Share

4. Pacar Justin

Author: Rainina
last update publish date: 2026-09-11 13:06:48

Hembusan napas Justin terasa semakin panas di permukaan bibirnya. Sedikit lagi. Hanya tersisa hitungan milimeter sebelum bibir basah mereka benar-benar bersentuhan, ketika tiba-tiba…

Dering ponsel yang sangat nyaring dari arah ruang tamu membelah keheningan balkon.

Mendengar suara itu, keduanya langsung tersentak hebat. Abby membuka matanya lebar-lebar, napasnya tersengal seolah baru saja disadarkan dari bius. Justin pun seketika menghentikan gerakannya, mematung dengan rahang yang kembali mengeras kaku.

Udara dingin mendadak terasa menusuk tulang. Kesadaran menghantam mereka berdua tanpa ampun.

Seolah baru saja disiram seember air es, mereka menyadari bahwa mereka hampir saja melewati batas fatal. Mereka hampir merusak batasan tabu antara kakak dan adik angkat.

Justin berdeham pelan, suaranya terdengar serak. Pria itu segera menarik tubuhnya menjauh, memutus kungkungannya atas Abby. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah lebar.

"Halo?" terdengar suara Justin mengangkat telepon. Nadanya kembali datar dan kaku seperti sedia kala. "Ya, aku di apartemen. Ada apa?"

Sementara itu, Abby hanya bisa terdiam membeku di sudut balkon. Tubuhnya bergetar kedinginan, wajahnya memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa.

Bagaimana mungkin ia malah memejamkan mata dan bukannya menyingkir?

Didera rasa malu yang tak tertahankan, Abby menghabiskan sisa sore itu dengan menghindari Justin sepenuhnya.

Begitu Justin beranjak masuk ke kamarnya, Abby buru-buru mengambil alat pel. Dalam diam, ia membersihkan genangan air di balkon dan ruang tamu dengan gerakan secepat kilat.

Begitu seluruh kekacauannya bersih, gadis itu langsung mengurung diri di kamar. Ia tidak keluar lagi, bahkan untuk makan malam, sampai tiba waktunya ia harus berangkat kuliah keesokan paginya.

=

Saat kelasnya selesai keesokan harinya, Abby merasa begitu gelisah saat ia harus pulang.

Badannya memang terasa letih, namun hatinya jauh lebih tidak siap membayangkan harus bertemu Justin lagi setelah apa yang terjadi semalam.

Begitu tiba di depan pintu apartemen, Abby menempelkan kartu aksesnya.

Tit. Ceklek.

Pintu terbuka. Abby melangkah masuk, namun hal pertama yang langsung menangkap perhatiannya membuat langkah kakinya terhenti secara otomatis.

Di rak sepatu, tepat di samping sepatu kets hitam milik Justin, tergeletak sepasang sepatu hak tinggi yang jelas milik seorang wanita.

Abby terdiam, mematung di ambang pintu. Matanya menatap sepatu itu dengan ketidakpercayaan yang luar biasa.

Selama dua bulan tinggal di apartemen ini, Justin belum pernah sekali pun membawa perempuan. Pria itu biasanya hanya membawa beberapa teman laki-lakinya yang datang untuk bermain game atau membahas tugas kampus.

Justin, si pria es yang super konservatif, yang selalu menasihati Mia soal batasan dengan laki-laki... kini membawa seorang wanita ke apartemen mereka?

Ingatan tentang kotak kondom bersampul plastik utuh itu kembali menghantam kepala Abby dengan keras. Jadi... inikah jawabannya? Apa pria itu benar-benar menggunakan benda itu dengan pacarnya?

Dengan detak jantung yang berdebar aneh, Abby melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Dari arah ruang tamu, terdengar suara televisi yang menyala, disusul oleh riuh suara tawa pelan.

"Hahaha! Justin, kau curang, kan! Masa mainnya begitu?" rengek seorang perempuan dengan nada manja.

"Matamu saja yang terlalu lambat. Aku menembak tepat sasaran," balas Justin datar.

Langkah kaki Abby mendadak terasa berat. Suara Justin sama sekali tidak sedingin es. Tidak ada nada ketus, kaku, apalagi mengintimidasi seperti saat pria itu berbicara padanya semalam. Suara pria itu terdengar santai, berat, dan entah kenapa... begitu nyaman.

"Ah, menyebalkan! Tanganku sampai pegal menekan controller ini!" protes perempuan itu lagi. “Lihat saja nanti, aku akan mengalahkanmu dan memaksamu mentraktirku makan malam yang mahal!"

Terdengar suara tawa renyah lagi, disusul oleh gemerisik kain di atas kulit sofa. Abby memberanikan diri mengintip dari balik sekat koridor.

Pemandangan di depannya membuat napas Abby seakan ditarik paksa dari paru-parunya. Di atas sofa, seorang perempuan cantik menyandarkan kepalanya di bahu tegap Justin, sementara tangannya memegang controller game.

Dan yang lebih mengejutkan, Justin membiarkannya. Pria itu sama sekali tidak menepis atau menjauh, matanya masih fokus pada layar televisi.

Abby sangat mengenali perempuan itu. Rasanya hampir semua orang di kampus tahu siapa dia. Valerie, kapten tim cheerleader yang luar biasa cantik dan selalu menjadi pusat perhatian.

Entah karena terkejut atau tubuhnya yang memang lemas, tote bag di bahu Abby sedikit melorot hingga membentur meja kecil di sudut dinding, menimbulkan suara decitan pelan.

Gerakan di sofa itu terhenti.

Valerie menoleh ke belakang, melepaskan pelukannya dari lengan Justin. Rambut bergelombangnya yang sempurna berkibar pelan.

