Share

[98] a

Author: Major_Canis
last update publish date: 2026-09-10 11:00:04

“Ini tak akan mungkin terjadi.”

Entah sudah berapa kali Leonard berkata seperti itu di perjalanan menuju rumahnya. Ia tak percaya berita yang Helena sampaikan di telepon tadi. Beberapa kali juga ia meminta sopir untuk mempercepat laju kendaraannya agar cepat sampai di rumahnya yang terletak di pinggir pusat kota.

Begitu memasuki kawasan perumahan mewah yang telah puluhan tahun menjadi simbol kejayaan keluarga Valmont, pemandangan di hadapannya membuat Leonard bergidi

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [160]

    Beberapa hari kemudian, Victor mendapatkan sebuah agenda meeting yang mengharuskannya pergi ke luar negeri. Pertemuan tersebut tidak bisa diwakilkan dan diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari. Setidaknya, Victor harus berada di luar negeri selama satu minggu.Sejak mengetahui hal itu, Victor terlihat tidak terlalu tenang. Bukan karena urusan pekerjaannya, melainkan karena ia harus meninggalkan Tara dalam kondisi seperti sekarang.“Kau benar-benar harus pergi?” tanya Tara ketika Victor kembali memastikan jadwal keberangkatannya.“Ya.”“Kalau begitu, pergilah. Urusan ini tak bisa ditunda.”Victor menatapnya seolah tidak menyangka jawaban Tara akan sesingkat itu.Tara tersenyum kecil. “Ini hanya pekerjaan, Victor. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja.”“Aku tahu kau bisa menjaga dirimu sendiri.”“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti itu?”Victor tidak langsung menjawab. Ia justru kembali me

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [159]

    Dua hari berlalu sejak Tara diminta untuk beristirahat total di rumah. Untuk sementara waktu, ia tidak lagi membuka pekerjaan yang terlalu berat dan mulai membiasakan dirinya mengikuti saran dokter.Kamar yang diminta Victor juga sudah selesai dibuat. Letaknya di lantai satu, dekat taman di sudut mansion, dan kini siap didekorasi sesuai keinginan Tara. Dan seperti apa yang Victor katakan, bagian ini terasa lebih tenang, nyaman, dan benar-benar terasa lebih hangat dibanding sudut rumah lainnya.Berbagai barang yang mereka beli dari beberapa butik mulai berdatangan. Liora tampak sangat antusias ketika melihat semua perlengkapan bayi tersebut. Ia bahkan ikut membawa beberapa barang kecil ke dalam kamar calon adiknya, meski sebagian besar waktu justru dihabiskannya dengan melihat-lihat setiap benda yang ada di sana.“Yang ini untuk adik, kan?” tanya Liora sambil mengangkat sebuah pakaian bayi.“Iya,” jawab Tara.“Kalau yan

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [158]

    Setelah selesai dari butik pertama, Tara mengira mereka akan langsung pulang. Namun, Victor ternyata sudah memiliki rencana lain.“Kita mau ke mana lagi?” tanya Tara ketika mereka kembali berhenti di depan sebuah butik perlengkapan bayi lainnya.Victor membelokkan kursi roda yang membawa Tara masuk. “Masih ada beberapa barang yang belum kita beli.”Tara menatapnya tidak percaya. “Bukankah tadi sudah cukup banyak?”“Belum.”“Tapi—““Masih ada yang diperlukan, Tara.” Pria itu hanya tersenyum. “Ayo. Kau bisa melihat-lihat dulu. Kalau memang tidak ada yang kau sukai, kita tidak perlu membeli apa pun.”Tara akhirnya menuruti apa yang Victor katakan. Namun, setelah memasuki butik kedua, ia segera menyadari bahwa perkataan Victor tidak sepenuhnya benar. Mereka kembali melihat pakaian bayi, perlengkapan tidur, selimut, hingga berbagai barang kecil yang m

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [157]

    Di rumah sakit, Tara akhirnya mendapatkan penjelasan mengenai rasa sakit yang dialaminya. Dokter mengatakan bahwa kondisinya secara keseluruhan baik-baik saja. Perkembangan bayi di dalam perutnya juga tak ada masalah.Nyeri yang muncul disebabkan oleh kelelahan dan tubuhnya yang mulai mendekati masa persalinan. Tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan, tetapi dokter tetap meminta Tara untuk lebih banyak beristirahat dan mengurangi aktivitasnya.“Prediksi kelahirannya sekitar satu bulan lagi,” jelas dokter setelah memeriksa kembali kondisi Tara. “Jadi, saya sarankan Anda mulai mempersiapkan diri untuk cuti dari pekerjaan. Jangan memaksakan diri terlalu banyak.”Tara hanya mengangguk. Ia sebenarnya sudah menduga bahwa pekerjaannya akan menjadi masalah ketika usia kehamilannya semakin dekat dengan waktu persalinan. Namun, mendengar dirinya harus benar-benar berhenti bekerja untuk sementara waktu tetap membuatnya sedikit tidak nyaman

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [156]

    Kehidupan Tara perlahan kembali seperti biasanya. Sesekali Victor ikut sarapan bersama. Terkadang pria itu juga menyempatkan diri untuk makan malam, bergantung pada kesibukan yang dimilikinya.Tara tidak pernah mempermasalahkan kehadiran atau ketidakhadirannya. Ia memahami bahwa Victor memiliki banyak urusan yang harus diselesaikan, sementara dirinya sendiri juga nyaris tidak memiliki waktu luang.Setelah mengambil alih begitu banyak hal, kesibukan Tara justru semakin padat. Ia terbiasa menghabiskan sebagian besar harinya di ruang rapat, meninjau laporan, mengambil keputusan, dan memastikan setiap urusan perusahaan berjalan sesuai rencana. Dan yang paling penting, Tara tak melupakan tanggung jawabnya mengawasi dan memberikan perhatian terbaik untuk Liora.Setidaknya, ada satu hal yang kini terasa lebih ringan. Liora tidak lagi bertanya-tanya mengenai ayah dan ibunya. Gadis kecil itu lebih banyak bercerita mengenai sekolahnya, kemajuan belajarnya, serta banyak la

  • Kau Pilih Dia, Aku Ambil Segalanya   [155]

    Ucapan Tara membuat suasana di ruang kunjungan berubah seketika. Kara yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak mampu lagi menyembunyikan kemarahannya. Wajahnya memerah, napasnya memburu, sementara tatapannya kepada Tara kembali dipenuhi kebencian yang selama ini begitu akrab bagi wanita itu.“Kau selalu seperti ini!” bentaknya. “Selalu membuat seolah-olah kau yang paling menderita! Kau pikir setelah semua yang terjadi, kau bisa mengambil anakku begitu saja?”Tara tidak menjawab. Ia hanya berdiri di dekat Liora, membiarkan Kara meluapkan emosinya tanpa memberi alasan untuk memperpanjang pertengkaran. Namun, Kara justru semakin marah karena tidak mendapatkan reaksi yang diinginkannya.“Liora adalah putriku!” serunya. “Dia akan kembali bersamaku setelah semua masalah hukum ini selesai. Aku akan menjemputnya sendiri. Kau tidak punya hak untuk memisahkan seorang anak dari ibunya!”Liora yang sejak tadi menggen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status