Masuk"Kau yakin?" Wandra bertanya, meskipun dia sudah bisa merasakan kebenaran dalam reaksi Mayang yang begitu spontan."Aku sangat yakin!" Mayang berkata dengan suara yang penuh harapan yang tiba-tiba muncul di tengah ketakutannya. "Dengan menara ini, aku bisa bersembunyi tanpa takut Sang Penguasa akan menemukanku! Dia tidak akan bisa membawaku keluar dari sana!"Wandra memandang menara kecil di tangannya dengan perasaan campur aduk. Selama ini dia menyimpan benda ini tanpa tahu fungsinya, mencurigai bahwa itu adalah sesuatu yang berharga tapi tidak pernah bisa mengaktifkannya. Dan sekarang, di saat yang paling genting, benda itu ternyata adalah kunci untuk menyelamatkan Mayang."Kalau begitu, segera masuk," Wandra berkata dengan tegas, matanya melirik ke arah langit di mana sebuah sosok besar mulai terlihat jelas di antara awan gelap yang bergulung, seekor burung raksasa dengan bulu yang berkilau seperti logam, kilatan-kilatan listrik menari di sekeliling tubuhnya. "Biar aku yang menghad
Mereka berdua tidak membuang waktu lagi. Wandra mempelajari peta itu dengan seksama, menghitung arah dan jarak yang harus mereka tempuh menuju Benua Naga Hitam, sebuah wilayah yang menurut peta itu terletak jauh di sebelah timur, melewati lautan yang luas dan beberapa pulau terpencil yang jarang dijelajahi.Perjalanan mereka dimulai dengan penuh semangat. Wandra dan Mayang bergerak bersama, kadang berjalan kaki melintasi hutan dan pegunungan, kadang menggunakan kapal-kapal kecil untuk menyeberangi selat-selat sempit, mengikuti setiap petunjuk yang tertera di peta kuno itu.Di sepanjang perjalanan, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mereka berdua bisa menikmati momen kebersamaan tanpa ancaman langsung yang mengintai. Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan-jalan setapak di hutan, tertawa bersama saat mengingat kenangan-kenangan lama yang perlahan mulai bangkit kembali di ingatan Mayang, meskipun masih terputus-putus dan tidak lengkap.Mereka duduk di tepi s
Tapi Mayang menggelengkan kepalanya dengan wajah yang penuh kesedihan. "Kau tidak mengerti, Wandra. Ini bukan soal kekuatanmu."Mayang menarik napas dalam, matanya menerawang jauh, seolah mengingat kembali kejadian-kejadian menyakitkan yang sudah dia alami berkali-kali. "Setiap kali Sang Penguasa datang, dia selalu berhasil membangkitkan kekuatan terkuat yang tersembunyi di dalam diriku. Kekuatan yang bahkan aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti atau bisa kendalikan."Suara Mayang mulai bergetar. "Dan setiap kali itu terjadi, aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Sang Penguasa mengambil alih jiwaku, menggunakan tubuhku, menggunakan kekuatanku, untuk tujuannya sendiri. Dan seperti yang sudah terjadi berkali-kali sebelumnya, aku akan dipaksa untuk bertarung melawanmu, Wandra. Aku akan melukaimu."Air mata mulai mengalir lagi di pipi Mayang. "Aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku tidak mau melukaimu lagi, Wandra. Aku masih ingat, meskipun samar, tentang luka-luka yang pernah aku beri
Sementara itu, Mayang di sisi lain ruangan sudah berhasil mengalahkan Pelindung Hukum yang tersisa, dan sekarang dia berdiri sendirian di antara puing-puing pertarungan, matanya memandang Wandra yang sedang menghajar Rajasa Victory dengan intensitas yang tidak pernah dia saksikan sebelumnya.Rajasa Victory, yang sudah babak belur dan hampir kehilangan seluruh kekuatannya, dengan gerakan yang putus asa merogoh sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah bola batu kecil berwarna hitam.“Kau berpikir kau sudah menang, heh?” Rajasa Victory berteriak dengan darah yang mengalir dari mulutnya. “Aku akan menghancurkan bola ini! Dan begitu aku menghancurkannya, seseorang dari jauh, seseorang yang sangat tangguh, akan segera datang! Orang yang pernah menguasai Mayang Terurai! Kekuatannya sangat hebat, dan kau tidak akan mampu mengatasinya!”Rajasa Victory menghancurkan bola batu itu di tangannya, gelombang energi hitam menyebar dari pecahannya, melesat ke langit dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat
Pukulan demi pukulan terus menghantam tubuh Wandra. Rajasa Victory dan keempat Pelindung Istana terus menyerangnya tanpa henti, tidak memahami mengapa pemuda yang tadi bertarung dengan begitu tangguh kini membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk.Pao Pao berdiri terpaku di seberang ruangan, matanya bergerak antara Wandra yang terus dipukuli dan Mayang yang berdiri kebingungan. Dia sudah menyaksikan kekuatan Wandra sebelumnya, tahu bahwa pemuda itu sanggup melawan balik kapan saja dia mau. Tapi entah mengapa, insting Pao Pao mengatakan bahwa ini bukan saatnya untuk ikut campur. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam sedang terjadi, sesuatu yang tidak seharusnya dia ganggu.Handoko yang masih terluka di lantai juga hanya bisa memandang dengan bingung, tidak mengerti mengapa pemuda yang baru saja menyelamatkan mereka kini seperti menyerahkan dirinya untuk dipukuli tanpa usaha lebih untuk melawan. Apakah Rajasa terlalu kuat bagi Wandra?Mayang berdiri dengan tangan yang gemetar, matanya tidak
Wandra melancarkan pukulan demi pukulan ke arah kultivator alam manusia roh itu dengan kecepatan dan kekuatan yang tidak memberikan ruang untuk bernapas. Setiap gerakannya presisi, mematikan, jauh melampaui apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh seseorang yang terlihat baru berumur delapan belas tahun.Kultivator itu, yang tadi begitu percaya diri menghadapi Mayang, kini benar-benar terdesak. Dia mencoba bertahan, mencoba melawan, tapi setiap serangan Wandra menembus pertahanannya seperti pisau yang menembus mentega. Dalam hitungan detik, sebuah pukulan telak Wandra mendarat di dadanya, membuat pria itu terlempar ke belakang dan jatuh berlutut dengan darah yang mengucur deras dari mulut dan hidungnya.Tapi sebelum Wandra sempat menyelesaikan pertarungan itu, sebuah gemuruh besar menggetarkan seluruh ruangan bawah tanah. Dinding di sisi lain runtuh, mengungkap sebuah lorong tersembunyi, dan dari sana muncul lima sosok dengan aura yang jauh lebih mengerikan dari siapa pun yang sudah ha
Caroline menatap liontin di leher Wandra dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dan terlatih dalam ilmu kedokteran modern, dia tidak percaya dengan hal-hal mistis atau supernatural. Pasti ada penjelasan ilmiah di balik semua ini. Mungkin lukanya tidak sedalam yang
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik







