LOGINKimmy mendekat tepat di samping Arsel. Wajahnya terlihat cemas dan khawatir melihat suaminya yang gundah. Jemarinya yang kecil menyentuh lengan Arsel yang tegang."Ada apa, Bang? Abang, kelihatan resah begitu?" tanya Kimmy pelan dengan suara bergetar. Bukannya menjawab Arsel memejam sejenak. Membuat Kimmy kian gelisah. "Apa Abang lelah? Atau Papa sudah tahu kita di sini?"Arsel tetap bergeming. Ia sengaja mengunci rapat bibirnya, membiarkan keheningan itu menyiksa Kimmy sejenak. Ia ingin melihat sejauh mana wanita ini mengkhawatirkannya, sekaligus ingin meredam gemuruh di dadanya yang ingin meledak setiap kali teringat ucapan Langit. Baru kali ini ia merasakan bagaimana itu cemburu."Bang, jawab. Jangan diam begini, aku takut." Kimmy mulai panik. Arsel akhirnya menoleh. Ia menatap dalam ke manik mata Kimmy. Lantas ia tersenyum, hatinya tidak tega juga. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya ingin melihatmu mengkhawatirkan suamimu saja," jawab Arsel yang tidak mungkin jujur tentang Langit
Hening menjeda. Pak Fardhan menarik napas panjang, berusaha menjaga wibawanya agar tidak runtuh."Ada hal yang bersifat pribadi di keluarga kami, Langit," ujar Pak Fardhan hati-hati. "Satu hal yang membuat Kimmy merasa nggak nyaman dan memilih pergi. Kami pun masih terus mencarinya."Pak Fardhan menutupi peristiwa malam kelam itu dengan rapi. Ia tetap menjadi pelindung bagi Arsel, menutup rapat-rapat aib yang melibatkan anak kandungnya sendiri. Bu Elok pun hanya bisa menunduk, tak berani bicara, terjepit antara rasa sayang pada Kimmy dan rasa takut pada suaminya.Langit memandang Arsel sekilas. Semakin yakin kalau sosok itu pasti yang membuat Kimmy pergi. Sebab Kimmy selalu cerita, merasa tak nyaman karena saudara-saudara tirinya. Sementara yang dipandang, duduk tenang sambil memandang ke luar sana. Meski Arsel sebenarnya sudah merasa panas dingin dan penuh angin ribut di dalam dadanya. "Apapun yang terjadi pada Kimmy, bagaimanapun keadaannya, meski itu terburuk sekalipun saya akan
KAMU YANG KUCINTAI- 48 Aroma Persaingan Perasaan Arsel mulai terusik. Salsa memandangnya sekilas kemudian melangkah mengikuti Mak Karti yang hendak menyuguhkan minum ke depan. Dia juga penasaran dengan sosok Langit yang sanggup melakukan apapun demi seorang Kimmy.Namun Salsa berhenti di balik tembok, pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. Jemari lentiknya menyingkap sedikit gorden yang menjadi pemanis di pintu penghubung itu. Tatapan matanya yang tajam menatap sosok pria asing yang duduk tegak di sofa kulit.Pria itu mengenakan kemeja berwarna maroon yang kontras dengan kulitnya yang bersih. Ada aura ketenangan dan sebuah wibawa dari balik bahunya yang tegap."Jadi dia yang bernama Langit? Ganteng juga," batin Salsa. Nama yang akhir-akhir ini sering disebut oleh papa dan mama tirinya.Arsel melangkah melewati pintu penghubung. Ia tidak perlu mengintip seperti adiknya. Lebih baik bertemu langsung dengan sosok pria istimewa di hati istrinya. Ingat itu rahan
