LOGINPagi Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Leonard Kurniawan Widjaja, Kak Gunarso Priambudi, Kak Pungki, Kak Budute Wae, Kak Sitoy Suwarto, Kak Famida, dan Kak Pengunjung1341 atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Ryan mengernyit ketika menyadari ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Ia menunduk dan mendapati pakaian yang dikenakannya sudah berganti. Jubah lamanya entah berada di mana, sedangkan sekarang tubuhnya dibalut jubah putih bersih yang mengeluarkan aroma lembut, samar-samar menyerupai wangi yang biasa melekat pada pakaian perempuan.'Siapa yang mengganti pakaianku?' batinnya.Ryan baru hendak bangkit ketika kereta kuda mendadak berhenti. Suara langkah kaki terdengar dari luar, semakin dekat ke arahnya. Sesaat kemudian, tirai biru di pintu kereta tersibak dan wajah seorang gadis muncul dari baliknya.Gadis itu mengenakan gaun panjang berwarna biru muda. Wajahnya oval dengan pipi agak berisi, sepasang mata berbentuk biji almond, serta alis tipis yang melengkung seperti daun dedalu. Usianya mungkin baru tujuh belas atau delapan belas tahun. Penampilannya manis, meski sorot matanya memperlihatkan sifat yang agak penakut.Di tangannya terdapat rantang bersusun tiga. Uap tipis masih men
Ketika seluruh dunia mengira Ryan Hartono sudah tewas, lelaki itu sebenarnya masih hidup. Di sebuah tempat asing yang tak dikenalnya, ia terbaring tak bergerak di atas tanah, dengan tubuh penuh luka.Semua bermula ketika Tavian Suira dan Silas Stein mendorongnya keluar dari kapal hantu. Begitu terlempar, Ryan langsung disambut kabut hitam yang menyelimuti kapal. Makhluk-makhluk di dalamnya segera menyerbu, menggigit dan berusaha merobek tubuhnya.Namun, tubuh fisik Ryan jauh lebih kuat daripada yang mereka sangka. Gigi-gigi makhluk itu hanya bergemeretak ketika mengenai kulitnya, seakan sedang menggigit baja. Tak satu pun berhasil mencabik dagingnya.Setelah Ryan mengerahkan aura Kaisar, keadaan langsung berubah. Makhluk-makhluk kegelapan itu menjauh dan tidak berani mendekat hingga jarak satu meter darinya.Justru pada saat itulah Momon, kera kecil yang selama ini bersembunyi di tubuh Ryan, tiba-tiba melompat keluar.
Xara membaca pesan di tangannya berulang kali. Namun sebanyak apa pun ia membacanya, gadis itu tetap tidak bisa menerima kenyataan yang tertulis di sana. Dadanya terasa sesak hingga menarik napas pun menjadi sulit.Bagaimana mungkin Ryan Hartono telah meninggal?Lelaki itulah yang pernah dicintainya, yang menghancurkan Desa Suku Hitam dan menembus langit untuk membantai naga. Ryan pula yang menyelamatkan ribuan warga Desa Suku Putih dari penderitaan, mengubah nasib mereka selamanya.Sejak saat itu, Xara telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengabdi kepada Ryan. Namun orang yang begitu dihormati dan dicintainya kini dikabarkan telah tiada.Di belakang Xara, Nenek Elvira berdiri dengan bertumpu pada tongkat kayu. Perempuan tua berlengan satu itu memandangi Xara dengan wajah getir, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.Xara meremas kertas pesan itu hingga kusut. Setelah cukup lama te
Sore itu, sebuah kabar mengejutkan muncul hampir bersamaan di seluruh forum dunia kultivasi Garudapolis. Unggahan tersebut langsung disematkan di urutan paling atas, menarik perhatian ratusan ribu kultivator dari berbagai penjuru negeri. Judulnya ditulis menggunakan huruf merah darah. "Orang nomor satu di Kota Sentralis, orang nomor satu di Garudapolis, orang nomor satu di Timur, Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan yang tak pernah terkalahkan, telah wafat! Legenda satu generasi telah gugur!" Di bawah pengumuman itu tercantum berbagai pencapaian Ryan selama hidupnya. Mulai dari pertarungannya di Sungai Kristal, ketika ia seorang diri membunuh Wilhelm yang saat itu merupakan orang terkuat di Kota Sentralis, hingga keberhasilannya menundukkan negeri sakura dan negeri ginseng. Masih banyak peristiwa lain yang dicatat sebagai bukti betapa mengerikannya kekuatan Ryan. Begitu berita tersebut tersebar, dunia kultivasi Garudapolis langsung gempar. Di kedai-kedai teh dan padepokan
Dalam ingatan Emeric Tanner, sosok Ryan Hartono yang tampak kurus itu masih berdiri dengan angkuh di atas kapal hantu. Tubuhnya memang tidak terlihat mengesankan, tetapi tekanan yang dipancarkannya seolah mampu menindih seluruh dunia. Bahkan ketika menghadapi dua ahli kuat sekaligus, Ryan tidak mudah ditaklukkan. 'Kalau Ryan dan Silas tidak mati, keduanya pasti bisa mencapai Ranah Kaisar,' pikir Emeric. 'Mungkin mereka bahkan mampu melangkah lebih jauh. Saat itu, seluruh Tiga Alam Tertinggi pun belum tentu sanggup menghadapi mereka.' Setelah terdiam beberapa saat, Emeric kembali menoleh kepada Tavian Suira. "Menurutmu, anjing bernama Evan Sinclair itu sudah mati?" Tatapan Tavian langsung berubah dingin. Ia tidak segera menjawab. Niat membunuh yang muncul dari tubuhnya membuat udara di sepanjang lorong bergetar, bahkan kaca jendela di ujung sana sampai berderak pelan. "Begitu kembali nanti, aku akan langsung menjalani kultivasi tertutup," jawab Tavian akhirnya. "Aku tidak a
Hari ketiga setelah peristiwa kapal hantu. Dari sebuah vila di Metropolitan Alexandris, terdengar suara barang-barang dibanting. Sebuah meja terbalik, disusul kursi yang menghantam lantai hingga patah. "Keluar! Aku tidak mau melihatmu lagi! Seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Tak lama kemudian, seorang lelaki tampan berjubah ungu terdorong keluar dari kamar. Pintu langsung dibanting tepat di depan wajahnya, meninggalkan serpihan kursi berserakan di sepanjang lorong. Tavian Suira berdiri mematung di depan pintu. Sebagai tokoh yang menduduki peringkat pertama Daftar Maestro, ia biasanya selalu terlihat tenang dan berwibawa. Namun sekarang, bahunya merosot dan wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Seorang pemuda berpakaian hijau berjalan menghampirinya. Setelah melirik serpihan kursi di lantai, pemuda itu mengedipkan sebelah mata dan bertanya pelan, "Dia masih marah padamu?" Tavian menghela napas panjang. "Anak perempuan yang sudah besar memang sulit diatur." Pemud
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m







