공유

TIga

작가: Khody Didi
last update 게시일: 2026-04-23 11:10:27

“NAYAKA SHAINARA!!!!” Suara itu begitu memekakkan telinga Nayaka di pagi buta ini! Tidak! Sebenarnya ini sudah pukul sembilan pagi, namun bagi seorang yang bekerja juga di dunia malam, pukul sembilan masih terlalu pagi!

Dia bahkan baru pulang pukul empat tadi pagi, setelah melakukan pertunjukan di salah satu bar undangan. Tidak mudah bisa menjadi DJ di bar kalangan elit itu. Ya, teman satu panggungnya yang satu-satunya sahabatnya dan tahu bahwa di siang hari wanita itu bekerja sebagai guru sering mengatainya dengan kata-kata, “siang mencerdaskan anak bangsa! Malam membobrokkan dedengkot bangsa!”

DJ Shai adalah nama panggungnya, penampilannya jelas jauh berbeda. Menjadi guru adalah impian orang tuanya, sementara impiannya jelas saja menjadi DJ. Itu sebabnya dia memiliki dua kepribadian, ditambah dia lahir di bawah rasi bintang Gemini yang bisa memiliki bahkan dua atau lebih wajah.

Suara memekakkan itu berasal dari Nyonya Karmila, sang ibunda yang sudah terpisah rumah darinya, namun paling bawel jika Nayaka mengganti password kunci rumah. Karena dia wajib bin kudu tahu.

“BANGUN SUDAH SIANG!! INI KAMU TELANJANG!!!” gerutunya menarik selimut Nayaka. Wanita yang usianya sudah sangat dewasa itu hanya menggerutu. Ah sial, dia malam tadi terlalu lelah dan larut akan euforia. Bayaran yang didapat sangat besar, belum lagi sawerannya. Dia tak sadar hanya tidur mengenakan sport bra dan celana pendek saja.

“Oh Nyonya Karmila ... masih pagi sudah nyanyi,” ujar Nayaka berusaha membuka matanya.

“Ini yang bikin mama kesal ya, kamu pisah rumah sebelum menikah! Kamu malas-malasan! Kapan nikahnya kalau malas terus! Cepat bangun!!!” teriaknya. Sumpah demi apa pun wanita tua bernama Karmila ini takkan berhenti merepet sebelum Nayaka bangun. Itu sebabnya, dengan malas dia pun duduk dan berjalan keluar. Tak peduli dengan pakaiannya karena dia tinggal di rumah minimalis ini sendirian.

“Pagi miss Gemini,” sapa pria yang tampak malas duduk di sofa tunggal sambil mengangkat kedua kakinya. Namanya Raiden Shaitama, tahun ini berusia dua puluh tujuh. Beda dua tahun dengan Nayaka. Wajah tampan, pekerjaan mapan sebagai financial planner perusahaan ternama, tubuh tinggi atletis karena pernah menjadi atlet basket di masa remajanya sebelum mengalami cedera di pergelangan tangan.

Jangan pikir orang tuanya ada yang berkewarga negaraan Jepang karena ada kata Shai di namanya, tidak! Ayahnya berkata bahwa Shai itu adalah pelesetan dari panggilannya pada istrinya dari kata Say alias Sayang. Aneh kan? Ya memang!

“Ngapain lo!” gerutu Nayaka sambil menoyor sang adik yang sampai kini masih tinggal bersama orang tuanya.

“Tentu saja mengantar nyonya Karmila ke rumah anak sulungnya yang setiap malam dikhawatirkan, didoakan, dan dibawa fotonya ke dukun-dukun ternama karena khawatir aura anaknya ditutup,” sindir Raiden.

“Hadeh,” ujar Nayaka.

“Sudah mau kepala tiga belum menikah!” geram sang ibu, “adikmu sudah pacaran lama, keburu bunting ceweknya!”

“Ya sudah sih nikahin aja dia duluan,” gerutu Nayaka yang disetujui Raiden.

“Enggak ya! Sebelum kamu menikah. Mama enggak mau kamu dilangkahi, makin jauh jodoh nanti!” ujar ibunya sambil berjalan ke arah dapur, mengeluarkan kotak makanan yang dibawanya, stok lauk seminggu untuk sang putri.

Raiden mengambil remote dan mengganti channel televisi, dia menggeleng prihatin melihat kakaknya. Bagaimana kalau salah satu muridnya tahu dia berpakaian seksi seperti ini? Atau tahu tentang pekerjaan malamnya? Duh! Hancur dunia pendidikan! Mau jadi apa anak bangsa yang dididiknya?

