Share

Adegan Panas

Author: Aqilazahra
last update Last Updated: 2025-10-31 09:06:02

Revan masih berdiri di tempat yang sama. Tangannya terangkat pelan, mengusap bibirnya yang masih terasa hangat, bekas ciuman singkat dari wanita yang bahkan seumuran dengan anaknya sendiri.

Ia mendesis pelan, menatap arah langkah Irisha yang baru saja menjauh. “Sial … bisa-bisanya dia menciumku,” geramnya lirih, separuh marah, separuh bingung oleh getaran aneh yang entah kenapa enggan ia akui.

Sementara itu, Irisha kembali ke ruangan ibunya. Begitu melihat sang ibu masih terbaring koma, tangisnya langsung pecah. Ia menggenggam tangan ibunya yang dingin, memejamkan mata menahan perih.

“Ibu … pria yang kukira baik ternyata jauh lebih jahat dari dugaanku. Aku nggak akan menikah dengannya, Bu. Maafkan Risha, ya?”

Suara tangisnya pelan, namun ada bara kecil yang perlahan tumbuh di balik kesedihan itu. Ia menatap wajah ibunya lagi, lalu mengusap air matanya dengan senyum getir.

“Dokter Revan?” gumamnya pelan sambil terkekeh. “Lucu juga … masa aku harus nikah sama papahnya Reino?”

Ia tertawa kecil, matanya berkilat nakal, tapi juga kelam.

“Tapi kalau itu terjadi … bagus juga. Aku akan pastikan Reino setiap hari harus lihat aku bermesraan dengan ayah kandungnya.”

Tawa pelan itu menggema di ruangan sunyi, tawa yang terdengar lembut, tapi menyimpan luka dan dendam yang dalam.

Dua hari kemudian, malam itu Irisha menatap layar ponselnya, dua hari sudah ia mengumpulkan beberapa potongan bukti dari pesan, foto, dan rekaman, tapi satu hal pasti, ia merasa masih belum cukup untuk mengumpulkan bukti yang kuat agar Revan tahu kelicikan dan keburukan anaknya selama ini.

“Om Revan bukan pria bodoh! Aku harus menunjukkan bukti yang kuat. Baiklah Irisha, kali ini kau harus mendapatkan bukti perselingkuhan Reino dan si Vania itu!” desisnya tajam.

Malam itu, ia menunggu di koridor rumah sakit, menahan napas setiap kali langkah kaki lewat. Tatapan matanya tajam, penuh tekad dan dendam. Begitu melihat Reino masuk ke kamar Vania, Irisha bergerak perlahan. Mengendap seperti bayangan, ia mendekat ke celah pintu yang terbuka sedikit.

Suara lembut Vania terdengar samar. “Mas? Kamu nggak coba untuk nemuin Kak Risha? Bukannya pernikahan kalian sebentar lagi? Aku nggak apa-apa kok, kalau ditinggal di sini, lagian kondisi anak kita sudah membaik.”

Reino duduk di tepi ran-jang, tangannya mengelus perut Vania yang mulai membuncit. Ia menunduk, lalu menempelkan bibirnya lembut di sana. “Biarkan saja. Dia harus merenungi kesalahannya. Nanti juga, kalau marahnya hilang, dia bakal balik lagi nemuin mas,” ujarnya tenang, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.

Vania hanya tersenyum pahit. “Sialan, aku harus menggunakan cara apalagi agar mas Reino menjauh dari Irisha?”

Dari balik pintu, Irisha mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Matanya panas, dadanya sesak menahan emosi. “Sialan kau Reino … kalian yang bersalah, tapi aku yang harus minta maaf?” bisiknya dengan suara bergetar. “Kau benar-benar pria gila, Reino.”

Di dalam kamar itu, ketegangan semakin terasa.

Vania mengusap puncak kepala Reino dengan lembut, jemarinya gemetar menahan emosi. “Mas … aku tuh sayang banget sama Mas Reino,” bisiknya serak. “Aku ingin kita menikah, Mas?”

Reino mengangkat wajah, menatap Vania dengan mata yang tampak letih. “Vania … kita nggak bisa menikah.”

Kata-kata itu meluncur pelan, tapi cukup untuk menghancurkan sesuatu di dalam hati Vania. Matanya langsung berkaca-kaca. Ia menggigit bibir, mencoba tersenyum meski wajahnya mulai basah oleh air mata.

“Tapi kenapa, Mas? Anak ini … butuh kita berdua. Aku nggak mau kalau suatu hari nanti anakku memanggil wanita lain ibu,” suaranya bergetar, diselimuti ketakutan dan rasa bersalah.

“Van …” Reino menunduk, napasnya berat. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tak akan cukup menenangkan.

Vania menggenggam tangan Reino, erat. “Please, Mas. Aku akan bicara sama papahku. Ibumu juga pasti bisa mengerti. Lagian … kita nggak punya hubungan darah, kan?” ucapnya memohon, lirih tapi nekat.

Reino mengangkat pandangannya lagi, menatap Vania lurus-lurus. “Mas cinta sama Irisha, Van.”

