LOGIN"Aku juga minta maaf, Bang," jawab Kimmy lirih."Kamu tidak punya salah, Kim. Abang-lah yang bersalah atas semua kekacauan ini. Maaf karena membuatmu merayakan lebaran di tempat seperti ini. Dan maaf, Abang terlambat datang hari ini." Arsel melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Kimmy dengan kedua telapak tangannya. Ia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sisa air mata di pipi istrinya. Lantas mengecup kening Kimmy lama, lalu beralih ke kedua pipinya yang kini terasa sedikit lebih berisi."Aku tahu di rumah pasti banyak tamu seperti tahun-tahun sebelumnya, kan?"Arsel mengangguk. Kimmy diam termangu. Dia bisa membayangkan suasana itu. "Abang bawain ketupat sama opor yang kamu inginkan," kata Arsel sambil mengeluarkan lunch box dari paper bag. Aroma rempah yang gurih seketika menyerbu penciuman Kimmy. Bau santan yang kental, kunyit, dan lengkuas yang berpadu sempurna. Kimmy berbinar seketika saat melihat dua kotak lunch box besar di atas meja."Siapa yang nyiap
Bu Elok juga berbaring di sebelahnya. Namun tidak bisa tidur meskipun lelah. Ia kembali teringat Kimmy yang membuat air matanya menetes dan napasnya sesak. "Maafkan Mama, Kim. Mama sangat sayang sama kamu. Mama memang egois, tapi sebenarnya Mama ingin kamu hidup dengan baik dan layak. Bisa sekolah tinggi menggapai cita-citamu. Tapi pilihan Mama justru membuatmu hancur." Air mata Bu Elok terus mengalir tak terbendung. Ia menoleh pada sang suami yang sudah tertidur pulas. Kemudian bangun lagi dan beringsut turun. Melangkah pelan keluar kamar. Bu Elok menaiki tangga untuk ke kamar Kimmy di lantai atas. Sebab barang-barang Kimmy masih banyak di sana. Saat membuka laci ia menemukan foto Kimmy dan papanya. Foto terakhir mereka sebelum Pak Heru Harimurti meninggal dunia. Perlahan Bu Elok mengusap gambar pria itu. Hatinya perih. Kalau peristiwa pahit tak menimpa mereka, pasti sekarang mereka hidup bahagia bertiga. Kimmy tak akan mengalami nasib setragis sekarang ini.Arsel. Dia geram sekali
KAMU YANG KUCINTAI- 46 Penasaran "Ke apartemen. Kamu mau ikut?" Dengan tenang Arsel memandang adiknya."Masih banyak tamu di rumah. Kenapa Abang pergi?" Salsa menghampiri.Arsel memandang jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam berapa sekarang? Aku capek, Sa. Mau istirahat sebentar di apartemen. Nanti sore ke mari lagi.""Kan Abang bisa rebahan di kamar Abang sendiri." Salsa memandang abangnya penuh selidik. Semenjak Kimmy pergi meninggalkan rumah, abangnya mulai banyak berubah dan tidak betah di rumah. Tapi tidak mungkin abangnya yang menyembunyikan Kimmy. Selama ini sikap Arsel begitu dingin pada saudara tiri mereka. Bahkan menatap Kimmy saja tidak pernah, apalagi bicara.Namun kenapa Arsel memutuskan Zareen? Apa benar karena merasa bersalah pada gadis itu karena tanpa sengaja telah meniduri Kimmy akhibat pengaruh obat kala itu.Arsel menarik kursi dan duduk di ruang makan. Salsa juga ikut duduk di seberangnya."Kamu kangen sama Mama, Bang?" tanya Salsa dengan wajah sendu."Ya. M
Di ruang keluarga itu, Pak Fardhan dan Bu Elok sedang menunggu Arsel dan Salsa turun untuk bersiap ke masjid.Yang pertama turun justru Arsel. Dia melangkah sambil membenahi kancing di ujung lengannya. "Kamu pulang jam berapa semalam?" tanya Pak Fardhan."Sampai rumah jam empat, Pa.""Oh, adikmu mana? Kenapa lama banget dandannya." Pak Fardhan memandang ke arah tangga. Belum sempat dijawab oleh Arsel, Salsa muncul dengan kaftan yang sama persis seperti yang dipakai Bu Elok. Memang Salsa yang memilihkan. Pak Fardhan ingin mereka berseragam di hari lebaran begini. Dan Bu Elok mengalah. Manut dengan pilihan putri tirinya. Namun diam-diam dia juga membelikan baju lebaran untuk Kimmy. Walaupun anaknya tidak ada."Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Pak Fardhan yang diikuti oleh istri, anak-anaknya, serta Mak Karti. Wanita yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Jadi apapun yang terjadi, tetap tinggal di rumah keluarga itu.Ketika melangkah menuju masjid, orang-orang pada bertanya di
