Share

Kaya Setelah Diusir Mertua
Kaya Setelah Diusir Mertua
Author: Rina Novita

Bab 1 Terusir

Author: Rina Novita
last update Last Updated: 2022-08-08 22:10:16

Eh ... eh ..., mau ngapain kamu?" Tiba-tiba Kak Norma menghadangku untuk berjalan ke ruang tamu.

"Mau antar minuman untuk tamu-tamu ibu, Kak."

"Halaah! Bilang aja kamu mau nguping sekalian cari muka. Iya, kan?" sanggah Kak Lina-kakak iparku.

"Cari muka terus kamu sama ibu, ya!" lanjutnya lagi dengan wajah sinis.

"Kamu mau curi-curi informasi warisan dari notaris yang sedang berbincang dengan Ibu itu, kan?" Kak Norma melotot seraya berkacak pinggang di depanku.

Entah kenapa kedua kakak iparku itu selalu saja curiga padaku. Apalagi sejak meninggalnya Bang Irsan-suamiku. Mereka tidak pernah suka jika Ibu mertuaku lebih perhatian padaku.

"Ini ibu yang menyuruhku membuat minum untuk para tamunya, Kak."

"Sudah-sudah sini biar aku aja yang antar ke depan!" Kak Norma langsung mengambil alih nampan yang berisi tiga gelas teh di tanganku.

"Hei Salma! Asal kamu tau ya, kamu tidak akan mendapat warisan sedikitpun. Jadi jangan pernah mimpi bisa hidup enak setelah ibu membagikan warisan seharga milyaran ini!" bisik Kak Lina dengan senyum kemenangan.

Aku terhenyak mendengar ucapan Kak Lina. Begitu serakahnya dia. Padahal Kak Lina dan Kak Norma juga menantu sepertiku. Hanya saja suami mereka masih hidup.

Sejak Bang Irsan pergi untuk selama-lamanya delapan bulan yang lalu, meninggalkan aku yang sedang hamil tua. Aku tetap tinggal di rumah besar ini bersama ibu mertua dan ipar-iparku. Ibu melarangku pergi karena aku tidak punya keluarga lain di kota ini. Kedua orang tuaku pun sudah sejak lama tiada.

"Ngapain lagi kamu di sini? Sana ke dapur! Kita udah pada lapar." Bentakan Kak Norma membuyarkan lamunanku..

 Aku berlari mendengar tangisan anakku dari kamar belakang. Sejak sebulan yang lalu, Ibu memintaku untuk pindah ke kamar belakang persis di sebelah dapur. Karena Kak Norma dan suaminya-Bang Safwan memutuskan untuk pindah ke rumah ini.

"Anak Bunda sudah bangun ..." Sontak Raihan terdiam ketika aku menggendongnya. Anak ini menunjuk-nunjuk keluar kamar. Mungkin dia merasakan tidak nyaman berada di kamar yang sempit dan pengap ini. Kamar ini memang dulunya adalah gudang. Dan sekarang menjadi kamarku.

Sambil menggendong Raihan dengan kain panjang yang kuikat kencang, aku meracik

bahan makanan yang sudah aku beli sejak subuh tadi.

Ketika hendak menyalakan kompor, aku ingin menitipkan Raihan pada salah satu iparku. Anakku ini sudah mulai aktif. Apapun yang berada di dekatnya, hendak diraihnya.

 Aku ragu ketika ingin menghampiri mereka yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Sepertinya ada hal penting yang mereka bicarakan dengan tamu Ibu tadi yang konon katanya adalah seorang notaris.

"Ada apa, Salma?" Aku terlonjak, ternyata Bang Adam, kakak tertua suamiku itu tiba-tiba sudah berada di belakangku.

"T-tidak apa-apa, Bang. Tadinya Aku mau menitipkan Raihan. Tapi sepertinya di ruang tamu semua sedang serius," sahutku.

"Sudah sini sama Ayah Adam aja, yuk!" Laki-laki itu langsung meraih Raihan dari gendonganku. Raihan pun tampak kegirangan saat akan di gendong pamannya.

Bang Adam, walau pendiam tapi sangat perhatian pada Raihan. Padahal dia sendiri hingga kini  belum menikah.

