تسجيل الدخول“Demi adek gue, jadi ... klo elo enggak keberatan, gue mau kalau kita nikah sementara aja, setelah setahun atau dua tahun kita pisah, kita jalanin hidup masing-masing, pernikahan hanya status aja.”
“Jadi,” ucap Nuansa sambil menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di dada, “pernikahan hanya permainan bagi lo?”
“Pernikahan itu hanya penyatuan dua orang kan, ya mungkin dua keluarga, tapi ... jangan terlalu mengikat, gue masih ingin senang-senang,” ujar Nayaka.
“Gue enggak tertarik menikah, dan juga kehidupan lo,” ucap Nuansa tak kalah dingin.
“Yah, barang kali suatu hari tertarik, lo bisa hubungin gue,” tutur Nayaka, kembali mengembuskan asap rokok elektriknya. Lalu dia menerima panggilan masuk dari salah satu temannya. Dia mendapat informasi untuk main di sebuah club malam ini. Nuansa mendengar ucapannya, namun tak terlalu jelas.
Nayaka kemudian menurunkan kakinya, “sudah dua puluh menit, gue rasa sudah cukup pertemuannya,” ucap Nayaka. Nuansa mengulurkan ponselnya.
“Minimal kasih nomor ponsel, barang kali suatu saat tertarik,” ujar Nuansa. Nayaka mengetik nomor ponselnya dan melakukan panggilan ke nomornya dari ponsel Nuansa.
“Sudah, save aja, gue pergi dulu,” ucapnya sambil berlalu.
“Lo sudah sampai?” tanya Nayaka ketika meletakkan ponsel di telinganya, temannya memang menjemputnya. Bisa dibilang sahabat sekaligus manager DJ-nya dan terkadang ikut jadi DJ bersamanya.
Ketika dia keluar dari lobbi restoran, sebuah mobil hitam menunggunya. Nayaka membuka pintu depan dan duduk di samping kursi kemudi.
“Tumben banget mau ketemu cowok yang dijodohin,” ujar April, teman dekatnya. Jika Nayaka disebut perawan tua, maka April disebut janda muda. Menikah di usia dua puluh empat dan cerai di usia dua puluh lima. Ya hanya setahun, menikahi pria NPD membuatnya stres dan hampir gila. Untung orang tuanya segera membawanya pergi. Usianya sepantar dengan Nayaka, bahkan mereka bersahabat sejak SMA.
Selain sebagai manager DJ Nayaka, di siang hari dia bekerja di bank. Benarkan kedua orang ini memiliki dua sisi yang berbeda.
Rambut April dipotong pendek seleher, memakai pakaian yang mini seperti sudah siap untuk malam ini.
“Biasa si Raiden, ngamuk.”
“Duh lelaki soft spoken itu bisa ngamuk juga?” ujar April sambil menggerakkan stir kemudi menuju jalanan utama.
“Katanya calon mertuanya itu sakit keras, keinginan terakhirnya mau liat anaknya nikah. Mereka pacaran sudah lama juga kan? Jadi enggak ada salahnya gue coba lah ketemuan sama cowok itu. Ganteng sih, tapi gue rasa dia suka cowok,” ucap Nayaka sambil membuka kaosnya dan melemparkan ke belakang.
Dia membuka kaca di atasnya dan menyisir, lalu menyemprotkan pewarna rambut instan berwarna keungunan untuk tampil malam ini.
“Tahu dari mana dia suka cowok?” tanya April lebih serius.
“Biasanya yang macho gitu suka cowok macho juga, badannya atletis, ototnya keliatan meski tadi pakai baju tangan panjang. Tadinya gue tawarin buat nikah sementara, dia nolak. Tapi terus dia minta nomor hp gue, gue yakin dia juga mulai berpikir untuk pernikahan demi menutupi jati dirinya dan ketidaknormalannya.”
“Kalau lo memang pengen banget nikah sementara, nikah kontrak, kawin gantung atau apa pun itu, gue bisa cariin cowok,” ucap April.
Nayaka menggelengkan kepalanya dengan keras, “enggak bisa, ortu gue pemilih.”
April hanya berdehem, mereka pun menuju salah satu club yang cukup bergengsi untuk mengisi acara.
Malam ini, Nayaka bukanlah seorang guru sekolah menengah pertama, tapi dia adalah DJ Shai, seorang DJ lincah yang tampil di sebuah club malam dengan lampu neon berwarna ungu dan biru yang berkilauan di sekeliling ruangan. Dia berdiri di belakang DJ booth dengan turntable modern, mixer dan laptop yang penuh dengan software musik.
