Share

Bab 6

Author: Pein
last update publish date: 2026-10-06 14:47:18

Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.

Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.

Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.

Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.

Ibu Suri.

Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.

Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.

“Bawa ini.”

Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”

“Kamu pergi keluar dan minta penjaga menunjukkan garam halus ini kepada Ibu Suri,” ucap Elara lembut. “Jangan menjualnya kepada siapa pun. Pastikan benda ini sampai ke tangan Ibu Suri.”

Sita menerima uang tersebut dengan kedua tangan. Namun, setelah memikirkannya sejenak, dia terlihat ragu. “Nyonya, kenapa tidak memberikannya langsung kepada Kasim Kepala agar dia memberitahu Kaisar?”

Elara menghela napas pelan. “Kau ini…” Dia menatap Sita dengan ekspresi seolah sedang menghadapi seseorang yang terlalu polos. “... Kaisar bodoh itu hanyalah boneka.”

Sita langsung terdiam.

Elara melanjutkan dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh orang lain. “Kalau kita memberikan garam ini kepada Kasim Kepala, ada kemungkinan benda ini tidak pernah sampai kepada Kaisar. Bahkan, bisa saja dia menggunakan kesempatan tersebut untuk menindas kita.”

Elara tahu betul bagaimana kondisi Istana Kekaisaran.

Kaizen memang Kaisar. Tapi, kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan keluarga besar dan para pejabat yang mengendalikan istana.

Jika dia langsung memperlihatkan sesuatu yang berharga kepada orang-orang tersebut, bukan perhatian yang akan didapatkannya.

Sebaliknya, dia justru bisa menjadi sasaran baru.

Sita yang mendengarkan penjelasan itu perlahan menganggukkan kepala.

“Oh…” Wajahnya menunjukkan ekspresi memahami. “Jadi begitu maksud Nyonya.”

Sita kemudian tersenyum kecil. “Ibu Suri berada di pihak netral dan beliau juga memiliki keluarga dari kalangan pedagang. Kalau Nyonya memberikan sesuatu yang berharga seperti garam halus kepadanya, Ibu Suri pasti akan tertarik.”

Elara tersenyum puas. “Pintar juga kamu.”

Sita langsung terlihat senang mendengar pujian tersebut. “Terima kasih, Nyonya.”

Elara kemudian mendekat dan berbicara dengan lebih serius. “Sana pergi. Tapi pastikan tidak ada orang lain yang melihat garam ini.”

Sita mengangguk. “Saya mengerti.”

Elara menatapnya tajam. “Ini adalah cara kita untuk keluar dari tempat ini.”

Sita terdiam sesaat, kemudian matanya menunjukkan tekad. “Saya mengerti, Nyonya!”

Setelah mengatakan itu, Sita segera menyimpan garam halus tersebut dengan hati-hati di sebuah kantong kain.

Dia kemudian berjalan keluar dari Istana Dingin, langkahnya terlihat jauh lebih bersemangat dibandingkan sebelumnya.

Setelah Sita pergi, Elara kembali duduk di atas ranjang. Dia bersandar pada sandaran ranjang sambil menarik napas panjang.

“Sekarang tinggal menunggu hasilnya.” Tatapannya kemudian beralih ke layar Sistem. Dia membuka ruang penyimpanan dan melihat hadiah pemula yang masih tersimpan di dalamnya.

Lima jenis benih, mata Elara langsung berbinar.

“Padi hibrida…” Dia kemudian melihat benih berikutnya. “Jagung, Kentang, Ubi dan semangka!”

Elara hampir melompat kegirangan, jika Sita melihatnya, mungkin gadis itu akan kembali mengira Nyonya-nya mengalami gangguan pikiran.

Namun, Elara sama sekali tidak peduli. Dia tahu betul betapa berharganya benih-benih tersebut.

Dengan pengetahuan yang dia miliki dari dunia modern, dirinya dapat mengembangkan lahan pertanian dan meningkatkan hasil panen.

Terlebih lagi, Istana memiliki tanah yang cukup luas di sekitarnya.

Selama dia bisa mendapatkan sedikit tenaga kerja dan alat yang diperlukan, dia bisa mulai bercocok tanam.

“Hahaha…” Elara tertawa kecil. “Dengan semua benih ini, aku akan menjadi Selir paling kaya di Istana!”

Dia mengepalkan tangannya penuh semangat. “Kalian yang pernah merundungku, tunggu saja.” Senyumnya semakin lebar. “Aku akan memberikan kejutan untuk kalian!”

Namun, baru saja tertawa puas, Elara tiba-tiba meringis. “Aduh!”

Tangannya refleks menyentuh punggung, rasa perih kembali menjalar dari luka bekas cambukan.

Senyumnya langsung menghilang, dia menggertakkan gigi, .engingat perlakuan yang diterima pemilik tubuh asli, amarah kembali muncul dalam hatinya.

---

Sementara itu, di aula utama Istana Kekaisaran, suasananya jauh berbeda.

Aula tersebut dipenuhi para pejabat yang mengenakan jubah resmi dengan berbagai lambang sesuai kedudukan mereka.

