เข้าสู่ระบบAlena masih memperhatikan gerak-gerik pria itu, ia juga tidak lupa merekam kegiatannya di depan komputer, Alena juga sempat melihat kartu akses yang tadi sempat digunakan pria tersebut.Alena terus memperhatikan pria tersebut diam-diam. Kali ini dia tidak berniat menghampirinya. Alena mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik pesan.Regan, aku menemukan seseorang di Arta Group. Dia memakai komputer Angel dan baru saja login ke My Lovely.Tidak sampai beberapa detik, pesan balasan masuk. Jangan dekati dia. Ikuti dari jarak aman kalau kamu bisa. Aku akan menyusul.Alena mengangguk kecil meskipun Regan tidak mungkin melihatnya. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.Pria itu masih berada di depan komputer Angel. Sesekali dia menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada orang yang datang. Setelah beberapa menit, dia berdiri.Alena segera menundukkan tubuhnya dan bersembunyi di balik dinding.Pria itu keluar dari ruang departement desain.Alena menunggu beberapa detik sebelum mengikutin
Keheningan cukup lama terjadi di antara Alres dan Alena.Alres masih menatap meja di hadapannya, seolah kembali mengingat kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu."Usiaku baru dua belas tahun saat itu," akhirnya Alres membuka suara. "Satu hari sebelum ayahmu membawa kami keluar dari panti asuhan."Alena tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya, dia tidak terlalu ingin mendengar cerita masa lalu Alres. Namun, entah kenapa, kali ini dia tetap diam."Kamu ingat ada sebuah danau kecil di sekitar panti," lanjut Alres. "Anak-anak sering bermain di sana, meskipun pengurus panti sudah berkali-kali melarang."Alres berhenti sebentar. "Aku pernah jatuh ke dalamnya saat mengambil bola."Alena menatapnya sekilas. Ia mengingat danau itu, dulu saat mengunjungi panti bersama Ayahnya, Alena pernah bermain di sana. Namun, Alena samar-samar mengingatnya, seperti melupakan sesuatu."Aku sebenarnya bisa berenang. Namun, kakiku tiba-tiba keram."Suara Alres terdengar lebih pelan. "Semakin aku berusaha naik
"Alena, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"Langkah Alena yang semula hendak meninggalkan meja langsung terhenti. Alres melangkah maju mendekatinya. Alena menarik napas pelan sebelum menoleh. Benar saja, pria itu berdiri beberapa langkah dari mejanya.Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Alena sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Alres, apalagi hanya berdua seperti ini. Setelah apa yang terjadi di antara mereka, Alena merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.Dia mengambil tasnya. "Aku pergi dulu."Namun, baru saja Alena hendak melangkah, Alres menahannya. "Tunggu, kita perlu bicara."Alena menatap tangan Alres yang masih menahan kursinya, lalu menatap wajah pria itu dengan kesal. "Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu.""Aku hanya ingin bicara sebentar.""Aku tidak punya waktu.""Aku tahu." Alres menghela napas. "Makanya, sebentar saja."Alena menatapnya beberapa detik. Sebenarnya dia ingin menolak. Namun, semakin Alres mema
Setelah memastikan persiapan pameran selesai, Sore harinya Alena bertemu dengan Bu Ratih di sebuah kafe yang cukup tenang. Perempuan paruh baya itu sudah datang lebih dulu ketika Alena tiba. Ia duduk di sudut ruangan dengan sebuah tas kecil di sampingnya. Sesekali pandangannya mengarah ke pintu, seolah masih memastikan bahwa keputusan datang ke tempat itu memang benar.Alena menghampiri meja tersebut. “Bu Ratih?”Perempuan itu segera menoleh. “Alena?”Alena tersenyum dan mengulurkan tangan. “Iya. Maaf membuat Ibu menunggu.”“Tidak apa-apa. Saya juga baru datang.”Alena duduk di hadapannya.Untuk beberapa saat, mereka hanya berbasa-basi. Alena memesan minuman, sementara Bu Ratih sesekali memperhatikan wajahnya.Sebenarnya, sejak awal Bu Ratih sempat keberatan ketika Mira menghubunginya. Ia tidak mengenal Alena secara pribadi. Terlebih lagi, Mira mengatakan ingin bertemu hanya karena sebuah perhiasan yang selama ini disimpannya.Namun, semuanya berubah ketika Mira menyebut nama Edward H
Keesokan harinya, Mira datang ke ruangan Alena sebelum jam makan siang. "Bu Alena."Alena yang sedang membaca beberapa dokumen langsung mengangkat wajah. "Bagaimana?""Saya sudah menghubungi Bu Ratih."Alena segera meletakkan dokumen di tangannya."Beliau masih menyimpan perhiasan itu?""Katanya masih."Untuk sesaat, Alena hanya diam. "Apa beliau bersedia ditemui?"Mira mengangguk. "Beliau bersedia. Saya sudah menyampaikan kalau Ibu ingin bertemu langsung. Beliau juga mengatakan tidak keberatan membawa perhiasan itu saat bertemu dengan Ibu."Alena menarik napas lega. "Baik. Kalau begitu aku akan menemuinya.""Saya bisa mengatur waktunya.""Tidak perlu. Setelah jadwal hari ini selesai, aku akan menghubungi beliau sendiri."Mira mengangguk. "Baik, Bu."Alena menutup map di hadapannya.Setidaknya sekarang dia memiliki satu jalan.Dia belum tahu apakah perhiasan itu benar-benar bisa menjadi bukti yang kuat. Namun, melihat langsung benda yang dibuatnya bertahun-tahun lalu mungkin akan memb
Rapat belum berakhir ketika Mira mengangkat tangannya. “Sebenarnya ucapan Bu Alena benar, aku juga penasaran apa alasan Bu Keira menyembunyikan identitasnya sebagai Lovely?”Suasana ruang rapat yang sebelumnya riuh mendadak sedikit mereda. Keira menoleh kepada Mira. Untuk sesaat, perempuan itu tampak tidak menyangka pertanyaan tersebut datang dari orang lain, bukan dari Alena.Mira duduk tidak jauh dari Alena. Sejak Pak Adrian menugaskannya untuk membantu Alena di Arta Group, perempuan itu memang lebih sering berada di sisi Alena ketika berhubungan dengan pekerjaan. Tidak banyak bicara, tetapi cukup peka untuk menangkap hal-hal yang terlewat oleh orang lain.Keira tersenyum tipis. “Aku tidak merasa perlu menjelaskan semua hal tentang diriku kepada orang lain.”“Bukan begitu maksudku,” jawab Mira. “Kalau kamu memang Lovely, bukankah seharusnya ada orang-orang di perusahaan yang mengetahui identitasmu sejak dulu?”Keira terdiam. Mira adalah orang Hartawan corporation, ia harus berhati-h







