LOGINDengan langkah tergesa, gadis itu keluar dari gedung kampus menuju parkiran. Matanya mengedar mencari seorang wanita berambut sebahu.
"Mana sih tuh anak?" Gumam Sila sembari matanya menyipit sebab beradu dengan raja siang. "Woy!" Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Sila segera berbalik dan tersenyum lebar. Kedua tangannya menghambur merengkuh gadis itu, "Miaa!! Sumpah, lo banyak berubah!" Netra Mia tak kalah antusiasnya, "gue kangen banget sama lo!" Mia menyugar poninya, "lagian sok artis banget sih pake ngilang segala." Sila mengendikkan bahu, "bilang aja kalau lo nyariin gue." "Yaiyalah," sewot Mia, "Mana pindah ga ngabarin lagi." Mia, dia adalah gadis seumuran Sila yang sempat menjadi sahabatnya dulu. Karena Mia pernah mengikuti kelas Akselerasi, jadilah tingkat kelas gadis itu setahun diatas Sila. Mia dan Sila bertemu saat acara pernikahan kakak Rio, mereka menjadi dekat saat Sila ikut ke Dufan bersama Rio dan para sepupunya. Ya, Mia adalah satu-satunya sepupu cewek Rio yang sangat akrab dengan Sila. "Gimana karir lo? Denger-denger udah punya bisnis sendiri," Ujarnya setelah masuk kedalam mobil Mia. Mia menyalakan mesin, "Masih merintis, baru juga setahun." Jawabnya, "kemana nih kita? Gue pengen sushi." Mobil melaju sesuai intruksi Sila. Banyak yang ingin mereka bicarakan, tiga tahun adalah waktu terpisah yang sangat panjang bagi mereka. * * * "Jadi gimana? Udah dapet pengganti Rio?" Tembak Mia. Urung melahap Sushi, gadis itu merotasi matanya malas, "Umur gue terlalu berharga buat bahas cinta-cintaan." Mia tertawa lepas, "Sejak kapan si barbar jadi bijak, hah? Asli bukan lo banget." Sila mengendikkan bahu, "Namanya juga hidup, makin dewasa makin berubah." "Bener," Mia mengangguk, "Tapi lo masih belum dewasa, Sil. Buktinya lo lari dari masalah." Sila berpikir sejenak, "Bukan lari dari masalah. Tapi gue mencari ketenangan." "Terus? Kenapa ga mau balik Jakarta?" Mia tau info ini dari Brandon. Lelaki itu memohon pada Mia untuk membujuk Sila agar kembali ke ibu kota. Mia mencium bau-bau cowok jatuh cinta tapi ga kuat LDR. "Karena gue nyaman disini." "No," sahut Mia, "Lo akan keinget semua masa lalu kalau balik Jakarta." Sila bungkam membenarkan ucapan Mia. "Dengan tetap di Surabaya itu artinya lo tetap lari dari kenyataan," Mia mulai ceramah, "Gue denger lo juga gapernah pulang ke Jakarta? Why?" Sila menghembuskan nafas, "Mi, ini ga se simple yang lo tau." "Tapi juga ga seribet yang lo pikir." Mia meletakkan sumpitnya, "Singkatnya, karena lo ga mau keinget sama semua kenangan pahit. Lo terpaksa pindah ke luar kota. Dan saat disini lo memutus hubungan dengan siapapun yang dekat dengan Rio untuk bisa move on. Namun nyatanya, lo ga akan pernah bisa move on kalau terus lari dari kenyataan, karena saat lo lihat dia lagi, semua kenangan itu akan ada." "It's not easy," Wajah Sila menyendu, "Lo tau se buruk apa berakhirnya hubungan gue sama Rio. Bahkan ga cuma ngelibatin kita berdua tapi semua keluarga Mahendra. Lo ga tau se malu apa gue saat itu. Dan di waktu yang sama keluarga gue harus nerima imbas dari hubungan gue sama Rio." Sila mencoba menjelaskan, "Yang nanggung malu bukan cuma gue, tapi keluarga gue." "Dan setelah semua itu terjadi, lo kira gue masih punya muka buat ketemu mereka lagi? Enggak, Mi!" Lanjutnya. Mia menipiskan bibir, "Gue tau ini sulit. Rio juga bedebah banget biarin semuanya berakhir kayak gini," omel Mia, "Tapi lo ga sepenuhnya salah, Sil. Benda yang rusak kalau dibenahi akan kembali normal, tapi kalau lo biarin, benda itu akan semakin rusak dan ga akan bisa lo gunain lagi." Sila mengulum bibir sembari mengaduk minuman. "Coba sesekali lo balik Jakarta, lurusin hubungan sama orang tua. Coba