Ya hanya Raiden, satu-satunya keluarga yang tahu, itu pun tahu tak sengaja karena dia yang party di salah satu bar dan terkejut mendapati kakaknya merupakan salah satu DJ di sana. Seperti memiliki kartu AS, Nayaka tak bisa memarahi adiknya lagi sejak itu.

Sementara sang ibu menyiapkan sarapan untuk putri pertamanya, Nayaka duduk santai di sofa, membuka ponselnya. Melihat akun sosial medianya yang tentu saja dia memiliki dua akun berbeda. Akun DJ dan gurunya, yang keduanya tak menampilkan wajahnya sama sekali. Foto dirinya hanya ada dari belakang saja.

Padahal dengan kecantikan wajahnya, bisa saja dia menjadi selebgram atau selebtok. Atau apa pun itu. Namun, dia tak mau terlalu banyak orang tahu kehidupan pribadinya atau mengenalnya.

Karmila, membawakan sepiring sarapan untuk putrinya dan duduk di sampingnya seraya meletakkan bantal sofa di pangkuan sang putri.

“Kamu tahu kan minggu lalu mama ke Singapore?” tanya Karmila.

“Tahu, kenapa? Uangnya cukup, kan?” tanya Nayaka. 

Ibunya mendengus, “mama ketemu teman baru, namanya Anggun. Dia juga punya anak seusia kamu, eh enggak deh beda lima atau enam tahun di atas kamu. Single, tampan, mapan, pemilik restoran Nuansa Food. Pasti kamu tahu karena kita pernah makan di sana,” ujar sang ibu.

“Perjodohan lagi! Enggak capek apa?” tanya Nayaka sambil menyuap sarapan paginya.

“Enggak akan pernah capek sebelum kamu menikah!” gerutu sang ibu.

And then?” tanya Nayaka. Sementara Raiden hanya mendengarkan dengan seksama.

“Besok, jam tujuh malam, kalian akan bertemu di restoran Langit. Dandan yang cantik, rapih, sopan, kamu harus menikah tahun ini!” ujar sang ibu.

“Lihat besok deh,” ucap Nayaka malas. Dia bahkan lupa dengan kata Nuansa, menurutnya itu adalah kata yang biasa.

Raiden menatap kakaknya dengan pandangan sedih, “kali ini harus, Kak,” ucapnya.

“Kenapa? Kamu ngebet mau nikah?” ujar Nayaka cuek.

Raiden menunduk, “calon mertuaku terkena kanker getah bening, usianya mungkin enggak lama lagi, keinginan terakhirnya melihat anaknya menikah.”

“Ya sudah nikah aja duluan repot banget!” ujar Nayaka. Raiden berdiri dan mengepalkan tangannya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Empat

    Setelah makan bersama Dandy tadi, Carmen tak makan lagi dia bahkan sangat tidak bernafsu makan. Perutnya kosong, tapi bukan itu yang paling dia rasakan. Ada sesuatu yang lebih berat, rasa takut yang terus mengendap di dadanya sejak pagi tadi.Dia hanya duduk di kamarnya. Dia melamun dan menatap kosong ke arah dinding yang mulai kusam. Pintu kamar itu dia kunci rapat. Bukan sekadar kebiasaan. Tapi kebutuhan. Dia tidak ingin siapa pun masuk.Terutama ayah mertuanya. Tak lama dari habis makan tadi pagi, Dandy pergi lagi dan rumah kembali sepi membuat Carmen kembali dihantui rasa takut.Setiap kali mengingat kejadian subuh tadi, jantung Carmen langsung berdegup lebih cepat. Tangannya terasa dingin, dan napasnya menjadi pendek. Dia bahkan beberapa kali mengecek pintu itu, memastikan benar-benar terkunci.Dia mengeceknya berkali-kali seolah jika dia lengah sedikit saja, sesuatu buruk akan terjadi.Waktu terasa berjalan lambat. Cahaya matahari yang masuk

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Tiga

    Carmen baru ke luar kamar setelah memastikan bahwa orang-orang sudah pergi semua. Dia membuka pintu perlahan, hanya sedikit celah, mengintip ke luar seperti seseorang yang takut tertangkap basah. Rumah terasa sunyi, tidak ada suara percakapan, tidak ada langkah kaki, hanya suara kipas angin tua yang berputar di ruang tengah.Dia menarik napas lega. Namun, rasa lega itu tidak sepenuhnya dia rasakan.Bayangan kejadian subuh tadi masih terus menghantuinya. Wajah ayah mertuanya, tatapan tajam itu, suara yang menyudutkan ... semuanya masih terasa begitu nyata. Bahkan saat ini, Carmen masih bisa merasakan panas di wajahnya karena malu.Dia menggigit bibir. Tidak.Dia tidak akan menceritakan ini ke Keanu. Dia bahkan sudah bisa membayangkan reaksi suaminya. Bukan membela apalagi menenangkan. Keanu pasti akan marah dan menyalahkannya.Dia pasti akan menganggapnya ceroboh dan tidak bisa menjaga diri. Dan Carmen … tidak sanggup menerima itu.Dia