Hening. Kalimat itu menggantung di udara, seperti pisau yang meluncur perlahan dan berhenti tepat di dada Vania.

Ia menarik napas panjang, lalu menahan tangis yang sudah mengenang sedaritadi. Tangan yang tadi mengusap kepala Reino kini mengepal di pangkuannya.

Sementara di balik pintu, Irisha menatap keduanya dengan mata bergetar, marah, kecewa, namun ada sisa rasa yang tak mau hilang. Dadanya mendadak sesak, dalam kebenciannya pada Reino, masih tersisa sesuatu yang menyakitkan, cinta yang belum benar-benar mati.

“Dasar pengecut!” bisiknya pelan, “Kau bilang mencintaiku, tapi kau tetap di sana bersama dia. Bahkan kau tidur sampai Vania mengandung anakmu? Kau benar-benar brengsek, Reino!”

Air matanya jatuh juga, tanpa bisa ia cegah. Tapi detik berikutnya, ia menyeka pipinya kasar, menggantikan rasa sakit itu dengan tekad yang dingin.

“Baik, Reino,” gumamnya getir. “Kalau begitu, biar cinta ini aku kubur bersamaan dengan kehancuranmu.”

Irisha menahan napas saat menyalakan kamera ponselnya. Dari celah pintu, lensa kecil itu menangkap pemandangan yang membuat darahnya mendidih.

Di dalam sana, Vania — yang seharusnya terbaring lemah, kini menatap Reino dengan sorot mata seakan pria di depannya itu adalah miliknya. Dan tanpa ragu, ia mendekat, meraih wajah Reino, lalu menautkan bibir mereka.

Suara desahan dan kecupan itu membuat Irisha terpaku. Ia masih merekam dan menatap layar ponsel itu di mana kini adegan ciuman itu berubah menjadi adegan dewasa dan panas.

“Kalian ... benar-benar iblis!” Umpat Irisha, sebelum akhirnya menutup mulutnya sendiri. Perutnya terasa mual, napasnya mendadak mual antara jijik dan marah yang bergantian menusuk.

“Kalian benar-benar tak punya malu…,” gumamnya pelan, hampir tak percaya pada keberutalan Reino di dalam saat menyentuh Vania.

Namun, sebelum sempat berbalik pergi, tangan besar tiba-tiba menutup mulutnya rapat. Irisha tersentak, tubuhnya ditarik mundur dengan kasar.

Ia berusaha melawan, tapi genggaman itu terlalu kuat. Dalam sekejap, ia sudah terhuyung masuk ke ruangan sebelah, pintu tertutup dengan bunyi klik yang keras.

Irisha menatap dengan mata melebar penuh ketakutan, napasnya tersengal. Sementara sosok pria tinggi berdiri di hadapannya, wajahnya separuh tertutup masker.

Suara berat itu terdengar tajam. “Apa yang kau lakukan di sana, Irisha?”

Jantung Irisha berdentum keras. Ia mengenali suara itu, dalam, tenang, tapi berbahaya. “Dokter … Revan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Hamil

    “Kau pria mandul!” Teriakan dari Reino, seolah menghancurkan benda apa saja yang ada di ruangan itu. Suasana mendadak membeku. Semua orang terpaku, termasuk kedua orang tua Revan yang tampak terpukul oleh ucapan itu. Namun, tidak dengan Irisha. Ia justru tertawa cekikikan, seolah menikmati kekacauan yang terjadi. “Mandul?” Ulang Irisha sambil menyeringai. “Ya!” Reino menunjuk Revan dengan penuh amarah. “Kalau aku bukan anak kandungnya … berarti selama ini pria itu memang mandul!” “Reino, jaga ucapanmu!” potong Dita tajam. Ia segera menarik lengan putranya, mencoba menghentikannya. “Cukup, Mah!” teriak Reino sambil menghempaskan tangannya. “Aku memang bukan anak Revan! Dia bukan ayahku!” Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Reino. Dita gemetar, air mata menggenang di matanya, sementara ruangan itu kembali sunyi, sunyi yang penuh luka dan kehancuran. “Mah …,” ucap Reino terbata, suaranya melemah setelah tamparan itu. Dita menatapnya dengan mata bergetar, menahan a

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kau Pria mandul

    Keributan kecil mulai terdengar. Semua mata tertuju pada mereka. Revan melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Reino, menatapnya dengan sorot tajam yang menekan. “Apa yang mau kau lakukan?” tanyanya dingin, amarah terselip jelas di balik nadanya. “Menghancurkanmu!” jawab Reino tanpa ragu. Dita yang melihat emosi putranya semakin tak terkendali segera meraih tangan Reino dengan kuat. “Rei … Rei … tenang dulu,” ucapnya terburu-buru, berusaha menenangkan. “Ini pasti salah paham. Mamah yakin papahmu sedang keliru menilai kita.” “Salah paham?” Revan mengulang dengan nada sinis. Ia menatap Dita tanpa sisa kelembutan. “Dita, akhiri sandiwara ini. Katakan sekarang … siapa sebenarnya ayah kandung Reino.” “Mas, kau benar-benar sudah gila!” teriak Dita histeris. “Reino anak kandung kita! Kau justru percaya pada perempuan gila itu?” tudingnya kasar ke arah Irisha. Irisha tetap diam. Tatapannya lurus, tak gentar, seolah ia tahu, kebohongan yang dipertahankan Dita akan runtuh dengan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Hadiah kejutan tak terduga

