Share

Enam

Author: Khody Didi
last update publish date: 2026-04-23 11:12:21

“Demi adek gue, jadi ... klo elo enggak keberatan, gue mau kalau kita nikah sementara aja, setelah setahun atau dua tahun kita pisah, kita jalanin hidup masing-masing, pernikahan hanya status aja.”

“Jadi,” ucap Nuansa sambil menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di dada, “pernikahan hanya permainan bagi lo?”

“Pernikahan itu hanya penyatuan dua orang kan, ya mungkin dua keluarga, tapi ... jangan terlalu mengikat, gue masih ingin senang-senang,” ujar Nayaka.

“Gue enggak tertarik menikah, dan juga kehidupan lo,” ucap Nuansa tak kalah dingin.

“Yah, barang kali suatu hari tertarik, lo bisa hubungin gue,” tutur Nayaka, kembali mengembuskan asap rokok elektriknya. Lalu dia menerima panggilan masuk dari salah satu temannya. Dia mendapat informasi untuk main di sebuah club malam ini. Nuansa mendengar ucapannya, namun tak terlalu jelas. 

Nayaka kemudian menurunkan kakinya, “sudah dua puluh menit, gue rasa sudah cukup pertemuannya,” ucap Nayaka. Nuansa mengulurkan ponselnya.

“Minimal kasih nomor ponsel, barang kali suatu saat tertarik,” ujar Nuansa. Nayaka mengetik nomor ponselnya dan melakukan panggilan ke nomornya dari ponsel Nuansa.

“Sudah, save aja, gue pergi dulu,” ucapnya sambil berlalu. 

“Lo sudah sampai?” tanya Nayaka ketika meletakkan ponsel di telinganya, temannya memang menjemputnya. Bisa dibilang sahabat sekaligus manager DJ-nya dan terkadang ikut jadi DJ bersamanya.

Ketika dia keluar dari lobbi restoran, sebuah mobil hitam menunggunya. Nayaka membuka pintu depan dan duduk di samping kursi kemudi.

“Tumben banget mau ketemu cowok yang dijodohin,” ujar April, teman dekatnya. Jika Nayaka disebut perawan tua, maka April disebut janda muda. Menikah di usia dua puluh empat dan cerai di usia dua puluh lima. Ya hanya setahun, menikahi pria NPD membuatnya stres dan hampir gila. Untung orang tuanya segera membawanya pergi. Usianya sepantar dengan Nayaka, bahkan mereka bersahabat sejak SMA.

Selain sebagai manager DJ Nayaka, di siang hari dia bekerja di bank. Benarkan kedua orang ini memiliki dua sisi yang berbeda.

Rambut April dipotong pendek seleher, memakai pakaian yang mini seperti sudah siap untuk malam ini.

“Biasa si Raiden, ngamuk.”

“Duh lelaki soft spoken itu bisa ngamuk juga?” ujar April sambil menggerakkan stir kemudi menuju jalanan utama.

“Katanya calon mertuanya itu sakit keras, keinginan terakhirnya mau liat anaknya nikah. Mereka pacaran sudah lama juga kan? Jadi enggak ada salahnya gue coba lah ketemuan sama cowok itu. Ganteng sih, tapi gue rasa dia suka cowok,” ucap Nayaka sambil membuka kaosnya dan melemparkan ke belakang.

Dia membuka kaca di atasnya dan menyisir, lalu menyemprotkan pewarna rambut instan berwarna keungunan untuk tampil malam ini.

“Tahu dari mana dia suka cowok?” tanya April lebih serius.

“Biasanya yang macho gitu suka cowok macho juga, badannya atletis, ototnya keliatan meski tadi pakai baju tangan panjang. Tadinya gue tawarin buat nikah sementara, dia nolak. Tapi terus dia minta nomor hp gue, gue yakin dia juga mulai berpikir untuk pernikahan demi menutupi jati dirinya dan ketidaknormalannya.”

“Kalau lo memang pengen banget nikah sementara, nikah kontrak, kawin gantung atau apa pun itu, gue bisa cariin cowok,” ucap April.

Nayaka menggelengkan kepalanya dengan keras, “enggak bisa, ortu gue pemilih.”

April hanya berdehem, mereka pun menuju salah satu club yang cukup bergengsi untuk mengisi acara. 

Malam ini, Nayaka bukanlah seorang guru sekolah menengah pertama, tapi dia adalah DJ Shai, seorang DJ lincah yang tampil di sebuah club malam dengan lampu neon berwarna ungu dan biru yang berkilauan di sekeliling ruangan. Dia berdiri di belakang DJ booth dengan turntable modern, mixer dan laptop yang penuh dengan software musik.