Pakaiannya tampak stylish, crop top hitam dengan aksen kilau perak, celana kulit ketat dan sneakers putih tebal yang membuatnya leluasa bergerak. Rambutnya dibiarkan terurai dengan sentuhan highlight neon yang menambah kesan edgy.
Saat memainkan musik, DJ Shai penuh energi, tangannya lincah memutar knob, mencampur beat elektronik dengan dentuman bass yang mengentak. Sesekali dia mengangkat tangan ke udara, mengajak crowd ikut melompat bersama, sambil tersenyum pecaya diri.
Sementara di sudut sofa, April berbincang dengan penglola club, “Shai enggak bisa sampai pagi?” tanyanya.
“Enggak bisa, makanya tadi minta tampil di awal.”
“Duh atmosfer lagi panas-panasnya ini.”
“Sudah perjanjian kayak gitu,”ucap April melirik ke arah Nayaka. Tidak mungkin dia pulang pagi karena besok pagi ada upacara di sekolah. Bisa-bisa ketiduran di lapangan dia!
***
Setelah upacara berakhir, Nayaka duduk di ruang guru, pintu ruangan itu diketuk, jam pertama memang dia tak ada jadwal mengajar. Seorang gadis muda dengan rambut yang dikuncir tinggi itu masuk, langkahnya tampak ragu.
“Carmen,” sapa Nayaka lalu di belakang Carmen muncul seorang pria tinggi berpakaian rapih dengan kemeja dan celana bahan, matanya dan mata Nayaka bertemu, lalu Nayaka berdiri dan menarik tangan Carmen untuk mendekat dengannya.
“Kan sudah ibu bilang, bawa orang tua kamu. Bukan kakak kamu atau siapa pun itu!” rutuk Nayaka berusaha menutupi wajahnya.
“Tapi dia papa aku, Bu.” Ucapan itu membuat Nayaka menahan napasnya dan mendongak, menatap pria yang tersenyum miring, “hai kita ketemu lagi,” sapanya yang membuat Nayaka rasanya ingin menghilang ditelan bumi!
***
Pagi hari itu di saat Carmen masih bergelut dengan rasa sakit di tubuhnya, berjuang menahan lapar dan mual di belakang rumah yang asing baginya, sebelum menerima kenyataan pria yang dinikahinya berkata bahwa dia menunjukkan dirinya yang asli. Yang membaut Carmen berpikir suaminya telah mati! Keanu yang dia kenal telah tiada.Sementara itu di tempat lain, tidak terlalu jauh dari sana, sebuah mobil hitam mengilap memasuki kawasan yang sama.Mobil itu melaju perlahan, seolah enggan benar-benar menyatu dengan lingkungan di sekitarnya.Jalanan sempit, sedikit berlubang, dengan genangan air di beberapa titik. Rumah-rumah berdempetan, catnya kusam, sebagian temboknya bahkan mulai mengelupas. Jemuran pakaian menggantung di sana-sini, menghalangi pandangan. Bau gorengan bercampur dengan aroma selokan yang samar.Mobil itu terasa seperti benda asing.Terlihat mencolok dan berrbeda. Sangat kontras dengan pemandangan lingkungan yang nyaris kumuh di sekitarnya.
Carmen merasakan tubuhnya yang sakit ketika bangun tidur. Rasa nyeri itu bukan hanya sekadar pegal biasa, melainkan seperti ditindih beban berat semalaman, menjalar dari bahu hingga ke pinggangnya. Bahkan untuk sekadar menggerakkan tangan saja terasa begitu sulit. Dia meringis pelan, napasnya tertahan ketika rasa perih itu kembali mengingatkannya pada kejadian semalam.Perlahan, Carmen menunduk dan menutup bajunya yang tersingkap. Jari-jarinya gemetar saat menyentuh kulitnya sendiri. Ada bercak biru di sana, lebam yang jelas, kasar, dan menyakitkan. Bekas perlakuan Keanu terhadapnya. Suaminya yang dulu selalu bersikap lembut bahkan tak membiarkan Carmen digigit satu ekor nyamuk pun. Kini, lihatlah?!Carmen memejamkan mata. Dia mencoba mengingat wajah Keanu yang dulu, yang lembut, penuh perhatian, yang dulu selalu menggenggam tangannya dengan hangat. Namun bayangan itu terasa semakin jauh, seperti kenangan milik orang lain.Kini yang tersisa hanyalah rasa sakit.
