Share

Empat

Penulis: Khody Didi
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 11:10:47

Wajahnya menyiratkan amarah yang ditahannya, “kalau bisa juga aku nikah duluan, Kak!! Tapi orang tua kita maunya kakak duluan!!! Aku capek nahan selama ini! Aku bisa aja nikah tanpa restu! Tapi aku menghargai mereka! Enggak seperti kakak! Yang cuma jadi beban!!!” Raiden mengentakkan kakinya sebelum meninggalkan ruangan itu. 

Nayaka terdiam, ibunya pun terkejut. Tak menyangka putra baik hati yang selalu dibanggakannya bisa meledak seperti ini. Sementara di luar rumah, Raiden menyeka air matanya. Bukan inginnya mengamuk seperti tadi, tapi ... dia tak tahan lagi dengan kelakuan kakaknya.

Karmila menghela napas panjang, mengambil piring di tangan Nayaka, “temui adikmu,” ujar Karmila.

“Harusnya ibu yang nemui dia,” ujar Nayaka seraya mencebikkan bibirnya. Ibunya hanya memberinya pelototan tajam hingga mau tak mau Nayaka turun dari sofa itu dan berjalan ke arah pintu. Dia tak mungkin keluar dengan pakaian seperti ini. Dia melihat adiknya yang duduk di luar sambil mendongak seolah menahan laju air matanya. Adiknya adalah pria yang lembut, soft spoken dan hampir tak pernah marah.

“Kakak sadar enggak sih? Orang tua kita melakukan ini karena khawatir sama kakak, mereka enggak mau kakak jadi perawan tua, menikahlah Kak, sekali aja. Setelah aku menikah, terserah kakak mau cerai atau apa?” gumam Raiden yang mengetahui kakaknya berdiri di balik pintu.

“Ya sudah kakak temui cowok itu besok.” 

Nayaka kemudian kembali masuk ke dalam, mengambil piringnya kembali di tangan ibunya. Terserahlah, setidaknya dia temui dulu pria itu.

Sementara itu di pagi yang sama di rumah Nuansa, keadaan cukup hening. Kedua orang tuanya datang dan ingin menemui Carmen. Namun sejak semalam, Carmen mengurung dirinya di kamar.

“Dia butuh ibu, Nak,” ucap Anggun pada putranya yang hanya bisa duduk di sofa panjang sambil menghela napas panjang. 

Masih tak dapat dicerna olehnya surat peringatan yang disampaikan wali kelas Carmen, tentang Carmen yang merokok dan ini adalah pelanggaran kedua. Carmen terancam dikeluarkan dari sekolah. Orang tuanya tak boleh tahu tentang hal ini, mereka memiliki riwayat lemah jantung.

“Caroline?” ujar Nuansa.

Anggun dan Wardana, sang suami saling tatap dan menggeleng.

“Kami tidak bisa menyukainya, dia bukan perempuan baik-baik,” ucap Anggun. Jelas bukan perempuan baik-baik jika mau diajak menginap di hotel dengan pria yang bukan suaminya kan? Bisa saja wanita itu sudah sering bermalam dengan lelaki lainnya.

“Aku lagi enggak dekat dengan siapa-siapa selain Caroline,” ucap Nuansa.

“Ibu punya calon untukmu,” ucap Anggun.

“Siapa?” tanya Nuansa.

Kini ayahnya yang mengambil peran, “Anak teman ibumu, pekerjaannya baik, orang tuanya berasal dari keluarga baik, besok kalian akan bertemu di restoran Langit. Ayah sudah mereservasi,” ujar Wardana. Minggu yang sibuk, pikir Nuansa. Besok dia bertemu wanita yang dijodohkan itu dan lusa bertemu wali kelas Carmen. 

“Ya,” jawab Nuansa.

“Carmen,” ucap sang ibu menggantung membuat Nuansa mendongak, “ibu dengar dia nakal di sekolahnya,” imbuhnya.

“I-ibu? Kata siapa?” tanya Nuansa sedikit panik.

“Kamu tahu kan kepala sekolahnya itu teman ibu?” 

“Bu?”

“Jika dia masih berulah, kita kirim dia ke asrama atau pesantren, sebaiknya dia berada di bawah pengawasan kami. Kalau kamu tidak becus mendidiknya.”

“Tapi, Bu.” Nuansa menghela napas, tak bisa membantah orang tuanya. Hingga terdengar suara langkah kaki dari belakang. Lalu Carmen berdiri dengan wajah marah. Air mata menggenang di matanya.

“Carmen punya kehidupan sendiri! Kalian semua enggak berhak mengatur!” ujarnya.

“Carmen,” panggil Nuansa.

“Apa?” sentaknya.

Wardana berdiri, “jadi seperti ini cara kamu membesarkan Carmen? Menjadikannya anak pembangkang?” tanya Wardana naik pitam.