Pakaiannya tampak stylish, crop top hitam dengan aksen kilau perak, celana kulit ketat dan sneakers putih tebal yang membuatnya leluasa bergerak. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sentuhan highlight neon yang menambah kesan edgy.

Saat memainkan musik, DJ Shai penuh energi, tangannya lincah memutar knob, mencampur beat elektronik dengan dentuman bass yang mengentak. Sesekali dia mengangkat tangan ke udara, mengajak crowd ikut melompat bersama, sambil tersenyum pecaya diri.

Sementara di sudut sofa, April berbincang dengan penglola club, “Shai enggak bisa sampai pagi?” tanyanya.

“Enggak bisa, makanya tadi minta tampil di awal.”

“Duh atmosfer lagi panas-panasnya ini.”

“Sudah perjanjian kayak gitu,”ucap April melirik ke arah Nayaka. Tidak mungkin dia pulang pagi karena besok pagi ada upacara di sekolah. Bisa-bisa ketiduran di lapangan dia!

*** 

Setelah upacara berakhir, Nayaka duduk di ruang guru, pintu ruangan itu diketuk, jam pertama memang dia tak ada jadwal mengajar. Seorang gadis muda dengan rambut yang dikuncir tinggi itu masuk, langkahnya tampak ragu.

“Carmen,” sapa Nayaka lalu di belakang Carmen muncul seorang pria tinggi berpakaian rapih dengan kemeja dan celana bahan, matanya dan mata Nayaka bertemu, lalu Nayaka berdiri dan menarik tangan Carmen untuk mendekat dengannya.

“Kan sudah ibu bilang, bawa orang tua kamu. Bukan kakak kamu atau siapa pun itu!” rutuk Nayaka berusaha menutupi wajahnya.

“Tapi dia papa aku, Bu.” Ucapan itu membuat Nayaka menahan napasnya dan mendongak, menatap pria yang tersenyum miring, “hai kita ketemu lagi,” sapanya yang membuat Nayaka rasanya ingin menghilang ditelan bumi!

*** 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Tujuh

    Carmen merasa sangat lelah karena menyikat kamar mandi, tangannya bahkan terasa sakit. Malam ini dia tertidur sebelum Keanu tidur.Keanu dipanggil oleh ibunya sehingga dia ke luar kamar. Tanpa Keanu tahu sang ayah yang ingin ke kamar mandi, berdiri di depan pintu kamarnya. Memperhatikan Carmen yang hanya memakai daster tidurnya. Roknya terangkat dan memamerkan kulitnya yang putih mulus. Seringaiannya tercetak jelas, dia bahkan menggigit bibir dan mengangkat alisnya. Lalu mendengar suara langkah kaki membuatnya segera menuju kamar mandi.Keanu berada di luar, menyesap batang rokoknya dan mengembuskan asap ke udara.“Ratu itu kayaknya masih punya banyak uang, kamu enggak niat ambil uangnya? Bisa kamu pakai jajan kan? Dari pada dia pakai untuk hal yang enggak jelas seperti itu,” ucap ibu Keanu sambil mendengus.“Pintu kamar mandi kan hal yang jelas, Bu,” ucap Keanu acuh. Hari ini dia sangat lelah, pekerjaan kantor seolah tak ada habis

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Enam

    “Ren, kenal sama yang bisa betulin kunci kamar mandi?” tanya Carmen pelan, sambil melirik ke arah Reno yang masih fokus dengan makanannya.Dia menggenggam sendok dengan agak kencang, masih sedikit gugup dan menilai Reno. Dia masih punya uang di dompetnya.Tidak banyak tapi semoga cukup.“Ada, mau dibetulin?” tanya Reno acuh, bahkan tidak menoleh.“Iya, mau … soalnya enggak nyaman kalau rusak,” ucap Carmen.Dia berusaha terdengar biasa saja. Padahal itu bukan sekadar tidak nyaman. Itu menakutkan.Reno akhirnya menoleh sedikit dia menganggukkan kepalanya. Seolah mengerti tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Setelah menyuap ketoprak terakhir di piringnya dia pun mengambil ponselnya.Ponsel itu bukan keluaran terbaru. Bentuknya agak tebal, dengan casing yang sudah sedikit menguning. Layarnya pun tampak penuh goresan halus.Namun tetap berfungsi. Reno menekan beberapa tombol. Lalu menempelkan ponsel ke telinganya.“Iya … ke sini bentar. Ada pintu kamar mandi rusak … iya … rumah gue,” ucap

