LOGINHembusan napas Justin terasa semakin panas di permukaan bibirnya. Sedikit lagi. Hanya tersisa hitungan milimeter sebelum bibir basah mereka benar-benar bersentuhan, ketika tiba-tiba…
Dering ponsel yang sangat nyaring dari arah ruang tamu membelah keheningan balkon. Mendengar suara itu, keduanya langsung tersentak hebat. Abby membuka matanya lebar-lebar, napasnya tersengal seolah baru saja disadarkan dari bius. Justin pun seketika menghentikan gerakannya, mematung dengan rahang yang kembali mengeras kaku. Udara dingin mendadak terasa menusuk tulang. Kesadaran menghantam mereka berdua tanpa ampun. Seolah baru saja disiram seember air es, mereka menyadari bahwa mereka hampir saja melewati batas fatal. Mereka hampir merusak batasan tabu antara kakak dan adik angkat. Justin berdeham pelan, suaranya terdengar serak. Pria itu segera menarik tubuhnya menjauh, memutus kungkungannya atas Abby. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah lebar. "Halo?" terdengar suara Justin mengangkat telepon. Nadanya kembali datar dan kaku seperti sedia kala. "Ya, aku di apartemen. Ada apa?" Sementara itu, Abby hanya bisa terdiam membeku di sudut balkon. Tubuhnya bergetar kedinginan, wajahnya memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Bagaimana mungkin ia malah memejamkan mata dan bukannya menyingkir? Didera rasa malu yang tak tertahankan, Abby menghabiskan sisa sore itu dengan menghindari Justin sepenuhnya. Begitu Justin beranjak masuk ke kamarnya, Abby buru-buru mengambil alat pel. Dalam diam, ia membersihkan genangan air di balkon dan ruang tamu dengan gerakan secepat kilat. Begitu seluruh kekacauannya bersih, gadis itu langsung mengurung diri di kamar. Ia tidak keluar lagi, bahkan untuk makan malam, sampai tiba waktunya ia harus berangkat kuliah keesokan paginya. = Saat kelasnya selesai keesokan harinya, Abby merasa begitu gelisah saat ia harus pulang. Badannya memang terasa letih, namun hatinya jauh lebih tidak siap membayangkan harus bertemu Justin lagi setelah apa yang terjadi semalam. Begitu tiba di depan pintu apartemen, Abby menempelkan kartu aksesnya. Tit. Ceklek. Pintu terbuka. Abby melangkah masuk, namun hal pertama yang langsung menangkap perhatiannya membuat langkah kakinya terhenti secara otomatis. Di rak sepatu, tepat di samping sepatu kets hitam milik Justin, tergeletak sepasang sepatu hak tinggi yang jelas milik seorang wanita. Abby terdiam, mematung di ambang pintu. Matanya menatap sepatu itu dengan ketidakpercayaan yang luar biasa. Selama dua bulan tinggal di apartemen ini, Justin belum pernah sekali pun membawa perempuan. Pria itu biasanya hanya membawa beberapa teman laki-lakinya yang datang untuk bermain game atau membahas tugas kampus. Justin, si pria es yang super konservatif, yang selalu menasihati Mia soal batasan dengan laki-laki... kini membawa seorang wanita ke apartemen mereka? Ingatan tentang kotak kondom bersampul plastik utuh itu kembali menghantam kepala Abby dengan keras. Jadi... inikah jawabannya? Apa pria itu benar-benar menggunakan benda itu dengan pacarnya? Dengan detak jantung yang berdebar aneh, Abby melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Dari arah ruang tamu, terdengar suara televisi yang menyala, disusul oleh riuh suara tawa pelan. "Hahaha! Justin, kau curang, kan! Masa mainnya begitu?" rengek seorang perempuan dengan nada manja. "Matamu saja yang terlalu lambat. Aku menembak tepat sasaran," balas Justin datar. Langkah kaki Abby mendadak terasa berat. Suara Justin sama sekali tidak sedingin es. Tidak ada nada ketus, kaku, apalagi mengintimidasi seperti saat pria itu berbicara padanya semalam. Suara pria itu terdengar santai, berat, dan entah kenapa... begitu nyaman. "Ah, menyebalkan! Tanganku