LOGINSuasana kafe sore hari terasa hangat, dipenuhi aroma kopi dan gelak tawa ringan. Alena menyeruput es kopinya dengan tenang. Di seberang meja, Bella tampak antusias menceritakan pertemuan tak terduga dengan Biru kemarin siang—bagaimana insiden perebutan strawberry shortcake di toko kue berakhir menjadi momen yang begitu manis dan sukses membuat benteng pertahanannya goyah.
"Kamu tahu, Alena? Dia ternyata tidak semenyebalkan yang aku bayangkan," cerita Bella dengan binar m
Di dalam ruang kerja pribadinya yang tenang dan tertutup rapat, suasana terasa begitu kontras dengan ketegangan di luar sana. Regan duduk di balik meja kerjanya, ditemani oleh tim ahli forensik internal Regantara Group yang sedang membedah map cokelat pemberian Rafael.Satu per satu lembar kertas di dalam map itu diteliti menggunakan alat pemindai digital untuk mendeteksi keaslian tanda tangan, cap instansi, hingga jejak digital dokumen.Setelah beberapa jam pemeriksaan intensif, laporan akhir diserahkan kepada Regan."Bagaimana hasilnya?" tanya Regan dengan suara berat, menatap tajam ketua tim forensik."Lapor, Tuan Regan," jawab sang kepala tim dengan raut wajah serius. "Sebagian besar dokumen ini memang murni rekayasa—terutama bagian yang sengaja memelintir dan menuduh langsung keluarga Regantara sebagai dalang utama di balik sabotase pesawat orang tua Nona Alena. Itu adalah klaim palsu yang dibuat untuk menjebak."Regan menghembuskan napa
Suasana kafe sore hari terasa hangat, dipenuhi aroma kopi dan gelak tawa ringan. Alena menyeruput es kopinya dengan tenang. Di seberang meja, Bella tampak antusias menceritakan pertemuan tak terduga dengan Biru kemarin siang—bagaimana insiden perebutan strawberry shortcake di toko kue berakhir menjadi momen yang begitu manis dan sukses membuat benteng pertahanannya goyah."Kamu tahu, Alena? Dia ternyata tidak semenyebalkan yang aku bayangkan," cerita Bella dengan binar mata cerah, pipinya sedikit merona. "Malah, sikapnya waktu menceritakan soal korban kecelakaan kemarin itu ... dih, rasanya ada kembang api kecil yang meledak di dadaku."Alena mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum menanggapi cerita sahabatnya. Namun, di balik anggukan dan senyuman itu, pikiran Alena justru melayang jauh.Pikirannya kembali pada map cokelat berisi dokumen kematian kedua orang tuanya yang kemarin siang ia serahkan kepada Regan. Hingga detik ini, ia
Alunan musik klasik bernada lembut bergema di dalam ruangan bersinding cermin besar. Bella sedang berada di studio latihan balet bersama beberapa penari lainnya. Tubuhnya yang lentur bergerak elok menyusuri lantai kayu, melakukan gerakan-gerakan balet yang presisi dan anggun.Usai sesi latihan pertama, Bella melangkah ke pinggir lapangan untuk mengambil handuk kecil dan botol minumannya. Di saat yang sama, ponselnya yang tergeletak di atas tas mendadak bergetar.Nama Mama tertera di layar.Bella mendesah pendek sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Iya, Ma?""Bella ...." suara Mamanya terdengar jauh lebih lembut dan berhati-hati dibanding kemarin. "Mama sudah bicara langsung dengan orang tuanya kemarin malam. Ternyata ada kesalahpahaman, Sayang."Bella mengernyit seraya menyapu keringat di lehernya. "Kesalahpahaman apa lagi, Ma? Dia kan memang sengaja membiarkan Bella menunggu.""B
Suasana ruang rapat di lantai lima gedung Bramantyo Group terasa mencekam. Waktu tepat menunjukkan pukul tiga sore ketika Alena melangkah masuk. Tanpa didampingi Regan secara langsung demi menjaga taktik mereka, Alena hanya didampingi oleh Pak Adrian dan tim hukum independen yang membawa map tebal berisi draft perjanjian investasi khusus.Rafael sudah menunggu di ujung meja. Wajah pria itu tampak letih, dengan kantung mata menghitam akibat tekanan finansial yang menghimpit perusahaannya. Namun, binar matanya langsung menyala begitu mendapati Alena benar-benar datang memenuhi janji."Kamu tepat waktu, Alena," sapa Rafael dengan suara agak parau.Alena tidak membalas sapaan itu dengan kehangatan masa lalu. Ia duduk di seberang Rafael, mengisyaratkan Pak Adrian untuk menyerahkan berkas perjanjian yang telah disusun rapi oleh tim hukum Regantara dan Hartawan Corporation."Ini adalah proposal kerja sama investasi resmi dari Hartawan Corporation," ujar Alena di
Sebuah restoran mewah bernuansa fine dining di pusat kota Hilstown menjadi saksi bisu kejengkelan Bella yang sudah membumbung tinggi. Sudah hampir satu jam ia duduk sendirian di meja sudut yang telah dipesan, membolak-balik menu yang sama berulang kali sambil terus memantau layar ponselnya.Tidak ada pesan, tidak ada panggilan masuk, apalagi permintaan maaf. Pria kencan buta yang katanya anak tunggal pemilik Samudra Group itu sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya."Dasar tidak bersopan santun! Kalau tahu begini, lebih baik aku latihan di studio dari pagi," gumam Bella kesal.Dengan perasaan gusar, Bella meraih tas tangannya dan hendak berdiri untuk melangkah pergi. Namun, baru saja ia menegakkan tubuhnya, sebuah suara bariton yang tak asing menyapa tepat di samping mejanya."Bella? Lho, kebetulan sekali ketemu di sini."Bella menoleh kaget. Matanya membelalak mendapati sosok Dion berdiri rapi dengan kemeja kasual yang digulung rapi hingga siku. Bagi Bella, siapa pun yang bera
Regan tersenyum tipis. Pria itu menyatukan jemari mereka, menuntun Alena melangkah melewati meja kerjanya menuju sebuah pintu tersembunyi di sudut kantor. Di balik pintu itu, terdapat ruangan privat khusus CEO—sebuah ruangan santai berdesain modern dengan sofa empuk yang tenang dan jauh dari jangkauan siapa pun."Duduklah dulu," bisik Regan lembut.Sebelum memulai pembicaraan, Regan melangkah ke sudut meja kecil, menuangkan segelas air hangat, lalu menyodorkannya ke tangan Alena. Ia duduk tepat di samping wanita itu, menatap Alena lurus-lurus dengan binar mata yang sabar."Sekarang, ceritakan padaku. Apa yang terjadi?"Alena menyesap air hangat itu perlahan untuk menenangkan debar dadanya. Ia menghela napas panjang, lalu mulai membuka suara. Tanpa ada yang ditutupi, Alena menceritakan semuanya dari awal—mulai dari bayang-bayang luka kecelakaan maut kedua orang tuanya, pertemuannya dengan Rafael di kantor Bramantyo Group, lembaran dokumen investigasi yang disimpan pria itu, hingga tudu







