LOGINElara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.
Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang. Namun sekarang, semuanya terasa berbeda. Dia memiliki Sistem! Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem? Ada yang mendapatkan kekayaan. Ada yang mendapatkan kekuatan. Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam. Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit. Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan peluang bisnis besar. Kemudian dia bertanya dalam benaknya. “Sistem, bukankah biasanya ada hadiah pemula?” Dia menunggu dengan penuh harap, beberapa saat kemudian, suara mekanis Sistem terdengar di dalam pikirannya. [Tentu, Tuan. Selamat! Anda mendapatkan hadiah pemula. Hadiah telah disimpan di Ruang Penyimpanan. Hadiah terdiri dari: 100 kilogram beras, 50 kilogram garam halus, 5 macam benih berbeda, masing-masing sebanyak 20 kilogram dan uang sebanyak 1.000 perak.] Mata Elara langsung membulat. “…” Untuk beberapa saat, wanita itu hanya berdiri diam. Seratus kilogram beras, lima puluh kilogram garam halus, benih tanaman dalam jumlah besar dan yang paling penting Uang! Seribu perak! Elara sampai menutup mulutnya sendiri karena tidak percaya. “Astaga…” Dia benar-benar tidak menyangka hadiah pemula yang diberikan Sistem akan sebanyak itu. Bagi orang dari dunia modern, beras dan garam mungkin bukan sesuatu yang terlalu berharga. Namun, setelah menerima ingatan pemilik tubuh asli, Elara tahu bahwa kondisi Kekaisaran saat ini jauh berbeda dari dunia modern. Beras berkualitas merupakan barang berharga, garam halus bahkan lebih sulit ditemukan. Sebagian besar masyarakat hanya menggunakan garam kasar yang masih bercampur dengan berbagai kotoran. Garam yang benar-benar bersih dan halus hanya bisa dinikmati oleh keluarga bangsawan atau orang-orang kaya. Sedangkan benih tanaman dalam jumlah sebanyak itu, jika dikelola dengan baik, benda tersebut bisa menjadi sumber kehidupan. Elara semakin bersemangat. Sistem ini benar-benar luar biasa! Dia hampir ingin memeluk layar hologram tersebut. “Sistem, kau benar-benar sangat baik padaku.” Senyum lebar muncul di wajah Elara. [Tentu saja. Karena itulah Anda harus menyelesaikan setiap misi yang diberikan. Semakin tinggi progres keberhasilan Anda dalam menjadi Ratu, hadiah yang diberikan Sistem juga akan semakin bagus, Tuan.] Mata Elara langsung berbinar. “Semakin tinggi progres, semakin bagus hadiahnya?” Dia semakin yakin bahwa keputusan untuk menerima kehidupan barunya adalah keputusan yang tepat. Kalau dirinya berhasil menjadi Ratu, mungkin Sistem akan memberikan sesuatu yang jauh lebih luar biasa. Elara mulai berkhayal terlalu jauh. Tapi, dia segera menggelengkan kepalanya, yang paling penting sekarang adalah menyelesaikan misi pertama. Elara kembali menatap layar hologram, ekspresinya menjadi serius. “Sistem, apa misi pertamanya?” Beberapa detik kemudian, tulisan baru muncul di layar. [Misi Pertama: Buat Kaisar menaruh perhatian pada Anda. Jika berhasil, Progres menjadi Ratu akan naik: 5%.] Elara yang semula penuh semangat langsung terdiam, senyumnya perlahan menghilang, keningnya berkerut. “…” Dia membaca misi tersebut sekali lagi, kemudian membacanya untuk kedua kalinya. “Buat Kaisar menaruh perhatian padaku?” Wajah Elara langsung berubah kesal, dia tidak menyangka misi pertamanya justru berhubungan dengan Kaisar. Lebih tepatnya, Kaisar bodoh yang telah menjebloskannya ke Istana Dingin tanpa menyelidiki kebenaran. Orang itu bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku! Sekarang aku malah harus membuatnya memperhatikanku? Elara mengembungkan pipinya. Namun, hanya beberapa saat kemudian, ekspresi kesalnya berubah menjadi senyum penuh percaya diri. “Baiklah.” Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Ini harusnya bukanlah hal sulit bagiku, hanya mencari perhatian Kaisar bodoh itu." Elara tersenyum. Sita memperhatikannya dengan ekspresi semakin bingung. “Nyonya…” Pelayan itu memiringkan kepalanya, sejak tadi Elara terus berdiri diam, kadang tersenyum sendiri. Kemudian terlihat kesal dan tersenyum lagi. Sita tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bahkan setelah mengalami penderitaan dan dibuang ke Istana Dingin, Nyonya-nya sekarang justru terlihat seperti seseorang yang sedang berbicara dengan udara. Sita menelan ludah. "Apakah Nyonya jadi bodoh karena terlalu sedih?" tanyanya dalam hati pada dirinya sendiri. Pemikiran itu membuat wajah Sita semakin khawatir. Tapi, sebelum dia sempat melakukan sesuatu, Elara tiba-tiba menoleh. Tatapan keduanya bertemu. “Sita...” Elara membalik badan, kemudian tanpa ragu, dia memegang kedua bahu pelayan tersebut. "... aku punya tugas buatmu!” Sita tersentak. “S-Saya akan menjalankan tugas Nyonya.” “Bagus!” Elara langsung tersenyum lebar, dia kemudian berjalan menuju belakang ranjang. Elara sengaja berpura-pura mengambil sesuatu dari balik ranjang. Padahal sebenarnya dia sedang menggunakan Ruang Penyimpanan Sistem. Dalam sekejap, segenggam garam muncul di tangannya, dia memasukkan garam tersebut ke dalam sebuah mangkuk retak yang tergeletak di atas meja. Sita yang melihatnya semakin bingung. Elara kemudian membawa mangkuk tersebut dan menyerahkannya kepada Sita. Sita menerima mangkuk itu dengan kedua tangan, xia menatap benda putih di dalam mangkuk, keningnya berkerut. Benda itu terlihat sangat bersih dan halus. Bahkan butirannya jauh lebih kecil dibandingkan garam yang selama ini pernah dia lihat. Dengan polos, Sita bertanya, “Nyonya, ini apa?” Elara mengulas sebuah senyum. “Garam halus.” “Apa?!” Sita terkejut. Matanya langsung membesar, dia menatap garam halus di dalam mangkuk yang sedang dipegangnya dengan seksama. Seumur hidupnya, Sita belum pernah melihat garam sebersih dan sehalus itu. Karena penasaran, jarinya mengambil sedikit garam tersebut, dia kemudian menyentuhkannya ke ujung lidah. Beberapa detik kemudian, mata Sita langsung membelalak lebar. “Nyonya, ini benar-benar garam halus?!” tanyanya terkejut.Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan. Sebelum mengetahui
Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.Ibu Suri.Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.“Bawa ini.” Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”“Kamu pergi keluar d
Elara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang.Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.Dia memiliki Sistem!Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem?Ada yang mendapatkan kekayaan.Ada yang mendapatkan kekuatan.Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam.Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit.Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan pelu
Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.Istana Dingin.Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa s
Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar. Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung. Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan. Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman. Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu. “Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula. Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala terse
Kaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu. Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut y







