分享

Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih
Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih
作者: Hanu

Bab 1

作者: Hanu
"Lapor! Saya mengajukan permohonan untuk mengaktifkan kembali nomor registrasi pokok dan menjadi seorang polisi penjaga perdamaian!"

Suara Amelia Kanigara bergema di aula rapat yang luas. Di hadapannya berdiri rekan-rekan seperjuangan kakaknya semasa hidup. Mereka mengenakan seragam rapi, sementara bintang di pundak mereka berkilauan di bawah sinar matahari.

Saat ketua tim senior menyerahkan nomor registrasi pokok milik kakaknya, tangannya tampak sedikit gemetar.

"Amelia, apa kau yakin mau menempuh jalan ini?" ujarnya dengan suara serak, "Kakakmu dulu ...."

"Saya yakin. Jalan yang dulu nggak sempat diselesaikan kakak saya, sekarang bakal saya lanjutkan sampai akhir!"

Amelia menatap bendera negara yang tergantung di dinding, lalu tiba-tiba teringat bagaimana kakaknya mengajarkannya memberi hormat saat masih kecil.

Kakaknya selalu berkata, "Amelia, angkat tanganmu sedikit lebih tinggi."

Ketua tim senior membalikkan badan dan diam-diam mengusap air mata. "Baik! Selamat bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian. Setengah bulan lagi ada misi ke Wilayah Tite, kau ikut bersama mereka!"

Amelia mengangguk kuat. Baru saja keluar dari gerbang kantor polisi, ponselnya berdering. Telepon itu berasal dari kepala pelayan Rumah Tua Keluarga Wardana.

"Nyonya Muda, cepat pulang. Tuan muda dipanggil ke aula leluhur sama tuan besar. Katanya ... dia hampir dipukuli sampai setengah mati."

Amelia terdiam sejenak. Pada akhirnya, dia tetap memanggil taksi dan bergegas menuju aula leluhur Keluarga Wardana.

Saat mendorong pintu kayu tebal aula leluhur, dia melihat cambuk di tangan Tuan Besar Simon mencambuk punggung Arnold Wardana dengan keras.

Plak.

Suara kulit yang terkoyak terdengar sangat menusuk di aula leluhur yang sunyi.

Arnold berlutut tegak. Punggungnya sudah berlumuran darah, tetapi dia tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Kau diam-diam membawa Stella pulang dari luar negeri tanpa sepengetahuanku. Apa kau masih pantas menghadapi orang tuamu yang sudah meninggal?" Suara tuan besar bergetar, sementara cambuk di tangannya kembali terangkat. "Sudah bertahun-tahun, apa kau masih belum bisa melupakan dia?"

Arnold tetap diam.

"Aku sedang bicara padamu! Jawab!" Tuan besar murka dan kembali mencambuknya. "Selama bertahun-tahun ini, apa kau benar-benar masih belum bisa melupakan dia?"

Arnold tetap tidak bersuara.

Amelia berdiri kaku di ambang pintu aula leluhur. Ujung jarinya menekan telapak tangannya begitu kuat hingga hampir melukai kulit.

Setiap suara cambuk yang menghantam punggung Arnold terasa seperti menghantam langsung dada Amelia, membuatnya nyaris tidak bisa bernapas karena sakit.

Namun, Arnold tetap tidak mengatakan apa pun.

Keheningan itu justru lebih kejam daripada jawaban apa pun.

Karena tidak menyangkal, itu berarti pengakuan yang paling jelas.

Cambuk terus menghantam tanpa henti, sampai akhirnya tubuh Arnold tidak mampu bertahan lagi. Dia terjatuh ke lantai dan pingsan.

Tuan besar begitu marah hingga tangannya gemetar. Dia menunjuk Arnold yang tergeletak di lantai dan berteriak kepada kepala pelayan, "Bawa dia ke rumah sakit!"

Di rumah sakit, Amelia mengobati lukanya.

Kapas yang dibasahi obat perlahan menyentuh luka di punggung Arnold. Otot tubuhnya menegang karena rasa sakit, tetapi dia tetap belum sadar.

Melihat wajah pucatnya dari samping, Amelia tiba-tiba teringat pada kejadian bertahun-tahun lalu.

Saat itu, kedua orang tuanya telah lama meninggal. Dia dan kakaknya hanya saling bergantung satu sama lain.

Kakaknya adalah seorang polisi penjaga perdamaian yang bertugas di luar negeri sepanjang tahun. Pada hari kepulangannya ke tanah air, Amelia menunggu dengan penuh kegembiraan, tetapi yang datang justru kabar kematian sang kakak.

