Share

[143]

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-10-09 12:00:36

Mobil tahanan akhirnya berhenti di depan gerbang utama lembaga pemasyarakatan. Pintu besi yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan bangunan tua dengan tembok kusam yang dikelilingi kawat berduri. Adrian mengangkat wajahnya perlahan

Untuk pertama kalinya sejak vonis dijatuhkan, kenyataan itu benar-benar menghantamnya. Tempat ini bukan ruang tahanan sementara. Bukan pula ruang sidang yang masih memberinya harapan. Di sinilah ia akan menghabiskan dua puluh tahun hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [143]

    Mobil tahanan akhirnya berhenti di depan gerbang utama lembaga pemasyarakatan. Pintu besi yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memperlihatkan bangunan tua dengan tembok kusam yang dikelilingi kawat berduri. Adrian mengangkat wajahnya perlahanUntuk pertama kalinya sejak vonis dijatuhkan, kenyataan itu benar-benar menghantamnya. Tempat ini bukan ruang tahanan sementara. Bukan pula ruang sidang yang masih memberinya harapan. Di sinilah ia akan menghabiskan dua puluh tahun hidupnya."Turun,” perintah petugas terdengar datar.Adrian dan Leonard turun bergantian. Borgol yang melingkari pergelangan tangan mereka berdenting pelan setiap kali melangkah. Beberapa petugas lapas sudah menunggu di pintu pemeriksaan, sementara para narapidana yang sedang berada di area terbuka mulai menoleh ke arah mereka. Tak butuh waktu lama hingga bisik-bisik kecil terdengar dari berbagai sudut."Itu dia.""Mantan CEO Ashbourne yang sedang ramai diberitakan."

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [142]

    Pagi itu, Kara keluar dari apartemen lebih awal. Ia mengenakan setelan kerja paling sederhana yang masih tersisa di dalam kopernya. Tidak lagi setelan kerja bermerek atau tas mahal yang biasa menemaninya menghadiri berbagai acara bisnis. Semua kemewahan itu telah berganti dengan pakaian yang bahkan tidak mampu mengembalikan sedikit pun harga dirinya.Sebelum pergi, Helena sempat menatapnya beberapa saat. "Kau yakin akan mencari pekerjaan hari ini?"Kara mengangguk singkat. "Aku tidak punya pilihan."Ia menutup pintu tanpa menunggu jawaban. Di sepanjang perjalanan, ia membuka aplikasi lowongan kerja dan menghubungi beberapa perusahaan yang masih membuka perekrutan. Namun berkali-kali pula ia menerima jawaban yang sama."Maaf, posisi sudah terisi.""Kami akan menghubungi Anda kembali.""Terima kasih atas ketertarikannya."Kara tahu itu hanya kalimat penolakan yang diucapkan dengan sopan. Berita tentang dirinya

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [141]

    Keesokan paginya, apartemen kecil itu kembali dipenuhi suasana yang muram. Kara nyaris tidak memejamkan mata semalaman. Setiap kali menutup mata, yang terbayang justru wajah Tara ketika memperlihatkan akta pernikahan di depan puluhan wartawan. Berita yang terus bergulir mengenai dirinya dan Adrian. Belum lagi kedatangan penyidik yang sangat mengganggu pikirannya.Sementara Helena duduk di meja makan sederhana sambil memandangi secangkir teh yang sejak tadi tak pernah disentuhnya.Belum sempat mereka membicarakan apa yang harus dilakukan hari itu, bel pintu kembali berbunyi.Kara dan Helena saling berpandangan. Jantung Kara kembali berdegup lebih cepat dari biasanya."Siapa lagi?" gumam Helena pelan.Begitu pintu dibuka, kali ini yang berdiri di hadapan mereka bukan penyidik. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun mengenakan pakaian dinas ditemani seorang pria yang membawa map berlogo lembaga perlindungan anak."Selamat pagi. Kam

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [140]

    Langit mulai menggelap ketika Kara dan Helena akhirnya kembali ke apartemen sewaan mereka. Langkah keduanya jauh lebih lambat dibanding saat keluar beberapa jam sebelumnya. Dua koper yang tadi penuh kini terasa jauh lebih ringan, tetapi entah mengapa justru membuat dada Kara semakin sesak.Setiap ruang kosong di dalam koper itu seolah menjadi pengingat bahwa sedikit demi sedikit kehidupan yang selama ini ia banggakan telah berpindah ke tangan orang lain.Begitu pintu apartemen tertutup, Kara menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil yang sudah mulai usang. Bantalan tipisnya bahkan tak mampu meredakan rasa pegal di punggungnya. Helena duduk di sampingnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya sama-sama lelah, bukan hanya karena seharian berkeliling kota, tetapi juga karena berkali-kali harus menelan penolakan dan tatapan sinis dari orang-orang yang dulu mungkin akan menyambut mereka dengan senyum.Helena perlahan membuka amplop cokelat berisi uang hasil pen

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [139]

    “Ayo, sebaiknya kita pergi.” Helena menggamit tangan Kara dengan cepat.Akhirnya, Kara dan Helena benar-benar meninggalkan hotel itu.Masing-masing menarik koper mereka melewati lobi dengan langkah yang terasa jauh lebih berat daripada saat pertama kali datang. Beberapa tamu yang sedang duduk di area tunggu spontan menoleh. Ada yang hanya melirik sekilas, ada pula yang langsung berbisik begitu mengenali wajah Kara dari berita yang sejak siang memenuhi layar televisi dan media sosial.Kara mempercepat langkah. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya semakin erat menggenggam gagang koper. Ia berusaha mengabaikan setiap bisikan yang terdengar di telinganya, tetapi semakin ia berusaha tidak peduli, suara-suara itu justru terasa semakin jelas.Begitu keluar dari pintu utama hotel, mereka segera menghentikan sebuah taksi. Pengemudi turun, membuka bagasi, lalu memandang tumpukan koper dan kardus yang mereka bawa."Maaf, Bu." Ia menggeleng pela

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [138]

    Mobil yang membawa Tara perlahan meninggalkan halaman pengadilan. Belum sampai kendaraan itu keluar dari gerbang utama, suasana di belakangnya sudah berubah jauh lebih riuh dibanding sebelumnya.Para wartawan yang sejak tadi memenuhi halaman pengadilan nyaris berlarian menuju mobil siaran masing-masing. Sebagian sibuk menelepon redaksi, sebagian lagi langsung mengirimkan rekaman yang baru saja mereka ambil. Tak sedikit pula reporter yang memilih melakukan siaran langsung tanpa menunggu kembali ke studio."Breaking news! Persidangan mantan CEO Ashbourne Group kembali menggemparkan publik!""Dalam sidang hari ini, Adrian Ashbourne resmi dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara atas kasus penggelapan dana dan penyalahgunaan wewenang.""Namun yang lebih mengejutkan, persidangan hari ini justru mengungkap fakta lain yang selama ini tidak pernah diketahui publik."Video ketika Adrian berlutut di depan Tara tersebar hanya dalam hitungan menit. Disusul rek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status