Compartilhar

Bab 4

Autor: Pein
last update Data de publicação: 2026-10-06 06:32:20

Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.

Istana Dingin.

Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.

Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.

“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.

Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.

Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.

“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa sakit itu berlangsung cukup lama sebelum akhirnya perlahan mereda.

Di samping ranjang, seorang pelayan wanita yang sejak tadi berjaga langsung tersentak ketika melihat Elara membuka mata.

“Nyonya!” Pelayan itu segera berdiri. “Syukurlah Anda akhirnya bangun…”

Nada suaranya dipenuhi kelegaan, dia bahkan terlihat seperti hampir menangis karena terlalu khawatir.

Elara mengalihkan pandangannya kepadanya, wanita itu berkedip beberapa kali.

Dia memperhatikan pakaian sederhana yang dikenakan pelayan tersebut, rambutnya yang diikat rapi, serta wajahnya yang tampak penuh kekhawatiran.

Elara terdiam cukup lama, kemudian sebuah senyum canggung muncul di wajahnya.

“Seriusan…” Dia menatap langit-langit kamar. “... aku benar-benar pindah ke dunia lain?”

Pertanyaan itu hanya bergema di dalam pikirannya.

Beberapa detik kemudian, Elara kembali merasakan rasa sakit di tubuhnya.

“Adu-du-duh…” Dia meringis sambil buru-buru mengulurkan tangan ke punggung, rasa nyeri langsung menjalar dari bagian punggung hingga bahunya akibat cambukan.

“Nyonya!” Pelayan tersebut kembali panik. “Anda tidak apa-apa?”

Dia segera mendekat, tanpa menunggu jawaban, pelayan itu mengambil sebuah kotak kecil dari balik lengan pakaian dan membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah wadah berisi salep berwarna kehijauan.

“Biar saya obati luka Nyonya.” Nada suaranya begitu lembut dan perhatian.

Elara menatapnya dengan seksama. Entah kenapa, melihat ekspresi tulus wanita itu membuat hatinya terasa hangat, mengingat di kehidupan modern dia seorang yatim piatu.

Kemudian ingatan pemilik tubuh asli kembali muncul dalam pikirannya.

Sita, itulah nama pelayan di hadapannya. Dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar setia kepada pemilik tubuh ini.

Sejak kecil, gadis itu sudah berada di sisinya.

Dahulu, keluarga Elara membeli Sita ketika gadis itu masih kecil. Namun, berbeda dari hubungan antara majikan dan budak pada umumnya, Elara memperlakukannya dengan sangat baik dan mereka tumbuh bersama.

Bagi pemilik tubuh asli, Sita bukan sekadar seorang pelayan, dia sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Sayangnya, kehidupan mereka berubah setelah Elara dikirim ke Istana Kekaisaran beberapa hari yang lalu untuk menjadi salah satu Selir Kaisar.

Pemilik tubuh asli adalah seorang wanita yang memiliki kepribadian sangat baik.

Terlalu baik, bahkan.

Dia polos, mudah percaya kepada orang lain, dan sama sekali tidak memahami bagaimana cara bertahan hidup di lingkungan yang penuh tipu daya.

Bagi dirinya, menjadi Selir Kaisar mungkin hanya berarti menjalankan kewajiban sebagai seorang wanita istana. Namun, Istana Kekaisaran bukanlah tempat bagi seseorang yang terlalu polos.

Hanya beberapa hari setelah memasuki istana, Elara langsung menjadi sasaran selir lain.

Sebuah jebakan sederhana dipasang. Barang milik salah satu selir senior ditemukan di kamar Elara, tanpa melakukan penyelidikan mendalam, Elara langsung dituduh mencuri.

Dia berusaha menjelaskan, tapi tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan. Bahkan Kaisar yang seharusnya menjadi penguasa paling bijaksana justru menjatuhkan hukuman kepadanya.

Akibatnya, Elara dibuang ke Istana Dingin, luka di punggungnya juga merupakan akibat dari hukuman tersebut, mengingat semua itu, Elara menghela napas berat.

“Aku baik-baik saja.” Dia memaksakan sebuah senyum kepada Sita. Tapi, di dalam hatinya, dia sudah menggerutu.

"Dasar Kaisar bodoh! Tidak peduli mana yang benar dan salah, malah menghukum wanita polos ini begitu saja tanpa mencari kebenarannya!"

Elara mengepalkan tangannya, sebagai seseorang yang berasal dari dunia modern, dia tentu pernah membaca banyak novel kerajaan, dia juga sering menonton drama yang dipenuhi intrik Istana.

Di dalam drama, dia selalu menganggap karakter utama yang terjebak dalam intrik istana sangat menyedihkan.

Tetapi sekarang, dia sendiri yang mengalaminya.

“Benar-benar keterlaluan.” Elara menggerutu pelan.

Sita yang sedang mengoleskan salep di punggungnya bertanya dengan pelan. “Nyonya?” Kalau sakit bilang, saya akan lebih hati-hati?”

Elara menoleh. “Tidak apa, hanya sedikit sakit."

Sita menundukkan kepala. “Maafkan saya, Nyonya. Seandainya saya lebih cepat menyadari rencana mereka…”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” potong Elara, kemudian menghela napas, diia bisa merasakan ketulusan Sita. “Ini bukan salahmu.”

“Tapi…”

“Sudahlah....” Elara tersenyum kecil, sebelum melanjutkan, “Mulai sekarang, kita harus lebih berhati-hati.”

Sita terdiam, dia menatap Nyonya-nya dengan sedikit kebingungan. Entah mengapa, wanita yang berada di hadapannya terasa sedikit berbeda.

Dulu, Elara selalu menangis ketika mendapat perlakuan tidak adil. Namun sekarang, tatapan wanita itu justru terlihat jauh lebih tenang, seolah-olah ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya.

[Ding!]

Tiba-tiba terdengar suara aneh di dalam benak Elara, membuat wanita itu membeku.

Sebuah cahaya biru muncul tepat di hadapannya. Perlahan, cahaya itu membentuk sebuah layar transparan seperti kaca, tulisan bercahaya muncul di permukaannya.

[Sistem Ratu Idaman berhasil terhubung!

Selesaikan misi untuk mencapai progres menjadi Ratu Idaman!

Progres: 0%]

Mata Elara membesar, dia menatap layar hologram tersebut dengan tidak percaya.

“Sistem?!” Elara hampir berteriak kegirangan sampai berdiri, rasa sakit di punggungnya bahkan dia lupakan.

Wajahnya berubah menjadi penuh semangat, sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah senyum penuh arti muncul di wajahnya.

Kemudian dia menatap layar hologram tersebut dengan mata berbinar. “Karena aku sudah menempati tubuh ini, maka akan ku tunjukan bagaimana caranya hidup di Istana dengan benar dan menjadi sang Ratu.”

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 7

    Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan. Sebelum mengetahui

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 6

    Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.Ibu Suri.Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.“Bawa ini.” Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”“Kamu pergi keluar d

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 5

    Elara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang.Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.Dia memiliki Sistem!Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem?Ada yang mendapatkan kekayaan.Ada yang mendapatkan kekuatan.Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam.Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit.Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan pelu

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 4

    Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.Istana Dingin.Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa s

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 3

    Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar. Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung. Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan. Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman. Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu. “Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula. Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala terse

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 2

    Kaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu. Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut y

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status