Mata indahnya langsung menatap lurus ke arah Abby yang berdiri kaku layaknya orang bodoh.

"Oh?" Valerie menatap Abby dari ujung rambut hingga ujung kaki. Senyum manis perlahan mengembang di bibirnya. "Kamu pasti adik Justin, ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   108.

    Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   107.

    "Kak Justin!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak lebar. Tangannya secara otomatis terangkat menutupi separuh wajahnya yang kini terasa seperti direbus di atas air mendidih.Dibalik ekspresi tenangnya, Justin begitu menyukai bagaimana gadis ini selalu kehilangan akal sehatnya hanya dengan satu kalimat darinya."Kenapa kau harus malu, hm?" lanjut Justin, terus memojokkan Abby. "Aku hanya menyatakan fakta yang terjadi di antara kita. Atau... jangan-jangan kau menghindari tatapanku karena kau takut? Kau takut jika kau terus melihatku, kau tidak akan bisa menahan tanganmu untuk kembali menyentuhku?""Tidak! Bukan begitu!" bantah Abby kelabakan. Ia menurunkan tangannya, menatap Justin dengan protes dan dada yang naik turun. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa, Kak! Semuanya terjadi terlalu cepat bagiku dan Kakak terus saja menggodaku!"Mendengar kepolosan dan kejujuran yang meluncur dari bibir bergetar itu, kilat di dasar mata kelam Justin seketika berubah. "Belum terbiasa?" ulang Ju

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   106.

    [Abigail, apa kita bisa ketemu?]Abby menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kesunyian ruang tengah apartemen. Barisan kalimat singkat yang baru saja masuk itu terasa seperti sebuah beban berat yang tiba-tiba dijatuhkan ke atas pangkuannya.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perasaannya seketika campur aduk. Ia tahu persis bagaimana reaksi Justin terakhir kali ia memaksanya bertemu dengan Valerie. Dan entah kenapa, insting Abby mengatakan dengan sangat kuat bahwa kali ini pun, niat Valerie mengajaknya bertemu pastilah untuk menjadikannya jembatan agar wanita itu bisa bertemu dengan Justin kembali.Rasa bersalah kembali mencubit dada Abby. Valerie sudah mengorbankan dirinya terkena pukulan demi melindunginya, jadi mengabaikan pesan wanita itu terasa sangat jahat. Namun di sisi lain, menuruti permintaan Valerie dan memancing kemarahan Justin lagi juga bukanlah pilihan yang bijak."Ada apa?""Astaga!"Abby mendongak dengan cepat dan mendapati Justin tahu-tahu sudah berdiri tid

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   105.

    "Nggak datang dari Riko?" ulang Abby dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa dingin seketika merayap naik ke tengkuknya. “Terus… siapa?”Justin menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Tatapannya menajam, mengunci raut wajah Abby yang kini memucat pasi."Temanku baru saja mengirimkan hasil pelacakan IP address dari akun anonim yang pertama kali membagikan nomormu ke grup itu," terang Justin. "Alamat IP itu terdaftar dari jaringan router internal asrama putri kampus kita."=Malam itu, suasana di lorong asrama putri terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat sebagian besar mahasiswi memilih untuk meringkuk di dalam kamar mereka masing-masing.Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Valerie duduk menyandar santai di atas ranjang. Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah foto profil di layar, foto Justin.Ibu jari Valerie bergerak pelan, mengusap layar yang menampilkan wajah tampan mantan kekasihnya itu.Lamunan

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   104.

    "Kak!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak panik. Ia tahu persis, pria gila di depannya ini benar-benar bisa mewujudkan ancaman itu tanpa peduli waktu dan tempat."Maka turuti aku. Buka mulutmu sekarang," desak Justin lagi, kali ini dengan senyum miring kemenangan.Dengan wajah yang memerah padam hingga ke ujung telinga dan jantung yang berdetak cepat, Abby akhirnya menyerah. Gadis itu perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan kakak angkatnya itu."Gadis pintar," puji Justin dengan suara serak yang terdengar puas.Abby mengunyah makanannya dengan kepala tertunduk, berusaha keras menghindari tatapan tajam Justin yang terus mengunci setiap pergerakannya. Namun, ujian untuk kewarasan Abby ternyata belum berakhir.Begitu Abby selesai menelan makanannya, Justin tiba-tiba menggunakan garpu yang baru saja menyentuh bibir Abby itu untuk menusuk sepotong pancake dari piring lain. Tanpa mengambil alat makan yang baru, pria itu langsung memasukkan potongan pancake tersebut ke d

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   103.

    Justin menatap Abby dengan sorot mata yang seketika berubah tajam dan tidak setuju. Tatapan mata Justin memperingatkan gadis itu untuk tidak membantahnya. Aura pria itu begitu kuat hingga membuat Abby terdiam kaku, perlahan-lahan menarik tangannya kembali ke pangkuan dengan nyali menciut.Puas melihat kepatuhan adik angkatnya, Justin mengalihkan pandangannya kembali ke arah meja."Mau apa?" tanya Justin lagi, mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih rendah dan menuntut jawaban yang jelas."Mm..m.." Abby menggigit bibir bawahnya, menatap ragu ke deretan makanan itu. Ia perlahan mengangkat jari telunjuknya. "...ini."Justin mengikuti arah telunjuk gadis itu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambilkan beberapa potong dimsum dan menuangkan sedikit bubur ke piring lain, sebelum akhirnya menggeser piring yang sudah terisi penuh itu ke hadapan Abby."Makanlah sampai habis," titah Justin, lalu menarik kursinya sendiri dan duduk tepat di hadapan gadis itu.Abby mengangguk pelan. Ia men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status