sering-sering ke tempat yang dulu pernah jadi momen manis lo sama Rio. Jelajahi kembali semua masa lalu lo itu. Gue yakin, awalnya bakalan keinget terus, tapi lama kelamaan semua itu akan jadi biasa. Dan dengan sendirinya lo bakal lupa sama kenangan kalian." Masih diam mendengarkan, gadis itu menatap Mia seribu arti. "Gue ga maksa, just do what you want. Tapi gue cuma pengen lihat Sila yang bebas, Sila yang tanpa beban, gue kangen sama Sila yang dulu, yang hidup dibawah tekanan tapi ga pernah merasa tertekan," Mia menyapu lembut tangan Sila di meja, "Dulu lo sekuat itu, Sil. Jangan rapuh cuma karena cinta." "Banyak yang pengin lo kembali, terutama gue dan Brandon." * * * Malam semakin gelap, bahkan Mia sudah masuk kedalam alam mimpinya sejak sejam yang lalu. Namun Sila masih sibuk menatap atap kamar kosan ditemani dengkuran halus Mia. "Jelajahi kembali semua masa lalu lo itu." Entah kenapa ucapan itu terus terngiang di telinga Sila. Mungkin Mia ada benarnya, jika Sila terus lari dan bersembunyi Ia tak akan pernah menemukan zona nyaman. Sila meraih ponselnya, melihat semua arsip di I*******m miliknya. Ibu jarinya menggulir pada foto tiga tahun lalu. Disana ada Sila yang tertawa bersama Rio yang merengkuhnya. Ada juga foto saat Sila, Rio, Keynan, Mia dan Brandon sedang makan bersama. Belum lagi beberapa video yang menunjukkan kebersamaan mereka. Semua diwarnai tawa lepas tanpa beban. Sila hampir lupa, kapan terakhir kali Ia bisa tertawa se bahagia itu. Akhir-akhir ini hidupnya hanya diisi dengan kuliah dan dagang. Tidak ada hal menarik lainnya, setiap hari selalu monoton. Berbeda dengan mahasiswa lain yang memilih menikmati masa mudanya, Sila justru sibuk berkutat dengan kesendirian. Sila membuka salah satu video yang pernah Ia repost dari instastory Mia. "Kita lagi di resto steak daerah Kemang nih, guys," Mia mengangkat ponselnya menunjukkan semua yang berada disisinya, "Say hi dong Keynan. Nah kalau yang ini dua pasangan terbucin taun ini, Sila dan Rio." Kamera menyorot pada Sila yang memotong steak dan Rio yang mendekatkan jarak mereka, "Gue doang yang bucin, Sila enggak." Ucapan yang dilontarkan Rio mengundang gelak tawa seisi meja. Melihat itu Sila ikut terkekeh. Jarinya masih terus mencari kenangan mereka. Hati Sila berdesir hangat, bagaimanapun masa lalu adalah bagian dari hidup yang tak bisa di hilangkan. Ibarat bayangan, semakin kencang kita berlari, semakin gencar Ia mengejar. Kecuali jika kita pergi ke tempat gelap. Bayangan itu memang hilang, namun kita kehilangan arah sebab tak ada cahaya untuk berjalan. Hidup adalah pilihan; bersemayam dalam kegelapan, atau memilih tempat yang cerah tapi jangan pernah menoleh kebelakang. Tiba-tiba kedua lengan Mia melingkari pinggang Sila membuat gadis itu berjengit, "Lo kalo tidur banyak tingkah ya! Udah bagus juga lo nyewa hotel, ngapain pake nginep di kosan gue! Mana sempit lagi kasurnya." Sila keluar dari kamar, berniat mengambil kasur tipis yang disediakan di salah satu bilik dalam kosan. Setelah mendapatkan kasur itu Sila melangkah kembali ke kamar namun Ia urungkan saat ternggorokannya terasa kering. "Udah tengah malem masih aja nyemil," Ujar Sila pada Puspita yang sibuk mengunyah roti dengan selai kacang. "Maklum lagi skripsi, suka laper tengah malem gegara kebanyakan mikir," Kekeh gadis itu. Sila menuangkan air lalu duduk di depan Puspita. "Cowok yang minggu kemarin nyariin kamu jadi nyamperin ke cafe rainbow kan? Aku mau nanya lupa terus," Puspita kembali menggigit roti. "Brandon maksud lo?" Sila menaikkan sebelah alisnya, "lagian lo lupa sama Brandon? Kenapa pas gue tanyain namanya, lo malah bilang gatau." Brandon memang sering mengunjungi Sila di kosan, cowok itu juga sudah