Share

Bab 160

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-10-17 20:41:32

Langkah kaki Alena dan Bella menyusuri trotoar tepi pantai menuju area restoran lain yang berada agak jauh dari tempat sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Bella tidak berhenti menggerutu seraya mengibaskan tangannya ke udara.

"Dunia ini rasanya sempit banget, ya!" keluh Bella dengan raut wajah jengkel. "Niat hatiku membawamu ke sini itu untuk healing, Alena! Lepas dari semua drama, menghirup udara segar, dan bersenang-senang. Tapi kenapa malah ketemu orang-orang yang bikin naik darah secara berun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 181

    Suasana meja makan yang tadinya riuh oleh omelan Mami Miranti mendadak berubah senyap. Tiba-tiba saja, seseorang datang dari arah belakang dan merangkul bahu Regan dengan begitu sok akrab."Wahhh... siapa ini? Tamu agung kita, CEO Regantara Group yang terkenal dingin, akhirnya sudi menginjakkan kaki lagi di sini?"Sosok itu adalah Antoni, putra kandung Om Haris.Tanpa ragu sedikit pun, Regan langsung mengangkat bahunya dan menepis kasar tangan Antoni yang masih bertengger di pundaknya. Mereka sama sekali tidak pernah sedekat itu. Di dalam ingatan Regan, luka masa kecilnya masih terekam jelas—Antoni adalah orang pertama yang selalu merundung, menindas, dan membuatnya merasa tersingkirkan saat pertama kali ia dibawa masuk ke Kediaman Regantara. Itulah salah satu alasan terbesar mengapa Regan lebih memilih tumbuh mandiri dan tinggal di luar negeri sejak usia muda.Antoni mendengus pelan, mengangkat kedua tangannya ke udara dengan gestur mengejek. "Sant

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 180

    Malam mulai merayap turun, menyelimuti kemegahan Kediaman Regantara—sebuah mansion klasik berarsitektur Eropa yang berdiri kokoh di atas lahan luas. Mobil mewah Regan meluncur mulus melewati gerbang besi tinggi, lalu berhenti tepat di pelataran utama.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu ganda berukir kayu jati, aroma masakan malam langsung menyambut. Di ruang makan utama yang luas, keluarga besar Regantara telah berkumpul mengelilingi meja panjang berbalut taplak putih bersih.Rumah ini tidak pernah benar-benar sepi. Selain Oma dan Mami Regan, tinggal pula Shanon—sepupu jauh yang diangkat anak oleh keluarga besar sejak lama—serta keluarga Om Haris adik kandung almarhum ayah Regan bersama istri dan anak-anaknya. Tak ketinggalan, Tante Gisela, adik perempuan almarhum ayah Regan yang belum menikah, juga masih menempati salah satu sayap kamar di mansion tersebut.Kedatangan Regan sontak memecah keheningan malam.

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 179

    Melihat keterdiaman Regan yang tidak biasa, kerutan halus muncul di dahi Alena. Sorot mata wanita itu berubah menjadi penuh tanya, menatap curiga pada perubahan drastis di wajah pria di hadapannya."Regan ...?" panggil Alena pelan, suaranya terdengar ragu. "Ada apa? Dokumen itu ... apa ada masalah?"Bella yang turut menyimak dari samping ikut merasa ada yang tidak beres. Ia menatap bergantian antara Alena dan Regan yang kini diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan.Regan mengangkat wajahnya, menatap manik mata Alena yang jernih—mata yang selama ini menaruh kepercayaan penuh padanya. Tenggorokannya terasa kering. Dilema yang sempat menghantamnya di ruang kerja tadi kini kembali menyerang dengan kekuatan penuh, jauh lebih mematikan dari sebelumnya.Keheningan yang menggantung di antara mereka terasa kian menyesakkan. Regan mengerjap, menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali detak jantungnya yang sempat terpacu hebat.Ia mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya. Untuk saat i

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 178

    Di balik pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat, Regan berdiri mematung. Ponsel di genggamannya masih menyala, tetapi ia belum juga menekan tombol panggilan untuk menghubungi Alena.Dilema besar tengah menghantam batin pria itu dengan hebat. Di satu sisi, sebagai pria yang mencintai Alena, ia tahu betul bahwa kejujuran adalah fondasi mutlak. Alena berhak tahu siapa pembunuh orang tuanya yang sebenarnya—bahwa dalang di balik tragedi itu adalah keluarga Bramantyo.Alena juga berhak tahu bahwa di masa lalu, keluarganya sempat melakukan kesalahan besar berupa pembiaran dan pengkhianatan dari dalam. Regan tidak ingin ada rahasia di antara mereka. Namun, di sisi lain, ketakutan yang luar biasa merayap di dadanya.Regan sangat dilema. Ia takut jika ia menceritakan semuanya sekarang—terutama fakta bahwa ada celah keterlibatan darah Regantara di masa lalu—Alena akan terpukul hebat, salah paham, atau bahkan tidak bisa menerimanya. Alena baru saja mulai membuka hatinya, baru saja belajar mempe

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   bab 177

    Di dalam ruang kerja pribadinya yang tenang dan tertutup rapat, suasana terasa begitu kontras dengan ketegangan di luar sana. Regan duduk di balik meja kerjanya, ditemani oleh tim ahli forensik internal Regantara Group yang sedang membedah map cokelat pemberian Rafael.Satu per satu lembar kertas di dalam map itu diteliti menggunakan alat pemindai digital untuk mendeteksi keaslian tanda tangan, cap instansi, hingga jejak digital dokumen.Setelah beberapa jam pemeriksaan intensif, laporan akhir diserahkan kepada Regan."Bagaimana hasilnya?" tanya Regan dengan suara berat, menatap tajam ketua tim forensik."Lapor, Tuan Regan," jawab sang kepala tim dengan raut wajah serius. "Sebagian besar dokumen ini memang murni rekayasa—terutama bagian yang sengaja memelintir dan menuduh langsung keluarga Regantara sebagai dalang utama di balik sabotase pesawat orang tua Nona Alena. Itu adalah klaim palsu yang dibuat untuk menjebak."Regan menghembuskan napa

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 176

    Suasana kafe sore hari terasa hangat, dipenuhi aroma kopi dan gelak tawa ringan. Alena menyeruput es kopinya dengan tenang. Di seberang meja, Bella tampak antusias menceritakan pertemuan tak terduga dengan Biru kemarin siang—bagaimana insiden perebutan strawberry shortcake di toko kue berakhir menjadi momen yang begitu manis dan sukses membuat benteng pertahanannya goyah."Kamu tahu, Alena? Dia ternyata tidak semenyebalkan yang aku bayangkan," cerita Bella dengan binar mata cerah, pipinya sedikit merona. "Malah, sikapnya waktu menceritakan soal korban kecelakaan kemarin itu ... dih, rasanya ada kembang api kecil yang meledak di dadaku."Alena mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum menanggapi cerita sahabatnya. Namun, di balik anggukan dan senyuman itu, pikiran Alena justru melayang jauh.Pikirannya kembali pada map cokelat berisi dokumen kematian kedua orang tuanya yang kemarin siang ia serahkan kepada Regan. Hingga detik ini, ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status