ANMELDEN“NAYAKA SHAINARA!!!!” Suara itu begitu memekakkan telinga Nayaka di pagi buta ini! Tidak! Sebenarnya ini sudah pukul sembilan pagi, namun bagi seorang yang bekerja juga di dunia malam, pukul sembilan masih terlalu pagi!
Dia bahkan baru pulang pukul empat tadi pagi, setelah melakukan pertunjukan di salah satu bar undangan. Tidak mudah bisa menjadi DJ di bar kalangan elit itu. Ya, teman satu panggungnya yang satu-satunya sahabatnya dan tahu bahwa di siang hari wanita itu bekerja sebagai guru sering mengatainya dengan kata-kata, “siang mencerdaskan anak bangsa! Malam membobrokkan dedengkot bangsa!”
DJ Shai adalah nama panggungnya, penampilannya jelas jauh berbeda. Menjadi guru adalah impian orang tuanya, sementara impiannya jelas saja menjadi DJ. Itu sebabnya dia memiliki dua kepribadian, ditambah dia lahir di bawah rasi bintang Gemini yang bisa memiliki bahkan dua atau lebih wajah.
Suara memekakkan itu berasal dari Nyonya Karmila, sang ibunda yang sudah terpisah rumah darinya, namun paling bawel jika Nayaka mengganti password kunci rumah. Karena dia wajib bin kudu tahu.
“BANGUN SUDAH SIANG!! INI KAMU TELANJANG!!!” gerutunya menarik selimut Nayaka. Wanita yang usianya sudah sangat dewasa itu hanya menggerutu. Ah sial, dia malam tadi terlalu lelah dan larut akan euforia. Bayaran yang didapat sangat besar, belum lagi sawerannya. Dia tak sadar hanya tidur mengenakan sport bra dan celana pendek saja.
“Oh Nyonya Karmila ... masih pagi sudah nyanyi,” ujar Nayaka berusaha membuka matanya.
“Ini yang bikin mama kesal ya, kamu pisah rumah sebelum menikah! Kamu malas-malasan! Kapan nikahnya kalau malas terus! Cepat bangun!!!” teriaknya. Sumpah demi apa pun wanita tua bernama Karmila ini takkan berhenti merepet sebelum Nayaka bangun. Itu sebabnya, dengan malas dia pun duduk dan berjalan keluar. Tak peduli dengan pakaiannya karena dia tinggal di rumah minimalis ini sendirian.
“Pagi miss Gemini,” sapa pria yang tampak malas duduk di sofa tunggal sambil mengangkat kedua kakinya. Namanya Raiden Shaitama, tahun ini berusia dua puluh tujuh. Beda dua tahun dengan Nayaka. Wajah tampan, pekerjaan mapan sebagai financial planner perusahaan ternama, tubuh tinggi atletis karena pernah menjadi atlet basket di masa remajanya sebelum mengalami cedera di pergelangan tangan.
Jangan pikir orang tuanya ada yang berkewarga negaraan Jepang karena ada kata Shai di namanya, tidak! Ayahnya berkata bahwa Shai itu adalah pelesetan dari panggilannya pada istrinya dari kata Say alias Sayang. Aneh kan? Ya memang!
“Ngapain lo!” gerutu Nayaka sambil menoyor sang adik yang sampai kini masih tinggal bersama orang tuanya.
“Tentu saja mengantar nyonya Karmila ke rumah anak sulungnya yang setiap malam dikhawatirkan, didoakan, dan dibawa fotonya ke dukun-dukun ternama karena khawatir aura anaknya ditutup,” sindir Raiden.
“Hadeh,” ujar Nayaka.
“Sudah mau kepala tiga belum menikah!” geram sang ibu, “adikmu sudah pacaran lama, keburu bunting ceweknya!”
“Ya sudah sih nikahin aja dia duluan,” gerutu Nayaka yang disetujui Raiden.
“Enggak ya! Sebelum kamu menikah. Mama enggak mau kamu dilangkahi, makin jauh jodoh nanti!” ujar ibunya sambil berjalan ke arah dapur, mengeluarkan kotak makanan yang dibawanya, stok lauk seminggu untuk sang putri.
Raiden mengambil remote dan mengganti channel televisi, dia menggeleng prihatin melihat kakaknya. Bagaimana kalau salah satu muridnya tahu dia berpakaian seksi seperti ini? Atau tahu tentang pekerjaan malamnya? Duh! Hancur dunia pendidikan! Mau jadi apa anak bangsa yang dididiknya?
Ya hanya Raiden, satu-satunya keluarga yang tahu, itu pun tahu tak sengaja karena dia yang party di salah satu bar dan terkejut mendapati kakaknya merupakan salah satu DJ di sana. Seperti memiliki kartu AS, Nayaka tak bisa memarahi adiknya lagi sejak itu.