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Dua

    Keanu tiba-tiba mendekat, membungkam kata-katanya dengan ciuman yang datang tanpa peringatan. Gerakannya tergesa, penuh dorongan emosi yang sulit dipahami Carmen.Dia tidak sempat bereaksi. Tubuhnya menegang, napasnya tersendat.Tangannya yang terikat membuatnya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menggerakkan kakinya dengan gelisah. Dia mencoba menyesuaikan diri, mencoba memahami, tapi semuanya terasa terlalu cepat, terlalu memaksa.Keanu seperti melampiaskan sesuatu. Bukan sekadar kedekatan, bukan sekadar keinginan. Ada kemarahan yang tidak diucapkan juga tekanan yang tidak disalurkan.Dan Carmen … hanya menjadi tempatnya. Keanu hampir merobek pakaiannya dengan kasar, membiarkan tubuh Carmen tak berbusana dengan tangan terikat.Lalu dengan cepat dia melampiaskan hasratnya yang diliputi kemarahan, Carmen belum siap. Miliknya kembali terasa perih seperti saat awal menikah. Lalu dengan kasar Keanu memuntahkan cairan tubuhnya di atas tubuh C

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Satu

    Keanu belum pulang ke rumah di saat hari sudah mulai malam, dan suasana rumah itu perlahan berubah menjadi sunyi. Lampu di lorong menyala redup, memantulkan bayangan samar di dinding yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian.Dari kamar berukuran kecil di bagian belakang rumah, kamar yang kini ditempati Carmen, dia bisa mendengar suara benda berat yang terseret dari arah dapur. Bunyi gesekan itu kasar, seperti logam bertemu lantai semen yang tidak rata.Penasaran, sekaligus merasa tidak tenang, Carmen pun bangkit dari tempat tidurnya. Dia melangkah perlahan keluar kamar, membuka pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Udara malam terasa lembap, sedikit pengap karena ventilasi yang tidak terlalu baik. Saat dia sampai di ambang dapur, pandangannya langsung tertuju pada kedua mertuanya yang sedang menyeret mesin cuci ke dalam rumah.Ukuran mesin cuci itu memang cukup besar dan berat, sehingga ayah Keanu harus menariknya dengan tenaga penuh, semen

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh

    70Carmen benar-benar berterima kasih pada siapa pun itu penemu mesin cuci, sehingga dia bisa sesantai ini mengerjakan pekerjaan mencucinya. Duduk bersila di lantai yang masih sedikit lembap, Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap mesin cuci yang berputar pelan seperti sebuah keajaiban kecil dalam hidupnya yang kini berubah drastis.Suara putaran mesin itu terdengar konstan. Tidak berisik, tidak mengganggu. Justru terasa menenangkan.Untuk pertama kalinya sejak Dia tinggal di rumah ini, Carmen tidak perlu membungkuk terlalu lama, tidak perlu meremas kain berkali-kali sampai tangannya perih, dan tidak perlu menahan pegal di pinggang yang terasa seperti akan patah.Dia menghela napas pelan, lalu meraih ponselnya. Layarnya menyala. Seperti refleks, jarinya langsung membuka media sosial. Sudah lama dia tidak benar-benar melihat dunia luar, dunia yang dulu begitu dekat dengannya.Scroll.Satu per satu story teman-temannya muncul.

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Enam Puluh Sembilan

    Mereka berjalan bersama ke warung kecil di ujung gang. Warung sederhana milik seorang nenek renta yang kemarin memberi Carmen pisang goreng. Gorengan masih tersusun di atas nampan. Sangat terbuka hingga mungkin saja bisa dihinggapi lalar.Amora melihatnya dengan ekspresi ragu. Namun Carmen sudah duduk lebih dulu di bangku panjang.“Kamu datang,” ucap nenek itu sambil tersenyum hangat.“Iya, Nek. Pisang gorengnya masih ada?” tanya Carmen.“Ada, ini. Mau minum? Nenek buatin teh manis hangat ya.”Carmen mengangguk. “Dua gelas ya, Nek.”Amora duduk di sampingnya, masih terlihat canggung. Dia memperhatikan sekitar. Bangku kayu. Meja yang sedikit lengket.Udara yang bercampur aroma minyak goreng. Sangat jauh dari tempat yang biasa dia datangi. Cafe yang fancy atau restoran bintang lima. Kini ... mereka duduk berdua! Dua wanita dari kalangan konglomerat, nongkrong di sebuah warung yang bahkan t

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status