Share

Bab 74

Author: Ayyliana
last update publish date: 2026-09-14 19:36:40

Dua hari kemudian, kondisi Alena sudah jauh lebih baik. Setelah dokter memastikan tidak ada keluhan yang mengkhawatirkan, Alena diperbolehkan pulang.

Bella sebenarnya ingin menjemputnya, tetapi Alena menolak. Ia tidak ingin membuat sahabatnya itu terus merasa bersalah atas kejadian yang sama sekali bukan kesalahannya.

Alena berjalan keluar dari pintu rumah sakit dengan langkah perlahan. Udara di luar terasa lebih segar. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia bisa bernapas tanpa harus m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 104

    Keheningan cukup lama terjadi di antara Alres dan Alena.Alres masih menatap meja di hadapannya, seolah kembali mengingat kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu."Usiaku baru dua belas tahun saat itu," akhirnya Alres membuka suara. "Satu hari sebelum ayahmu membawa kami keluar dari panti asuhan."Alena tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya, dia tidak terlalu ingin mendengar cerita masa lalu Alres. Namun, entah kenapa, kali ini dia tetap diam."Kamu ingat ada sebuah danau kecil di sekitar panti," lanjut Alres. "Anak-anak sering bermain di sana, meskipun pengurus panti sudah berkali-kali melarang."Alres berhenti sebentar. "Aku pernah jatuh ke dalamnya saat mengambil bola."Alena menatapnya sekilas. Ia mengingat danau itu, dulu saat mengunjungi panti bersama Ayahnya, Alena pernah bermain di sana. Namun, Alena samar-samar mengingatnya, seperti melupakan sesuatu."Aku sebenarnya bisa berenang. Namun, kakiku tiba-tiba keram."Suara Alres terdengar lebih pelan. "Semakin aku berusaha naik

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 103

    "Alena, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"Langkah Alena yang semula hendak meninggalkan meja langsung terhenti. Alres melangkah maju mendekatinya. Alena menarik napas pelan sebelum menoleh. Benar saja, pria itu berdiri beberapa langkah dari mejanya.Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Alena sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Alres, apalagi hanya berdua seperti ini. Setelah apa yang terjadi di antara mereka, Alena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.Dia mengambil tasnya. "Aku pergi dulu."Namun, baru saja Alena hendak melangkah, Alres menahannya. "Tunggu, kita perlu bicara."Alena menatap tangan Alres yang masih menahan kursinya, lalu menatap wajah pria itu dengan kesal. "Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu.""Aku hanya ingin bicara sebentar.""Aku tidak punya waktu.""Aku tahu." Alres menghela napas. "Makanya, sebentar saja."Alena menatapnya beberapa detik. Sebenarnya dia ingin menolak. Namun, semakin Alres mema

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 102

    Setelah memastikan persiapan pameran selesai, Sore harinya Alena bertemu dengan Bu Ratih di sebuah kafe yang cukup tenang. Perempuan paruh baya itu sudah datang lebih dulu ketika Alena tiba. Ia duduk di sudut ruangan dengan sebuah tas kecil di sampingnya. Sesekali pandangannya mengarah ke pintu, seolah masih memastikan bahwa keputusan datang ke tempat itu memang benar.Alena menghampiri meja tersebut. “Bu Ratih?”Perempuan itu segera menoleh. “Alena?”Alena tersenyum dan mengulurkan tangan. “Iya. Maaf membuat Ibu menunggu.”“Tidak apa-apa. Saya juga baru datang.”Alena duduk di hadapannya.Untuk beberapa saat, mereka hanya berbasa-basi. Alena memesan minuman, sementara Bu Ratih sesekali memperhatikan wajahnya.Sebenarnya, sejak awal Bu Ratih sempat keberatan ketika Mira menghubunginya. Ia tidak mengenal Alena secara pribadi. Terlebih lagi, Mira mengatakan ingin bertemu hanya karena sebuah perhiasan yang selama ini disimpannya.Namun, semuanya berubah ketika Mira menyebut nama Edward H

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 101

    Keesokan harinya, Mira datang ke ruangan Alena sebelum jam makan siang. "Bu Alena."Alena yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat wajah. "Bagaimana?""Saya sudah menghubungi Bu Ratih."Alena segera meletakkan dokumen di tangannya."Beliau masih menyimpan perhiasan itu?""Katanya masih."Untuk sesaat, Alena hanya diam. "Apa beliau bersedia ditemui?"Mira mengangguk. "Beliau bersedia. Saya sudah menyampaikan kalau Ibu ingin bertemu langsung. Beliau juga mengatakan tidak keberatan membawa perhiasan itu saat bertemu dengan Ibu."Alena menarik napas lega. "Baik. Kalau begitu aku akan menemuinya.""Saya bisa mengatur waktunya.""Tidak perlu. Setelah jadwal hari ini selesai, aku akan menghubungi beliau sendiri."Mira mengangguk. "Baik, Bu."Alena menutup map di hadapannya.Setidaknya sekarang dia memiliki satu jalan.Dia belum tahu apakah perhiasan itu benar-benar bisa menjadi bukti yang kuat. Namun, melihat langsung benda yang dibuatnya bertahun-tahun lalu mungkin akan memb

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 100

    Rapat belum berakhir ketika Mira mengangkat tangannya. “Sebenarnya ucapan Bu Alena benar, aku juga penasaran apa alasan Bu Keira menyembunyikan identitasnya sebagai Lovely?”Suasana ruang rapat yang sebelumnya riuh mendadak sedikit mereda. Keira menoleh kepada Mira. Untuk sesaat, perempuan itu tampak tidak menyangka pertanyaan tersebut datang dari orang lain, bukan dari Alena.Mira duduk tidak jauh dari Alena. Sejak Pak Adrian menugaskannya untuk membantu Alena di Arta Group, perempuan itu memang lebih sering berada di sisi Alena ketika berhubungan dengan pekerjaan. Tidak banyak bicara, tetapi cukup peka untuk menangkap hal-hal yang terlewat oleh orang lain.Keira tersenyum tipis. “Aku tidak merasa perlu menjelaskan semua hal tentang diriku kepada orang lain.”“Bukan begitu maksudku,” jawab Mira. “Kalau kamu memang Lovely, bukankah seharusnya ada orang-orang di perusahaan yang mengetahui identitasmu sejak dulu?”Keira terdiam. Mira adalah orang Hartawan corporation, ia harus berhati-h

  • Kau Memilihnya, Aku Memilih pergi   Bab 99

    Regan menatap Alena yang diam dengan tatapan kosong. “Alena, setiap designer pasti memiliki keunikan, dan terkadang mereka sering meninggalkan tanda pada karyanya, apakah kamu juga memiliki kebiasaan tersebut?” Mata Alena membola, “Kamu benar, aku memang selalu memiliki kebiasaan unik pada setiap karyaku, tetapi apakah itu bisa membuktikan jika aku ini Lovely?” Alena belum yakin.Regan berkata pelan, “Harusnya, jika ciri tersebut tidak ada yang mengetahui kecuali kamu, tetapi jika semua orang mengetahui, kamu harus menemukan bukti yang tidak bisa mereka bantah.”Alena tersenyum tipis. “Aku tak yakin ada yang sadar atau tidak. Yang jelas jika aku tahu buktinya ada di mana, sejak tadi aku sudah mencarinya.”Regan ikut tersenyum kecil. “Berarti kita harus mencari tahu.”Alena menatapnya. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. “Benar.”Suasana kembali hening. Namun, kali ini pikiran Alena sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status