LOGINOtak Abby merespons dengan secepat kilat, tangannya menjejalkan kotak itu ke bagian terdalam tas Justin, lalu menarik resletingnya kuat-kuat hingga tertutup rapat.
Abby baru berani mendongakkan kepalanya setelah benda itu menghilang dari pandangannya. Justin melangkah keluar dari balik pintu. Pria itu baru saja selesai mandi, rambut hitamnya yang basah meneteskan butiran air yang mengalir turun ke dada bidangnya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan pakaian, hanya selembar handuk putih yang dililitkan secara asal di pinggangnya. "Apa yang kau pegang tadi?" tanya Justin. Suaranya terdengar sangat datar, tapi berhasil membuat bulu kuduk Abby meremang. Abby segera memindahkan ransel hitam itu ke atas kursi belajar, lalu buru-buru bangkit berdiri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung bajunya sendiri. "Ti-tidak ada, Kak," dusta Abby. "Hanya buku. Tadi tas Kakak jatuh tersenggol, jadi aku cuma membereskannya." Justin tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, menguliti setiap gerak-gerik gugup gadis di hadapannya. Helaan napas kasar dan berat keluar dari hidung Justin, seolah ia tahu Abby berbohong namun malas berdebat panjang lebar. "Sudah kubilang, jangan pernah masuk ke kamarku sembarangan," desis Justin tajam. "Aku tidak butuh pelayan di sini. Kalau barangku jatuh, biar aku sendiri yang urus." Kata-kata itu menohok ulu hati Abby. Ia mengangguk pelan. "Maaf, Kak Justin. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Permisi." Abby setengah berlari keluar dari kamar itu, menutup pintunya rapat-rapat, dan bersandar di dinding koridor sambil memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Jadi… selama ini Justin menyimpan barang seperti itu bahkan membawa-bawanya ke kampus?! Lalu bagaimana dengan nasihatnya pada Mia agar selalu menjaga diri? Tapi… dengan fisik pria itu… Abby kembali membayangkan tubuh berotot Justin, hasil dari olahraga rutin yang pria itu lakukan karena ia juga bergabung di klub olahraga kampus. Wajahnya perlahan memerah, tiba-tiba merasa malu. Abby menggelengkan kepalanya kuat. Tidak, ia harus segera melupakannya. Memikirkan hal seperti itu tentang kakak angkatnya sendiri sama sekali tidak pantas. Abby terus merapalkan mantra itu di kepalanya sambil berjalan ke kamarnya. = Sore harinya, udara kota terasa sangat gerah walau di dalam apartemen itu AC terus menyala seharian. Abby keluar dari kamarnya untuk menuju balkon. Namun, langkahnya terhenti saat melewati ruang tengah. Justin sedang duduk bersandar di atas sofa, sibuk memainkan game konsol. Suara tembakan dan ledakan dari speaker mendominasi ruangan. Karena cuaca yang memang sedang sangat panas, pria itu hanya menggunakan celana training dan kaus putih tipis. Abby berusaha keras untuk menjaga pandangan tetap lurus, mengingatkan dalam hati bahwa itu bukanlah pemandangan yang tidak biasa. Apalagi Justin sering berenang dengan telanjang dada di rumah orang tuanya. Namun matanya berkhianat. Begitu ia melihat punggung tegap, bahu lebar, dan otot-otot lengan Justin yang berkontraksi saat menekan stik konsol, pikiran yang sedari