MasukMata Regan membelalak halus, binar kebahagiaan seketika terpancar luas di wajah tampannya. Pertanyaan itu adalah harapan baginya. Jelas Alena akan menerimanya.“Jawabannya hanya ada dalam hati terdalammu Alena,” ujar Regan.Alena mengangguk, “terima kasih, Regan ... jika aku memberimu satu syarat, apa kamu akan menerimanya?”“Apa pun itu,” jawab Regan pasti."Syaratnya ...." potong Alena seraya menatap Regan lekat-lekat. "Kamu harus berjanji untuk bersabar menghadapi trauma masa laluku. Kamu harus mau berjalan pelan-pelan bersamaku, sampai aku benar-benar bisa lepas dari bayang-bayang kelam itu."Regan menghembuskan napas lega, tawa bahagianya pecah begitu lembut. Tanpa ragu, Regan mempererat genggaman tangannya pada jemari Alena."Aku berjanji, Alena," tegas Regan penuh kepastian. "Bahkan jika harus menghabiskan seumur hidupku untuk bersabar ... aku dengan senang hati akan melakukannya untukmu."Di bawah pendar bulan dan deburan ombak pantai, dua hati yang telah melewati badai itu ak
Sensasi hangat dan rasa aman yang baru saja melingkupi Alena seketika terenggut saat dekapan kokoh Regan terlepas paksa."Kak Regan!"Suara lengkingan penuh amarah memecah ketenangan malam di sudut pantai itu. Shanon berdiri dengan napas memburu, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya setelah nekat menarik lengan jas Regan hingga pria itu tersentak beberapa langkah ke belakang.Mata Shanon menyalang merah, memancar ketidaksukaan yang amat sangat tatkala menatap Alena dan Regan secara bergantian."Apa-apaan kamu ini, Shanon?!" bentak Regan dengan suara bariton yang berat dan sarat akan ancaman. Wajah pria itu mengeras, matanya memancarkan kilatan tajam yang sangat dingin atas tindakan lancang Shanon."Aku yang harus tanya, kamu yang apa-apaan, Kak?!" seru Shanon histeris, tidak peduli lagi pada tatapan heran beberapa orang yang melintas di sekitar area luar restoran. "Kamu benar-benar sudah gila! Mengapa kamu harus memeluk wanita ini?!"Shanon melangkah maju, menunjuk wajah Ale
"Saya sangat menghargai kejujuran Nyonya Miranti," tutur Alena dengan suara lembut namun tegas, intonasinya begitu stabil dan menenangkan. "Setiap orang tua tentu memiliki kriteria dan harapan terbaik untuk masa depan putra mereka, dan saya sangat menghormati prinsip yang Nyonya pegang."Bella melirik Alena dengan napas tertahan, sementara Shanon menyunggingkan senyum kemenangan yang tertahan, merasa Alena akhirnya tersudutkan oleh statusnya sendiri.Namun, Alena menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ketegasan. "Namun, perlu Nyonya ketahui," sambung Alena seraya menautkan kedua jemarinya di atas meja, "hubungan saya dan Regan saat ini murni dilandasi oleh rasa saling menghormati dan profesionalitas. Saya tidak pernah meminta, menuntut, apalagi memaksakan diri untuk masuk ke dalam keluarga Nyonya."Kalimat yang terlontar begitu lugas dan bermartabat itu seketika membuat Nyonya Miranti tertegun. Tak ada sedikit pun kesan mengemis restu atau pertahanan defensif dari Alena. Wanita d
Langkah kaki Alena dan Bella menyusuri trotoar tepi pantai menuju area restoran lain yang berada agak jauh dari tempat sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Bella tidak berhenti menggerutu seraya mengibaskan tangannya ke udara."Dunia ini rasanya sempit banget, ya!" keluh Bella dengan raut wajah jengkel. "Niat hatiku membawamu ke sini itu untuk healing, Alena! Lepas dari semua drama, menghirup udara segar, dan bersenang-senang. Tapi kenapa malah ketemu orang-orang yang bikin naik darah secara beruntun?!"Alena hanya menyunggingkan senyum tipis, mendengarkan kekesalan sahabatnya dengan tenang. "Sudahlah, Bella. Yang penting kita tidak membiarkan mereka merusak suasana hati kita."Meski Alena akui, pertemuan dengan Alres adalah hal yang paling ingin ia hindari. Namun, entah mereka selalu dipertemukan.Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah restoran seafood bergaya saung kayu yang cukup megah dengan pemandangan langsung ke arah matahari terbenam. Tempatnya terlihat bersih dan nyaman. Nam
Bella menghentikan langkahnya, menatap bingung ke arah Alena yang mendadak berbalik dan mengajaknya pergi dari pintu masuk restoran seafood terbuka di tepi pantai itu."Kenapa, Alena? Tempat ini padahal—"Kalimat Bella terhenti ketika matanya mengikuti arah pandangan Alena. Di salah satu meja dekat sudut kaca yang menghadap langsung ke laut, duduk seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya digulung asal-asalan. Sosok itu tampak begitu kacau, dengan mata merah membiru dan sebotol minuman keras yang sudah setengah kosong di meja.Alres. Pria itu tampak hancur, tenggelam dalam penyesalan mendalam setelah kebenaran tentang gelang manik-manik dan insiden danau membongkar seluruh kebohongannya.Sebelum Alena dan Bella sempat melangkah keluar dari area restoran, seorang pelayan yang membawa nampan tak sengaja menyenggol kursi Alres, membuat botol kaca di mejanya bergeser dan jatuh berdentang ke lantai. Suara nyaring itu memancing perhatian Alres. P
Langkah Shanon dan Nyonya Miranti yang menghampiri saung pantai seketika memancing ketegangan. Shanon, dengan senyum sinis dan dagu terangkat tinggi, tampak sudah tidak sabar untuk melancarkan serangan verbal. Di sampingnya, Nyonya Miranti—ibu dari Regan—melangkah dengan raut wajah kaku.Selama ini, Nyonya Miranti selalu memandang Alena dengan sebelah mata. Di telinga wanita paruh baya itu, Shanon kerap membisikkan berbagai cerita buruk dan hasutan negatif, menggambarkan Alena sebagai wanita manipulatif, tidak tahu aturan, dan memanfaatkan kebaikan anaknya, Regan."Mami lihat sendiri, kan? Dia benar-benar santai berlibur setelah membuat kerusuhan!" bisik Shanon memompa emosi Nyonya Miranti saat mereka makin dekat.Namun, sebelum Shanon sempat melontarkan makian lebih lanjut, sebuah insiden mendadak terjadi di area pasir tak jauh dari mereka.Seorang anak kecil yang sedang berlari membawa es krim tiba-tiba tersandung akar pohon kelapa dan jatuh tersungkur.