Di bagian paling tinggi, Kaizen duduk di atas singgasana Kaisar, wajahnya terlihat tenang. Tapi tatapan matanya jauh lebih tajam dibandingkan sebelumnya.

Hari ini merupakan rapat kerajaan pertamanya setelah dia mengambil tindakan tegas terhadap Airin.

Para menteri satu per satu maju ke depan,ereka kemudian memberikan salam penghormatan.

“Salam kepada Yang Mulia! Semoga Yang Mulia panjang umur!” Suara mereka hampir terdengar serempak.

Sebagian besar menteri menundukkan kepala. Namun, tidak semuanya menunjukkan rasa hormat yang sebenarnya.

Kaizen memperhatikan mereka dari atas singgasana, dia kemudian mengangkat tangannya.

“Berdirilah.” Suara Kaizen terdengar pelan, tetapi tegas.

“Terima kasih, Yang Mulia!” Para menteri segera berdiri dan kembali menempati posisi masing-masing.

Beberapa dari mereka saling bertukar pandangan.

Kaizen tidak mengatakan apa-apa, dia hanya duduk dengan tenang.

Tidak lama kemudian, seorang pria tua melangkah maju dari barisan para menteri. Jubah resminya menunjukkan kedudukannya yang tinggi.

Dia adalah Yuleng, Perdana Menteri Kekaisaran, sekaligus Ayah Airin.

Wajahnya tampak dingin, tatapannya bahkan menyiratkan sedikit penghinaan ketika melihat Kaizen.

Pria tua itu berhenti beberapa langkah di depan singgasana.

“Yang Mulia.” Dia menangkupkan kedua tangan. Namun, nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. “Kekeringan di wilayah Utara harus segera diselesaikan.”

Aula menjadi hening.

Perdana Menteri melanjutkan, “Jika keadaan ini terus dibiarkan, persediaan pangan rakyat akan semakin menipis dan apabila tidak mendapatkan bantuan dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin mereka akan memberontak.”

Tatapan para menteri langsung tertuju kepada Kaizen.

Perdana Menteri sendiri berdiri dengan tenang. Tapi, dari sorot matanya, jelas bahwa perkataannya bukan sekadar laporan mengenai keadaan wilayah Utara.

Dia sedang mencoba menekan Kaisar.

Kaizen menyadari hal tersebut, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.

"Orang tua ini.…" Kaizen sudah mengetahui alasan di balik sikapnya.

Perdana Menteri sedang menguji dirinya setelah dia mengurung Permaisuri. Bahkan mungkin, pria tua itu sengaja membawa persoalan kekeringan ke hadapan seluruh pejabat untuk melihat kalau dia masih bisa dikendalikan seperti sebelumnya.

Kaizen tersenyum tipis, dia menatap Perdana Menteri tanpa menunjukkan sedikit pun kegelisahan, tahu kalau pria tua itu sedang mencoba menekannya, karena dia mengurung Permaisuri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 7

    Kaizen mengedarkan pandangannya ke seluruh pejabat kerajaan yang berbaris rapi di hadapan singgasana. Wajah mereka tampak penuh kepatuhan, kepala tertunduk dengan sikap hormat sebagaimana layaknya seorang pejabat yang sedang menghadap kaisar. Namun, di balik sikap patuh tersebut, Kaizen dapat merasakan adanya sesuatu yang tidak beres.Sebagian dari mereka memang menjalankan tugas dengan semestinya, tetapi sebagian lainnya hanyalah orang-orang yang pandai menyembunyikan niat di balik wajah penuh kesetiaan. Berdasarkan ingatan pemilik tubuh aslinya, Kaizen mengetahui bahwa tidak sedikit pejabat di aula itu yang berada di bawah kendali Perdana Menteri.Mereka bukan benar-benar tunduk kepadanya sebagai kaisar, melainkan hanya mengikuti perintah seseorang yang memiliki pengaruh besar di balik layar pemerintahan.Kaizen menyandarkan punggungnya pada singgasana, lalu mengetukkan jari-jarinya perlahan pada sandaran tangan. Dia tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan. Sebelum mengetahui

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 6

    Melihat ekspresi Sita yang begitu terkejut, Elara semakin yakin bahwa rencananya akan berhasil.Garam halus yang diberikan Sistem ternyata bukan sekadar bahan makanan biasa. Di dunia ini, benda tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi, terutama bagi kalangan bangsawan dan keluarga pedagang.Dia memang belum tahu bagaimana cara menarik perhatian Kaizen secara langsung. Namun, setelah memahami kondisi Kekaisaran dan posisi para tokoh di dalam istana, Elara merasa tidak perlu terburu-buru menemui Kaisar.Dia harus membangun pengaruh terlebih dahulu dan orang pertama yang harus dia dekati bukanlah Kaisar. Melainkan seseorang yang memiliki kedudukan jauh lebih aman.Ibu Suri.Elara tidak membuang waktu. Dia kembali memasukkan tangannya ke dalam ruang penyimpanan Sistem dari lengan bajunya.Dalam sekejap, lima keping perak muncul di telapak tangannya, dia kemudian menyerahkannya kepada Sita.“Bawa ini.” Sita menatap lima keping perak tersebut dengan bingung. “Nyonya?”“Kamu pergi keluar d