“Mas apa yang kamu lakukan!” Jerit Carmen pecah di tengah malam yang sunyi.Dia terbangun dengan napas tersengal, jantungnya berdetak sangat cepat. Rasa sesak langsung menyerang ketika dia menyadari ada tangan yang mencengkeram lehernya cukup kuat. Pandangannya masih kabur, namun siluet tubuh di atasnya sangat jelas, Keanu.“Mas!” suaranya melemah, mencoba meraih kesadaran penuh, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.Namun yang dia lihat justru membuat tubuhnya membeku.Keanu berada di atasnya dengan tatapan yang asing. Bukan tatapan yang dulu membuatnya jatuh cinta. Bukan tatapan hangat yang dulu selalu ia rindukan. Tatapan itu … dingin, liar, dan entah mengapa terasa seperti kebencian yang dipendam terlalu lama.“Aku susah napas … kita bisa lakukan pelan-pelan kan?” mohon Carmen, berusaha meraih tangan Keanu yang mencengkeram lehernya.Namun Keanu tidak menjawab. Cengkeramannya tidak me
Saat ini Carmen tengah melihat ponsel keluaran terbaru yang dibeli seminggu sebelum mereka menikah, harganya mungkin sama dengan motor besar yang baru rilis. Jemarinya yang halus mengusap layar itu perlahan, seolah benda tersebut adalah satu-satunya hal yang masih terasa “miliknya” di tempat asing ini.Di rumah lamanya, ponsel seperti ini bukan sesuatu yang istimewa, dia bahkan sering berganti model setiap beberapa bulan sekali. Namun di sini, benda itu terasa seperti simbol dari dunia yang perlahan menjauh darinya.Perutnya sangat lapar. Bukan sekadar lapar biasa, tapi perih yang menusuk hingga ke ulu hati. Namun dia tidak berani meminta izin kepada ibu mertuanya karena tadi saja dia sudah dihadiahi tatapan dingin yang begitu tajam, seolah kehadirannya adalah beban. Carmen menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa tidak nyaman itu.Sebuah pesan masuk ke ponselnya, dari Amora, sahabat Carmen.Nama itu langsung membuat hatinya menghangat.
Meninggalkan Carmen yang masih berjongkok.Sunyi seketika terasa di dapur pengap itu. Carmen menatap ke arah yang ditunjuk Tia tadi.Sebuah dingklik kecil. Tersandar di sudut dapur. Dadanya terasa sesak.Betapa bodohnya dia. Di rumah, mbok Sumi selalu menggunakan dingklik saat mencuci lap atau melakukan pekerjaan di lantai. Hal sederhana itu bahkan tidak terpikirkan olehnya sekarang.Dan ingatan itu …Membawanya kembali ke malam sebelum dia pergi dari rumah.“Jangan bawa semua perhiasan, Non, dan kalau bisa barang berharga sembunyikan di tempat aman. Barangkali suatu saat Non butuh. Non juga enggak perlu terlalu terbuka dengan simpanan itu ke suami, kita tidak tahu pikiran seseorang kan?”Suara Mbok Sumi masih terngiang jelas di kepalanya.Wanita tua itu berdiri di sampingnya, menatapnya dengan penuh kekhawatiran.Carmen yang sedang menata barang di atas ranjang hanya mendengus pelan.“Mas
“Dia beneran enggak bawa apa-apa? Coba kamu cari barang berharga siapa tahu dia bawa,” ujar ayah Keanu sambil menyandarkan punggungnya ke tiang teras yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Catnya mengelupas di sana-sini, memperlihatkan kayu yang mulai menghitam.“Nanti saja lah, aku capek, lagian dia juga enggak kemana-mana. Aku enggak akan kasih izin dia pergi sejauh radius lima ratus meter dari rumah ini,” tutur Keanu sambil menguap lebar. Pria yang berparas tampan itu memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan, terdengar bunyi kecil dari lehernya yang terasa sangat pegal setelah semalaman hampir tidak tidur.Dia mengusap wajahnya kasar, matanya berat, tapi pikirannya masih penuh dengan potongan-potongan masa lalu yang membuat dadanya sesak.Tidak sia-sia perjuangan Keanu selama setahun mendekati Carmen. Semua yang dia lakukan kesabaran, perhatian, bahkan uang yang dia keluarkan semuanya bukan tanpa tujuan. Dia membeli kepercayaan Carmen, pe