“Yah, enggak seperti itu, aku akan memperbaiki sikapnya,” ucap Nuansa berusaha menenangkan ayahnya. Wardana tak boleh emosi, atau oksigennya takkan bisa terserap sempurna di tubuhnya.

“Apa yang mau papa perbaiki? Hah!” sungut Carmen.

“Cukup Carmen!!! Masuk kamar kamu!!!” tunjuk Nuansa. Carmen mengentakkan kakinya kasar dan berlari ke kamar. Di balik itu, Mbok Sumi hanya bisa menunduk sedih menatap gadis yang dibesarkannya sejak usia lima tahun itu. Carmen benar-benar kekurangan kasih sayang dan dia tak bisa memenuhi kasih itu.

“Menikahlah, Nak. Agar ada yang menemani Carmen saat kamu sibuk,” ucap Anggun, lalu dia memegang lengan suaminya dan mengajaknya pulang.

Nuansa menunduk, dia sangat mencintai orang tuanya, dia anak tunggal, tak memiliki keluarga lainnya lagi. Dulu ketika dia ingin menikah dengan ibu Carmen juga orang tuanya tak merestui, dan dia tetap nekat menikah hingga akhirnya dia tahu alasan orang tuanya tak merestui karena mereka tahu bahwa ibu Carmen pastilah bukan wanita baik.

Dan kini ... ketika dia mengenalkan Caroline, mereka pun bersikap demikian. Nuansa tak mau membuat orang tuanya sedih untuk kedua kalinya. Kali ini ... dia akan menuruti keinginan mereka untuk menikah dengan jodoh pilihan mereka.

*** 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Ekstra Part

    (Sepuluh Tahun Kemudian)Waktu berjalan tanpa tergesa, mengalir bagaikan air yang tenang namun mampu mengubah kehidupan secara perlahan dan pasti. Sepuluh tahun telah berlalu sejak malam penuh kehangatan dan kembalinya keharmonisan rumah tangga mereka, membawa ribuan hari yang dipenuhi oleh pertumbuhan, cinta, dan tawa.Hari ini, sebuah acara pesta pernikahan yang teramat megah dan penuh nuansa kebahagiaan digelar secara spektakuler. Anak terakhir dari pasangan Nayaka dan Nuansa, yaitu Yasha, akhirnya melangsungkan pernikahannya.Pria muda yang dahulu dikenal sebagai anak laki-laki yang lincah dan menggemaskan itu, kini telah tumbuh sepenuhnya menjadi seorang lelaki dewasa yang sangat tampan, gagah, dan berwibawa. Di hari yang bersejarah ini, Yasha mengikat janji suci sehidup semati dengan wanita pilihannya, yang tidak lain adalah teman bermain masa kecilnya sendiri yang telah tumbuh menjadi gadis yang

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Tujuh (Carmen-End)

    Ucapan berani itu seketika membuat Arkha tidak bisa menahan tawanya lagi. Rasa cemasnya menguap, digantikan oleh gairah pria dewasa yang membara. Tanpa membuang waktu lebih lama, Arkha segera melepas seluruh pakaian kerjanya satu per satu dan bersiap untuk menyatukan dirinya dengan sang istri. Dia merangkak naik ke atas ranjang, mulai mencumbu bibir dan seluruh tubuh Carmen terus-menerus dengan intensitas yang tinggi. Malam ini, Carmen benar-benar tampak sangat nakal dan agresif, berbanding terbalik dengan sikap pendiamnya selama tiga hari terakhir.Arkha sendiri tidak tahu pasti apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam pikiran istrinya saat ini. Namun, sebagai seorang suami, Arkha memahami bahwa mungkin tindakan ekstrem dan permainan fantasi ini adalah salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri atau biasa disebut dengan defense mechanism oleh Carmen untuk mengalihkan dan menyembuhkan rasa sakit serta trauma yang sempat menyergap batinnya secara mendadak.

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Enam

    Arkha membimbing langkah Carmen dengan sangat hati-hati, menuntun tubuh istrinya yang masih tampak gemetar menuju ke sebuah kursi taman yang terletak di bawah rindangnya pohon besar. Setelah mendudukkan Carmen secara perlahan,Arkha segera ikut duduk di sampingnya. Carmen tampak masih mengatur napasnya yang terasa sesak dan memburu. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, dia benar-benar sama sekali tidak menyangka, bahkan tidak pernah membayangkan dalam mimpi buruknya sekalipun, bahwa dia akan bertemu kembali dengan Keanu di tempat umum yang begitu terbuka dan damai seperti taman bermain ini. Pertemuan mendadak itu seolah membuka kembali kotak memori lama yang telah terkunci rapat.“Carmen, hei Sayang,” panggil Arkha dengan nada suara yang teramat lembut dan sarat akan kekhawatiran yang mendalam. Bersamaan dengan panggilan itu, Arkha meraih kedua telapak tangan sang istri, menggenggamnya dengan sangat erat demi menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang di