    Sebelum kain penutup itu dibuka, Revan sempat menatapnya dengan rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan. Setahunya, hadiah untuk ayahnya hanya satu. Kejutan demi kejutan dari Irisha membuat dadanya terasa tak tenang. “Silakan buka!” perintah Irisha tegas. Kain penutup pertama disingkap perlahan. Seketika, kilau sebuah jam tangan mewah terpampang jelas, jam koleksi limited edition yang selama ini hanya menjadi impian sang mertua. Pria tua itu mendekat, matanya membesar tak percaya. “Irisha … Revan …” Suaranya bergetar. “Bukankah ini jam terbaru itu? Jam yang hanya ada tiga buah di dunia?” Irisha tersenyum kecil. “Benar, Pah. Irisha mencarinya cukup lama dan tidak mudah mendapatkannya,” balas Revan kali ini. Sang ayah terdiam beberapa detik, lalu wajahnya berubah haru. Ia melangkah mendekat dan memeluk Irisha erat. “Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Papah benar-benar sangat menghargai ini.” “Sama-sama, Pah,” jawab Irisha hangat. “Ayo Om, pasangkan di tan

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Sebuah Rencana besar

    Setibanya di kamar, Irisha mengepalkan tangannya erat. Dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang bergemuruh. “Nyonya Dita … belum saatnya kau hancur,” bisiknya penuh dendam. “Tunggulah. Pembalasanku akan datang, dan aku akan membuat hidupmu hancur, sehancur-hancurnya.” Pintu kamar mandi terbuka. Revan yang baru saja selesai menatap wajah istrinya dengan sorot khawatir. “Kau menangis?” tanyanya pelan. Irisha segera menghapus sisa air mata di pipinya, lalu memaksakan senyum. “Tidak,” jawabnya cepat. “Ini … tangisan bahagia.” Revan menatapnya lekat, seakan ingin menembus kebohongan itu. “Kau yakin?” tanyanya lagi. Irisha mengangguk pelan, meski suaranya sedikit bergetar. “Ya … yakin.” Revan menariknya ke dalam pelukan hangat, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut. “Apa mereka mengganggumu lagi?” tanyanya penuh perhatian. Irisha menggeleng ringan, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Tidak. Justru aku yang mengganggu mereka.” Revan terkekeh kecil, men

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Pembunuh!

    “Ouhh … Om, jangan keras-keras, sakit tahu!” Mata Reino membulat. Dadanya seolah diremas. Ia terpaku, tak percaya pada apa yang ia dengar dari balik telepon. “Irisha, papahku di mana?” tanyanya ketus, amarah mulai merayap di suaranya. “Siapa?” sahut Irisha ringan. “Maaf, nggak kedengeran. Aku lagi sibuk.” “Irisha!” Reino meninggikan suara. “Halo, kau dengar aku, kan?” “Ya, Rei … ada apa?” jawabnya seolah santai. “Halo, Rei … sinyalnya jelek. Ahhh ….” Desahan terakhir itu menjadi penutup panggilan. Telepon terputus, disusul tawa kecil Irisha yang terdengar puas. Reino menurunkan ponselnya perlahan, lalu menghantamkan tinjunya ke dinding. Kulit tangannya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadanya. “Sialan!” bentaknya. “Kau benar-benar pelacur, Risha!” Dita yang mendengar teriakan itu segera mendekat, wajahnya dipenuhi kecemasan. “Rei, bagaimana?” tanyanya cepat. “Apa Revan sudah menjawab?” Reino menggeleng keras. “Belum, Mah.

  • Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu    Kejutan Kecil

    Keesokan paginya, Irisha menggandeng Revan menuju sebuah studio foto ternama. Begitu tiba, matanya langsung menyapu ruangan, lalu jarinya menunjuk salah satu pelayan butik yang berdiri tak jauh dari sana. “Tolong bantu suami saya ganti pakaian,” pintanya singkat. Sementara itu, Irisha melangkah menuju ruangan lain. Senyum tipis terukir di bibirnya ada sesuatu yang sedang ia siapkan, sebuah kejutan yang hanya ia sendiri tahu. Revan kini berdiri di depan cermin besar. Tubuhnya terbalut jas rapi, lengkap dengan bunga kecil yang terselip di saku dada. Ia memandangi bayangannya sendiri cukup lama, seolah belum benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya. “Memang harus seperti ini?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar ragu. “Apa aku tidak terlihat … aneh dan berlebihan?” Pelayan butik itu tersenyum ramah. “Tenang saja, Pak. Anda terlihat sangat pantas. Percaya atau tidak, Bapak justru tampak jauh lebih muda.” Namun, kegugupan tetap terpancar jelas dari wajah Revan. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status