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 5

    Elara tentu saja sangat senang setelah mendapatkan Sistem.Sejak layar hologram itu muncul di hadapannya, rasa percaya dirinya seolah meningkat berkali-kali lipat. Sebelumnya, dia masih merasa sedikit cemas karena tiba-tiba terlempar ke dunia asing dan harus menjalani kehidupan sebagai seorang Selir terbuang.Namun sekarang, semuanya terasa berbeda.Dia memiliki Sistem!Bagi Elara, keberadaan Sistem berarti dirinya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupannya. Bukankah dalam berbagai novel yang pernah dia baca, para tokoh utama selalu menjadi luar biasa setelah mendapatkan Sistem?Ada yang mendapatkan kekayaan.Ada yang mendapatkan kekuatan.Ada pula yang mendapatkan kemampuan aneh yang membuat hidup mereka berubah dalam semalam.Kalau begitu, selama dirinya memiliki Sistem, seharusnya kehidupan di dunia ini tidak akan terlalu sulit.Elara menatap layar hologram dengan penuh semangat. Dia bahkan menggosok-gosok kedua tangannya, seperti seorang pedagang yang baru saja menemukan pelu

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 4

    Sementara itu, jauh dari kemegahan Istana Kekaisaran, di sebuah tempat yang nyaris tidak pernah mendapat perhatian siapa pun, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang.Istana Dingin.Tempat itu berada di sudut paling terpencil dari kompleks kekaisaran. Dindingnya sudah mulai lapuk, beberapa bagian atap bahkan terlihat bocor. Angin dapat dengan mudah menyusup melalui celah-celah jendela, membuat ruangan tersebut terasa jauh lebih dingin dibandingkan istana-istana lainnya.Di atas ranjang yang hanya dilapisi kain tipis, seorang wanita perlahan menggerakkan jemarinya, bulu matanya bergetar. Kemudian, matanya terbuka perlahan.“Ugh…” Wanita itu mengerang pelan sambil mengangkat tangannya ke kepala.Kepalanya terasa sangat berat, berbagai macam ingatan seolah-olah berdesakan masuk ke dalam pikirannya dalam waktu bersamaan.Potongan-potongan kehidupan seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya bermunculan satu demi satu.“Akh…” Elara memejamkan mata sambil memegangi kepalanya, rasa s

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 3

    Ucapan Kaizen sontak membuat Airin tertegun. Wanita itu menatap pria di hadapannya dengan mata membelalak. Untuk sesaat, dia bahkan mengira dirinya salah mendengar. Selama ini Kaizen selalu menuruti perkataannya. Sebagai Kaisar boneka yang tidak memiliki kekuatan maupun pengaruh, pria itu bahkan tidak pernah berani membantahnya secara langsung. Setiap kali Airin memberikan perintah, Kaizen hanya bisa menurut. Setiap kali Airin merendahkannya, pria itu hanya diam dan menelan semua penghinaan. Namun, hari ini berbeda, tatapan Kaizen tidak lagi menunjukkan ketakutan. Bahkan terlihat tenang, membuat Airin merasa sedikit tidak nyaman. Pelayan kepala yang berdiri di samping Airin segera melangkah maju. Wajahnya dipenuhi kemarahan karena melihat Permaisuri diperlakukan seperti itu. “Lancang!” bentaknya. “Kaizen, lepaskan Yang Mulia Permaisuri!” Suara itu menggema di dalam aula. Kaizen perlahan mengalihkan pandangannya. Tatapannya yang dingin langsung membuat pelayan kepala terse

  • Kaisar & Selir dari Dunia Modern   Bab 2

    Kaizen masih memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menusuk dari dalam perlahan mulai mereda, tetapi sebagai gantinya, berbagai potongan ingatan asing justru bermunculan tanpa henti di dalam pikirannya, satu demi satu. Kaizen memejamkan mata sambil berusaha mencerna semua ingatan tersebut. Beberapa saat kemudian, seluruh ingatan itu akhirnya berhenti. Kaizen membuka matanya perlahan, kedua matanya langsung membelalak. "Astaga..." Dia menatap kedua tangannya sendiri. "Aku benar-benar bertransmigrasi ke dunia lain?" Kaizen masih terlihat tidak percaya. Tapi, setelah beberapa detik, sudut bibirnya justru terangkat. Dia tertawa kecil. "Aku menjadi Kaisar?" Kaizen menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan itu sangat luas dan mewah. Pilar-pilar kayu berukir naga berdiri kokoh menopang langit-langit. Tirai sutra berwarna merah tua menggantung di sisi jendela. Beberapa lukisan pemandangan pegunungan menghiasi dinding, sementara tungku dupa di sudut ruangan mengeluarkan aroma lembut y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status