공유

64. Memberanikan Diri

작가: Rainina
last update 게시일: 2026-10-10 20:57:44

Melihat kedua gadis yang berdiri mematung di lorong, Justin tetap berdiri dengan tenang, membiarkan tubuh bagian atasnya yang atletis terekspos begitu saja.

Sepasang mata kelamnya menatap lurus ke dalam manik mata Abby yang bergetar panik. Namun, pria itu bersikap seolah tidak pernah terjadi hal gila apa pun di antara mereka semalam.

Dengan gerakan santai setelah mengonfirmasi siapa yang datang, Justin hanya melengos pelan, membalikkan punggung lebarnya, dan kembali masuk ke dalam kamarnya.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   113.

    "Apa yang kau lakukan?"Sebuah suara yang asing, teramat tenang tiba-tiba memecah ketegangan di udara.Bersamaan dengan pertanyaan itu, sebuah tangan besar dengan cengkeraman keras melesat cepat, menyentak kasar pergelangan tangan Riko tepat sebelum jari-jari laki-laki itu berhasil menyentuh pundak Abby.Tubuh Riko terhuyung mundur ke belakang.Abby, yang mendengarnya, langsung menoleh ke belakang. Gadis itu bernapas dengan terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat, dan kedua matanya sudah memerah dipenuhi oleh genangan air mata karena panik."Sialan! Lepaskan!" umpat Riko kasar, berusaha menarik tangannya dari cengkeraman pria asing berpakaian kasual namun berpostur tegap di hadapannya. "Aku cuma mau bicara dengannya! Apa urusanmu ikut campur, hah?!"Pria berkacamata tipis itu sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya. Wajahnya sedatar papan, sama sekali tidak terintimidasi oleh bentakan Riko. Alih-alih meladeni emosi Riko, pria itu justru memutar kepalanya, menoleh ke arah

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   112.

    Tanpa menunggu jawaban dari Abby, Valerie langsung berdiri dari kursinya. Wanita itu memutar tubuhnya dan melangkah setengah berlari menuju arah toilet kafe, meninggalkan Abby yang mematung dengan dada yang terasa nyaris meledak.Abby terdiam cukup lama di kursinya. Suasana kafe yang tenang sama sekali tidak mampu meredam riuh rendah peperangan batin di dalam kepalanya.Gadis itu merenung menatap cangkir tehnya. Apa yang sebenarnya harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia berusaha lebih keras lagi, melawan rasa takutnya, untuk mendorong Justin kembali kepada Valerie?Namun, jika ia melakukan itu, bukankah ia sama saja menentang kemauan Justin? Bahkan jika Abby mengesampingkan fakta bahwa hubungannya dengan Justin saat ini terasa begitu salah dan melewati batas, bukankah Justin sendiri yang secara sadar mengatakan bahwa ia memang sudah tidak ingin bersama Valerie lagi?Untuk mengalihkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya, Abby mengambil ponselnya dari atas meja.Namun, tepat

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   111.

    Abby duduk mematung di salah satu kursi kafe yang letaknya tak jauh dari gerbang kampus. Jari-jarinya bertaut erat di atas pangkuan, sementara matanya sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan perasaan gelisah yang tak kunjung reda.Ia sama sekali tidak tega jika harus menolak Valerie untuk bertemu. Bagaimanapun juga, Valerie sudah sangat membantunya. Luka memar di sudut bibir primadona kampus itu adalah bukti nyata bagaimana Valerie merelakan dirinya sendiri demi melindungi Abby. Rasa hutang budi dan rasa bersalah itulah yang akhirnya membuat Abby nekat melanggar perintah tak kasat mata dari Justin siang hari ini.Saat Abby menunduk dan berpura-pura memainkan layar ponselnya untuk mengusir rasa gugup, denting lonceng di atas pintu kafe berbunyi pelan.Abby mendongak dengan cepat. Sosok anggun Valerie melangkah masuk, langsung menangkap keberadaan Abby di sudut ruangan, dan berjalan menghampiri mejanya dengan sebuah senyuman yang teramat lembut."Makasih ya, By. Makasih banyak kamu

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   110.

    Abby terus diam, menunggu Justin memberikan jawaban, namun bahkan walau beberapa menit sudah berlalu, Justin tetap tidak menjawab.Pria di belakangnya itu tetap bungkam. Tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari bibirnya untuk menenangkan kegelisahan gadis itu. Detak jantung Abby yang semula berpacu penuh harap, perlahan-lahan berubah. Hawa hangat di dadanya seketika runtuh, berjatuhan menjadi kepingan-kepingan kekecewaan yang sangat dalam dan menyakitkan.Air mata hangat menetes diam-diam dari sudut mata Abby, membasahi kain bantal di bawah pipinya. Keheningan Justin adalah jawaban yang paling lantang baginya.Bagi Justin, ia mungkin memang tidak lebih dari sekadar sebuah barang yang ia miliki.=Justin duduk bersandar di kursi sudut ruang klub basket. Sepasang mata kelam pria itu menatap tajam ke arah layar ponsel di tangannya, membaca berulang kali deretan informasi yang sebelumnya dikirimkan oleh Nathan.Otak Justin berputar keras. Asrama perem

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   109.

    Mendengar suara bariton yang berat itu memecah kegelapan, Abby terperanjat hebat. Jantungnya seakan melompat langsung ke kerongkongan. Dengan gerakan panik dan salah tingkah, gadis itu langsung menarik kembali jemarinya yang sempat menggantung di udara.Ia buru-buru membalikkan tubuhnya membelakangi Justin, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah panas, lalu menarik selimut abu-abu itu hingga menutupi lehernya."A-aku memang mau tidur kok, Kak!" cicit Abby dengan suara bergetar.Belum sempat Abby menetralkan detak jantungnya, sisi kasur di belakangnya terasa sedikit melesak. Kehangatan yang melimpah seketika merayap mendekat. Tiba-tiba, sebuah lengan kekar yang kokoh terulur melingkari pinggang Abby, menarik tubuh mungil itu tanpa ampun hingga punggungnya menempel rapat pada dada bidang Justin."Kau sama sekali tidak terlihat seperti orang yang mau tidur tadi, Abigail," bisik Justin tepat di belakang telinga gadis itu. Hawa panas dari napas pria itu menyapu kulit leher Abby, memi

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   108.

    Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status