipenggal hanya dengan satu serangan tadi sudah membuat mereka tercengang, maka kematian Desmond benar-benar mengguncang hati mereka.Desmond menempati peri
“Tidak perlu bergiliran. Kalian semua boleh maju bersamaan!”Suara dingin Ryan menggema di seluruh balai.Ia mengucapkannya dengan nada datar, seolah sedang menawarkan secangkir teh, bukan menantang lima keluarga kuno sekaligus.“Apa?!” Darnell Devlin yang berdiri di kubu Keluarga Sinclair langsung terpaku.Bukan hanya dia.Hampir semua orang di dalam balai menatap Ryan dengan wajah tidak percaya, seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.Ryan ingin lima keluarga kuno menyerangnya secara bersamaan.Apakah ia benar-benar berniat menghadapi lima jagoan seorang diri?“Ryan, kau sudah gila?!” Rowena langsung berseru.Baginya, keputusan Ryan untuk terus bertarung saja sudah sulit dipahami. Ia sama sekali tidak menyangka pemuda itu justru menaikkan tantangan lebih jauh.“Gila. Dia benar-benar gila!” Hector Sterling ikut mendengus.Sejak awal ia memang tidak menyukai Ryan, dan sekarang ia mendapat alasan baru untuk mengejek.“Entah cara licik apa yang dia gunakan untuk membunuh Tyrel
“Itu bukan urusanmu.” Ryan terkekeh pelan, sama sekali tidak terusik oleh ancaman Fulton Lockwood.Ia menimang lempeng baka di telapak tangannya selama beberapa detik, lalu mengangkat tangan dan mengibaskannya. Lempeng tambahan itu melayang membentuk lengkungan pendek di udara sebelum jatuh ke arah Rowena.Rowena buru-buru menangkapnya. Kedua matanya langsung membelalak.“Ryan, apa-apaan ini?”Ryan tersenyum tipis.“Bukankah lempeng baka keluargamu tadi sudah hilang? Anggap saja hadiah dariku.”“Hah?” Rowena tertegun. “Ta... tapi kau mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan lempeng ini!”Ia benar-benar tidak menyangka Ryan akan menyerahkannya begitu saja.Lempeng baka hanya berjumlah delapan di seluruh dunia. Bahkan sepuluh keluarga kuno Tiga Alam Tertinggi rela bertarung mati-matian demi memperebutkannya.Namun Ryan justru melemparkannya kepada Rowena seperti benda yang sama sekali tidak berharga.Selena Tanjaya yang berdiri di samping ikut terkejut. Setelah beberapa saat, ia berkata
“Kita salah menilai.”Roderick Sterling mengucapkannya dengan suara serak. Kedua tangannya yang tadi bersedekap kini jatuh di sisi tubuh.Ia menoleh kepada Vincent Lowell.Keduanya saling bertukar pandang, dan keterkejutan yang sama terlihat jelas di mata mereka.Tyrell Lockwood, peringkat delapan puluh enam Daftar Maestro, seorang ahli Ranah Maestro tahap menengah, tewas di tangan Ryan Hartono hanya dalam satu serangan.Yang lebih mengerikan, gerakan Ryan begitu cepat sampai Roderick dan Vincent sendiri tidak sempat bereaksi.Kalau tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, mereka berdua tidak mungkin percaya.Di sisi lain, Selena Tanjaya yang berdiri di belakang Rowena menarik napas panjang.Ia kembali menatap Ryan. Kali ini, tatapannya benar-benar berbeda.Selama ini Selena memang sudah beberapa kali mendengar nama Ryan, termasuk kabar bagaimana pemuda itu membunuh Yorick Sinclair dan beberapa oran
Ryan tetap berdiri di tempatnya.Ia tidak memasang kuda-kuda, tidak mundur setengah langkah, dan tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Tatapannya hanya tertuju lurus pada telapak raksasa yang sedang menghantam ke arahnya.Tekanan dari serangan Tyrell Lockwood begitu mengerikan hingga banyak penonton merasa dada mereka sesak. Beberapa orang yang duduk di barisan depan bahkan tanpa sadar mencondongkan tubuh ke belakang. Formasi di sekeliling arena bergetar tipis, seolah sedang menahan gelombang tenaga yang terus menumpuk di satu titik.Pupil Hector Sterling sedikit menyempit. “Ryan Hartono pasti mati sekarang!”Bisik-bisik segera terdengar dari berbagai arah.“Lihat aura Tyrell. Jauh lebih kuat dibanding sebulan lalu!”“Menurut kalian, berapa jurus yang dibutuhkan untuk mengalahkan Hartono?”“Satu jurus juga cukup!”Tiberius Draven mendengar semua ucapan itu. Ia tanpa sadar melirik
Orang yang melompat ke tengah adalah seorang lelaki bertubuh besar berusia sekitar tiga puluh tahun.Tingginya lebih dari dua meter. Tubuhnya tidak gemuk, justru terlihat ramping namun liat, dibungkus jaket pendek ketat yang menonjolkan kedua lengannya. Urat-urat pada lengan itu menyembul seperti akar pohon tua, sementara sorot matanya tertuju kepada Ryan Hartono dengan senyum kejam seperti serigala yang sudah mencium mangsa.Begitu kakinya menyentuh arena, ekspresi banyak orang di dalam balai langsung berubah.“Itu Tyrell Lockwood dari Keluarga Lockwood!”Corwin Lowell menarik napas panjang. Nada suaranya jelas mengandung rasa gentar.“Konon dia lahir setelah ayahnya meninggal. Tidak lama setelah dilahirkan, ibunya membuangnya ke kuburan massal.” “Dia bertahan hidup dengan merebut makanan dari harimau dan serigala sampai bakat bela dirinya ditemukan, lalu Keluarga Lockwood membawanya kembali.”“Bukan cuma itu.” Reyner menggeleng pelan. “Kudengar dia pernah menelan ramuan aneh secar
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang






