Share

Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika
Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika
Penulis: KarenW

Bab 1

Penulis: KarenW
Sudut Pandang Karina.

Suamiku, Sang Bos Besar Mafia, telah mengabaikanku selama sepuluh tahun. Tanpa kusadari, aku telah menjadi istri tak berharga yang hanya tinggal di rumah dan mengerjakan urusan rumah tangga, sementara suamiku selalu mengajak sekretarisnya ke setiap acara, dan memperkenalkannya seolah-olah wanita itu setara dengannya.

Tahun ini, pada malam ulang tahun pernikahan kami yang kesepuluh, sebuah gaun dan kalung yang memukau dikirim ke rumah. Aku berpikir Arya akhirnya ingat momen itu. Mungkin tahun ini, dia akan mengajakku ke pesta tahunan para bos mafia dan memperkenalkanku sebagai istrinya.

Aku pun mencoba gaun itu, walaupun agak sempit, tapi aku tidak peduli. Aku sangat bahagia.

Tapi saat Arya pulang, suaranya menggelegar seperti cambuk yang dilecutkan di ruangan itu. “Gaun itu bukan untukmu!”

Senyumku membeku. “Lalu … ini punya siapa?”

Arya menghela napas, nada suaranya seperti menahan kesal dan amarah. “Itu untuk Vina. Ya Tuhan, apa kau bisa sekali saja nggak membuat drama di rumah ini?”

Tenggorokanku terasa kering. Aku bahkan tidak melakukan apa pun, aku hanya ....

“Aku sudah menyuruh penjahit mengerjakannya selama berminggu-minggu. Sekarang lihat, tubuhmu yang melar itu malah meregangkan jahitannya. Aku bahkan sudah nggak bisa berikan gaun ini lagi sebagai hadiah untuknya. Bagaimana aku bisa membawanya ke pesta dansa tahunan besok?”

Aku menunduk. Gaun itu masih melekat dengan canggung di tubuhku. Awalnya kupikir mungkin ada kesalahan ukuran. Tetapi tidak, ternyata kesalahannya adalah aku sendiri.

“Maaf,” bisikku sambil menunduk seperti anak yang sedang dimarahi. “Kupikir … itu hadiah ulang tahun pernikahan kita.”

Dia tertawa dingin, tanpa humor. “Hadiah? Kenapa aku harus memberimu hadiah? Apa yang sudah kau lakukan sampai pantas mendapatkan gaun itu? Kau tuh cuma bisa mengepel lantai dan mencuci pakaian.”

Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada kepalan tangan.

Untuk sesaat, aku hanya menatap suamiku yang masih tampak sama persis seperti hari kami menikah. Rahang yang tajam, sorot mata dingin, dan selalu terkendali. Namun, sorot mata itu tidak lagi menyimpan cinta.

Aku adalah siswa terbaik di kelas sebelum menikah dengan Arya. Seorang mahasiswi dengan masa depan yang menjanjikan di bidang kedokteran. Profesorku bahkan telah mengatur agar aku bisa belajar di bawah bimbingan salah satu ahli bedah paling terkenal di negara ini, dengan syarat aku bersedia pindah ke Eropa.

Tapi Arya melamarku.

Dia memohon agar aku tidak pergi, dan mengatakan bahwa dia tidak bisa membayangkan hidupnya akan seperti apa jika tanpaku. Bahwa dia ingin kami membangun masa depan bersama. Bahwa yang dibutuhkan hanyalah satu pengorbanan kecil, demi keluarga kami.

Saat itu, aku terlalu naif dan memercayainya. Aku tetap tinggal dan melepaskan semua yang telah kuperjuangkan.

“Kau akan menjadi istri seorang bos mafia,” janjinya. “Satu-satunya.”

Jadi, ketika dia memintaku untuk melayani di rumah saja. “Hanya sementara,” katanya.

Aku kembali menyetujuinya.

Aku tinggal di rumah, menyiapkan segala kebutuhannya, menjaga rumah tetap bersih, memasak dan memberinya seorang putra. Seorang putra yang cerdas dan menawan, tipe anak laki-laki yang seharusnya dibanggakan oleh setiap ayah.

Tetapi, apakah aku diperkenalkan sebagai istrinya? Tidak pernah.

Tidak pernah sekali pun dia mengajakku ke pesta-pesta itu. Kami bahkan tidak pernah keluar bersama di depan umum.

Ketika aku bertanya pada Arya, dia selalu menyuruhku menunggu ... saat yang tepat. Menunggu sampai dia mencapai posisi yang lebih tinggi. Menunggu sampai dunia bisa melihatku seperti yang dia inginkan.

Jadi sekali lagi, aku memercayainya dan terus menunggu.

Namun, di sinilah aku sekarang. Sepuluh tahun kemudian, aku sudah tak lagi berharga, hanya menjadi seorang pembantu di rumahku sendiri. Bahkan, aku dianggap tidak layak mendapatkan hadiah di hari jadi pernikahan kami.

Sejak kapan pria yang mengatakan akan mencintaiku selamanya itu berhenti mencintaiku?

“Arya,” kataku pelan, berusaha agar suaraku tidak bergetar. “Malam ini ulang tahun pernikahan kita yang kesepuluh ....”

Dia bahkan tidak menatapku ketika menjawab, “Karena itu, aku berharap kau sudah lebih dewasa sekarang. Bukannya aku sudah pernah bilang, menikah denganku berarti mendukung semua yang kulakukan? Aku sudah cukup stres di luar sana, dan nggak butuh stres lain di rumahku juga.”

Dia akhirnya menoleh, tatapannya tajam. “Seandainya saja kau bisa lebih seperti Vina, membantuku, atau setidaknya membuatku terlihat baik di depan para bos lainnya. Bukannya jadi seperti beban yang kikuk, membuat segalanya lebih sulit.”

Aku berdiri tegak. Tanganku gemetar, tapi aku tidak mundur.

“Aku sudah membantu, Arya. Kau bilang jangan pekerjakan pembantu. Kau bilang terlalu berbahaya membiarkan orang luar mendekati bisnismu. Jadi, aku yang urus semuanya di rumah. Aku mencuci ....”

Rahang Arya menegang. Kekesalannya memuncak, panas dan tajam.

“Tapi, maksudku bukan menjadi gemuk dan berpakaian seperti nenek-nenek!” bentaknya. “Lihat dirimu. Apa kau masih bisa mengenali dirimu sendiri di cermin? Apa kau benar-benar berpikir aku bisa mengajakmu keluar dan memperkenalkanmu sebagai istriku?”

Dia tertawa getir, matanya menatapku seolah aku sesuatu yang menjijikan.

“Mereka pasti akan mengejek kita berdua,” katanya dingin. “Aku nggak akan membiarkanmu mempermalukan nama Keluarga Sudiro.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 11

    Sudut Pandang Karina.Setengah tahun telah berlalu seperti hembusan lembut angin.Lidia dan aku menjadi pemimpin senior. Aura dan Andri berhasil menyelesaikan program mereka dan kembali ke negara asal mereka. Jonan juga sudah menyelesaikan programnya.Pada hari kepergiannya, dia menemukanku di bawah pohon ara tua di belakang kompleks rumah sakit. Dia tampak gugup untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.“Karina,” katanya lembut. “Aku menyukaimu. Tapi kau nggak perlu memberiku jawaban sekarang. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku sabar, tapi juga keras kepala. Begitu aku jatuh hati pada seseorang, aku nggak akan mudah menyerah. Jadi, gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan … aku akan tetap menunggumu.”Aku tidak memberinya jawaban. Namun, aku juga tidak menolaknya.Bukan karena aku tidak tahu bagaimana perasaanku sendiri, tetapi justru karena aku tahu.Jonan tidak seperti pria mana pun yang pernah kukenal. Dia penuh hormat, berkuasa, namun tetap rendah hati. Buatku, dia teguh ibarat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 10

    Sudut Pandang Karina.Aku menegakkan tubuh, nada suaraku tegas. “Ini tempat kerjaku. Aku harap kalian berdua cukup menghormatiku dan pergi dari sini.”“Papa!” Kiano merengek.Arya melambaikan tangannya dengan tidak sabar. “Pergi bermain dulu di luar sebentar. Papa mau bicara dengan Mama dulu, oke? Papa akan membujuk Mamamu untuk pulang bersama kita.”Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, seolah hidupku masih menjadi miliknya sehingga bisa dinegosiasikan.Kiano bergumam dan berlari keluar.Arya berbalik menatapku, keraguan terlintas di wajahnya. “Karina, aku ....”“Arya,” kataku dengan tenang, memotong perkataannya. “Aku sudah sangat jelas waktu itu. Aku tinggal di sini sekarang, aku nggak mau kau tiba-tiba muncul dan mengganggu hidupku.”Dia mendengus, rasa frustrasi terpancar dari sorot matanya. “Kau nggak bisa menyebut ini hidup. Lihat tempat ini, ini lebih mirip seperti tempat sampah. Aku memberimu dua rumah setelah perceraian kita. Kau bisa hidup nyaman di salah satunya. Bukann