dikenali para penghuni kos ini. "Brandon?" Alis Puspita tertaut, "Dia bukan Brandon, kalau Brandon mah aku inget." "Yang nyamperin gue ke cafe rainbow itu Brandon." "Tapi yang datang ke kosan bukan Brandon, Sil. Aku yakin." Kekeuh Puspita. Sila mengangguk santai, "Anak kampus?" "Bukan. Dia cowok tapi lebih tua dari aku. Badannya juga bagus banget. Dia bukan mahasiswa kampus sih kayaknya." "Lha terus siapa? Ga ada orang lain yang nyamperin gue," Sila mulai was-was, "Emang lo bilang gue dimana?" "Aku bilang, kamu di cafe rainbow. Cafe rainbow itu depan gedung kedokteran sebelum lampu merah," Ucap Puspita, "Aku kasih clue begitu ke dia, masa ga nyampek sih?" Sila tersenyum paksa, "Lo pinter banget sih, Pus. Sejak kapan cafe rainbow depan gedung kedokteran? Lagian rainbow itu julukan dari anak kampus, nama cafenya itu cafe Hexaxty. Mau nyari di maps 'cafe rainbow ' juga gabakalan dapet. Dan sejak kapan depan gedung kedokteran ada lampu merah?" Puspita mengerjap, "Jadi aku salah kasih clue ya?" "Enggak kok, Lo bener. Beneeeer bagettt," Nih anak kapan pinternya. Bibir kecilnya mengerucut, "Nyindir kan?! Tapi aku masih inget kok ciri orangnya." "Coba jelasin," Sila ga yakin Puspita benar. "Dia tinggi, ganteng, matanya warna coklat, rambutnya keriting warna coklat juga, kulitnya lebih gelap sedikit daripada Brandon, badannya keren banget," Puspita berusaha menjelaskan yang dia ingat, "Mungkin seumuran sama Brandon, karena dari gaya pakaiannya mirip Brandon, kayak orang kantor gitu." Sila cemas, "l-lo serius?" Puspita mengangguk mantap. "Yakin ga salah lagi?" "Yakin." Sila menopang kepalanya, deskripsinya mirip Rio. Apa mungkin cowok itu Rio? Tapi ngapain dia kesini? Sila tersentak, lantas menertawakan dirinya sendiri, "Ngarep banget ya kalau itu Rio? Laki orang, Sil. Nyebut!" Batinnya.Disini Brandon sama Keynan favorit banget. ........... Sepanjang perjalanan, Sila terus menggigit jari. Ia tidak tau akan berakhir seperti ini. Sila merasa kalau Auris hanyalah seorang ibu yang ingin memiliki sedikit waktu dengan anaknya. Itu saja. Bahkan tidak pernah terlintas resiko apapun dalam pikirannya. "Hotel Friston deket tol nggak sih?" Tanya Mia. Keynan memutar kemudi, "Kita cari jalan lain. Bakalan macet kalau lewat jalan biasa." Daman menoleh menatap Sila disampingnya, "Santai, Rio cucunya ultraman, pasti bisa selamatin Railey." Brandon yang duduk di depan menoleh, "Gak papa, Sil. Lo nggak tau. Gak perlu panik." Keynan mengendus, merasa telah menyudutkan Sila tadi, "Sorry, Sil." Sila menggeleng, bahkan dia tidak marah sama sekali pada Keynan, "Gue cuma takut mereka kenapa napa." "Udah dibilangin cucunya ultramen, jangan khawatir. Rio juga punya jurusnya Luffy dari anime One Piece." "Bentar lagi nyampe," celetuk Mia. Brandon mengambil ponselnya mene
"Sayang, cepet. Keburu siang." Rio duduk di kasur menunggu Sila keluar dari kamar mandi. Pagi ini mereka ada rencana untuk pergi piknik bersama. "Iya bentar." Rio melirik arloji, pandangannya teralih saat Railey muncul dari balik pintu. "Papa, jadi pergi kan?" Gadis itu menutup pintu. Rio mengendikkan dagu ke arah kamar mandi, "Mama kamu lama banget." Railey terkekeh, "Pa." "Iya sayang," Rio memainkan rambut anak gadisnya. "Railey seneng banget punya Papa sama Mama yang sayang sama Railey," mata polosnya menatap Rio, "Jangan pernah ninggalin Railey." Rio tersenyum dan merengkuh ayahnya, "Dimana ada papa, disitu ada Railey." Railey mengeratkan pelukan mereka, "Boleh tanya sesuatu?" "Boleh." "Kenapa dia nggak sayang sama Railey? Padahal Railey sayang banget sama dia." Rio mengernyit bingung, "Siapa?" "Mama Auris." Rio mengecup puncak kepapa Railey, "Masih banyak orang yang sayang sama kamu. Kalau satu doang nggak sayang nggak jadi masalah." TingTong! Su
