Share

5. Confess

Author: Rainina
last update publish date: 2026-09-11 13:06:57

Suara tembakan dari televisi seketika terhenti saat Justin menekan tombol jeda pada controllernya.

Valerie bangkit berdiri dari sofa, merapikan sedikit gaun selututnya, dan berjalan mendekati Abby yang masih terpaku di ambang sekat koridor. Senyum manis dan sangat percaya diri terlukis jelas di wajah cantik perempuan itu saat ia mengulurkan sebelah tangannya.

"Valerie, pacar Justin," ucapnya lugas, tanpa keraguan sedikit pun.

Dua kata terakhir itu seolah menghantam ulu hati Abby dengan telak. Pacar?

Napas Abby seakan tercekat. Kepalanya mendadak pening. Kalau Justin sudah punya pacar, lalu... apa arti dari semua yang terjadi di balkon semalam? Jarak yang terkikis habis, tatapan mematikan itu, dan ciuman yang nyaris terjadi jika saja ponsel pria itu tidak berdering?

"Hei?" Suara Valerie menarik paksa kesadaran Abby. Tangan berhias kuku cantik itu masih menggantung di udara, menunggu balasan.

"Ah... m-maaf," gugup Abby, buru-buru menyambut uluran tangan itu dengan jemarinya yang mendadak terasa dingin. "Aku Abigail."

"Abigail?" Valerie memiringkan wajahnya, raut kebingungan melintas di matanya yang lentik. Alisnya bertaut samar. "Tunggu dulu... Abigail? Bukannya namamu Mia?"

Abby terdiam kaku. Lidahnya seolah kelu untuk menjawab.

Valerie langsung menolehkan wajahnya menatap Justin yang ternyata sejak tadi hanya duduk diam di sofa, memperhatikan mereka berdua dengan sorot mata datar.

"Justin, kau tidak pernah bilang kalau kau punya dua adik perempuan," tegur Valerie dengan nada sedikit menuntut, namun tetap terdengar manja. "Kau selalu hanya menceritakan tentang Mia, Mia, dan Mia. Aku bahkan tidak tahu ada Abigail."

Perkataan itu bagaikan tamparan yang menampar telak kesadaran Abby.

Ia menatap Justin, menanti pria itu mengatakan sesuatu. Membela keberadaannya, atau setidaknya menjelaskan posisinya. Namun, Justin hanya diam.

Pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa dan membuang muka kembali ke arah layar televisi yang menampilkan menu jeda permainan, sama sekali tidak berniat repot-repot menjelaskan siapa Abby sebenarnya.

Sikap diam Justin seketika membuat Abby merasa sangat kecil. Benar, di mata Justin, hanya Mia adiknya. Sedangkan Abby hanyalah pelayan menumpang yang keberadaannya bahkan tak layak untuk disebutkan kepada kekasihnya.

"A-aku... permisi ke kamar dulu. Silakan lanjutkan mainannya," cicit Abby menunduk dalam, menarik tangannya dari genggaman Valerie dengan cepat.

Tanpa menunggu balasan, Abby setengah berlari menuju kamarnya. Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya yang putih pucat dengan dada yang mendadak terasa sesak.

Memangnya kenapa kalau Justin punya pacar? batin Abby, mencoba memarahi dirinya sendiri.

Ia merasa dirinya sangat aneh dan konyol. Tidak sepantasnya ia merasa cemburu seperti ini. Jelas-jelas Justin hanyalah kakak angkatnya, bagian dari keluarga yang menjadikannya pesuruh.

Wajar jika pria itu memiliki kehidupan pribadinya sendiri, memiliki kekasih secantik Valerie, dan wajar jika ia membawa kotak pengaman di dalam tasnya. Kejadian semalam pasti murni hanya kesalahan semata.

Di tengah lamunannya yang menyiksa, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Riko.

[By, anak-anak lagi pada kumpul nih. Ikut nongkrong, yuk!]

Biasanya, Abby akan langsung mengetikkan penolakan. Namun, sayup-sayup ia bisa mendengar suara tawa renyah Valerie dari ruang tamu.

Suara itu terasa mencekik lehernya. Abby merasa sangat butuh keluar dari apartemen ini sekarang juga untuk melupakan semuanya.

[Boleh. Kalian di mana?]

=

Dua jam kemudian, Abby benar-benar menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Riko.

Ia mengira teman-temannya hanya mengajaknya ke kafe atau restoran biasa untuk makan malam. Ternyata, Riko dan teman-teman kelasnya membawanya ke sebuah kelab malam yang hingar bingar.

Dentuman musik EDM yang memekakkan telinga, kilatan lampu sorot warna-warni, dan aroma alkohol yang menguar kuat di udara membuat Abby merasa sangat salah tempat.

"Abby! Kenapa dari tadi cuma diam aja?" teriak salah satu teman perempuannya, setengah menjerit untuk mengalahkan volume musik. "Ayo minum! Ini racikannya manis kok, kau pasti suka!"

Abby menggeleng canggung, menolak gelas yang disodorkan padanya. "Nggak usah, terima kasih! Aku minum yang non alkohol aja!" balasnya setengah berteriak.

Ia benar-benar ingin pulang. Tubuhnya meremang tidak nyaman melihat lautan manusia yang berjoget di tengah ruangan.

Saat teman-temannya mulai sibuk bernyanyi dan turun ke lantai dansa, Abby memanfaatkan kesempatan itu. Ia bangkit dari kursi melingkar tersebut dan melangkah cepat keluar dari kelab, menerobos kerumunan manusia yang berdesakan.

Begitu pintu peredam suara tertutup di belakangnya, Abby langsung menarik napas panjang. Udara malam kota terasa jauh lebih menyegarkan.

Ia bersandar di tembok samping pintu masuk kelab, melipat kedua tangannya di depan dada, berpikir keras apakah sebaiknya ia memesan taksi dan langsung pulang saja?

Namun tiba-tiba, pintu kelab kembali terbuka. Riko melangkah keluar. Begitu melihat Abby, laki-laki itu tersenyum dan berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di sampingnya.

"Udaranya lebih enak di sini, kan?" tegur Riko membuka obrolan.

Abby menoleh, sedikit terkejut. "Riko? Kenapa kau ikut keluar?"

"Mencarimu," jawab laki-laki itu jujur. "Kau kelihatan sangat tidak nyaman di dalam sana, By."

Abby tersenyum kikuk, merapatkan jaketnya. "Ya... aku memang tidak terbiasa dengan tempat seperti ini."

Riko menghela napas, raut wajahnya terlihat menyesal. "Aku minta maaf, ya. Seharusnya tadi aku bilang dari awal kalau kita mau ke kelab, bukan ke tempat nongkrong biasa. Aku tahu kau pasti kaget."

"Nggak apa-apa, Rik. Kau nggak salah," balas Abby menggeleng pelan. "Aku yang salah karena langsung setuju tapi nggak bertanya dulu kita mau ke mana. Aku menghancurkan suasana kalian."

"Hei, jangan bilang begitu. Kau nggak salah sama sekali." Riko menyandarkan bahunya ke dinding tembok, memiringkan kepalanya untuk menatap sisi wajah Abby. "Aku cuma mau kau merasa nyaman dan bisa bersenang-senang sama kita, By."

Abby tersenyum tipis menanggapi perhatian itu. "Aku hargai itu, Rik. Sungguh. Terima kasih sudah mengajakkku."

"By," panggil Riko dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi lebih serius dan pelan. Suaranya terdengar jernih di tengah bisingnya jalanan malam.

"Ya?" Abby ikut memutar tubuhnya, menatap Riko sepenuhnya.

Laki-laki itu menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata Abby dengan keberanian yang seolah baru saja ia kumpulkan susah payah.

"Alasanku terus mengajakmu pulang bareng selama ini, alasanku memaksamu ikut kumpul malam ini, dan alasanku keluar menyusulmu sekarang... bukan cuma karena aku ingin kita sekadar berteman," ucap Riko dengan napas sedikit tertahan.

"Aku suka sama kamu, Abby. Sejak hari pertama kita sekelas."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   108.

    Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   107.

    "Kak Justin!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak lebar. Tangannya secara otomatis terangkat menutupi separuh wajahnya yang kini terasa seperti direbus di atas air mendidih.Dibalik ekspresi tenangnya, Justin begitu menyukai bagaimana gadis ini selalu kehilangan akal sehatnya hanya dengan satu kalimat darinya."Kenapa kau harus malu, hm?" lanjut Justin, terus memojokkan Abby. "Aku hanya menyatakan fakta yang terjadi di antara kita. Atau... jangan-jangan kau menghindari tatapanku karena kau takut? Kau takut jika kau terus melihatku, kau tidak akan bisa menahan tanganmu untuk kembali menyentuhku?""Tidak! Bukan begitu!" bantah Abby kelabakan. Ia menurunkan tangannya, menatap Justin dengan protes dan dada yang naik turun. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa, Kak! Semuanya terjadi terlalu cepat bagiku dan Kakak terus saja menggodaku!"Mendengar kepolosan dan kejujuran yang meluncur dari bibir bergetar itu, kilat di dasar mata kelam Justin seketika berubah. "Belum terbiasa?" ulang Ju

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   106.