Sementara sang ibu menyiapkan sarapan untuk putri pertamanya, Nayaka duduk santai di sofa, membuka ponselnya. Melihat akun sosial medianya yang tentu saja dia memiliki dua akun berbeda. Akun DJ dan gurunya, yang keduanya tak menampilkan wajahnya sama sekali. Foto dirinya hanya ada dari belakang saja.
Padahal dengan kecantikan wajahnya, bisa saja dia menjadi selebgram atau selebtok. Atau apa pun itu. Namun, dia tak mau terlalu banyak orang tahu kehidupan pribadinya atau mengenalnya.
Karmila, membawakan sepiring sarapan untuk putrinya dan duduk di sampingnya seraya meletakkan bantal sofa di pangkuan sang putri.
“Kamu tahu kan minggu lalu mama ke Singapore?” tanya Karmila.
“Tahu, kenapa? Uangnya cukup, kan?” tanya Nayaka.
Ibunya mendengus, “mama ketemu teman baru, namanya Anggun. Dia juga punya anak seusia kamu, eh enggak deh beda lima atau enam tahun di atas kamu. Single, tampan, mapan, pemilik restoran Nuansa Food. Pasti kamu tahu karena kita pernah makan di sana,” ujar sang ibu.
“Perjodohan lagi! Enggak capek apa?” tanya Nayaka sambil menyuap sarapan paginya.
“Enggak akan pernah capek sebelum kamu menikah!” gerutu sang ibu.
“And then?” tanya Nayaka. Sementara Raiden hanya mendengarkan dengan seksama.
“Besok, jam tujuh malam, kalian akan bertemu di restoran Langit. Dandan yang cantik, rapih, sopan, kamu harus menikah tahun ini!” ujar sang ibu.
“Lihat besok deh,” ucap Nayaka malas. Dia bahkan lupa dengan kata Nuansa, menurutnya itu adalah kata yang biasa.
Raiden menatap kakaknya dengan pandangan sedih, “kali ini harus, Kak,” ucapnya.
“Kenapa? Kamu ngebet mau nikah?” ujar Nayaka cuek.
Raiden menunduk, “calon mertuaku terkena kanker getah bening, usianya mungkin enggak lama lagi, keinginan terakhirnya melihat anaknya menikah.”
“Ya sudah nikah aja duluan repot banget!” ujar Nayaka. Raiden berdiri dan mengepalkan tangannya.
(Sepuluh Tahun Kemudian)Waktu berjalan tanpa tergesa, mengalir bagaikan air yang tenang namun mampu mengubah kehidupan secara perlahan dan pasti. Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam penuh kehangatan dan kembalinya keharmonisan rumah tangga mereka, membawa ribuan hari yang dipenuhi oleh pertumbuhan, cinta, dan tawa.Hari ini, sebuah acara pesta pernikahan yang teramat megah dan penuh nuansa kebahagiaan digelar secara spektakuler. Anak terakhir dari pasangan Nayaka dan Nuansa, yaitu Yasha, akhirnya melangsungkan pernikahannya.Pria muda yang dahulu dikenal sebagai anak laki-laki yang lincah dan menggemaskan itu, kini telah tumbuh sepenuhnya menjadi seorang lelaki dewasa yang sangat tampan, gagah, dan berwibawa. Di hari yang bersejarah ini, Yasha mengikat janji suci sehidup semati dengan wanita pilihannya, yang tidak lain adalah teman bermain masa kecilnya sendiri yang telah tumbuh menjadi gadis yang
Ucapan berani itu seketika membuat Arkha tidak bisa menahan tawanya lagi. Rasa cemasnya menguap, digantikan oleh gairah pria dewasa yang membara. Tanpa membuang waktu lebih lama, Arkha segera melepas seluruh pakaian kerjanya satu per satu dan bersiap untuk menyatukan dirinya dengan sang istri. Dia merangkak naik ke atas ranjang, mulai mencumbu bibir dan seluruh tubuh Carmen terus-menerus dengan intensitas yang tinggi. Malam ini, Carmen benar-benar tampak sangat nakal dan agresif, berbanding terbalik dengan sikap pendiamnya selama tiga hari terakhir.Arkha sendiri tidak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam pikiran istrinya saat ini. Namun, sebagai seorang suami, Arkha memahami bahwa mungkin tindakan ekstrem dan permainan fantasi ini adalah salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri atau biasa disebut dengan defense mechanism oleh Carmen untuk mengalihkan dan menyembuhkan rasa sakit serta trauma yang sempat menyergap batinnya secara mendadak.