Semua itu karena kecelakaan mobil yang terjadi di tengah perjalanan. Demi menyelamatkan Tuan Besar Simon, kakaknya kehilangan nyawa.

Dipenuhi rasa bersalah, Tuan Besar Simon membawa Amelia yang saat itu masih bersekolah ke Keluarga Wardana.

Pada masa-masa awal tinggal di Keluarga Wardana, setiap malam dia selalu menangis karena merindukan kakaknya.

Pertama kali dia bertemu Arnold adalah pada suatu larut malam.

Amelia bersembunyi di taman sambil menangis. Kebetulan Arnold baru pulang dari luar. Saat melihat Amelia, dia sempat tertegun, lalu berjongkok dan menyerahkan sapu tangan kepada Amelia.

"Jangan menangis lagi," katanya, "Mulai sekarang, tempat ini adalah rumahmu."

Di bawah cahaya bulan, sorot mata Arnold begitu lembut hingga terasa tidak nyata.

Amelia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun, dia tahu bahwa Arnold hanya menganggapnya sebagai adik.

Dia juga tahu bahwa orang yang disukai Arnold adalah Stella, kekasih masa kecilnya.

Arnold memperlakukan Stella dengan sangat baik, begitu baik hingga semua orang mengira mereka pasti akan menikah.

Amelia pun sempat berpikir bahwa dirinya akan menyaksikan mereka menikah dan memiliki anak, sampai kecelakaan itu terjadi ....

Orang tua Arnold dan orang tua Stella pergi berlibur ke resor salju bersama. Namun, di tengah perjalanan, terjadi longsoran salju. Demi menyelamatkan diri, orang tua Stella secara naluriah menarik orang tua Arnold untuk dijadikan tameng di depan mereka, sementara mereka sendiri melarikan diri tanpa jejak.

Orang tua Arnold tertimbun salju. Saat ditemukan, keduanya telah menjadi jasad dingin yang membeku.

Sejak saat itu, tuan besar tidak pernah lagi mengizinkan Arnold berhubungan dengan Stella.

Arnold menuruti perintah itu.

Tidak lama kemudian, tuan besar mengirim keluarga Stella ke luar negeri.

Di permukaan, Arnold berpura-pura tidak terjadi apa-apa, tapi setiap malam dia menenggelamkan kesedihannya dengan minuman keras.

Suatu kali, saat mabuk, dia memanggil nama Stella dan tanpa sadar tidur dengan Amelia.

Tuan Besar murka dan memaksanya menikahi Amelia.

Setelah menikah, setiap malam dia tidur sekamar dengan Amelia, tetapi Amelia tahu, orang yang selalu ada di hatinya tetaplah Stella.

Bukan berarti Amelia tidak pernah mencoba meluluhkan hatinya.

Namun, hatinya perlahan padam sedikit demi sedikit setiap kali melihat Arnold terus mencari jejak Stella.

Termasuk kali ini.

Amelia tahu alasan tuan besar memukuli Arnold.

Karena kehidupan Stella di luar negeri tidak berjalan baik, Arnold diam-diam membawanya kembali dan menempatkannya di sebuah vila.

Bahkan, Amelia mengetahuinya lebih dulu daripada tuan besar.

Suatu hari, setelah merasa ada yang tidak beres, dia diam-diam mengikuti Arnold dan melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana pria itu memasak untuk Stella, juga menanam bunga-bunga kesukaan Stella di taman.

Pada saat itulah dia sadar, mungkin dia tidak akan pernah bisa menunggu sampai Arnold mencintainya.

Karena itu, dia memutuskan untuk pergi.

Amelia ingin melihat tempat kakaknya dulu bekerja semasa hidup. Di sana ada perempuan yang dicintai kakaknya, seorang dokter militer.

Pada hari kakaknya pulang ke tanah air, sebenarnya dia kembali untuk mempersiapkan pernikahan.

Dia pernah berjanji kepada tunangannya bahwa setelah misi penjaga perdamaian kali ini selesai, dia akan menikahinya.

Namun, pada akhirnya, dia tidak pernah kembali.

Amelia ingin melihat perempuan yang pernah dicintai kakaknya, sekaligus menggantikan kakaknya menyelesaikan jalan yang belum sempat dia tuntaskan.

Di ruang rawat, Arnold kembali memanggil nama Stella dalam tidurnya sambil mengernyitkan dahi.

"Stella ...."

Amelia duduk di sisi ranjang. Ujung jarinya sempat menggantung di udara, tetapi akhirnya perlahan menyentuh dahi Arnold dan mengusap lembut kerutan di antara alisnya.

Selama bertahun-tahun ini, hal yang paling sering dia lihat adalah dahi Arnold yang selalu berkerut.

