LOGINMatahari sore menggantung rendah di ufuk barat Perbatasan Timur, namun cahayanya tampak tidak wajar—pucat dan redup, seolah energinya sedang disedot perlahan oleh langit.
Shangkara tiba di sana. Ia bertemu dengan Panglima Perang.“Pasukan pengguna Qi Vermilion sudah ditarik mundur sesuai perintah, Yang Mulia,” lapor Panglima. “Pertahanan di garis depan kini diperkuat dengan pengguna Qi bumi, angin, dan senjata fisik.”Shangkara mengangguk. Strateginya sudah disiapkan.Ia memimpin tim kecil menaiki bukit tandus, diikuti oleh Panglima Perang dan barisan kavaleri.Di depannya, terhampar lembah luas tempat laporan intelijen menyebutkan ribuan tenda Saharath berdiri kemarin.Shangkara menarik tali kekang kudanya. Matanya menyipit.Perkemahan itu kosong.“Mereka pergi,” desis Shangkara, matanya menyala vermilion.Tempat itu sunyi. Tidak ada tenda. Tidak ada kuda. Tidak ada asap api unggun. Hanya debu yang berterbangan ditiup angin.“Ini tidak mungkRen menarik tudung jubahnya lebih dalam saat melangkah memasuki kedai kecil di Kota Bawah.Tempat itu pengap, dipenuhi bau alkohol murah dan sup tulang yang terlalu lama direbus. Orang-orang duduk rapat, berbicara setengah berbisik—bukan karena takut, tapi karena sudah terbiasa. Kota ini selalu hidup dari gosip.Ren duduk di meja sudut. Ia mengenakan jubah kain kasar berwarna cokelat kusam.Ia menggenggam gelas tanah liatnya erat-erat. Ia kabur dari istana satu jam yang lalu, menyelinap lewat saluran pembuangan lama yang kering. Tatapan kasihan para pelayan masih menempel di kulitnya. Nada datar Lian terngiang di kepalanya. Dan untuk pertama kalinya, Ren merasa asing di istana yang dulu ia lindungi dengan nyawanya.Di sini, tidak ada yang mengenalnya. Di sini, ia h
Kabut pagi masih menyelimuti lapangan latihan Pasukan Bayangan. Udara dingin menusuk tulang, tapi keringat sudah membasahi seluruh tubuh Ren. Pedang kayu di tangannya terasa asing—terlalu ringan, terlalu mati. Tidak ada getaran Qi. Tidak ada dengung api yang biasanya menyatu dengan napasnya.Trak! Trak!Suara benturan kayu menggema.Ren mencengkeram pedang kayu latihan dengan tangan gemetar. Di hadapannya, Yun—salah satu letnan Pasukan Bayangan—memegang pedang serupa, wajahnya ragu-ragu.“Serang aku dengan serius, Yun!” bentak Ren. “Jangan menahannya!”“Tapi, Tuan…”“LAKUKAN!”
Aroma teh herbal menguar di udara, namun tidak mampu meredakan ketegangan di wajah Cailin dan Shangkara.Di ruang kerja Guru Fen yang sunyi, Guru Fen duduk bersila dengan cangkir teh ditangannya. Matanya menatap permukaan teh di cangkirnya, seolah melihat sesuatu yang jauh lebih dalam daripada yang bisa dilihat mata biasa. Cailin duduk di hadapannya.Shangkara berdiri menghadap jendela, kedua tangannya terlipat di balik punggungnya. Wajahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.“Katakan dengan jujur, Guru,” suara Shangkara memecah keheningan. “Jangan berikan harapan palsu. Apakah Api Ren … benar-benar tamat?”Guru Fen menoleh perlahan. Kerutan di wajah tuanya tampak lebih dalam dari biasanya.&ldquo
Ren membuka mata.Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit. Bukan rasa sakit tajam akibat tusukan pedang, melainkan rasa sakit yang menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah setiap tulang dan ototnya telah digilas menjadi bubuk.Ia menatap langit-langit kamar yang familier. Serta aroma obat-obatan herbal yang kuat.Ini Balai Pengobatan Istana.Ren mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Dengan napas terengah, ia memaksakan diri untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.Ia menatap tangannya. Telapak tangan yang biasanya hangat oleh aliran Qi Vermilion kini terasa dingin dan pucat.Ren mengerutkan kening.Ia mencoba memanggil apinya
Matahari masih belum sepenuhnya terbit ketika kereta kuda spiritual berat mendarat di lapangan dekat Kuil Tua.Shangkara melangkah keluar lebih dulu. Udara pagi yang dingin dan berdebu menyambutnya, tapi tidak lebih dingin dari ekspresinya. Wajahnya tak terbaca, namun di balik punggungnya, tangan kanannya mengepal begitu kencang hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan.Mata vermilionnya menyapu pemandangan kehancuran di sekitar. Pilar-pilar batu yang patah, serta kubah kuil yang ambruk. Dan di tengahnya, aktivitas tim penyelamat yang sunyi dan efisien.Di sudut reruntuhan, dua Pasukan Bayangan sedang merantai tubuh wanita yang pingsan dan babak belur. Ravia.“Yang Mulia,” lapor salah satu Bayangan. “Target diamankan.”
Ren terbatuk darah, lututnya goyah. Pasir Ravia melilit pinggang dan kakinya, meremas tulang rusuknya dengan tekanan yang semakin kuat.Ravia berdiri di dekat kolam, satu tangannya terangkat tinggi, siap memberikan serangan terakhir untuk meremukkan Ren.“Sudah cukup main-mainnya,” desis Ravia, matanya menyala ungu. “Kau akan mati di sini, dan kekasihmu akan menjadi tintaku selamanya.”Ren menggeram, mencoba memanggil apinya, tapi tubuhnya sudah mencapai batas. Ia menggertakkan gigi, berusaha menahan lilitan pasir Ravia yang semakin mengerat di tubuhnya. Napasnya pendek, pandangannya mulai kabur.“Terlambat, Ren! Lian sudah masuk! Sekarang, takdir akan menulis ulang namaku di langit!”Namun