Semenjak menjadi istri Rio, Sila memilih resign dari pekerjaannya. Menghabiskan waktu dirumah bersama Railey dan mengurus rumah tangga. Sila tidak sendiri, ada Bi Asih dan beberapa karyawan yang Rio pekerjakan di rumah ini, tapi untuk mendidik Railey dan menemani Rio, itu seluruhnya tanggung jawab Sila. Rio tidak pernah memaksanya, Sila di bebaskan memilih apa pun yang Sila suka. Mau bekerja ataupun dirumah bagi Rio sama saja yang penting Sila bahagia. Dan gadis itu memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, artinya sebentar lagi Railey pulang dari sekolah. Sila menyiapkan makan siang milik gadis cantik itu, tak lupa dengan baju rumahnya dan perlengkapan mandi. Karena Railey tiap pulang sekolah pasti minta mandi. "Railey pulaaang," Sila yang tengah meletakkan sendok di meja menoleh menatap gadis kecil yang datang memeluknya, "Tadi Railey dapat nilai A. Kata Miss Bianca Railey pinter." "Oh iyaa?" Sila antusias, menundu
Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tiga bulan yang direncanakan akhirnya terlaksana.Malam ini acara resepsi di gelar dengan tema Garden night wedding seperti keinginan Sila. Sejak dulu Ia menginginkan resepsi pernikahan yang di gelar malam hari di taman dengan kolam dan di lengkapi dengan lampu kuning yang romantis, dan Rio mengabulkannya.Mia dengan lipstick di tangannya celingukan mencari Railey, "Mana tuh bocah?""Siapa?" Sahut Brandon di depannya."Railey," ujar Mia, "Tadi katanya minta di pakein lipstick.""Udah pake lipsctik perasaan," celetuk Daman.Mia berdecak, "Tadi gara-gara dia makan es krim jadi abis lipstick nya.""Namanya juga anak-anak," sahut Keynan tenang.Para Bridesmaids dan Groomsmen duduk di satu meja khusus yang telah di sediakan."Tuh anak dititipin ke lo tadi, awas ilang. Bapaknya marah ntar," kata Abraham dengan gelas di tangannya."Ngerepotin banget bocah," Mia panik lalu melihat ke arah altar, "Mana bapaknya senyum-senyum lagi. Bahagia banget kayaknya.""
Bicara soal love language. Rio adalah si paling receiving gift. Cowok itu tidak pernah pelit memberikan apa yang pasangannya mau. Berapapun harganya jika membuat pacarnya bahagia, pasti di tebus.Contohnya seperti malam ini.Rio merogoh uang yang tidak sedikit untuk ukuran pesta ulang tahun yang hanya di hadiri keluarga dan teman dekat saja. Bahkan, cowok itu tidak mengundang kolega bisnisnya sama sekali.Malam ini, Rio ingin privasi. Hanya diririnya, keluarganya dan Sila."Sil." Rio menepuk pelan lengan Sila, "Bangun yuk, udah nyampe."Sila mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya, "Aku tidur lama banget?""Tiga jam."Gadis itu menegak, "Serius tiga jam? Jam berapa sekarang?""Jam dua belas."Sila mengamati sekeliling, "Kok disini?""Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat," Rio mengeluarkan kain hitam, "Tapi matanya aku tutup dul
Serius nanya.Kalian penasaran sama kisah siapa? Keynan- Mia kah? Atau Brandon- Queena?Ataaaau, pengen tau cerita SMK nya Railey?................Tanggal yang dinanti tiba. Ulang tahun Sila kali ini dibuat sangat mewah. Tujuannya agar Sila bahagia, tapi malah buat Mia, Daman dan Keynan kesiksa.Pagi-pagi buta, mereka udah dipaksa bangun sama Rio dan langsung ke restoran tempat nanti malam acara akan di adakan."Acaranya tengah malem ngapain kesini sekarang bego?" Mia baru aja tidur tiga jam lalu, pantes kalau dia marah."Ya kalian pantau kerja EO nya Celine gimana. Gue takut ada yang kurang pas."Mia Jambak rambut."Tiduran situ kalau masih ngantuk." Keynan menunjuk sofa yang ada di ujung."Resto udah gue booking sampe besok." Lanjut Rio."Sekalian lo kasih kita sarapan kan ini?" Daman laper banget. Dari tadi perutnya b