Ia melihat istrinya berusaha tersenyum di wajahnya yang sembab. Arsel menggunakan headset. Bicara lirih di dekat microphone. Jadi Kimmy tetap bisa mendengarnya dengan jelas."Mak Karti sudah masak, Bang? Biasanya dia bikin persiapan malam takbir begini," tanya Kimmy."Ya, Mak Karti dan Mbak Sum sedang sibuk di dapur. Abang sudah cerita kan, kalau Mbak Sum gantinya Mbak Asih.""Iya." Tampak Kimmy menarik napas panjang sambil memandang lurus ke dinding. "Aku lagi nonton TV," ucapnya pelan."Kamu belum ngantuk?""Belum. Barusan Mbak Asih juga nelepon. Dia lagi kumpul sama mas dan mbak iparnya. Lagi masak-masak untuk besok dan yang lainnya bikin persiapan untuk nikahan ponakannya. Mas sulungnya Mbak Asih juga membaik keadaannya."Mereka yang bersengketa saja, bisa akur begitu di hari kemenangan begini. Padahal sejak dulu, Mbak Asih ini dikucilkan. Sedangkan aku sendirian, Bang."Perasaan Arsel terguris mendengar perkataan istrinya. Ia paham sesedih apa Kimmy. Tatapan mata itu telah mencer
KAMU YANG KUCINTAI- 45 Tidak Tega Gema takbir bersahutan, berkumandang merdu di luar sana. Di ruang keluarga yang luas, Bu Elok duduk sendirian dan termenung. Televisi di depannya menyala, menampilkan kerumunan orang yang bersukacita menyambut idul fitri. Tapi tatapan Bu Elok kosong dan berkaca-kaca.Ia ingat Kimmy. Kali ini perasaannya tersayat-sayat. Kesedihan yang paling dalam. Beberapa hari ini diam-diam berharap, Kimmy akan pulang di momen lebaran. Namun hingga malam takbiran, harapannya pupus. Ia sudah membayangkan akan memeluk putrinya dan meminta maaf atas segala ketidakberdayaan yang ia miliki sebagai seorang ibu. Namun harapannya hancur. "Di mana, Kimmy? Bersama siapa dia?"Bu Elok yakin suaminya memang menyuruh orang-orang untuk mencari putrinya, tapi belum ketemu. Beberapa kali ia ditanya langsung oleh orang kepercayaan Pak Fardhan, minta keterangan padanya. Jadi putrinya benar-benar dicari.Pikiran Bu Elok berkelana. Jika janin itu masih bertahan, maka kandungan Kimmy
"Aku tidak bisa, Pa. Hubungan kami sudah selesai."Pak Fardhan mengatupkan giginya rapat-rapat, menahan geram yang meledak di dada. Baru kali ini Arsel benar-benar melawannya. "Kenapa kamu begitu keras kepala? Atau kamu yang sebenarnya membawa Kimmy kabur dari rumah?"Senyum terbit di bibir Arsel.
"Pindah, nanti di sini Abang tambah sakit," ucap Kimmy agak ketus. Seolah ingin menghapus kesan empati dalam kalimatnya tadi.Akhirnya Arsel bangun dari kasur itu. Dia melangkah mengikuti Kimmy ke kamarnya. Saat masuk, ia disambut wangi vanila. Kamar itu bersih dan rapi. Jendela yang terbuka lebar,
"Kata Mbak Asih, kamu punya teman baru di Pujon. Mbak-mbak yang sering bawa anaknya jalan-jalan kalau pagi." Arsel mengalihkan pembicaraan ke hal yang ringan. "Iya. Dia seorang dokter di Klinik," jawab Kimmy singkat sambil mengunyah kue."Klinik pinggir jalan itu?""Ya. Beliau dan suaminya juga as
KAMU YANG KUCINTAI - 24 Datang Tengah MalamDua kali panggilan, Salsa tidak merespon. Tidak biasanya dia seperti itu. Kalau di telepon langsung dijawab."Kamu nelepon siapa?" tanya Linda."Nelepon Salsa. Mau nanya Kimmy sakit apa?""Kamu dekat juga sama adik tirinya Arsel?""Nggak. Kalau di rumah







