تسجيل الدخولSore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Quantum Teknik, Kak Pungki, Kak Saripto, Kak Al Walid Mohammad, Kak Munjaedi Boyolali, Kak Ridhofatahilah99, dan Kak Rayhan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada satu bab bonus lagi malam ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Selesai sarapan, Elena baru tersadar bahwa ia sudah dua tiga hari tidak menginjak kantor. Begitu melihat jam, ia langsung menyambar tas, merapikan rambut seadanya, lalu berangkat dengan tergesa-gesa. Aira dibawanya untuk diantar ke sekolah, sedangkan Lulu ikut bersamanya ke kantor karena belum ada yang berani membiarkan gadis kecil itu jauh dari pengawasan.Ryan Hartono menjalankan pesan istrinya dengan sangat patuh. Semua pakaian kotor ia masukkan ke mesin cuci. Pakaian dalam Elena ia sisihkan, lalu dicuci tangan sesuai perintah. Setelah itu, lantai vila ia pel sampai mengilap, barulah ia menyapa sebentar kedua orang tuanya yang baru bangun.Ketika akhirnya ia menutup pintu pagar dan berangkat menuju Klub Puncak Emas di Kota Sentralis, sudut bibirnya tidak sanggup menahan senyum kecil. Tidak banyak orang tahu bahwa sosok yang baru mengguncang Timur itu baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah.'Orang nomor satu di Timur,' pikirnya, 'dan pekerjaan paginya mengepel lantai.'Tidak l
Cahaya pagi mulai menyelinap lewat celah gorden, membuat kamar yang semula temaram perlahan berubah terang. Tanpa mereka sadari, malam panjang itu sudah berganti hari. Hampir sepanjang waktu, Ryan Hartono hanya duduk di kamar sambil mengobrol pelan dengan Elena, seolah ingin menebus semua kecemasan yang baru saja mereka lalui.Baru sekitar pukul tujuh pagi, Elena tersentak karena teringat Aira harus sekolah. Ia juga harus menyiapkan sarapan untuk seisi rumah.Ryan ikut keluar kamar sambil menguap. Ia mengira dua bocah di ruang tamu masih tenggelam dalam gim sejak dini hari tadi. Di luar dugaan, pemandangan yang ia lihat justru membuat alisnya terangkat.Aira menelungkup di meja, memegang pensil, dan tampak mengerjakan sesuatu dengan sangat serius.“Wah, matahari terbit dari barat rupanya.” Ryan menghampiri dengan senyum lebar. “Putriku sudah bisa mengerjakan tugas sendiri? Sini, biar Ayah lihat apa yang kau tulis.”
Menjelang subuh, ketika langit di timur baru mulai memucat kelabu, vila Keluarga Hartono akhirnya sedikit tenang.Hendrik Hartono dan Wulan sudah kembali tidur setelah semalaman dibuat cemas. Di ruang tamu, Aira dan Lulu duduk berdampingan di sofa sambil bermain gim di ponsel. Sesekali terdengar suara pemberitahuan dari layar, mengumumkan tiga sampai lima musuh tumbang beruntun karena serangan rekan setim mereka.Di dalam kamar, Ryan Hartono justru sedang menatap Elena dengan mata membelalak.Elena duduk bersila di tepi ranjang. Wajahnya tampak serius, tetapi di sudut bibirnya tersimpan sedikit senyum yang sulit dijelaskan.“Maksudmu... Ibu hamil?” Suara Ryan nyaris tercekat.Di ujung kalimat itu, ia langsung menggeleng. “Tidak mungkin.”“Kenapa tidak mungkin?” Elena memutar bola matanya, gemas sekaligus geli. “Lelaki besar sepertimu tahu apa?” “Sebulan setelah aku mengandung Aira dulu, aku juga seri
“Ibu tenang saja, dia baik-baik saja.” Ryan Hartono tersenyum menenangkan Wulan, lalu berjalan masuk ke kamar untuk menengok Aira. Di atas ranjang, gadis kecil itu masih tidur pulas. Wajahnya damai, napasnya teratur, dan hanya dialah satu-satunya orang di rumah itu yang tidak mengetahui malam panjang penuh bahaya yang baru saja dilalui keluarganya. Elena tidak sanggup menahan diri. Ia mengikuti Ryan masuk, menghampiri ranjang, lalu menunduk dan mencium pipi putrinya dengan hati-hati. Matanya langsung berkaca-kaca. Dari Wulan dan yang lain, ia sudah mendengar bahwa selama dirinya hilang, Aira menangis mencari ibunya hampir setiap hari. Bahkan anak itu sempat menolak makan dua hari berturut-turut. Memikirkan semua itu, dada Elena terasa seperti diremas. Ryan mengamati diam-diam. Setelah beberapa saat, ia melepaskan segel tidur yang sebelumnya ia pasang pada tubuh Aira. Tidak lama kemudian, bulu mata gadis kecil itu bergetar. Aira perlahan membuka mata, menggosok kelopaknya y
Pukul empat dini hari. Vila Keluarga Hartono masih terang benderang dan dipenuhi orang. Namun perhatian semua orang di ruang makan tertuju pada Lulu yang duduk di kursi sambil memegang sebuah burger dengan kedua tangan mungilnya. Burger itu khusus dibeli Tuan Budi atas perintah Ryan Hartono. Karena gadis kecil itu baru saja sadar dan mengaku lapar, tidak ada yang tega membiarkannya menunggu lebih lama. Hanya saja, dilihat oleh begitu banyak pasang mata membuat Lulu menjadi kikuk. Ia menunduk semakin dalam, lalu menggigit burger itu sedikit demi sedikit. Sesekali, ia mendongak diam-diam untuk melihat orang-orang di sekelilingnya, kemudian buru-buru kembali menunduk. Cara makannya sangat hemat. Remah roti yang jatuh ke meja ia pungut satu per satu, lalu dimasukkan ke mulut. Bahkan potongan selada kecil yang tercecer di pinggir piring pun tidak ia lewatkan. Kebiasaan semacam itu jelas bukan terbentuk dalam satu dua hari. Kemungkinan besar, semua itu berasal dari masa-masa
Ryan tersenyum tipis. 'Sudah ribuan tahun berlalu, tetapi wataknya masih persis sama.' Ia menggeleng pelan, lalu kembali memandang Lulu yang masih terbaring di atas ranjang. Setelah Sepuluh Goresan Raja Bijak selesai, cahaya emas dari tubuh gadis kecil itu memang sudah tertahan. Napasnya pun jauh lebih teratur daripada sebelumnya. Secara akal sehat, Lulu seharusnya sudah siuman. Namun sampai saat ini, kelopak matanya masih tertutup rapat. Tidak ada tanda jelas bahwa ia akan bangun. Bibir kecilnya justru terus bergerak, menggumamkan kata-kata yang terputus-putus. "Kakek Soren... Si Raksasa..." Ryan menatapnya beberapa saat. Keraguan muncul di matanya. Anak ini terlalu aneh. Qi Yang Puncak tersimpan di dalam tubuhnya, kekuatan penelan yang bahkan membuat Nightmare hampir celaka juga ada di sana, dan sekarang ia masih menyebut nama-nama yang tidak dikenal dalam tidurnya. Setelah menimbang sebentar, Ryan mengangkat tangan dan mengetukkan jari ke titik di antara alis Lulu. Pada
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be