"Terima kasih, Bang!"

Gegas aku kembali ke dapur dan menyelesaikan tugasku memasak. Selagi Raihan tidak rewel.

Bakwan goreng, oseng cumi jamur, sambal dadakan dan tumis kangkung sudah siap. Aku kembali ke ruang tamu untuk mengintip apakah Raihan rewel. Namun ternyata bocah kecil itu masih tenang berada di pangkuan Bang Adam sambil memakan biskuit. Aku terkikik dalam hati melihat kaos Bang Adam menjadi kotor terkena noda biskuit dari mulut Raihan.

"Ngapain kamu senyum-senyum di situ? Pake ngintip-ngintip segala. Nguping terus kamu!" Lagi-lagi Kak Norma yang sudah berada di belakangku merasa curiga.

Aku menggeleng.

"Aku hanya melihat Raihan aja, Kak. Takutnya rewel," sahutku.

"Awas kamu macam-macam ya! Masih bagus kamu nggak diusir dari rumah ini, dan kami masih  memberikan tumpangan untuk tetap tinggal di sini," bentaknya pelan.

 Aku hanya bisa membuang napas kasar mendengar ucapannya.

Perlahan aku kembali ke dapur hendak mencuci perlengkapan memasak yang kotor.

Jadi selama ini mereka menganggap aku menumpang di sini. Seandainya orang tuaku masih ada. Sudah pasti aku akan pulang ke rumah mereka saja.

Jika benar setelah rumah besar ini di jual, aku tidak mendapat hak warisan Bang irsan, Bagaimana kelanjutan hidupku nanti?

"Aaa ...!" Tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam kamar ibu.

Gegas mencuci tanganku yang bersabun, kemudian berlari ke kamar ibu yang berada di dekat ruang tamu.

Ternyata di sana sudah ada Kak Norma dan Kak Lina yang memijit kaki ibu.

"Ibu kenapa? Ibu jatuh?" tanyaku panik.

Ibu merintih kesakitan seraya memegang kaki kirinya.

"Ini dia orangnya, Bu. Dasar ceroboh! Atau kamu sengaja ya tumpahin minyak di pintu kamar ibu? Lihat, nih! kaki ibu langsung bengkak," sentak Kak Lina.

"Minyak? minyak apa, Kak? Mana mungkin aku melakukan itu pada Ibu?" sahutku menahan tangis.

Sungguh sakit sekali rasanya dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kita lakukan.

"Tadi aku pergokin kamu ngintip-ngintip kita di ruang tamu. Pasti kamu habis melakukan sesuatu  yang mencurigakan. Ayo, ngaku aja kamu!" tuduh Kak Norma lagi.

"Astaghfirullah ..., Kak. Tadi aku kan sudah bilang. Bahwa aku hanya memastikan Raihan tidak  rewel."

Lolos sudah air mataku.

"Sudah! Diam kamu, Salma! Ibu kecewa sama kamu. Sekarang juga pergi kamu dari sini!"

Sungguh aku tak percaya. Ibu yang selama ini begitu baik padaku, dan sudah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri, kini memintaku pergi dari rumah ini.

"Kamu tuli, ya? Buruan beresin baju-baju kamu dan cepat pergi dari sini!" Aku terlonjak ketika Bang Safwan juga membentakku.

 

"Hei, ada apa ini?" tiba-tiba Bang Adam menghampiri.

"Biarkan dia pergi, Bang Adam. Dia hampir saja membunuh ibumu ini," sahut Kak Lina.

 Aku segera ke kamarku dan memasukkan pakaianku dan Raihan ke dalam tas besar yang biasa Bang irsan pakai setiap bertugas keluar kota.

Kemudian kembali ke kamar ibu dan meraih Raihan dari gendongan Bang Adam.

"Jangan kamu bawa cucuku!" pinta ibu dengan suara bergetar.

"Raihan masih minum ASI, Bu. Aku tidak mungkin meninggalkannya."

Raihan merengek ketika aku menggendongnya dengan kain panjang dan melangkah keluar. Sepertinya anak ini ikut merasakan kesedihanku.

