Share

Bab 2

Author: Hanu
Amelia berdiri di depan pintu ruang rawat sambil membawa bubur dan lauk yang baru dibelinya. Jari-jarinya sampai memucat karena plastik belanjaan yang menekan terlalu kuat.

Jantungnya mendadak terasa sesak, seolah diremas dengan keras. Dia meletakkan barang-barang di tangannya, lalu berbalik pergi. Bahkan langkah kakinya dibuat seringan mungkin, seakan takut mengganggu kehangatan momen itu.

Setelah kembali ke rumah, dia mulai membereskan barang-barangnya.

Hadiah-hadiah yang pernah diberikan Arnold selama bertahun-tahun ini, foto-foto mereka yang jumlahnya tidak seberapa, juga kemeja-kemeja yang pernah dia belikan untuk Arnold, semuanya dia keluarkan satu per satu dan dimasukkan ke dalam kardus.

Dia masuk ke ruang kerja untuk mengambil beberapa bukunya, tetapi tanpa sengaja menyentuh sebuah kompartemen tersembunyi di balik rak buku.

Klik. Dinding perlahan bergeser, memperlihatkan sebuah ruangan rahasia.

Amelia terpaku.

Di dalam ruangan itu tersusun rapi begitu banyak benda yang berkaitan dengan Stella.

Vas porselen biru-putih yang dulu dihancurkan oleh tuan besar telah direkatkan kembali satu demi satu, bahkan retakannya dihiasi dengan emas.

Lukisan minyak karya Stella yang dulu pernah disobek juga telah disusun kembali hingga utuh.

Bahkan pesawat kertas yang diberikan Stella kepada Arnold saat kecil pun masih disimpan dengan hati-hati dalam plastik pelindung, meski kertasnya sudah menguning.

Amelia melihat semua itu satu per satu, sementara ujung jarinya gemetar pelan.

Dia sama sekali tidak pernah tahu kapan Arnold memungut kembali barang-barang yang telah dibuang itu, kapan diam-diam memperbaikinya, lalu menyembunyikannya di ruang rahasia yang tidak diketahui siapa pun ini.

Di atas meja kerja terletak sebuah buku harian.

Amelia membukanya, hampir setiap halaman berisi tentang Stella.

[15 Maret 2021. Hari ke-87 sejak Stella pergi. Aku bermimpi dia menangis karena kedinginan. Setelah bangun, aku langsung memesan tiket ke Phares. Aku cuma melihatnya dari jauh. Dia jauh lebih kurus.]

[3 Januari 2023. Acara tahunan perusahaan. Ada seseorang yang mengenakan gaun merah mirip punya Stella. Aku sampai melamun dan minum terlalu banyak. Setelah pulang, aku salah mengira Amelia sebagai Stella dan tidur dengannya. Kakek memaksaku menikahinya. Aku membenci diriku sendiri.]

[19 Agustus 2025. Ulang tahun Stella. Aku diam-diam terbang ke depan apartemennya untuk meletakkan seikat bunga. Saat pulang, Amelia masih belum tidur dan membuatkan sup penawar mabuk untukku. Dia selalu begitu perhatian, tetapi aku nggak mencintainya.]

Tanggal di halaman terakhir adalah minggu lalu.

[Akhirnya, Stella kembali. Saat melihat wajahnya yang tertidur, hatiku yang mengembara seolah menemukan tempat pulang. Selama bertahun-tahun ini, hampir setiap hari aku memikirkannya. Amelia gadis yang baik, tetapi aku nggak bisa memberinya cinta. Hatiku sudah mati sejak lama, terkubur bersama kedua orang tuaku dalam longsoran salju.]

....

Pandangan Amelia menjadi kabur.

Selama bertahun-tahun ini, meskipun Stella tidak pernah muncul dalam kehidupan Arnold, rasanya dia juga tidak pernah benar-benar pergi.

Dia menutup buku harian itu dengan keras, lalu terhuyung mundur dan tanpa sengaja menabrak lemari pajangan.

Sebuah bingkai foto jatuh ke lantai dan kacanya pecah.

Amelia buru-buru berjongkok untuk memungutnya. Jarinya tergores pecahan kaca, tetapi dia bahkan tidak memedulikannya.

Saat dia masih panik membereskan semuanya, terdengar suara dingin dari belakangnya.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Arnold berdiri di ambang pintu dengan wajah suram yang menakutkan.

Tatapannya berpindah dari wajah Amelia ke bingkai foto yang pecah di lantai, lalu pupil matanya langsung mengecil.

"Aku ...." Amelia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara.

Arnold melangkah cepat menghampirinya dan langsung mendorongnya menjauh.

Amelia tidak sempat bersiap. Tubuhnya jatuh keras ke lantai, sementara pecahan kaca menusuk telapak tangan dan lututnya. Darah segera mengalir keluar.

"Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini?" Arnold memungut bingkai foto itu dengan hati-hati. Suaranya sedingin es. "Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barang ini?"

Amelia belum pernah melihat Arnold seperti ini sebelumnya.

Alisnya berkerut tajam, tatapannya dingin dan menusuk, seluruh tubuhnya memancarkan amarah yang mengerikan.

Selama ini, Arnold selalu bersikap lembut dan sopan kepadanya. Meski tidak mencintainya, dia tidak pernah memperlakukan Amelia dengan kasar.

Namun, sekarang, hanya karena sebuah benda yang berkaitan dengan Stella, Arnold bisa semarah ini kepadanya.

"Maaf ...." Amelia berusaha bangkit dengan susah payah. Telapak tangannya terasa perih seperti terbakar. "Aku nggak sengaja ...."

"Keluar." Arnold bahkan tidak melirik tangannya yang berdarah. Dia hanya menggenggam bingkai foto itu erat-erat. "Sekarang juga."

Amelia menyeret kakinya yang terluka untuk keluar. Setiap langkah terasa seperti menginjak ujung pisau.

Saat tiba di depan pintu, Amelia tidak bisa menahan diri untuk menoleh. "Bingkai foto itu, bakal kuganti."

"Nggak perlu." Suara Arnold sudah kembali tenang, tetapi tatapannya tetap dingin. "Aku bakal menyuruh orang menjaga tempat ini. Mulai sekarang, kau nggak boleh mendekati ruangan ini lagi."

Arnold menekan bel panggil di dinding. Tidak lama kemudian, dua pengawal muncul di depan pintu.

"Antar nyonya muda kembali ke kamarnya," perintah Arnold, "panggil dokter buat mengobati lukanya."

Amelia dibawa pergi.

Sebelum pintu tertutup, sekilas terakhir yang dilihat Amelia adalah Arnold berlutut di lantai, memunguti pecahan kaca satu per satu dengan gerakan yang begitu lembut, seolah sedang memperlakukan harta paling berharga di dunia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status