Arkha membimbing langkah Carmen dengan sangat hati-hati, menuntun tubuh istrinya yang masih tampak gemetar menuju ke sebuah kursi taman yang terletak di bawah rindangnya pohon besar. Setelah mendudukkan Carmen secara perlahan,Arkha segera ikut duduk di sampingnya. Carmen tampak masih mengatur napasnya yang terasa sesak dan memburu. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, dia benar-benar sama sekali tidak menyangka, bahkan tidak pernah membayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun, bahwa dia akan bertemu kembali dengan Keanu di tempat umum yang begitu terbuka dan damai seperti taman bermain ini. Pertemuan mendadak itu seolah membuka kembali kotak memori lama yang telah terkunci rapat.“Carmen, hei Sayang,” panggil Arkha dengan nada suara yang teramat lembut dan sarat akan kekhawatiran yang mendalam. Bersamaan dengan panggilan itu, Arkha meraih kedua telapak tangan sang istri, menggenggamnya dengan sangat erat demi menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang di
Mendengar suara panggilan itu, Keanu seketika menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya menegang sebelum akhirnya dia membalikkan badan dan menoleh kembali ke arah Carmen dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus haru.“Kamu juga berhak bahagia,” ucap Carmen dengan tulus. Setelah mengucapkan kalimat bermakna pengampunan itu, Carmen langsung membalikkan tubuhnya sendiri membelakangi pria itu, mendekap putrinya lebih erat dan bersandar pada dada Arkha. Dia tidak mau melihat wajah Keanu lagi, bukan karena dendam, melainkan karena dia ingin menegaskan bahwa masa lalu mereka telah selesai sepenuhnya di detik ini.Hari ini, Keanu sebenarnya baru saja resmi ke luar dari rumah tahanan setelah menyelesaikan masa hukumannya. Dia tampak memakai sebuah tas punggung hitam yang sudah agak usang, berisi seluruh pakaian dan barang pribadinya selama berada di balik jeruji besi. Mendengar ucapan pengampunan dari Carmen yang begitu berjiwa besar, air mata Ke
(Lima tahun kemudian)Waktu terus bergulir tanpa terasa, membawa banyak perubahan manis dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Setelah melewati berbagai momen penuh kebahagiaan, tidak terasa sudah lima tahun berlalu sejak kepulangan mereka dari Switzerland.Hari ini, suasana sore terasa begitu cerah dan meneduhkan. Carmen membawa putri kecilnya yang kini telah menginjak usia empat tahun untuk pergi bermain di sebuah taman bermain publik yang cukup ramai. Di sudut area taman, Arkha tampak sedang berdiri dengan wajah serius namun tetap tenang, fokus menerima panggilan telepon penting yang tampaknya berasal dari salah seorang kerabat jauhnya di luar kota.Sementara itu, perhatian Carmen seutuhnya tersedot pada sang buah hati. Putri kecil mereka yang berwajah sangat lucu dan menggemaskan itu tampak begitu aktif berlarian ke sana kemari di atas hamparan rumput taman, tertawa riang menikmati kebebasannya.Carmen dengan penuh kasih sayang terpak
“Mi, enggak apa-apa hanya mual biasa, mungkin cuma masuk angin,” jawab Carmen seraya menyiram toilet itu sekali lagi hingga bersih. Dia mengambil selembar tisu bersih, menyeka bibirnya yang basah dengan perlahan, lalu dengan langkah yang masih sedikit goyah dia berjalan ke luar dari bilik toilet.Melihat menantunya tampak begitu lemas, Ibu Arkha dengan sigap merangkul pundak Carmen, membantunya berjalan menuju ke ruang guru yang terletak tidak jauh dari sana. Beliau membimbing Carmen untuk duduk di salah satu sofa panjang yang nyaman. Guru-guru lain yang berada di dalam ruangan itu pun langsung ikut panik, dengan cekatan salah seorang guru bergegas membuatkan secangkir teh manis hangat, sementara yang lain memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Carmen.Carmen menerima botol tersebut, menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu mulai mengoleskannya di bagian perutnya yang masih terasa bergolak tidak nyaman. Melihat hal itu, Ibu Arkha
Carmen kembali ke ruang kelasnya untuk melanjutkan pelajaran yang sebenarnya tak bisa ditangkap oleh otaknya. Bukan berarti dia bodoh, di sekolah dasar dia selalu mendapat peringkat pertama, namun setelah SMP semua berubah. Dia mulai memberontak, dia membenci dirinya sendiri. Dia tak suka jika ada
Nayaka mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di kamar pribadinya di lantai dua, rumah dua lantai itu memang tidak besar, namun sangat nyaman baginya. Di bawah ada kamar tamu dan juga ruangan lainnya. Sementara di lantai dua ada satu kamar lain.Ayahnya bisa disebut salah satu pemilik sekol
Wajahnya menyiratkan amarah yang ditahannya, “kalau bisa juga aku nikah duluan, Kak!! Tapi orang tua kita maunya kakak duluan!!! Aku capek nahan selama ini! Aku bisa aja nikah tanpa restu! Tapi aku menghargai mereka! Enggak seperti kakak! Yang cuma jadi beban!!!” Raiden mengentakkan kakinya sebelum
“Ibu!! Ada yang merokok di toilet!!” adu seorang wanita yang memakai pakaian seragam putih biru, membuat seorang wanita yang mencepol rambutnya itu menghela napas panjang dan mengambil penggaris kayu berukuran satu meter. “Grrrrr! Siapa lagi sih!” ujarnya. Nayaka Shainara, seorang wanita dewasa y