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Lima

    Mendengar suara panggilan itu, Keanu seketika menghentikan langkah kakinya. Tubuhnya menegang sebelum akhirnya dia membalikkan badan dan menoleh kembali ke arah Carmen dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus haru.“Kamu juga berhak bahagia,” ucap Carmen dengan tulus. Setelah mengucapkan kalimat bermakna pengampunan itu, Carmen langsung membalikkan tubuhnya sendiri membelakangi pria itu, mendekap putrinya lebih erat dan bersandar pada dada Arkha. Dia tidak mau melihat wajah Keanu lagi, bukan karena dendam, melainkan karena dia ingin menegaskan bahwa masa lalu mereka telah selesai sepenuhnya di detik ini.Hari ini, Keanu sebenarnya baru saja resmi ke luar dari rumah tahanan setelah menyelesaikan masa hukumannya. Dia tampak memakai sebuah tas punggung hitam yang sudah agak usang, berisi seluruh pakaian dan barang pribadinya selama berada di balik jeruji besi. Mendengar ucapan pengampunan dari Carmen yang begitu berjiwa besar, air mata Ke

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Empat

    (Lima tahun kemudian)Waktu terus bergulir tanpa terasa, membawa banyak perubahan manis dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Setelah melewati berbagai momen penuh kebahagiaan, tidak terasa sudah lima tahun berlalu sejak kepulangan mereka dari Switzerland.Hari ini, suasana sore terasa begitu cerah dan meneduhkan. Carmen membawa putri kecilnya yang kini telah menginjak usia empat tahun untuk pergi bermain di sebuah taman bermain publik yang cukup ramai. Di sudut area taman, Arkha tampak sedang berdiri dengan wajah serius namun tetap tenang, fokus menerima panggilan telepon penting yang tampaknya berasal dari salah seorang kerabat jauhnya di luar kota.Sementara itu, perhatian Carmen seutuhnya tersedot pada sang buah hati. Putri kecil mereka yang berwajah sangat lucu dan menggemaskan itu tampak begitu aktif berlarian ke sana kemari di atas hamparan rumput taman, tertawa riang menikmati kebebasannya.Carmen dengan penuh kasih sayang terpak

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Seratus Dua Puluh Tiga

    “Mi, enggak apa-apa hanya mual biasa, mungkin cuma masuk angin,” jawab Carmen seraya menyiram toilet itu sekali lagi hingga bersih. Dia mengambil selembar tisu bersih, menyeka bibirnya yang basah dengan perlahan, lalu dengan langkah yang masih sedikit goyah dia berjalan ke luar dari bilik toilet.Melihat menantunya tampak begitu lemas, Ibu Arkha dengan sigap merangkul pundak Carmen, membantunya berjalan menuju ke ruang guru yang terletak tidak jauh dari sana. Beliau membimbing Carmen untuk duduk di salah satu sofa panjang yang nyaman. Guru-guru lain yang berada di dalam ruangan itu pun langsung ikut panik, dengan cekatan salah seorang guru bergegas membuatkan secangkir teh manis hangat, sementara yang lain memberikan sebotol minyak kayu putih kepada Carmen.Carmen menerima botol tersebut, menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya, lalu mulai mengoleskannya di bagian perutnya yang masih terasa bergolak tidak nyaman. Melihat hal itu, Ibu Arkha

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   TIga

    “NAYAKA SHAINARA!!!!” Suara itu begitu memekakkan telinga Nayaka di pagi buta ini! Tidak! Sebenarnya ini sudah pukul sembilan pagi, namun bagi seorang yang bekerja juga di dunia malam, pukul sembilan masih terlalu pagi!Dia bahkan baru pulang pukul empat tadi pagi, setelah melakukan pertunjukan di

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Enam

    “Demi adek gue, jadi ... klo elo enggak keberatan, gue mau kalau kita nikah sementara aja, setelah setahun atau dua tahun kita pisah, kita jalanin hidup masing-masing, pernikahan hanya status aja.”“Jadi,” ucap Nuansa sambil menyandarkan punggung ke kursi dan melipat tangan di dada, “pernikahan han

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Lima

    Nayaka mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di kamar pribadinya di lantai dua, rumah dua lantai itu memang tidak besar, namun sangat nyaman baginya. Di bawah ada kamar tamu dan juga ruangan lainnya. Sementara di lantai dua ada satu kamar lain.Ayahnya bisa disebut salah satu pemilik sekol

  • Kawin Gantung Dengan Duda Ganteng   Dua

    Carmen kembali ke ruang kelasnya untuk melanjutkan pelajaran yang sebenarnya tak bisa ditangkap oleh otaknya. Bukan berarti dia bodoh, di sekolah dasar dia selalu mendapat peringkat pertama, namun setelah SMP semua berubah. Dia mulai memberontak, dia membenci dirinya sendiri. Dia tak suka jika ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status