หน้าหลัก / Fantasi / Kakak Kelas dari Mimpiku / Bab 13. Siapa yang Melukis Tempat Ini?

แชร์

Bab 13. Siapa yang Melukis Tempat Ini?

ผู้เขียน: Asri Lestari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-27 21:34:44
Dengan ragu, Sandy menarik kursi dari meja besar dan duduk di depan Natha.

“Mau nanya apa, Kak? Kok serius amat. Jadi deg-degan nih,” tanya Sandy sambil tersenyum canggung, berusaha mengurangi debar di dadanya.

Natha melepaskan jemarinya dari atas keyboard. Dia bersedekap, menyandarkan punggungnya, dan menatap Sandy dengan tatapan serius.

“Siapa yang mengantarkan kolak itu?” tanya Natha tanpa basa-basi. “Mama tidak cerita apa-apa soal mengirim makanan ke rumahmu.”

Sandy mengerjapkan mata, ag
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Kak Natha Cepat Banget!

    “Bagus banget pemandangannya,” gumam Sandy.Aurel yang berdiri di sampingnya ikut memandang sekeliling. “Aku bahkan sudah punya beberapa ide buat gambar nanti.”“Jangan mikirin gambar dulu. Kita bahkan belum mendirikan tenda,” kata Tika dengan raut serius.“Santai, Tik. Relaks! Nikmati suasana,” ujar Melisa sambil memijat bahu Tika.“Terusin, Mel. Pegel banget nih bahu habis bawa ransel berat.”“Yeee… Malah kenakan!” Melisa memukul pelan bahu Tika lalu kembali bersandar di truk.Sandy dan Aurel terkekeh melihat tingkah Melisa dan Tika. Sementara Keira hanya tersenyum sambil duduk di atas ranselnya.“Masih mual, Kei?” tanya Sandy. Saat Melisa, Tika dan Aurel melihat-lihat sekitar.“Udah enggak, tapi kepalaku masih pusing,” jawab Keira dengan suara yang masih sedikit bergetar. “Malu banget aku, San!”“Gara-gara muntah kena Kak Raka?”“Apalagi!”Sandy belum sempat menanggapi saat mereka melihat Raka berjalan mendekat.“Gimana kondisimu, Kei? Sebentar lagi upacara pembukaan dimulai. Kamu

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 29. Aduh, Keira Muntah!

    Pagi-pagi sekali, halaman sekolah sudah dipenuhi peserta diklat ekstrakurikuler seni rupa. Sebagian berdiri bergerombol sambil mengobrol, sementara yang lain sibuk memeriksa tas dan perlengkapan yang mereka bawa.Sandy turun dari mobil setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ia merapikan tali ransel di bahunya, kemudian menoleh kepada Kanigara yang masih duduk di balik kemudi.“Jaga diri baik-baik, ya.”“Iya, Ma. Tenang aja. Sandy bakal hati-hati.”“Kalau ada apa-apa, langsung kabari Mama.”“Iya.” Sandy tersenyum, lalu melambaikan tangan ketika mobil ibunya mulai meninggalkan halaman sekolah.Setelah mobil mamanya semakin menjauh, Sandy mengalihkan perhatian kepada kerumunan peserta. Ia mencari anggota kelompoknya. Di depan ruang kesehatan, Sandy melihat Aurel, Tika, dan Melisa sedang duduk di tangga.“Keira belum datang?” tanya Sandy setelah menghampiri mereka.“Belum. Sepertinya masih di jalan. Tadi dia bilang di grup kalau meluncur ke sekolah,” jawab Aurel.Sandy melet

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 28. Nggak Sabar Nunggu Besok

    Jumat sore menjelang malam, kamar Sandy tampak lebih berantakan dari biasanya. Beberapa potong pakaian tergeletak di atas tempat tidur, berdampingan dengan jaket tebal, perlengkapan mandi, dan tas ransel berukuran besar yang akan dibawanya ke Coban Rondo. Sandy duduk bersila di tengah tempat tidur sambil memeriksa daftar perlengkapan yang telah dibuat bersama anggota Kelompok Empat. Sesekali, dia mencoret barang yang sudah dikumpulkan, lalu kembali membaca daftar tersebut untuk memastikan tidak ada yang terlewat. “Semua barang di daftar sudah aku kumpulkan di atas kasur, tapi kok rasanya masih ada yang kurang?” gumam Sandy sambil memutar-mutar pulpen di tangannya. “Apa lagi, ya?” Dia memiringkan kepala, mencoba mengingat barang apa yang mungkin perlu dibawa meski tidak tercantum dalam daftar. Tiba-tiba, Sandy menepuk dahinya sendiri. “Buku sketsa harianku! Siapa tahu tiba-tiba aku ingin menggambar sesuatu. Aku tidak mungkin menggambarnya di buku sketsa khusus ekskul.” Sandy