sampai pegal menekan controller ini!" protes perempuan itu lagi. “Lihat saja nanti, aku akan mengalahkanmu dan memaksamu mentraktirku makan malam yang mahal!" Terdengar suara tawa renyah lagi, disusul oleh gemerisik kain di atas kulit sofa. Abby memberanikan diri mengintip dari balik sekat koridor. Pemandangan di depannya membuat napas Abby seakan ditarik paksa dari paru-parunya. Di atas sofa, seorang perempuan cantik menyandarkan kepalanya di bahu tegap Justin, sementara tangannya memegang controller game. Dan yang lebih mengejutkan, Justin membiarkannya. Pria itu sama sekali tidak menepis atau menjauh, matanya masih fokus pada layar televisi. Abby sangat mengenali perempuan itu. Rasanya hampir semua orang di kampus tahu siapa dia. Valerie, kapten tim cheerleader yang luar biasa cantik dan selalu menjadi pusat perhatian. Entah karena terkejut atau tubuhnya yang memang lemas, tote bag di bahu Abby sedikit melorot hingga membentur meja kecil di sudut dinding, menimbulkan suara decitan pelan. Gerakan di sofa itu terhenti. Valerie menoleh ke belakang, melepaskan pelukannya dari lengan Justin. Rambut bergelombangnya yang sempurna berkibar pelan. Mata indahnya langsung menatap lurus ke arah Abby yang berdiri kaku layaknya orang bodoh. "Oh?" Valerie menatap Abby dari ujung rambut hingga ujung kaki. Senyum manis perlahan mengembang di bibirnya. "Kamu pasti adik Justin, ya?"Abby langsung membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir detik itu juga.Jika kakak angkatnya yang selalu bersikap dingin itu sudah memanggilnya dengan nama lengkap, itu hanya berarti satu hal: Justin sedang marah besar.Riko, yang langsung menyadari perubahan raut wajah Abby menjadi pucat pasi, dengan cepat melangkah maju. Ia berdiri tegap di hadapan Abby, menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya seolah sedang melindunginya dari sebuah ancaman."Maaf, Anda siapa?" tegur Riko dengan nada sedikit menantang, matanya menatap tajam ke arah pria asing yang baru saja merusak momennya. "Ada urusan apa Anda mencari Abby?"Justin sama sekali tidak membalas tatapan Riko, apalagi repot-repot menjawab pertanyaannya. Pria itu mengabaikan eksistensi Riko sepenuhnya. Sorot mata kelamnya yang berkilat marah langsung menembus bahu Riko, terkunci lurus pada gadis yang gemetar di belakang sana."Abigail," desis Justin. "Segera ke sini sebelum aku sendiri yang menyeretmu."Mendengar ancaman itu, pe
Abby melebarkan matanya tak percaya, menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Riko... menyukainya? Sejak hari pertama?Selama ini, Riko selalu bersikap ramah, hangat, dan sangat suportif padanya di kampus. Namun, Abby sungguh mengira itu memang sifat bawaan laki-laki itu kepada semua teman sekelas. Ia benar-benar mengira Riko hanya bersikap baik tanpa ada alasan, apalagi tendensi romantis di baliknya."Rik... kamu... serius?" cicit Abby akhirnya, suaranya nyaris tertiup angin malam kota yang dingin."Aku nggak pernah seserius ini, By," jawab Riko mantap, matanya menatap lekat tanpa sedikit pun kebohongan. "Aku selalu mencari cara untuk bisa dekat denganmu."Untuk sesaat, Abby sedikit ragu, hingga bayangan kejadian sore tadi kembali berputar dengan kejam di dalam kepala Abby. Suara tawa renyah Valerie, senyum percaya diri perempuan itu yang begitu mempesona, dan bagaimana lengan Valerie melingkar manja di lengan Justin tanpa penolakan sedikit pun dari sang pemilik tubuh.‘Valerie,