Arnold bukannya tidak baik kepadanya.

Dia mengingat selera makanan Amelia, menutupi telinganya saat badai petir datang, dan membawakan sepotong kue kecil sepulang dari jamuan makan.

Namun, menikah dengannya membuat Arnold tidak bahagia.

Setiap hari, setiap waktu, setiap menit, dia tidak bahagia.

Untungnya, dia akan segera terbebas dari pernikahan ini.

Tiba-tiba pintu ruang rawat didorong terbuka.

Stella berlari masuk sambil menangis, suaranya gemetar. "Arnold!"

Dia terlalu panik sampai tidak menyadari keberadaan Amelia yang berdiri di sisi ranjang.

Dia langsung mendorong Amelia hingga menjauh, lalu menerjang ke sisi Arnold.

Amelia terhuyung mundur. Bagian belakang kepalanya menghantam dinding dengan keras, darah hangat mengalir turun di sela-sela rambutnya.

Namun, Stella sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah, bahkan tidak meliriknya sedikit pun.

Amelia menopang tubuhnya pada dinding hingga berdiri tegak. Melihat Arnold yang masih tertidur di ranjang rumah sakit, tiba-tiba dia berpikir ....

Mungkin, saat membuka mata nanti, orang yang lebih ingin dilihat Arnold adalah Stella.

Amelia pergi dalam diam, lalu menangani lukanya sendiri di meja perawat.

Setelah itu, Amelia berjalan tanpa tujuan di luar cukup lama. Dia membeli sedikit bubur dan beberapa lauk ringan, berpikir Arnold mungkin akan lapar setelah bangun nanti.

Namun, ketika dia perlahan mendorong pintu ruang rawat, yang dilihatnya adalah ....

Stella tertidur di sisi ranjang Arnold.

Sementara itu, Arnold sedikit menegakkan tubuhnya, lalu diam-diam mencium ujung rambut Stella dengan penuh pengekangan dan kehati-hatian.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 21

    Arnold sudah menentukan waktu keberangkatan dengan helikopter. Keesokan siangnya, dia akan meninggalkan Wilayah Tite.Dia tidak bisa membawa Amelia pergi, juga tidak sanggup menyaksikan wanita itu bermesraan dengan pria lain.Malam sebelum pergi, dia duduk sendirian sambil menggenggam cincin pernikahan mereka, mengusapnya perlahan berulang kali.Dulu, saat menikah, dia pernah marah besar sampai melempar cincin itu ke taman bunga. Setelah kembali ke rumah, dia mencarinya di halaman belakang vila selama sehari semalam sebelum akhirnya menemukan cincin itu lagi.Mungkin, itulah satu-satunya ikatan yang tersisa antara dirinya dan Amelia.Tiba-tiba, suara ledakan besar memecah sunyi malam.Setelah dentuman pertama, rentetan tembakan dan ledakan berikutnya membuat tenda berguncang hebat. Arnold langsung terbangun, buru-buru mengenakan cincin itu di jarinya lalu berlari keluar."Serangan udara! Cepat evakuasi!"Sirene darurat melengking tajam membelah langit malam.Di luar tenda sudah kacau b

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 20

    Di luar rumah sakit jiwa, hujan deras mengguyur tanpa henti.Arnold keluar dari gerbang dan langsung berdiri di tengah hujan, membiarkan air dingin membasahi seluruh tubuhnya.Melihat itu, sang asisten buru-buru menyusul sambil mengangkat payung di atas kepalanya.Stella sudah disiksa hingga nyaris tidak berbentuk manusia lagi. Kekerasan yang diterimanya setiap hari benar-benar membuat kondisi mentalnya hancur, bahkan berkembang menjadi gangguan panik.Karena itu pula, saat melihat Arnold, dia tiba-tiba mengeluarkan pisau kecil dan menusuk punggung tangan pria itu dengan ganas. Untungnya hanya luka luar ringan. Stella segera ditahan dan kembali dikurung di ruang bawah tanah.Di tengah hujan deras, Arnold mengeluarkan ponselnya lalu menelepon pengawalnya di Wilayah Tite."Siapkan helikopter. Malam ini juga aku berangkat."Dia menatap langit kelabu di atas sana sambil mengepalkan tangan erat.Amelia, kali ini biar aku yang mencintaimu.Begitu helikopter mendarat, Arnold kembali tiba di k