tadi ia usir kembali menyelinap tanpa permisi. Apa jangan-jangan selama ini Justin menggunakan tubuh itu untuk memeluk seorang wanita? Dan sifatnya yang ketat soal aturan itu hanya untuk menutupi kebiasaannya? Wajah Abby mendadak terasa panas terbakar. Ia buru-buru membuang muka, menggigit bibir bawahnya, dan mempercepat langkah menuju pintu kaca geser balkon. Di balkon, Abby mencoba menenangkan diri. Ia memutuskan untuk menyiram tanaman menggunakan selang panjang yang terhubung ke keran dinding. Ia membuka keran utama dan mulai menyiram beberapa pot dengan tenang. Namun, saat ia mencoba memutar kepala selang untuk mengubah pola semburan air, benda plastik itu tiba-tiba macet. "Aduh, kenapa sih ini?" keluhnya, memutar ujung selang lebih keras. "Ayolah, jangan rusak sekarang, kumohon..." CTAK! Penyambung selang itu patah. Dalam sekejap mata, air bertekanan tinggi menyemprot liar ke segala arah seperti ular yang mengamuk. "Kyaaa! Astaga!" Abby menjerit histeris. Ia mencoba menutupi ujung selang dengan kedua tangannya, namun semburan air itu terlalu kuat, menyiram wajah dan pakaiannya hingga basah kuyup seketika. "Tolong! Kak! Kak Justin, tolong!" Mendengar teriakan panik itu, pintu geser balkon terbuka kasar. "Abby! Apa-apaan?!" bentak Justin. "Kerannya patah, Kak! Airnya nggak mau berhenti!" jawab Abby setengah berteriak di tengah suara gemuruh air. "Minggir!" perintah Justin galak, langsung menerobos semburan air. "Lepaskan selangnya, biar aku yang pegang!" "Licin, Kak! Nanti airnya makin nyemprot ke dalam ruang tamu!" Abby bersikeras menahan pangkal selang, tapi gerakan tangannya yang canggung justru mengarahkan semburan air tepat ke dada Justin. "Sialan," umpat Justin tertahan saat kausnya basah total dalam hitungan detik. "Tahan ujungnya ke arah bawah, Abby! Aku putar keran utamanya!" Dengan susah payah, Justin merangsek maju, merapatkan tubuhnya di antara dinding dan tubuh Abby yang bergetar kedinginan, berusaha meraih keran di sudut tembok. Setelah pertarungan singkat yang membuat mereka berdua mandi dadakan, Justin berhasil memutar keran itu kuat-kuat. Semburan air itu mati. Keheningan seketika jatuh, hanya diisi oleh suara tetesan air dari daun-daun dan deru napas mereka yang sama-sama terengah-engah. Abby berdiri membeku. Ia begitu takut Justin akan mengusirnya, baru saja pria itu mengomelinya karena masuk ke kamar sembarangan. Kini Abby membasahi pakaiannya. "Kak Justin..." suara Abby terdengar bergetar, nyaris seperti cicitan tikus. "A-aku benar-benar minta maaf. Aku cuma mau putar selangnya, tapi malah patah. Aku akan pel semuanya sekarang…" Abby menunduk dalam, berniat menunjukkan penyesalan terdalamnya dan menghindari tatapan membunuh kakak angkatnya. Namun, matanya justru menangkap pemandangan yang membuat dunianya seolah berhenti berputar. Kaus putih Justin basah total, menonjolkan otot perutnya dengan sangat jelas. Melihat itu semua Abby bahkan tidak bisa membohongi dirinya sendiri untuk sekedar bersikap sopan dan memalingkan wajahnya.Matanya hanya bisa terpaku, terpana akan pemandangan tubuh kakak angkatnya yang basah di hadapannya.
Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika
"Kak Justin!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak lebar. Tangannya secara otomatis terangkat menutupi separuh wajahnya yang kini terasa seperti direbus di atas air mendidih.Dibalik ekspresi tenangnya, Justin begitu menyukai bagaimana gadis ini selalu kehilangan akal sehatnya hanya dengan satu kalimat darinya."Kenapa kau harus malu, hm?" lanjut Justin, terus memojokkan Abby. "Aku hanya menyatakan fakta yang terjadi di antara kita. Atau... jangan-jangan kau menghindari tatapanku karena kau takut? Kau takut jika kau terus melihatku, kau tidak akan bisa menahan tanganmu untuk kembali menyentuhku?""Tidak! Bukan begitu!" bantah Abby kelabakan. Ia menurunkan tangannya, menatap Justin dengan protes dan dada yang naik turun. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa, Kak! Semuanya terjadi terlalu cepat bagiku dan Kakak terus saja menggodaku!"Mendengar kepolosan dan kejujuran yang meluncur dari bibir bergetar itu, kilat di dasar mata kelam Justin seketika berubah. "Belum terbiasa?" ulang Ju
[Abigail, apa kita bisa ketemu?]Abby menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kesunyian ruang tengah apartemen. Barisan kalimat singkat yang baru saja masuk itu terasa seperti sebuah beban berat yang tiba-tiba dijatuhkan ke atas pangkuannya.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perasaannya seketika campur aduk. Ia tahu persis bagaimana reaksi Justin terakhir kali ia memaksanya bertemu dengan Valerie. Dan entah kenapa, insting Abby mengatakan dengan sangat kuat bahwa kali ini pun, niat Valerie mengajaknya bertemu pastilah untuk menjadikannya jembatan agar wanita itu bisa bertemu dengan Justin kembali.Rasa bersalah kembali mencubit dada Abby. Valerie sudah mengorbankan dirinya terkena pukulan demi melindunginya, jadi mengabaikan pesan wanita itu terasa sangat jahat. Namun di sisi lain, menuruti permintaan Valerie dan memancing kemarahan Justin lagi juga bukanlah pilihan yang bijak."Ada apa?""Astaga!"Abby mendongak dengan cepat dan mendapati Justin tahu-tahu sudah berdiri tid
"Nggak datang dari Riko?" ulang Abby dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa dingin seketika merayap naik ke tengkuknya. “Terus… siapa?”Justin menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Tatapannya menajam, mengunci raut wajah Abby yang kini memucat pasi."Temanku baru saja mengirimkan hasil pelacakan IP address dari akun anonim yang pertama kali membagikan nomormu ke grup itu," terang Justin. "Alamat IP itu terdaftar dari jaringan router internal asrama putri kampus kita."=Malam itu, suasana di lorong asrama putri terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat sebagian besar mahasiswi memilih untuk meringkuk di dalam kamar mereka masing-masing.Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Valerie duduk menyandar santai di atas ranjang. Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah foto profil di layar, foto Justin.Ibu jari Valerie bergerak pelan, mengusap layar yang menampilkan wajah tampan mantan kekasihnya itu.Lamunan
"Kak!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak panik. Ia tahu persis, pria gila di depannya ini benar-benar bisa mewujudkan ancaman itu tanpa peduli waktu dan tempat."Maka turuti aku. Buka mulutmu sekarang," desak Justin lagi, kali ini dengan senyum miring kemenangan.Dengan wajah yang memerah padam hingga ke ujung telinga dan jantung yang berdetak cepat, Abby akhirnya menyerah. Gadis itu perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan kakak angkatnya itu."Gadis pintar," puji Justin dengan suara serak yang terdengar puas.Abby mengunyah makanannya dengan kepala tertunduk, berusaha keras menghindari tatapan tajam Justin yang terus mengunci setiap pergerakannya. Namun, ujian untuk kewarasan Abby ternyata belum berakhir.Begitu Abby selesai menelan makanannya, Justin tiba-tiba menggunakan garpu yang baru saja menyentuh bibir Abby itu untuk menusuk sepotong pancake dari piring lain. Tanpa mengambil alat makan yang baru, pria itu langsung memasukkan potongan pancake tersebut ke d
Justin menatap Abby dengan sorot mata yang seketika berubah tajam dan tidak setuju. Tatapan mata Justin memperingatkan gadis itu untuk tidak membantahnya. Aura pria itu begitu kuat hingga membuat Abby terdiam kaku, perlahan-lahan menarik tangannya kembali ke pangkuan dengan nyali menciut.Puas melihat kepatuhan adik angkatnya, Justin mengalihkan pandangannya kembali ke arah meja."Mau apa?" tanya Justin lagi, mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih rendah dan menuntut jawaban yang jelas."Mm..m.." Abby menggigit bibir bawahnya, menatap ragu ke deretan makanan itu. Ia perlahan mengangkat jari telunjuknya. "...ini."Justin mengikuti arah telunjuk gadis itu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambilkan beberapa potong dimsum dan menuangkan sedikit bubur ke piring lain, sebelum akhirnya menggeser piring yang sudah terisi penuh itu ke hadapan Abby."Makanlah sampai habis," titah Justin, lalu menarik kursinya sendiri dan duduk tepat di hadapan gadis itu.Abby mengangguk pelan. Ia men