    [Abigail, apa kita bisa ketemu?]Abby menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kesunyian ruang tengah apartemen. Barisan kalimat singkat yang baru saja masuk itu terasa seperti sebuah beban berat yang tiba-tiba dijatuhkan ke atas pangkuannya.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perasaannya seketika campur aduk. Ia tahu persis bagaimana reaksi Justin terakhir kali ia memaksanya bertemu dengan Valerie. Dan entah kenapa, insting Abby mengatakan dengan sangat kuat bahwa kali ini pun, niat Valerie mengajaknya bertemu pastilah untuk menjadikannya jembatan agar wanita itu bisa bertemu dengan Justin kembali.Rasa bersalah kembali mencubit dada Abby. Valerie sudah mengorbankan dirinya terkena pukulan demi melindunginya, jadi mengabaikan pesan wanita itu terasa sangat jahat. Namun di sisi lain, menuruti permintaan Valerie dan memancing kemarahan Justin lagi juga bukanlah pilihan yang bijak."Ada apa?""Astaga!"Abby mendongak dengan cepat dan mendapati Justin tahu-tahu sudah berdiri tid

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   105.

    "Nggak datang dari Riko?" ulang Abby dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa dingin seketika merayap naik ke tengkuknya. “Terus… siapa?”Justin menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Tatapannya menajam, mengunci raut wajah Abby yang kini memucat pasi."Temanku baru saja mengirimkan hasil pelacakan IP address dari akun anonim yang pertama kali membagikan nomormu ke grup itu," terang Justin. "Alamat IP itu terdaftar dari jaringan router internal asrama putri kampus kita."=Malam itu, suasana di lorong asrama putri terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat sebagian besar mahasiswi memilih untuk meringkuk di dalam kamar mereka masing-masing.Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Valerie duduk menyandar santai di atas ranjang. Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah foto profil di layar, foto Justin.Ibu jari Valerie bergerak pelan, mengusap layar yang menampilkan wajah tampan mantan kekasihnya itu.Lamunan

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   104.

    "Kak!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak panik. Ia tahu persis, pria gila di depannya ini benar-benar bisa mewujudkan ancaman itu tanpa peduli waktu dan tempat."Maka turuti aku. Buka mulutmu sekarang," desak Justin lagi, kali ini dengan senyum miring kemenangan.Dengan wajah yang memerah padam hingga ke ujung telinga dan jantung yang berdetak cepat, Abby akhirnya menyerah. Gadis itu perlahan membuka mulutnya, menerima suapan dari tangan kakak angkatnya itu."Gadis pintar," puji Justin dengan suara serak yang terdengar puas.Abby mengunyah makanannya dengan kepala tertunduk, berusaha keras menghindari tatapan tajam Justin yang terus mengunci setiap pergerakannya. Namun, ujian untuk kewarasan Abby ternyata belum berakhir.Begitu Abby selesai menelan makanannya, Justin tiba-tiba menggunakan garpu yang baru saja menyentuh bibir Abby itu untuk menusuk sepotong pancake dari piring lain. Tanpa mengambil alat makan yang baru, pria itu langsung memasukkan potongan pancake tersebut ke d

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   103.

    Justin menatap Abby dengan sorot mata yang seketika berubah tajam dan tidak setuju. Tatapan mata Justin memperingatkan gadis itu untuk tidak membantahnya. Aura pria itu begitu kuat hingga membuat Abby terdiam kaku, perlahan-lahan menarik tangannya kembali ke pangkuan dengan nyali menciut.Puas melihat kepatuhan adik angkatnya, Justin mengalihkan pandangannya kembali ke arah meja."Mau apa?" tanya Justin lagi, mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih rendah dan menuntut jawaban yang jelas."Mm..m.." Abby menggigit bibir bawahnya, menatap ragu ke deretan makanan itu. Ia perlahan mengangkat jari telunjuknya. "...ini."Justin mengikuti arah telunjuk gadis itu. Tanpa banyak bicara, pria itu mengambilkan beberapa potong dimsum dan menuangkan sedikit bubur ke piring lain, sebelum akhirnya menggeser piring yang sudah terisi penuh itu ke hadapan Abby."Makanlah sampai habis," titah Justin, lalu menarik kursinya sendiri dan duduk tepat di hadapan gadis itu.Abby mengangguk pelan. Ia men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status