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 19

    Belakangan ini, kobaran perang akhirnya mereda, tim penyelamat untuk pertama kalinya menikmati sedikit ketenangan.Sejak Arnold pergi, suasana hati Amelia terlihat jauh lebih baik. Bahkan Cedric pun ikut menjadi lebih bahagia karenanya.Memandang punggungnya yang sedang berlatih, hati Cedric seolah tenggelam ke dasar lautan.Entah sejak kapan, perasaannya terhadap Amelia berubah. Pada awalnya, memang benar dia hanya ingin menjaga Amelia karena dia adalah adik Rainer.Kemudian, semuanya didasari oleh keinginan pribadinya sendiri."Mulai besok aku cuti singkat. Kau juga belum bisa menjalankan tugas, jadi ikut aku jalan-jalan, ya."Di suatu hari, Cedric mengetuk pintu kamar Amelia."Mau ke mana?" tanya Amelia.Namun, Cedric tampaknya sengaja ingin membuat penasaran. Dia tersenyum tipis."Mau ikut? Kalau ikut, nanti juga tahu."Saat pesawat mendarat di Eru, Amelia masih merasa semuanya begitu tidak nyata.Mereka naik mobil menuju sebuah kota kecil tempat melihat aurora. Cedric ternyata sud

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 18

    Saat Stella mendengar suara pintu utama dibuka, dia langsung berdiri dengan gembira.Dia tahu Arnold tidak mungkin setega itu.Namun, ketika melihat ekspresi wajah pria itu dengan jelas, senyumnya langsung membeku.Tatapan Arnold sedingin es saat berjalan lurus ke arahnya."Arnold ... kau ...."Suara Stella bergetar. Dia refleks mundur selangkah."Kenapa?"Suara Arnold rendah, menahan badai amarah. Tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tangan Stella dengan kuat hingga terasa sangat sakit."Sebenarnya apa kesalahan Amelia? Kenapa kau terus-menerus menyakitinya?"Wajah Stella pucat pasi. Dia berusaha melepaskan diri."A ... aku nggak ....""Nggak?"Arnold langsung melempar setumpuk foto ke wajahnya.Foto-foto itu berjatuhan di lantai, mulai dari tangkapan layar CCTV vila di tepi danau hingga catatan transaksi dengan pembunuh bayaran luar negeri, semua kejahatannya terbukti dengan jelas.Kaki Stella melemas hingga dia jatuh terduduk di lantai. Air mata langsung mengalir deras."Arnold, a

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 17

    Stella bagai disambar petir. Tubuhnya terhuyung mundur dua langkah."Nggak ... nggak mungkin!"Arnold memijat pelipisnya dengan lelah."Stella, kau sudah berubah, berhentilah keras kepala. Kita sama-sama perlu menenangkan diri."Tiba-tiba Stella menjerit histeris. Dia meraih vas bunga di dekatnya lalu membantingnya ke dinding."Aku berubah? Yang berubah itu kau! Kau sudah dibutakan oleh perempuan jalang itu!""Diam!"Di tengah suara pecahan porselen yang memekakkan telinga, Arnold tidak mampu lagi menahan emosinya. Dia mencengkeram dagu Stella dengan kuat, menatap wajah wanita itu yang telah dipenuhi kebencian dengan sorot kecewa."Aku nggak mengizinkanmu mengatakan Amelia seperti itu."Sejak kapan gadis lembut dan penuh pengertian dalam ingatannya berubah menjadi seperti ini?Jangan-jangan Stella memang selalu seperti ini, hanya saja selama ini dia tidak pernah menyadarinya.Tatapan Arnold dipenuhi kegelapan. Perlahan dia menenangkan diri, melepaskan tangannya lalu berbalik pergi.Nam

  • Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih   Bab 16

    Arnold menaiki jet pribadinya, sementara ponselnya terus bergetar tanpa henti.Stella mengirim belasan pesan suara, menangis histeris di setiap rekamannya."Arnold! Kau sudah sampai mana? Aku benar-benar bakal melompat!"Dia memijat pelipisnya, lalu langsung mematikan ponselnya.Arnold menatap hamparan awan di luar jendela, tiba-tiba begitu banyak kenangan memenuhi benaknya.Dia teringat saat pertama kali Amelia memasak untuknya. Karena terlalu gugup, Amelia sampai melukai jarinya sendiri saat memotong, tetapi tidak berani mengatakannya. Dialah yang akhirnya menyadari dan membantunya menghentikan pendarahan.Dia juga teringat bagaimana Amelia diam-diam mengambil buku berbahasa asing dari rak bukunya, lalu belajar beberapa kalimat bahasa Phanres sendiri. Entah dari mana gadis itu menyalin sepotong puisi cinta berbahasa Phanres dan menyelipkannya di dalam buku sebelum mengembalikannya.Dia teringat setiap kali pulang dari acara jamuan, tidak peduli seberapa larut malamnya, selalu ada lam

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status