LOGINSuara tembakan dari televisi seketika terhenti saat Justin menekan tombol jeda pada controllernya.
Valerie bangkit berdiri dari sofa, merapikan sedikit gaun selututnya, dan berjalan mendekati Abby yang masih terpaku di ambang sekat koridor. Senyum manis dan sangat percaya diri terlukis jelas di wajah cantik perempuan itu saat ia mengulurkan sebelah tangannya. "Valerie, pacar Justin," ucapnya lugas, tanpa keraguan sedikit pun. Dua kata terakhir itu seolah menghantam ulu hati Abby dengan telak. Pacar? Napas Abby seakan tercekat. Kepalanya mendadak pening. Kalau Justin sudah punya pacar, lalu... apa arti dari semua yang terjadi di balkon semalam? Jarak yang terkikis habis, tatapan mematikan itu, dan ciuman yang nyaris terjadi jika saja ponsel pria itu tidak berdering? "Hei?" Suara Valerie menarik paksa kesadaran Abby. Tangan berhias kuku cantik itu masih menggantung di udara, menunggu balasan. "Ah... m-maaf," gugup Abby, buru-buru menyambut uluran tangan itu dengan jemarinya yang mendadak terasa dingin. "Aku Abigail." "Abigail?" Valerie memiringkan wajahnya, raut kebingungan melintas di matanya yang lentik. Alisnya bertaut samar. "Tunggu dulu... Abigail? Bukannya namamu Mia?" Abby terdiam kaku. Lidahnya seolah kelu untuk menjawab. Valerie langsung menolehkan wajahnya menatap Justin yang ternyata sejak tadi hanya duduk diam di sofa, memperhatikan mereka berdua dengan sorot mata datar. "Justin, kau tidak pernah bilang kalau kau punya dua adik perempuan," tegur Valerie dengan nada sedikit menuntut, namun tetap terdengar manja. "Kau selalu hanya menceritakan tentang Mia, Mia, dan Mia. Aku bahkan tidak tahu ada Abigail." Perkataan itu bagaikan tamparan yang menampar telak kesadaran Abby. Ia menatap Justin, menanti pria itu mengatakan sesuatu. Membela keberadaannya, atau setidaknya menjelaskan posisinya. Namun, Justin hanya diam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sofa dan membuang muka kembali ke arah layar televisi yang menampilkan menu jeda permainan, sama sekali tidak berniat repot-repot menjelaskan siapa Abby sebenarnya. Sikap diam Justin seketika membuat Abby merasa sangat kecil. Benar, di mata Justin, hanya Mia adiknya. Sedangkan Abby hanyalah pelayan menumpang yang keberadaannya bahkan tak layak untuk disebutkan kepada kekasihnya. "A-aku... permisi ke kamar dulu. Silakan lanjutkan mainannya," cicit Abby menunduk dalam, menarik tangannya dari genggaman Valerie dengan cepat. Tanpa menunggu balasan, Abby setengah berlari menuju kamarnya. Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia memandang langit-langit kamarnya yang putih pucat dengan dada yang mendadak terasa sesak. Memangnya kenapa kalau Justin punya pacar? batin Abby, mencoba memarahi dirinya sendiri. Ia merasa dirinya sangat aneh dan konyol. Tidak sepantasnya ia merasa cemburu seperti ini. Jelas-jelas Justin hanyalah kakak angkatnya, bagian dari keluarga yang menjadikannya pesuruh. Wajar jika pria itu memiliki kehidupan pribadinya sendiri, memiliki kekasih secantik Valerie, dan wajar jika ia membawa kotak pengaman di dalam tasnya. Kejadian semalam pasti murni hanya kesalahan semata. Di tengah lamunannya yang menyiksa, ponsel di dalam saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Riko. [By, anak-anak lagi pada kumpul nih. Ikut nongkrong, yuk!] Biasanya, Abby akan langsung mengetikkan penolakan. Namun, sayup-sayup ia bisa mendengar suara tawa renyah Valerie dari ruang tamu. Suara itu terasa mencekik lehernya. Abby merasa sangat butuh keluar dari apartemen ini sekarang juga untuk melupakan semuanya. [Boleh. Kalian di mana?] = Dua jam kemudian, Abby benar-benar menyesali keputusannya mengiyakan ajakan Riko. Ia mengira teman-temannya hanya mengajaknya ke kafe atau restoran biasa untuk makan malam. Ternyata, Riko dan teman-teman kelasnya membawanya ke sebuah kelab malam yang hingar bingar. Dentuman musik EDM yang memekakkan telinga, kilatan lampu sorot warna-warni, dan aroma alkohol yang menguar kuat di udara membuat Abby merasa sangat salah tempat. "Abby! Kenapa dari tadi cuma diam aja?" teriak salah satu teman perempuannya, setengah menjerit untuk mengalahkan volume musik. "Ayo minum! Ini racikannya manis kok, kau pasti suka!" Abby menggeleng canggung, menolak gelas yang disodorkan padanya. "Nggak usah, terima