ANMELDENZareen menggeleng. "Mama, nggak usah mikirin lagi hal itu. Kami enjoy sebagai relasi kerja dan teman. Sepertinya Davin pun masih mencoba berdamai dengan masa lalunya sendiri. Dia pernah cerita tentang kesalahan paling pahit dalam hidupnya. Kegagalan pernikahannya dulu masih membekas agaknya. Tapi entahlah, Ma. Sebaiknya kita nggak usah membahas hal ini. Aku sudah enggan memikirkannya lagi.""Ya." Bu Tiya mengangguk. Meski sebenarnya masih menyimpan banyak harapan, putrinya segera menemukan pendamping hidup. Ia melihat Davin sebagai pria yang sangat baik, mapan, dan perhatian luar biasa pada Zareen. Namun ia juga tahu batasan. Sebagai pihak perempuan rasanya tidak pantas kalau mereka yang harus agresif duluan. Jangan sampai mengulang peristiwa dengan Arsel dulu. Itu pengalaman yang memang membuat malu."Sekarang aku hanya ingin menikmati waktu dengan apa adanya, Ma. Mas Davin teman yang baik dan cukup mengerti di masa-masa sulitku ini. Kalau pun nanti ada hal lain yang lebih besar, bi
Pak Fardhan dengan sigap menggendong Ravi ke dalam pelukannya setelah pamitan sama papa dan mommy-nya."Besok sepulang sekolah, Abang Ravi ke sini lagi, ya," kata Arsel mencium pipi anaknya."Iya, Pa."Salsa dan Yusri juga pamitan. Pria itu menggendong Silsi yang sudah mulai mengantuk."Besok sore aku ke sini lagi," kata Salsa. "Sepertinya besok siang kami sudah pulang," jawab Kimmy."Okelah, aku akan ke rumah." Salsa mencium pipi Kimmy, kemudian melangkah keluar bersama suaminya. Ruang perawatan kembali hening, meninggalkan Arsel, Kimmy, Mbak Asih dan bayi perempuan mereka yang terlelap di tempat tidurnya. 🖤LS🖤"Bagaimana kabar Papa dan Mamamu, Reen? Apa sudah selesai proses di pengadilan?" tanya Davin pada Zareen saat mereka makan malam bersama di sebuah kafe."Ya, semuanya sudah selesai, Mas. Dua hari yang lalu sidang ikrar talak. Bahkan Papa sudah keluar dari rumah sejak sebulan lalu." Zareen menunduk sambil mengaduk jus melonnya tanpa semangat. Raut sedih begitu dalam menyel
KAMU YANG KUCINTAI- 91 Baby KikiDetik-detik yang menegangkan di ruang bersalin itu akhirnya berubah menjadi kelegaan yang luar biasa. Tepat pukul empat sore, tangisan nyaring memecah ketegangan. Kecemasan yang sempat menghimpit dada Arsel dan Bu Elok selama berjam-jam menemani Kimmy, akhirnya terbayar lunas dengan kelahiran seorang bayi perempuan cantik dengan berat 3,2 kilogram."Dia cantik seperti kamu, Sayang," bisik Arsel ke telinga istrinya.Di tengah rasa lelahnya, Kimmy tersenyum. Mereka berdua memperhatikan bayi perempuan yang meringkuk di dadanya Kimmy.Setelah itu dokter meminta Arsel melepaskan kausnya dan bayi cantik itu diletakkan di dadanya yang bidang. Rasanya tak terlukiskan dengan kata-kata tentang kebahagiaannya. Setelah memiliki pangeran tampan, ia akhirnya memiliki bidadari cantik. Kemudian Arsel diminta membisikkan azan dan iqamah. Sementara di luar ruangan, Pak Fardhan dan Mbak Asih juga bernapas lega. Setelah melalui proses observasi pasca persalinan, Kimmy
Pak Fardhan menggelengkan kepala sambil terkekeh. Rasa lelahnya karena urusan kantor, jadi terobati dengan tingkah kedua cucunya.Minggu pagi itu, sang cucu memang sengaja dijemput untuk dibawa bermain ke rumah mereka. Salsa ada acara keluar bersama Yusri. Sedangkan Kimmy sudah tidak ke mana-mana lagi. Bahkan telah mengambil cuti kerja karena tinggal menunggu hari kelahiran anak keduanya.Melihat keseruan kedua balita yang saling bermain itu, Pak Fardhan kembali teringat pada masa kecilnya Arsel dan Salsa. Sebagai abang, Arsel selalu mengalah. Sebab jarak usia mereka juga lumayan jauh. Sekitar delapan tahunan. Makanya Arsel kecil sering sekali menggendong adiknya yang saat itu berumur dua tahun."Pak Aaron sama istrinya cerai, Ma." Ucapan Pak Fardhan sangat mengejutkan Bu Elok."Loh, cerai? Kenapa cerai, Pa. Usia mereka juga sudah nggak muda lagi.""Pak Aaron ketahuan punya istri simpanan."Bu Elok kembali terkejut. Benarkah itu? Tidak menyangka laki-laki sudah berumur begitu, masih j