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Lima

    “Nek, nenek!” panggil Carmen sok akrab, suaranya sedikit terburu-buru, seperti orang yang sedang dikejar sesuatu yang tidak terlihat.Tak lama kemudian, muncullah nenek itu dari arah samping rumah, menenteng ember berisi air. Langkahnya pelan, tapi stabil. Wajahnya tenang, seolah tidak ada hal di dunia ini yang perlu diburu.“Sini aku bantu,” ujar Carmen cepat, langsung mengambil ember itu dari tangan sang nenek tanpa menunggu jawaban.Nenek itu sedikit mengernyit, heran dengan sikap Carmen yang tiba-tiba datang dan langsung sigap seperti itu.“Ada apa?” tanya sang nenek, memperhatikan wajah Carmen yang terlihat sedikit pucat.“Ehmm … enggak apa-apa … aku hanya iseng aja, mau main. Nenek enggak ke mana-mana kan?” tanya Carmen, berusaha terdengar santai meski napasnya belum sepenuhnya teratur.Dia membawa ember itu ke warung kecil milik nenek. Warung itu terpisah dari rumah utama,

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Empat

    Setelah makan bersama Dandy tadi, Carmen tak makan lagi dia bahkan sangat tidak bernafsu makan. Perutnya kosong, tapi bukan itu yang paling dia rasakan. Ada sesuatu yang lebih berat, rasa takut yang terus mengendap di dadanya sejak pagi tadi.Dia hanya duduk di kamarnya. Dia melamun dan menatap kosong ke arah dinding yang mulai kusam. Pintu kamar itu dia kunci rapat. Bukan sekadar kebiasaan. Tapi kebutuhan. Dia tidak ingin siapa pun masuk.Terutama ayah mertuanya. Tak lama dari habis makan tadi pagi, Dandy pergi lagi dan rumah kembali sepi membuat Carmen kembali dihantui rasa takut.Setiap kali mengingat kejadian subuh tadi, jantung Carmen langsung berdegup lebih cepat. Tangannya terasa dingin, dan napasnya menjadi pendek. Dia bahkan beberapa kali mengecek pintu itu, memastikan benar-benar terkunci.Dia mengeceknya berkali-kali seolah jika dia lengah sedikit saja, sesuatu buruk akan terjadi.Waktu terasa berjalan lambat. Cahaya matahari yang masuk

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Tiga

    Carmen baru ke luar kamar setelah memastikan bahwa orang-orang sudah pergi semua. Dia membuka pintu perlahan, hanya sedikit celah, mengintip ke luar seperti seseorang yang takut tertangkap basah. Rumah terasa sunyi, tidak ada suara percakapan, tidak ada langkah kaki, hanya suara kipas angin tua yang berputar di ruang tengah.Dia menarik napas lega. Namun, rasa lega itu tidak sepenuhnya dia rasakan.Bayangan kejadian subuh tadi masih terus menghantuinya. Wajah ayah mertuanya, tatapan tajam itu, suara yang menyudutkan ... semuanya masih terasa begitu nyata. Bahkan saat ini, Carmen masih bisa merasakan panas di wajahnya karena malu.Dia menggigit bibir. Tidak.Dia tidak akan menceritakan ini ke Keanu. Dia bahkan sudah bisa membayangkan reaksi suaminya. Bukan membela apalagi menenangkan. Keanu pasti akan marah dan menyalahkannya.Dia pasti akan menganggapnya ceroboh dan tidak bisa menjaga diri. Dan Carmen … tidak sanggup menerima itu.Dia

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Tujuh Puluh Dua

    Keanu tiba-tiba mendekat, membungkam kata-katanya dengan ciuman yang datang tanpa peringatan. Gerakannya tergesa, penuh dorongan emosi yang sulit dipahami Carmen.Dia tidak sempat bereaksi. Tubuhnya menegang, napasnya tersendat.Tangannya yang terikat membuatnya tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menggerakkan kakinya dengan gelisah. Dia mencoba menyesuaikan diri, mencoba memahami, tapi semuanya terasa terlalu cepat, terlalu memaksa.Keanu seperti melampiaskan sesuatu. Bukan sekadar kedekatan, bukan sekadar keinginan. Ada kemarahan yang tidak diucapkan juga tekanan yang tidak disalurkan.Dan Carmen … hanya menjadi tempatnya. Keanu hampir merobek pakaiannya dengan kasar, membiarkan tubuh Carmen tak berbusana dengan tangan terikat.Lalu dengan cepat dia melampiaskan hasratnya yang diliputi kemarahan, Carmen belum siap. Miliknya kembali terasa perih seperti saat awal menikah. Lalu dengan kasar Keanu memuntahkan cairan tubuhnya di atas tubuh C

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status