"Kamu pengen jalan-jalan keluar? Sebentar saja. Tengah malam begini tidak akan ada yang mengenali kita.""Nggak usah. Abang, pasti capek mondar-mandir," tolak Kimmy kemudian terdiam sesaat. "Aku sebenarnya kangen pengen lewat depan kampus.""Kalau gitu kita keluar saja sebentar. Jam segini aman, Sayang."Kimmy menggeleng. Ia menghela napas. "Uang kuliahku ternyata sudah dibayar lunas waktu itu, Bang. Entah siapa yang bayar. Mama pun nggak tahu.""Abang yang bayar," sahut Arsel.Kimmy kaget lalu mendongak memandang suaminya. "Abang tahu itu tidak akan menghapus apa yang terjadi malam itu. Abang lakukan apapun untuk menebus kesalahan fatal itu. Meski akhirnya kamu tetap belum bisa lanjut kuliah karena hamil. Kim, kamu sekarang tidak akan kekurangan bersamaku. Abang akan berusaha mencukupi kebutuhan kamu. Kita terima takdir ini." Arsel menatap lekat wajah istrinya. Dan Kimmy mengangguk pelan. Sesore tadi dia merenungi semuanya. Effort Arsel memang tidak main-main untuk melindunginya.Ke
Ketika azan Maghrib berkumandang, Bu Elok heran melihat Arsel sedang berwudhu lalu salat di salah satu ruangan lantai bawah yang difungsikan sebagai mushola. Selama ini bisa dihitung dengan jari melihat Arsel ibadah. Dan sekarang terlihat sudah mulai berubah. Kemudian Bu Elok masuk ke kamarnya sendiri untuk salat.Setengah jam selesai salat Maghrib, tamu-tamu kembali berdatangan. Dan Bu Elok baru bisa masuk kamar setelah jam sembilan malam. Ia melepaskan gamis dan menggantinya dengan gaun tidur. Ini menjadi hari yang sangat melelahkan dan menyedihkan baginya. Karena untuk kali pertama, berhari raya tanpa putrinya.Ia duduk di tepi pembaringan menatap tembok di hadapannya. Sedangkan sang suami masih ngobrol dengan Arsel di bawah."Aku mau ke kamar dulu, Pa," pamitnya tadi.Setiap tahun di hari lebaran, atau bahkan di hari biasanya, ada beban mental yang sebenarnya ia sandang. Bu Elok memang bebas jalan sana jalan sini, bertemu teman-temannya, tapi ada beban yang ia tanggung tiap kali b
KAMU YANG KUCINTAI - 47 Kedatangan Langit "Assalamu'alaikum."Suara salam membuat Arsel mengangkat wajah. "Wa'alaikumsalam," jawabnya sembari bangkit dari duduknya lalu mempersilakan tamunya masuk.Sejenak ia bersipandang dengan Zareen. Kemudian mencium tangan Pak Aaron dan istrinya sambil mengucapkan selamat hari raya dan permintaan maaf. Arsel juga menyalami Zareen. Sambil tersenyum dan meminta maaf. Kemudian mempersilakan mereka duduk.Dari dalam muncul Pak Fardhan diikuti oleh Bu Elok. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Arsel mundur, lalu duduk sofa. Bu Elok mempersilakan tamunya untuk mencicipi kue di atas meja. Kukis-kukis super premium dengan berbagai varian rasa.Mereka berbincang, sedangkan Arsel dan Zareen lebih banyak diam mendengarkan. Momen idul fitri ini mereka tidak membahas tentang hubungan anak-anaknya yang telah kandas. Namun sesekali tatapan Zareen mencuri pandang pada mantan kekasihnya.Bukankah tadi Era bilang, Arsel mengenakan baju koko warna navy. Tapi
KAMU YANG KUCINTAI- 9 Testpack "Kimmy, kamu nggak kuliah pagi ini, Sayang?" tanya Bu Elok lembut, tangannya ragu untuk menyentuh bahu Kimmy yang duduk di dekat jendela kamar sambil memandang taman di luar.Kimmy hanya menggeleng pelan. Matanya tetap terpaku pada dahan pohon mangga yang bergoyang
Di sampingnya, Ettan duduk dengan santai. Tangannya merayap naik, melingkari bahu Salsa dan menariknya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Salsa tidak menolak. Ia justru menyandarkan kepalanya ke bahu Ettan, menghirup aroma parfum cedarwood yang dipakai cowok itu.Papanya tidak tahu kalau S
KAMU YANG KUCINTAI - 27 Siapa Langit?"Papa akan mencari tahu keberadaan cowok itu. Mungkin bisa menjadikan petunjuk untuk menemukan Kimmy. Bisa jadi Kimmy memang sekarang bersamanya. Karena menurut Mama, mereka sangat dekat sejak masih kanak-kanak," kata Pak Fardhan."Apa sebenarnya yang ingin Pa
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m







