Mag-log inPagi Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Leonard Kurniawan Widjaja, Kak Gunarso Priambudi, Kak Pungki, Kak Budute Wae, Kak Sitoy Suwarto, Kak Famida, dan Kak Pengunjung1341 atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
“Ini Fabian Ashvale, Pemimpin Istana Langit dari Garudapolis.”Begitu Rowena selesai memperkenalkan orang terakhir itu, Ryan Hartono mendongak.Di posisi paling tengah pada sisi kanan bawah meja bundar, duduk seorang pemuda berbusana hitam. Rambut panjangnya juga hitam, jatuh rapi di belakang bahu. Wajahnya cukup tampan, dan sikapnya tenang, membuat orang sulit menebak kedalaman pikirannya.Meski tampak seperti pemuda, di kedua pelipisnya sudah terlihat beberapa guratan putih. Itulah satu-satunya tanda bahwa usianya jauh melampaui penampilannya.Menyadari tatapan Ryan, lelaki itu mengangkat wajah dan membalas dengan senyum tipis. “Sudah lama kudengar Garudapolis melahirkan jenius yang hanya muncul seratus tahun sekali.” “Setelah bertemu hari ini, ternyata memang luar biasa. Garudapolis punya penerus.”Tatapannya sangat lembut.Lembut sampai orang tanpa sadar merasa dekat dengannya, seolah ia bukan pemimpin Istana Langit yang berdiri di puncak, melainkan seorang tetangga lama yang s
Bantara mengangguk, lalu membawa semua orang keluar dari lift.Begitu melangkah ke depan, yang menyambut pandangan mereka adalah sebuah balai luas. Ukurannya lebih dari tiga ratus meter persegi. Lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit, memantulkan cahaya ke permadani merah tua yang terbentang di lantai.Di pintu masuk balai, dua lelaki tua berjubah abu berdiri berjaga. Keduanya memejamkan mata seperti orang mengantuk, tetapi daya yang merembes tipis dari tubuh mereka membuat Terence Siven dan yang lain langsung waspada dalam hati.Orang kuat.Bahkan sekadar berdiri di sana, mereka sudah memberi tekanan yang tidak bisa diabaikan.Bantara menghampiri kedua lelaki tua itu dan berbicara beberapa patah kata. Setelah mendapat izin, ia menoleh dan memberi isyarat agar semua orang masuk.Ketika Ryan Hartono melewati mereka, salah seorang lelaki tua tiba-tiba membuka mata. Tatapannya jatuh tepat kepada Ryan.“Kau Kaisar Iblis Gila dari Selatan?”Tatapan Ryan langsung menghunjam ke
“Lalu?” Ryan Hartono membalas tatapan pemuda itu tanpa menghindar. Matanya tenang, tetapi ketajamannya seperti bilah pisau yang baru ditarik dari sarung.Pemuda di hadapannya menunduk, mengamati sepuluh jarinya sendiri dengan sikap malas, seolah semua orang di lorong itu tidak layak membuatnya serius.“Bisa berdiri tanpa goyah di bawah tekananku, berarti kau memang punya sedikit kemampuan,” katanya pelan. “Pantas saja kau sanggup membunuh dua sampah tak berguna seperti Tuan Muda Draven.”Sebelum Ryan sempat membalas, pemuda itu mengangkat kepala. Ia maju satu langkah, lalu mendekatkan wajahnya sampai jaraknya nyaris menempel dengan Ryan. Senyum di bibirnya licik dan dingin.“Namaku Ferran Draven. Ingat baik-baik nama ini, sebab kau akan mati di tanganku.”Setelah melemparkan kalimat itu, Ferran berbalik seolah hendak pergi begitu saja.Namun suara datar Ryan terdengar dari belakangnya. “Memangnya aku
Menghadapi ejekan itu, Lorenzo hanya tersenyum tipis.Ia melirik punggung Ryan Hartono yang semakin jauh dengan pandangan penuh arti, lalu berkata santai, “Kenapa? Kakak Devlin juga gagal merekrut orang itu?”“Merekrut?”Damon Devlin langsung mencibir, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol malam itu. “Dia cuma semut dari dunia biasa.” “Merekrut apanya? Aku bicara dengannya hanya karena suasana hatiku sedang baik.” “Kebetulan aku ingin memelihara seekor anjing di sisiku, supaya sesekali bisa kupukul dan kumarahi.”Namun setelah kalimat itu keluar, Damon segera menangkap maksud tersembunyi dalam ucapan Lorenzo. Senyum dingin muncul di sudut bibirnya.“Jangan-jangan orang itu juga menolak niat baikmu?”“Menolak?” Lorenzo tersenyum tipis. “Dibandingkan Kakak Devlin, aku justru lebih malu. Sebab orang itu bahkan tidak menggubrisku sama sekali.”“Rupanya perangai anjing ini memang sekeras kabarny
Setengah jam kemudian, iring-iringan mobil mewah itu tiba dengan selamat di Hotel Internasional Alexandris. Dari luar, hotel tersebut tidak tampak terlalu berbeda dari bangunan mewah lain di kota itu. Lampu-lampu keemasan menerangi fasad kaca, karpet merah terbentang di depan pintu utama, dan beberapa petugas hotel berdiri rapi dengan senyum profesional. Namun kenyataannya, tempat itu sudah dijaga begitu rapat sampai seekor lalat pun sulit menyelinap masuk tanpa diketahui. Kultivator berbusana hitam yang tak terhitung jumlahnya bersembunyi di berbagai sudut. Ada yang berada di atap gedung seberang, ada yang berdiri di balik pilar lobi, ada pula yang menyatu dengan bayangan di dekat tangga darurat. Tatapan mereka terus mengawasi keadaan sekitar hotel tanpa berkedip, siap menghentikan siapa pun yang berniat membuat keributan. Ryan Hartono keluar dari mobil dengan tenang. Begitu kakinya menyentuh tanah, Kesadaran Ilahinya membentang diam-diam dan menutupi seluruh kawasan hotel.
Ryan Hartono hanya mengangguk kecil. Ia mengikuti Jenderal Vance masuk ke dalam sebuah Pagani yang sudah menunggu di tepi jalan. Dari awal sampai pintu mobil tertutup, Ryan sama sekali tidak menoleh ke arah Arielle Surya maupun pemuda yang berdiri di sebelahnya. Iring-iringan mobil mewah itu kemudian bergerak meninggalkan Bandara Internasional Metropolitan Alexandris. Lampu belakangnya memanjang seperti aliran merah di atas aspal basah, lalu perlahan lenyap di tikungan jalan. Baru setelah rombongan tersebut tidak terlihat lagi, Arielle tersadar dari lamunannya. Ia menatap ke arah jalan kosong dengan mata yang masih membesar, seolah belum mampu menerima pemandangan barusan. “Bagaimana mungkin dia didukung sebanyak itu?” gumamnya tidak percaya. Di mata Arielle, Ryan selalu merupakan sosok iblis berdarah dingin. Lelaki itu bukan hanya menghancurkan Keluarga Surya, tetapi juga membunuh entah berapa banyak orang. Secara akal sehat, orang seperti itu seharusnya punya musuh di ma
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran