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 27. Cokelat dari Kak Natha

    Senin pagi, Sandy kembali menjalani aktivitas sekolah seperti biasa. Kakinya sudah pulih setelah beberapa hari beristirahat. Dia bahkan tidak lagi merasakan nyeri ketika berjalan menaiki tangga menuju kelas. “Tumben, hari ini kamu datang duluan,” ujar Bianca ketika melihat Sandy sedang merapikan buku di atas meja. Sandy menoleh. “Mama ada urusan pagi-pagi sekali. Jadi, sekalian nganter aku ke sekolah.” “Oh, gitu. Berarti kamu nggak bangun kesiangan. Biasanya sudah dibangunin juga tetap molor lagi.” Bianca tertawa mengingat kebiasaan Sandy yang suka datang mepet jam masuk sekolah. “Enak aja.” Sandy ikut tertawa. “Ngomong-ngomong, akhir pekan kemarin Kak Natha terus-terusan chat dan telepon aku.” Bianca yang baru saja duduk di bangkunya langsung menoleh. “Ngapain?” “Ya, nanyain kabar. Mastiin keadaanku baik-baik aja.” Kedua alis Bianca terangkat. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya. “Kak Natha emang perhatian banget, ya.” “Aku juga heran. Kenapa tiba-tiba begitu perhati

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 26. Mama Tahu Sesuatu?

    Angin sore yang berembus cukup kencang membuat air di kolam renang bergelombang, memantulkan bayangan pepohonan yang kian menggelap seiring matahari yang makin tenggelam. “Pindah ke dalam yuk, San. Dingin nih,” ajak Bianca. Sandy mengangguk, lalu mencoba berdiri sendiri. “Sini aku bantuin. Jangan dipaksa gerak sendiri dulu. Nanti makin sakit lho,” protes Bianca. Sandy tertawa. “Iya, iya… Kebiasaan aja, sih. Jadi lupa.” Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. “Kita nonton film aja yuk. Besok kan nggak ada PR. Jadi santai…” ajak Bianca. “Boleh. Kamu aja yang pilih filmnya. Yang romantis ya.” Bianca segera menyalakan televisi layar datar berukuran 85 inci di hadapan mereka, membuka salah satu layanan streaming berlogo huruf merah, dan memilih salah satu film romantis yang ada di sana. Belum sepuluh menit mereka menonton, ponsel Sandy berbunyi. Sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Natha. Sandy sudah menyimpan nomor itu sejak Natha

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 25. Jangan-Jangan Kita Dimata-Matai!

    Mobil sedan putih itu akhirnya berhenti di depan rumah Bianca. Setelah mematikan mesin, Natha segera turun dan membantu Sandy keluar dengan hati-hati. Bianca menyusul dari pintu belakang. Satpam membukakan gerbang, lalu mereka bertiga masuk ke halaman depan. Natha berjalan di samping Sandy, memastikan langkahnya tetap hati-hati sampai mereka tiba di teras rumah. “Makasih, Kak,” ucap Sandy. “Sama-sama. Kakimu jangan terlalu banyak bergerak dulu, ya. Semoga besok pagi sudah membaik.” Sandy mengangguk. “Iya, Kak.” “Nggak masuk dulu, Kak?” ucap Bianca sambil merapikan tasnya. “Lain kali aja. Nitip Sandy, ya.” “Cie…” Lagi-lagi Bianca menggoda Natha. “Tenang aja pasti dijagain kok.” Sandy langsung mencubit kecil lengan Bianca. “Awww! Sakit, Sandy!” protes Bianca. “Kamu sih bercanda mulu.” Natha hanya tersenyum melihat kelakuan adik-adik kelasnya itu. “Ya udah, aku pulang dulu,” pamit Natha. “Hati-hati di jalan, Kak,” jawab Sandy sambil melambaikan tangan. Natha ik

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 7. Kak Natha Nyebelin Banget!

    Hari Jumat menjadi hari yang paling dinanti oleh seluruh murid baru, termasuk Sandy. Hari terakhir MPLS ini berjalan cukup padat sekaligus melelahkan. Sejak pagi, lapangan sekolah sudah diguncang oleh sorakan yel-yel dari tiap gugus yang tampil habis-habisan demi menjadi pemenang.Puncaknya adalah

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 6. Tunggu, Kok Jaketnya Sama?

    Sepanjang perjalanan pulang, Sandy lebih banyak diam menatap keluar jendela mobil. Tangannya tidak lepas dari jaket milik Natha yang kini ada di pangkuannya. Pikirannya berputar pada semua yang sudah dia lalui hari ini. Mulai dari kejadian dijemput paksa ke ruang OSIS, obrolan berdua dengan Natha,

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 5. Hukumannya Kok Malah Gini?

    Sesuai instruksi Natha tadi siang, begitu bel pulang sekolah berbunyi, Sandy terpaksa menyeret kakinya menuju ruang OSIS. Sepanjang jalan, dia komat-kamit berdoa agar sang Ketua OSIS tidak ada di sana. Cukup Alya saja yang dia hadapi.​Namun, begitu pintu kayu itu terdorong terbuka, harapan Sandy

  • Kakak Kelas dari Mimpiku   Bab 4. Tolong… Aku Diculik!

    Sandy pikir keputusannya untuk kabur kemarin sore sudah benar. Namun, dia meremehkan kegigihan seorang Natha.Menyadari suratnya diabaikan, Ketua OSIS itu memilih mengambil tindakan yang lebih agresif.​Pada hari ketiga MPLS, saat jam istirahat baru saja dimulai, ketenangan Sandy kembali terusik.S

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status