LOGINMelihat keterdiaman Regan yang tidak biasa, kerutan halus muncul di dahi Alena. Sorot mata wanita itu berubah menjadi penuh tanya, menatap curiga pada perubahan drastis di wajah pria di hadapannya."Regan ...?" panggil Alena pelan, suaranya terdengar ragu. "Ada apa? Dokumen itu ... apa ada masalah?"Bella yang turut menyimak dari samping ikut merasa ada yang tidak beres. Ia menatap bergantian antara Alena dan Regan yang kini diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan.Regan mengangkat wajahnya, menatap manik mata Alena yang jernih—mata yang selama ini menaruh kepercayaan penuh padanya. Tenggorokannya terasa kering. Dilema yang sempat menghantamnya di ruang kerja tadi kini kembali menyerang dengan kekuatan penuh, jauh lebih mematikan dari sebelumnya.Keheningan yang menggantung di antara mereka terasa kian menyesakkan. Regan mengerjap, menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali detak jantungnya yang sempat terpacu hebat.Ia mengambil keputusan tersulit dalam hidupnya. Untuk saat i
Di balik pintu ruang kerjanya yang tertutup rapat, Regan berdiri mematung. Ponsel di genggamannya masih menyala, tetapi ia belum juga menekan tombol panggilan untuk menghubungi Alena.Dilema besar tengah menghantam batin pria itu dengan hebat. Di satu sisi, sebagai pria yang mencintai Alena, ia tahu betul bahwa kejujuran adalah fondasi mutlak. Alena berhak tahu siapa pembunuh orang tuanya yang sebenarnya—bahwa dalang di balik tragedi itu adalah keluarga Bramantyo.Alena juga berhak tahu bahwa di masa lalu, keluarganya sempat melakukan kesalahan besar berupa pembiaran dan pengkhianatan dari dalam. Regan tidak ingin ada rahasia di antara mereka. Namun, di sisi lain, ketakutan yang luar biasa merayap di dadanya.Regan sangat dilema. Ia takut jika ia menceritakan semuanya sekarang—terutama fakta bahwa ada celah keterlibatan darah Regantara di masa lalu—Alena akan terpukul hebat, salah paham, atau bahkan tidak bisa menerimanya. Alena baru saja mulai membuka hatinya, baru saja belajar mempe
Di dalam ruang kerja pribadinya yang tenang dan tertutup rapat, suasana terasa begitu kontras dengan ketegangan di luar sana. Regan duduk di balik meja kerjanya, ditemani oleh tim ahli forensik internal Regantara Group yang sedang membedah map cokelat pemberian Rafael.Satu per satu lembar kertas di dalam map itu diteliti menggunakan alat pemindai digital untuk mendeteksi keaslian tanda tangan, cap instansi, hingga jejak digital dokumen.Setelah beberapa jam pemeriksaan intensif, laporan akhir diserahkan kepada Regan."Bagaimana hasilnya?" tanya Regan dengan suara berat, menatap tajam ketua tim forensik."Lapor, Tuan Regan," jawab sang kepala tim dengan raut wajah serius. "Sebagian besar dokumen ini memang murni rekayasa—terutama bagian yang sengaja memelintir dan menuduh langsung keluarga Regantara sebagai dalang utama di balik sabotase pesawat orang tua Nona Alena. Itu adalah klaim palsu yang dibuat untuk menjebak."Regan menghembuskan napa
Suasana kafe sore hari terasa hangat, dipenuhi aroma kopi dan gelak tawa ringan. Alena menyeruput es kopinya dengan tenang. Di seberang meja, Bella tampak antusias menceritakan pertemuan tak terduga dengan Biru kemarin siang—bagaimana insiden perebutan strawberry shortcake di toko kue berakhir menjadi momen yang begitu manis dan sukses membuat benteng pertahanannya goyah."Kamu tahu, Alena? Dia ternyata tidak semenyebalkan yang aku bayangkan," cerita Bella dengan binar mata cerah, pipinya sedikit merona. "Malah, sikapnya waktu menceritakan soal korban kecelakaan kemarin itu ... dih, rasanya ada kembang api kecil yang meledak di dadaku."Alena mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum menanggapi cerita sahabatnya. Namun, di balik anggukan dan senyuman itu, pikiran Alena justru melayang jauh.Pikirannya kembali pada map cokelat berisi dokumen kematian kedua orang tuanya yang kemarin siang ia serahkan kepada Regan. Hingga detik ini, ia
Alunan musik klasik bernada lembut bergema di dalam ruangan bersinding cermin besar. Bella sedang berada di studio latihan balet bersama beberapa penari lainnya. Tubuhnya yang lentur bergerak elok menyusuri lantai kayu, melakukan gerakan-gerakan balet yang presisi dan anggun.Usai sesi latihan pertama, Bella melangkah ke pinggir lapangan untuk mengambil handuk kecil dan botol minumannya. Di saat yang sama, ponselnya yang tergeletak di atas tas mendadak bergetar.Nama Mama tertera di layar.Bella mendesah pendek sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Iya, Ma?""Bella ...." suara Mamanya terdengar jauh lebih lembut dan berhati-hati dibanding kemarin. "Mama sudah bicara langsung dengan orang tuanya kemarin malam. Ternyata ada kesalahpahaman, Sayang."Bella mengernyit seraya menyapu keringat di lehernya. "Kesalahpahaman apa lagi, Ma? Dia kan memang sengaja membiarkan Bella menunggu.""B
Suasana ruang rapat di lantai lima gedung Bramantyo Group terasa mencekam. Waktu tepat menunjukkan pukul tiga sore ketika Alena melangkah masuk. Tanpa didampingi Regan secara langsung demi menjaga taktik mereka, Alena hanya didampingi oleh Pak Adrian dan tim hukum independen yang membawa map tebal berisi draft perjanjian investasi khusus.Rafael sudah menunggu di ujung meja. Wajah pria itu tampak letih, dengan kantung mata menghitam akibat tekanan finansial yang menghimpit perusahaannya. Namun, binar matanya langsung menyala begitu mendapati Alena benar-benar datang memenuhi janji."Kamu tepat waktu, Alena," sapa Rafael dengan suara agak parau.Alena tidak membalas sapaan itu dengan kehangatan masa lalu. Ia duduk di seberang Rafael, mengisyaratkan Pak Adrian untuk menyerahkan berkas perjanjian yang telah disusun rapi oleh tim hukum Regantara dan Hartawan Corporation."Ini adalah proposal kerja sama investasi resmi dari Hartawan Corporation," ujar Alena di