Suara tembakan dari televisi seketika terhenti saat Justin menekan tombol jeda pada controllernya. Valerie bangkit berdiri dari sofa, merapikan sedikit gaun selututnya, dan berjalan mendekati Abby yang masih terpaku di ambang sekat koridor. Senyum manis dan sangat percaya diri terlukis jelas di wajah cantik perempuan itu saat ia mengulurkan sebelah tangannya. "Valerie, pacar Justin," ucapnya lugas, tanpa keraguan sedikit pun. Dua kata terakhir itu seolah menghantam ulu hati Abby dengan telak. Pacar? Napas Abby seakan tercekat. Kepalanya mendadak pening. Kalau Justin sudah punya pacar, lalu... apa arti dari semua yang terjadi di balkon semalam? Jarak yang terkikis habis, tatapan mematikan itu, dan ciuman yang nyaris terjadi jika saja ponsel pria itu tidak berdering? "Hei?" Suara Valerie menarik paksa kesadaran Abby. Tangan berhias kuku cantik itu masih menggantung di udara, menunggu balasan. "Ah... m-maaf," gugup Abby, buru-buru menyambut uluran tangan itu dengan jemarinya yang m
Hembusan napas Justin terasa semakin panas di permukaan bibirnya. Sedikit lagi. Hanya tersisa hitungan milimeter sebelum bibir basah mereka benar-benar bersentuhan, ketika tiba-tiba… Dering ponsel yang sangat nyaring dari arah ruang tamu membelah keheningan balkon. Mendengar suara itu, keduanya langsung tersentak hebat. Abby membuka matanya lebar-lebar, napasnya tersengal seolah baru saja disadarkan dari bius. Justin pun seketika menghentikan gerakannya, mematung dengan rahang yang kembali mengeras kaku. Udara dingin mendadak terasa menusuk tulang. Kesadaran menghantam mereka berdua tanpa ampun. Seolah baru saja disiram seember air es, mereka menyadari bahwa mereka hampir saja melewati batas fatal. Mereka hampir merusak batasan tabu antara kakak dan adik angkat. Justin berdeham pelan, suaranya terdengar serak. Pria itu segera menarik tubuhnya menjauh, memutus kungkungannya atas Abby. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan l
"Apa yang sedang kau lihat?"Suara Justin terdengar sangat rendah dan datar, nyaris berbisik di antara suara rintik air dari dedaunan pot. Namun, sentakan kokoh di pergelangan tangan Abby membuat tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke depan, nyaris menabrak dada bidang yang kini basah kuyup tersebut."M-maaf, Kak! Aku minta maaf!" seru Abby, refleks menarik tangannya dan memundurkan langkah dengan serabutan hingga punggungnya menabrak dinding bata yang dingin di dekat saluran air. "A-aku nggak lihat apa-apa!""Matamu tidak bilang begitu." Justin membalas tanpa intonasi. Pria itu berdiri menjulang, siluet tubuhnya yang tegap menghalangi cahaya sore. Kaus putih tipisnya menempel lekat pada kulit, mencetak setiap lekuk otot perut dan dadanya dengan sangat jelas."Aku... aku terkejut karena kerannya patah! Airnya tiba-tiba menyemprot ke mana-mana..." cicit Abby terbata-bata. Gadis itu terdengar seperti kaset rusak, meremas ujung bajunya sendiri yang basah meneteskan air.Wajah Abby terbak
Otak Abby merespons dengan secepat kilat, tangannya menjejalkan kotak itu ke bagian terdalam tas Justin, lalu menarik resletingnya kuat-kuat hingga tertutup rapat. Abby baru berani mendongakkan kepalanya setelah benda itu menghilang dari pandangannya. Justin melangkah keluar dari balik pintu. Pria itu baru saja selesai mandi, rambut hitamnya yang basah meneteskan butiran air yang mengalir turun ke dada bidangnya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan pakaian, hanya selembar handuk putih yang dililitkan secara asal di pinggangnya. "Apa yang kau pegang tadi?" tanya Justin. Suaranya terdengar sangat datar, tapi berhasil membuat bulu kuduk Abby meremang. Abby segera memindahkan ransel hitam itu ke atas kursi belajar, lalu buru-buru bangkit berdiri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung bajunya sendiri. "Ti-tidak ada, Kak," dusta Abby. "Hanya buku. Tadi tas Kakak jatuh tersenggol, jadi aku cuma membereskannya." Justin tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan mata







