LOGINMeninggalkan Carmen yang masih berjongkok.
Sunyi seketika terasa di dapur pengap itu. Carmen menatap ke arah yang ditunjuk Tia tadi.
Sebuah dingklik kecil. Tersandar di sudut dapur. Dadanya terasa sesak.
Betapa bodohnya dia. Di rumah, mbok Sumi selalu menggunakan dingklik saat mencuci lap atau melakukan pekerjaan di lantai. Hal sederhana itu bahkan tidak terpikirkan olehnya sekarang.
Dan ingatan itu …
Membawanya kembali ke malam sebelum dia pergi dari
Pagi hari itu di saat Carmen masih bergelut dengan rasa sakit di tubuhnya, berjuang menahan lapar dan mual di belakang rumah yang asing baginya, sebelum menerima kenyataan pria yang dinikahinya berkata bahwa dia menunjukkan dirinya yang asli. Yang membaut Carmen berpikir suaminya telah mati! Keanu yang dia kenal telah tiada.Sementara itu di tempat lain, tidak terlalu jauh dari sana, sebuah mobil hitam mengilap memasuki kawasan yang sama.Mobil itu melaju perlahan, seolah enggan benar-benar menyatu dengan lingkungan di sekitarnya.Jalanan sempit, sedikit berlubang, dengan genangan air di beberapa titik. Rumah-rumah berdempetan, catnya kusam, sebagian temboknya bahkan mulai mengelupas. Jemuran pakaian menggantung di sana-sini, menghalangi pandangan. Bau gorengan bercampur dengan aroma selokan yang samar.Mobil itu terasa seperti benda asing.Terlihat mencolok dan berrbeda. Sangat kontras dengan pemandangan lingkungan yang nyaris kumuh di sekitarnya.
Carmen merasakan tubuhnya yang sakit ketika bangun tidur. Rasa nyeri itu bukan hanya sekadar pegal biasa, melainkan seperti ditindih beban berat semalaman, menjalar dari bahu hingga ke pinggangnya. Bahkan untuk sekadar menggerakkan tangan saja terasa begitu sulit. Dia meringis pelan, napasnya tertahan ketika rasa perih itu kembali mengingatkannya pada kejadian semalam.Perlahan, Carmen menunduk dan menutup bajunya yang tersingkap. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh kulitnya sendiri. Ada bercak biru di sana, lebam yang jelas, kasar, dan menyakitkan. Bekas perlakuan Keanu terhadapnya. Suaminya yang dulu selalu bersikap lembut bahkan tak membiarkan Carmen digigit satu ekor nyamuk pun. Kini, lihatlah?!Carmen memejamkan mata. Dia mencoba mengingat wajah Keanu yang dulu, yang lembut, penuh perhatian, yang dulu selalu menggenggam tangannya dengan hangat. Namun bayangan itu terasa semakin jauh, seperti kenangan milik orang lain.Kini yang tersisa hanyalah rasa sakit.
“Mas apa yang kamu lakukan!” Jerit Carmen pecah di tengah malam yang sunyi.Dia terbangun dengan napas tersengal, jantungnya berdetak sangat cepat. Rasa sesak langsung menyerang ketika dia menyadari ada tangan yang mencengkeram lehernya cukup kuat. Pandangannya masih kabur, namun siluet tubuh di atasnya sangat jelas, Keanu.“Mas!” suaranya melemah, mencoba meraih kesadaran penuh, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.Namun yang dia lihat justru membuat tubuhnya membeku.Keanu berada di atasnya dengan tatapan yang asing. Bukan tatapan yang dulu membuatnya jatuh cinta. Bukan tatapan hangat yang dulu selalu ia rindukan. Tatapan itu … dingin, liar, dan entah mengapa terasa seperti kebencian yang dipendam terlalu lama.“Aku susah napas … kita bisa lakukan pelan-pelan kan?” mohon Carmen, berusaha meraih tangan Keanu yang mencengkeram lehernya.Namun Keanu tidak menjawab. Cengkeramannya tidak me
Saat ini Carmen tengah melihat ponsel keluaran terbaru yang dibeli seminggu sebelum mereka menikah, harganya mungkin sama dengan motor besar yang baru rilis. Jemarinya yang halus mengusap layar itu perlahan, seolah benda tersebut adalah satu-satunya hal yang masih terasa “miliknya” di tempat asing ini.Di rumah lamanya, ponsel seperti ini bukan sesuatu yang istimewa, dia bahkan sering berganti model setiap beberapa bulan sekali. Namun di sini, benda itu terasa seperti simbol dari dunia yang perlahan menjauh darinya.Perutnya sangat lapar. Bukan sekadar lapar biasa, tapi perih yang menusuk hingga ke ulu hati. Namun dia tidak berani meminta izin kepada ibu mertuanya karena tadi saja dia sudah dihadiahi tatapan dingin yang begitu tajam, seolah kehadirannya adalah beban. Carmen menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa tidak nyaman itu.Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Amora, sahabat Carmen.Nama itu langsung membuat hatinya menghangat.
Meninggalkan Carmen yang masih berjongkok.Sunyi seketika terasa di dapur pengap itu. Carmen menatap ke arah yang ditunjuk Tia tadi.Sebuah dingklik kecil. Tersandar di sudut dapur. Dadanya terasa sesak.Betapa bodohnya dia. Di rumah, mbok Sumi selalu menggunakan dingklik saat mencuci lap atau melakukan pekerjaan di lantai. Hal sederhana itu bahkan tidak terpikirkan olehnya sekarang.Dan ingatan itu …Membawanya kembali ke malam sebelum dia pergi dari rumah.“Jangan bawa semua perhiasan, Non, dan kalau bisa barang berharga sembunyikan di tempat aman. Barangkali suatu saat Non butuh. Non juga enggak perlu terlalu terbuka dengan simpanan itu ke suami, kita tidak tahu pikiran seseorang kan?”Suara Mbok Sumi masih terngiang jelas di kepalanya.Wanita tua itu berdiri di sampingnya, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.Carmen yang sedang menata barang di atas ranjang hanya mendengus pelan.“Mas
“Dia beneran enggak bawa apa-apa? Coba kamu cari barang berharga siapa tahu dia bawa,” ujar ayah Keanu sambil menyandarkan punggungnya ke tiang teras yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Catnya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kayu yang mulai menghitam.“Nanti saja lah, aku capek, lagian dia juga enggak kemana-mana. Aku enggak akan kasih izin dia pergi sejauh radius lima ratus meter dari rumah ini,” tutur Keanu sambil menguap lebar. Pria yang berparas tampan itu memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, terdengar bunyi kecil dari lehernya yang terasa sangat pegal setelah semalaman hampir tidak tidur.Dia mengusap wajahnya kasar, matanya berat, tapi pikirannya masih penuh dengan potongan-potongan masa lalu yang membuat dadanya sesak.Tidak sia-sia perjuangan Keanu selama setahun mendekati Carmen. Semua yang dia lakukan kesabaran, perhatian, bahkan uang yang dia keluarkan semuanya bukan tanpa tujuan. Dia membeli kepercayaan Carmen, pe