Senyum puas dari ipar-iparku sempat terlihat ketika aku hendak meninggalkan rumah ini. Hanya Bang Adam yang nampak bingung. Namun laki-laki itu hanya diam menatap kepergianku dan Raihan.

 Kemana aku harus pergi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (10)
goodnovel comment avatar
Nenk Ayuk
suka bacax sedih
goodnovel comment avatar
Just Rara
baru bab 1 aja udah sedih bengini cerita nya
goodnovel comment avatar
zie zie
novel nya bagus bagus, tapi sayang banyan yg gantung
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kaya Setelah Diusir Mertua   Bab 220

    "Mas, sepertinya lagi banyak tamu." Langkah Seruni terhenti ketika hendak masuk ke dalam rumah bersama Elkan. "Mereka semua kakak-kakakku. Ayo kita masuk!" Seruni merasa ciut ketika melihat penampilan kakak-kakak Elkan dan keponakannya yang glamour dan elegan. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang sangat sederhana. "Kenapa? Takut? Atau malu?" bisik Elkan saat Seruni menolak untuk masuk ke dalam. Seruni menggeleng dengan wajah pucat. Ia takut tidak diterima oleh keluarga besar suaminya. "Ayo Sayang ...!" Seruni menunduk menatap pakaiannya. Untunglah di mall tadi dia sudah berganti pakaian dengan yang baru. Kemeja dan kulot berbahan silk import yang sempat membuat Seruni ternganga melihat harganya. Setelah menarik napas panjang, Seruni menggandeng tangan Elkan untuk masuk ke dalam. "Selamat malam semua ...!" sapa Elkan pada keluarga besarnya yang sedang berbincang di ruang tamu. "Malam ..., nah ini dia yang ditunggu-tunggu2 sudah datang." Semua menoleh ke arah pintu. Seruni m

  • Kaya Setelah Diusir Mertua   Bab 219

    "Kami akan mengundang kalian di acara resepsi kami minggu depan." Elkan menyerahkan sebuah undangan berwarna perak. "Resepsi?" Salma masih memandang heran dengan keduanya. "Syukurlah. Akhirnya kamu menikah juga. Aku pikir kamu akan seperti Rein." Yuda tertawa lega. Elkan tersenyum namun sesekali masih mencuri-curi memandang Salma dengan lekat. Hal ini pun tidak luput dari penglihatan Seruni dan Yuda. Mereka berbincang hangat. Seruni sesekali ikut tertawa, menjawab secukupnya jika ada yang bertanya. Kesan pertama Seruni pada Salma adalah seorang wanita yang lembut dan ramah. Sungguh Seruni sangat kagum pada sahabat suaminya itu. Seruni pun merasa ada sesuatu antara suaminya dengan Salma. Namun entahlah, dia belum bisa menerka-nerka. Seruni melihat tatapan yang berbeda dari suaminya saat memandang Salma. Raihan dan Maina pun sangat akrab dengan Elkan. Seruni juga melihat suaminya itu sudah sangat familiar dengan lingkungan di rumah itu. Termasuk para pelayannya. Namun Seruni melih

  • Kaya Setelah Diusir Mertua   Bab 218

    "Elkan .. , akhirnya kamu datang," ucap Salma. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Elkan spontan berdiri, lalu menatap wanita yang hampir menjadi istrinya itu dengan lekat. Semua kenangan itu langsung terlintas begitu saja di benaknya. Banyak waktu yang telah mereka lalui bersama. Kenangan itu masih sangat segar di ingatannya. Salma pun demikian. Ia mampu melewati masa-masa sulitnya bersama Elkan. Pria yang mau menemaninya di saat dirinya tak punya siapa-siapa. Pria yang selalu menyemangatinya di saat dirnya lemah. Entah apa yang terjadi jika tak ada Elkan di dekatnya waktu itu. Elkan bahkan mau berkorban demi kebahagiaannya dan Yuda. Seruni merasakan ada sesuatu diantara suaminya dan wanita yang dipanggil Salma itu. Wanita berhijab yang sangat cantik dan anggun. Seruni sempat kagum pada kecantikan wajah Salma yang begitu menenangkan.. "Om Elkan, ayo kita masuk!" Yumaina menarik lengan kekar Elkan untuk masuk ke ruang tamu. "Astaghfirullah ... Sampai l

