LOGIN"M-mbak ... Zoya?!" Amelia spontan teriak, suaranya cempreng dan kencang, sampai beberapa staff administrasi di dalam ruangan kaca menoleh dan berbisik. Zoya yang ditarik Enzo menatap Amelia dengan tatapan tenang, tapi dingin. Bukan Zoya yang dulu lagi yang selalu menunduk kalau disuruh. "Amelia," ucapnya tenang. Tapi sebenarnya dia juga kaget melihat mantan adik iparnya berada di kantor ini. Amelia melongo, menatap Zoya dari atas sampai bawah. Lalu beralih ke tangan Zoya dan Enzo yang bergandengan erat. Otaknya tidak bisa memproses. "Kamu ... kok, bisa ada di sini? Pakai baju kayak gini? Sama Kak Enzo? Kamu... kamu ngapain? Kamu kesasar ya? Ini kantor lho, bukan dapur! Sana balik!" Masih keluar sifat bossy nya. Ia masih mengira Zoya adalah Zoya yang dulu, yang bisa ia suruh-suruh. Enzo yang mendengar kalimat itu, rahangnya langsung mengeras. Matanya menyala marah. Dia menarik Zoya maju selangkah, tepat di depan Amelia. Lalu memeluk pinggang Zoya dengan posesif. "Jaga
Setelah semua karyawan membungkuk hormat ke Zoya, suasana jadi hening. Semua menahan napas. Enzo belum selesai. Ia melepaskan rangkulannya dari pinggang Zoya, lalu melangkah pelan mendekati meja kasir pusat. Mendekati Damar. Tiap langkah Enzo, membuat wajah Damar makin pucat. Enzo berhenti tepat di depan Damar. Jaraknya cuma satu meja kasir. Ia menatap lurus ke mata Damar, senyum miringnya hilang, diganti tatapan dingin seorang pewaris. "Damar." Suara Enzo pelan, tapi semua orang diam jadi terdengar jelas. "Sekarang Zoya istri saya." Enzo melirik Zoya yang masih berdiri anggun di belakangnya, lalu kembali menatap Damar. "Jadi, tolong layani dan hormati dia. Seperti kamu menghormati saya. Seperti kamu menghormati Papa saya. Paham?" Damar mengepalkan tangannya makin keras di bawah meja. Rahangnya mengeras. "Paham, Pak Enzo," jawabnya dengan suara tertahan. Matanya tidak berani menatap Enzo, tapi ekor matanya terus melirik ke dress cream Zoya yang dulu bahkan tidak m
Siang itu di pusat Superstar. Di dekat kasir pusat, seorang pria dengan name tag mengkilap `DAMAR - MANAGER`, sedang memarahi seorang kasir baru. Nada suaranya tinggi, sisa kesal gara-gara nasi goreng gosong buatan Frisca pagi tadi. Masih menyisakan rasa pahit di lidah. "Kerja tuh pakai mata! Kalau gak becus mending resign aja!" Semua kasir menunduk. Tiba-tiba pintu otomatis terbuka. `TING TONG!` Lalu terdengar ribut-ribut kecil di pintu masuk. Semua karyawan menoleh. Damar ikut menoleh, kesal karena dramanya keganggu. Tapi sedetik kemudian, wajah kesalnya langsung hilang. Berubah jadi terkejut. Matanya membelalak, rahangnya mengeras saat melihat kehadiran sosok lelaki yang membuat hatinya panas dari kemarin.'Enzo.' Dan di samping Enzo, ada seorang wanita. Dress cream elegan selutut, rambut coklat caramel yang di-blow lembut, makeup flawless glowing, heels mahal. Cantiknya kayak artis papan atas yang baru turun dari mobil Alphard. Zoya. Damar terpaku melihatnya.
"Ke Superstar Pusat. Supermarket milik keluarga Bautista." Zoya mengerutkan dahi. "Ngapain kita ke sana?" "Memperkenalkan istriku," jawab Enzo santai sambil menyalakan mobil sport hitamnya. "Sekalian pamer. Hehehe..." "Huh, pamer?!" Zoya makin bingung. "Buat apa?" "Ya, buat semua orang tau, kalau kamu ini istriku. Istri Enzo Alvaro Bautista, si pewaris tunggal Superstar Mart terbesar di Indonesia." Enzo tersenyum tengil, bangga. Zoya cuma bisa geleng kepala. "Mulai kumat lagi deh sombongnya." 30 MENIT KEMUDIAN - SUPERSTAR PUSAT, JAKARTA SELATAN. Mobil Enzo berhenti tepat di lobi utama. Dari dalam mobil, Zoya langsung kaget. Tangannya mencengkeram seatbelt erat-erat. Gedungnya megah. Ramai. Tulisan besar 'SUPERSTAR MART' berkilau keemasan. Itu tempatnya dulu. Tempat dia bekerja 2 tahun sebagai kasir dengan seragam biru pudar. Tempat di mana dia dipanggil "Zoya si lelet" oleh seniornya. "Enzo, eh, Mas..." Saking groginya, suaranya pelan. Wajah glowing yang tadi can
Setelah kejadian nasi goreng gosong itu, meja makan bubar dengan suasana yang masih canggung. Damar pergi ke kantor dengan rasa kesal di dada. Mukanya ditekuk. Sepanjang jalan di mobil, ia masih teringat tawa Zoya bersama Enzo. Tawa yang tidak pernah ia dapatkan. Dan rasa asin nasi goreng Frisca yang masih menempel di lidahnya. "Akh, brengsek!" gerutu Damar sambil memukul setir. Sementara di rumah. Enzo belum berniat untuk pergi ke kantor. Sama sekali tidak. Ia masih mengenakan kemeja putih santai, duduk di sofa ruang tengah sambil menatap Zoya yang sedang membereskan piring-piring bekas sarapan tadi. "Sayang, udah selesai?" tanya Enzo. Zoya mengangguk. "Udah. Tinggal piringnya Frisca dan wajan yang gosong itu aja yang belum dicuci. Kayaknya harus direndam dulu." Enzo tertawa kecil, lalu menarik tangan Zoya. "Udah, biarin aja Bi Ijah yang cuci. Sekarang kamu ikut aku." "Loh, mau kemana? Kamu gak ke kantor?" "Gak," Enzo menjawab santai. Ia mengambil kunci mobil sp
"Siapa yang ngajarin kamu masak ini, Zoya?" Pak Deon tidak menunggu jawaban. Ia mengunyah lagi. Pelan-pelan. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasa bawang putih yang tidak gosong, rasa kecap yang pas, telur yang wangi, ayam suwir yang gurih. Rasa itu... Hampir sama persis. Sama persis dengan masakan mendiang istrinya, Alena. Mamanya Enzo. Yang telah meninggal 8 tahun yang lalu. Rasa yang sudah 8 tahun tidak pernah ia rasakan lagi di rumah ini. Tenggorokan Pak Deon yang biasanya keras dan dingin itu tercekat. Melihat anaknya diam begitu, Nenek yang sudah paham langsung tersenyum dan bersuara lantang. "Gimana, Deon? Enak kan?" Nenek menatap Zoya lalu menatap Pak Deon dengan mata haru. "Sama persis kayak masakannya mamanya Enzo dulu, kan?" `JLEB!` Satu kalimat Nenek itu seperti petir di meja makan. Vanessa yang duduk di sebelah Pak Deon langsung tertusuk. Wajahnya yang dandan menor itu langsung pucat. Tangannya yang memegang sendok mengepal. Karena selama 5 tahun menj