Untuk beberapa saat keduanya terdiam cukup lama. Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menggoyangkan daun-daun tanaman hias di sudut teras. Di atas meja kaca, dua cangkir teh chamomile sudah dingin tak tersentuh. Keheningan di antara Zareen dan sang mama terasa begitu pekat. Bu Aaron menatap lurus ke arah kegelapan sebelum akhirnya menoleh pada putrinya."Lantas bagaimana denganmu? Apa sebenarnya hubunganmu dengan Davin?" tanya Bu Aaron mengalihkan pembicaraan."Nggak ada hubungan apa-apa, Ma. Kami hanya sebatas rekan kerja."Wajah Bu Aaron dihiasi raut kekecewaan yang kentara. Padahal ia berharap ada jawaban yang melegakan hatinya. Ia menyadarkan punggungnya pada kursi rotan. "Hanya rekan kerja? Padahal Mama sangat berharap ada kabar bahagia darimu setelah semua kekacauan ini, Reen."Zareen tersenyum getir. Jujur saja ia sebenarnya juga nyaman dengan pria itu. Ngobrol nyambung. Dia juga sering menceritakan tentang anak lelakinya yang sekarang berusia sepuluh t
KAMU YANG KUCINTAI- 90 Minggu Siang"Pa, aku mau menyapa mereka dulu," ujar Langit lantas melangkah menghampiri meja tempat Arsel dan Kimmy duduk. Kimmy yang pertama kali menyadari kehadiran mereka, tampak terkejut. Kemudian tersenyum ramah. "Om Ndaru, Mas Langit," ucapnya sambil bangkit dari duduknya. Ia menyalami Langit dan mencium tangan lelaki tua itu.Saat bersamaan Arsel yang baru membantu anaknya duduk, akhirnya menoleh. "Langit, Pak Ndaru?" Arsel mengulurkan tangannya menyambut jabat tangan Langit dan papanya. "Tidak menyangka bisa bertemu di sini. Apa kabar?""Alhamdulillah. Kabar baik," jawab Langit dengan sikap tenang. Tak lagi segusar tiga tahun yang lalu. Disaat dia masih berusaha keras berdamai dengan diri sendiri atas kegagalannya mendapatkan Kimmy.Langit mengalihkan pandangannya pada Ravi yang tengah menatap mereka. Anak itu ganteng dan lucu. "Ravi, salim sama Om Langit dan Kakek Ndaru." Arsel bicara pada putranya. Baru Ravi mengulurkan tangan pada Pak Ndaru lalu p
"Kalau begitu, ganti bajunya. Kausmu sudah basah oleh keringat, nanti malah makin menggigil," ujar Kimmy sambil meletakkan kaus bersih di pinggir ranjang.Arsel berusaha duduk, meski kepalanya terasa sangat sakit. "Iya, terima kasih, Kim."Saat Arsel membuka kausnya, Kimmy beranjak ke jendela dan m
KAMU YANG KUCINTAI- 30 Setelah Nonton "Sampai selesai? Apa sampai selesai dipenuhi adegan seperti ini?" batin Kimmy dengan dada berdebar.Wanita itu menghela napas panjang. Tatapannya kembali ke layar lebar. Menyaksikan suara napas yang memburu dan visualisasi hasrat yang membara dari dua tokoh d
Tahun baru kali ini benar-benar kelabu. Acara dinner di Surabaya tadi malam, semakin melukai hatinya. Dipikirnya Arsel akan kembali memperbaiki hubungan mereka. Namun justru menegaskan bahwa semua telah usai."Ada apa sebenarnya?"Zareen memejamkan mata, mencoba memutar kembali setiap detail percak
Perjalanan itu hening. Kimmy memandang keluar dari jendela samping. Sementara Arsel fokus mengemudi. Meski bayangan adegan di layar lebar tadi masih sesekali melintas di benaknya. Membuat sisi liarnya terganggu. Bagaimana tidak, sejak tadi malam dia mati-matian menenangkan 'sesuatu' dalam dirinya.