  • Kaya Setelah Diusir Mertua   Bab 217

    "Maaf, ya ...! Maaf ...! Saya permisi dulu. Istri saya sudah menunggu!" "Apaa? Istri?" "Mas Elkan becanda ya? "Memangnya Mas Elkan sudah punya istri?" Para wanita penggemar Elkan itu bukannya menjauh, malah semakin penasaran ketika Elkan mengatakan ditunggu istrinya. "Oke ... oke, Aku akan perkenalkan istriku pada kalian." Elkan berkata seraya tersenyum menatap istrinya yang sedang cemberut sejak tadi. Mata Seruni melebar mendengar ucapan Elkan. Wanita itu lantas memberi kode dengan tangannya agar suaminya itu tidak melakukannya. Dia belum siap jika Elkan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya di depan umum. "Yang mana istrinya Mas Elkan?" "Ayo dong Mas kenalin sama kita-kita!" Para wanita itu penasaran sambil memandang sekeliling. Elkan tak menyia-nyiakan kesempatan itu, perlahan melangkah menuju meja Seruni. Para Wanita itu terus memperhatikan Elkan yang ternyata menghampiri seorang gadis remaja yang sangat cantik walau tanpa riasan wajah. Gadis dengan rambut panjangnya

  • Kaya Setelah Diusir Mertua   Bab 216

    "Mas, kita ke mall ini?" Seruni memandang takjub mall besar dan megah di hadapannya. "Iya. kita parkir mobil dulu." Mobil Elkan baru saja memasuki Mall besar di daerah cassablanca. Karena akhir pekan, mall itu tampak sangat ramai pengunjung. Bahkan untuk masuk mencari parkir saja harus sabar mengantri. "Mau nonton dulu, atau belanja?" "Nonton bioskop, Mas? Wah, pasti bioskopnya bagus banget di sini." Elkan terkekeh melihat kepolosan Seruni. Gadis yang unik, namun sangat menyenangkan.. "Aku belanja apa lagi sih, Mas?" "Kata Mama, pakaian kamu itu standar remaja banget modelnya. Nanti orang-orang pikir aku ini bukan suamimu. Tapi Bapakmu." Mereka terbahak-bahak. "Tapi aku enggak ngerti model, Mas." "Gampang. Nanti minta bantuin manager tokonya." Setelah memarkir mobil, Elkan membawa Seruni masuk ke dalam mall. Nampak banyak muda mudi yang berpasangan menghabiskan waktu berakhir pekan. Seruni bergelayut manja pada lengan Elkan. Sesekali berdecak kagum melihat kemegahan mall ya

  • Kaya Setelah Diusir Mertua   Bab 215

    "Loh, Seruni kamu ngapain di sini?" Bu Astrid menegur Seruni yang berada di dapur. "Selamat pagi, Ma. Aku lagi masak sarapan untuk Mas," sahut Seruni tenang. Ia tak menyadari kalau Bu Astrid sudah melotot pada beberapa pelayan di sana. "M-maaf nyonya. Kami tadi sudah melarang. Tapi Non Seruni tetap mau di sini," sahut salah seorang pelayan. "Nggak apa-apa, Ma. Runi sejak kemarin nggak ngapa-ngapain. Bingung, cuma makan dan tidur aja," jelas Seruni sambil mengupas udang di wastafel. Nyonya Astrid hanya menggeleng-geleng kepala, lalu berjalan meninggalkan dapur, kemudian menghampiri putranya yang sedang minum kopi di teras samping. "Elkan, istrimu itu sebaiknya kuliah saja. Sepertinya dia jenuh di rumah." "Apa? Kuliah? Bagaimana nanti jika ada pria seumurannya yang tertarik dengannya?" pikir Elkan dalam hati. Pasti akan banyak pria yang akan tertarik dengan istrinya yang cantik itu. "Elkan, kok malah ngelamun? Kamu setuju, kan?" "Ya nanti aku bicarakan dulu dengan Seruni, Ma."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status