kasih! Aku minum yang non alkohol aja!" balasnya setengah berteriak. Ia benar-benar ingin pulang. Tubuhnya meremang tidak nyaman melihat lautan manusia yang berjoget di tengah ruangan. Saat teman-temannya mulai sibuk bernyanyi dan turun ke lantai dansa, Abby memanfaatkan kesempatan itu. Ia bangkit dari kursi melingkar tersebut dan melangkah cepat keluar dari kelab, menerobos kerumunan manusia yang berdesakan. Begitu pintu peredam suara tertutup di belakangnya, Abby langsung menarik napas panjang. Udara malam kota terasa jauh lebih menyegarkan. Ia bersandar di tembok samping pintu masuk kelab, melipat kedua tangannya di depan dada, berpikir keras apakah sebaiknya ia memesan taksi dan langsung pulang saja? Namun tiba-tiba, pintu kelab kembali terbuka. Riko melangkah keluar. Begitu melihat Abby, laki-laki itu tersenyum dan berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di sampingnya. "Udaranya lebih enak di sini, kan?" tegur Riko membuka obrolan. Abby menoleh, sedikit terkejut. "Riko? Kenapa kau ikut keluar?" "Mencarimu," jawab laki-laki itu jujur. "Kau kelihatan sangat tidak nyaman di dalam sana, By." Abby tersenyum kikuk, merapatkan jaketnya. "Ya... aku memang tidak terbiasa dengan tempat seperti ini." Riko menghela napas, raut wajahnya terlihat menyesal. "Aku minta maaf, ya. Seharusnya tadi aku bilang dari awal kalau kita mau ke kelab, bukan ke tempat nongkrong biasa. Aku tahu kau pasti kaget." "Nggak apa-apa, Rik. Kau nggak salah," balas Abby menggeleng pelan. "Aku yang salah karena langsung setuju tapi nggak bertanya dulu kita mau ke mana. Aku menghancurkan suasana kalian." "Hei, jangan bilang begitu. Kau nggak salah sama sekali." Riko menyandarkan bahunya ke dinding tembok, memiringkan kepalanya untuk menatap sisi wajah Abby. "Aku cuma mau kau merasa nyaman dan bisa bersenang-senang sama kita, By." Abby tersenyum tipis menanggapi perhatian itu. "Aku hargai itu, Rik. Sungguh. Terima kasih sudah mengajakkku." "By," panggil Riko dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi lebih serius dan pelan. Suaranya terdengar jernih di tengah bisingnya jalanan malam. "Ya?" Abby ikut memutar tubuhnya, menatap Riko sepenuhnya. Laki-laki itu menelan ludah, menatap lurus ke dalam mata Abby dengan keberanian yang seolah baru saja ia kumpulkan susah payah. "Alasanku terus mengajakmu pulang bareng selama ini, alasanku memaksamu ikut kumpul malam ini, dan alasanku keluar menyusulmu sekarang... bukan cuma karena aku ingin kita sekadar berteman," ucap Riko dengan napas sedikit tertahan. "Aku suka sama kamu, Abby. Sejak hari pertama kita sekelas."Abby langsung membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir detik itu juga.Jika kakak angkatnya yang selalu bersikap dingin itu sudah memanggilnya dengan nama lengkap, itu hanya berarti satu hal: Justin sedang marah besar.Riko, yang langsung menyadari perubahan raut wajah Abby menjadi pucat pasi, dengan cepat melangkah maju. Ia berdiri tegap di hadapan Abby, menyembunyikan gadis itu di balik punggungnya seolah sedang melindunginya dari sebuah ancaman."Maaf, Anda siapa?" tegur Riko dengan nada sedikit menantang, matanya menatap tajam ke arah pria asing yang baru saja merusak momennya. "Ada urusan apa Anda mencari Abby?"Justin sama sekali tidak membalas tatapan Riko, apalagi repot-repot menjawab pertanyaannya. Pria itu mengabaikan eksistensi Riko sepenuhnya. Sorot mata kelamnya yang berkilat marah langsung menembus bahu Riko, terkunci lurus pada gadis yang gemetar di belakang sana."Abigail," desis Justin. "Segera ke sini sebelum aku sendiri yang menyeretmu."Mendengar ancaman itu, pe
Abby melebarkan matanya tak percaya, menatap lurus ke arah pria di hadapannya. Riko... menyukainya? Sejak hari pertama?Selama ini, Riko selalu bersikap ramah, hangat, dan sangat suportif padanya di kampus. Namun, Abby sungguh mengira itu memang sifat bawaan laki-laki itu kepada semua teman sekelas. Ia benar-benar mengira Riko hanya bersikap baik tanpa ada alasan, apalagi tendensi romantis di baliknya."Rik... kamu... serius?" cicit Abby akhirnya, suaranya nyaris tertiup angin malam kota yang dingin."Aku nggak pernah seserius ini, By," jawab Riko mantap, matanya menatap lekat tanpa sedikit pun kebohongan. "Aku selalu mencari cara untuk bisa dekat denganmu."Untuk sesaat, Abby sedikit ragu, hingga bayangan kejadian sore tadi kembali berputar dengan kejam di dalam kepala Abby. Suara tawa renyah Valerie, senyum percaya diri perempuan itu yang begitu mempesona, dan bagaimana lengan Valerie melingkar manja di lengan Justin tanpa penolakan sedikit pun dari sang pemilik tubuh.‘Valerie,
Suara tembakan dari televisi seketika terhenti saat Justin menekan tombol jeda pada controllernya. Valerie bangkit berdiri dari sofa, merapikan sedikit gaun selututnya, dan berjalan mendekati Abby yang masih terpaku di ambang sekat koridor. Senyum manis dan sangat percaya diri terlukis jelas di wajah cantik perempuan itu saat ia mengulurkan sebelah tangannya. "Valerie, pacar Justin," ucapnya lugas, tanpa keraguan sedikit pun. Dua kata terakhir itu seolah menghantam ulu hati Abby dengan telak. Pacar? Napas Abby seakan tercekat. Kepalanya mendadak pening. Kalau Justin sudah punya pacar, lalu... apa arti dari semua yang terjadi di balkon semalam? Jarak yang terkikis habis, tatapan mematikan itu, dan ciuman yang nyaris terjadi jika saja ponsel pria itu tidak berdering? "Hei?" Suara Valerie menarik paksa kesadaran Abby. Tangan berhias kuku cantik itu masih menggantung di udara, menunggu balasan. "Ah... m-maaf," gugup Abby, buru-buru menyambut uluran tangan itu dengan jemarinya yang m
Hembusan napas Justin terasa semakin panas di permukaan bibirnya. Sedikit lagi. Hanya tersisa hitungan milimeter sebelum bibir basah mereka benar-benar bersentuhan, ketika tiba-tiba… Dering ponsel yang sangat nyaring dari arah ruang tamu membelah keheningan balkon. Mendengar suara itu, keduanya langsung tersentak hebat. Abby membuka matanya lebar-lebar, napasnya tersengal seolah baru saja disadarkan dari bius. Justin pun seketika menghentikan gerakannya, mematung dengan rahang yang kembali mengeras kaku. Udara dingin mendadak terasa menusuk tulang. Kesadaran menghantam mereka berdua tanpa ampun. Seolah baru saja disiram seember air es, mereka menyadari bahwa mereka hampir saja melewati batas fatal. Mereka hampir merusak batasan tabu antara kakak dan adik angkat. Justin berdeham pelan, suaranya terdengar serak. Pria itu segera menarik tubuhnya menjauh, memutus kungkungannya atas Abby. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan l
"Apa yang sedang kau lihat?"Suara Justin terdengar sangat rendah dan datar, nyaris berbisik di antara suara rintik air dari dedaunan pot. Namun, sentakan kokoh di pergelangan tangan Abby membuat tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke depan, nyaris menabrak dada bidang yang kini basah kuyup tersebut."M-maaf, Kak! Aku minta maaf!" seru Abby, refleks menarik tangannya dan memundurkan langkah dengan serabutan hingga punggungnya menabrak dinding bata yang dingin di dekat saluran air. "A-aku nggak lihat apa-apa!""Matamu tidak bilang begitu." Justin membalas tanpa intonasi. Pria itu berdiri menjulang, siluet tubuhnya yang tegap menghalangi cahaya sore. Kaus putih tipisnya menempel lekat pada kulit, mencetak setiap lekuk otot perut dan dadanya dengan sangat jelas."Aku... aku terkejut karena kerannya patah! Airnya tiba-tiba menyemprot ke mana-mana..." cicit Abby terbata-bata. Gadis itu terdengar seperti kaset rusak, meremas ujung bajunya sendiri yang basah meneteskan air.Wajah Abby terbak
Otak Abby merespons dengan secepat kilat, tangannya menjejalkan kotak itu ke bagian terdalam tas Justin, lalu menarik resletingnya kuat-kuat hingga tertutup rapat. Abby baru berani mendongakkan kepalanya setelah benda itu menghilang dari pandangannya. Justin melangkah keluar dari balik pintu. Pria itu baru saja selesai mandi, rambut hitamnya yang basah meneteskan butiran air yang mengalir turun ke dada bidangnya. Pria itu sama sekali tidak mengenakan pakaian, hanya selembar handuk putih yang dililitkan secara asal di pinggangnya. "Apa yang kau pegang tadi?" tanya Justin. Suaranya terdengar sangat datar, tapi berhasil membuat bulu kuduk Abby meremang. Abby segera memindahkan ransel hitam itu ke atas kursi belajar, lalu buru-buru bangkit berdiri. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung bajunya sendiri. "Ti-tidak ada, Kak," dusta Abby. "Hanya buku. Tadi tas Kakak jatuh tersenggol, jadi aku cuma membereskannya." Justin tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan mata