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 9

    Sudut Pandang Karina.Jonan melirikku sekali. Aku tidak berbicara.Dia kembali menoleh ke depan tanpa ekspresi. “Aku nggak akan mengulanginya lagi,” katanya. “Pergi sekarang, atau aku akan menyuruh anak buahku mengantarmu keluar secara pribadi.”“Tapi ....”Jonan mendesak lebih lanjut. “Kurasa kau nggak mau ayahku sampai tahu perilaku seperti apa yang kau tunjukkan malam ini. Terutama ketika kau masih harus bernegosiasi dengan dia.”Setelah hening sejenak, Arya akhirnya menarik pergelangan tangan Vina dan menghilang ke dalam kerumunan. Mereka meninggalkan pesta tanpa menoleh lagi.Musik kembali dimainkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.Lidia mencondongkan tubuh dan berbisik, “Aku akan menunggumu di sana.” Lalu, menyelinap pergi.Dan, kemudian hanya tinggal aku ... dan Jonan.Aku benci mengungkit-ungkit masa lalu. Terutama di sini, di depan seseorang yang bahkan tidak kukenal.“Maaf soal tadi,” kataku pelan. “Mantan suamiku memang agak ....”Aku tergagap, tidak yakin bagaimana mengga

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 8

    Sudut Pandang Karina.Beberapa hari kemudian, tepat saat aku sedang melihat laporan pasien, Lidia mendekat, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia. “Kau sudah dengar? Pria yang kau selamatkan itu? Dia itu putranya Haryo Winata.”Aku berkedip. “Haryo Winata?” Nama itu tidak kukenal.Lidia tersentak. “Haryo Winata yang itu. Kepala faksi tentara bayaran yang ditempatkan di sini.”Tetap saja, aku memberinya tatapan kosong.Dia memutar bola matanya, sorot matanya berbinar-binar penuh gosip. “Dia mendanai rumah sakit tempat kita bekerja dan membangun setengah dari jalan dan sekolah di wilayah ini. Kau tahu kan bagaimana penduduk lokal membenci tentara bayaran? Tapi mereka nggak pernah membenci Haryo Winata. Penduduk lokal bahkan memujinya. Dia itu lebih seperti bangsawan di Doklas. Aku nggak percaya kalau kau belum pernah mendengar namanya!”Aku mengulangi nama itu perlahan, lalu menggeleng. “Nggak, aku benar-benar belum pernah mendengar nama itu.”Lidia menyenggol bahuku, menggoda, “Aku

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 7

    Sudut Pandang Karina.Ketika aku mendarat di Doklas, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lewat sedikit.Lidia, salah satu koordinator lokal, menjemputku di bandara. Dia bisa berbahasa Andes dengan fasih, senyumnya tampak tulus.“Kau pasti Karina,” katanya sambil mengulurkan tangan. “Kau datang lebih awal.”Aku menjabat tangannya. “Iya, aku berangkat lebih dulu dari jadwal.”Dia penuh energi, kami mengobrol santai saat berjalan menuju tempat parkir. Dia berbicara tentang program di sana, kompleks tempat tinggal, para dokter, bahkan penampakan satwa liar sesekali. Antusiasmenya membuat segalanya di sana tampak jauh lebih mudah daripada yang pernah kubayangkan.“Aku sangat menikmati bekerja dengan tim ini,” katanya. “Semuanya orang baik, jadi jangan gugup.”Tetapi, kenyataannya aku memang sedikit gugup.“Aku sudah lama nggak bekerja di lingkungan formal.” Aku mengakui. “Aku hanya berharap semoga nggak menghambat siapa pun.”Lidia memberiku pelukan singkat yang menenangkan. “Jangan

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 6

    Sudut Pandang Karina.Aku bahkan belum membuka pintu ketika mendengar suara tawa yang menggema dari balik pintu.“Apa Tante akan menjadi mama baruku?” Suara Kiano terdengar ceria dan antusias.Tanganku terhenti di gagang pintu.“Kau bisa memanggilku Mama kalau mau,” Vina tertawa. “Meskipun aku ragu teman-temanmu akan memercayainya karena aku terlihat terlalu muda.”“Aku nggak peduli. Aku ingin Tante menjadi Mamaku. Mama, Mama, Mama!”Kiano belum pernah memanggilku seperti itu, dan sekarang dia memanggil orang lain seperti itu.Aku menarik napas perlahan dan mendorong pintu hingga terbuka.Ketiganya sedang duduk di sofa. Vina mendongak sambil tersenyum, rapi dan sopan, tetapi senyum itu tidak sampai terpancar di matanya. Arya nyaris tidak menoleh ke arahku, seolah aku telah mengganggu sesuatu yang lebih penting. Kiano tampak kecewa, seolah aku telah merusak momennya.“Aku langsung pulang seperti yang kau minta,” kataku sambil masuk.Aku pun duduk di seberang mereka.Arya mengulurkan dok

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 5

    Sudut Pandang Karina.Aku sampai di rumah dan langsung masuk ke kamar mandi, berharap air bisa membersihkan semua perasaan yang tidak ingin kurasakan.Aku baru saja keluar ketika mendengar suara langkah kaki di lorong.“Apa yang kau pikirkan?” Suara Arya menggema di ruangan bahkan sebelum aku sempat

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 4

    Sudut Pandang Karina.Aku mulai mengemas pakaian yang rencananya akan kubawa ke Afrika.Tidak banyak, hanya cukup untuk mengisi satu koper kecil.Dan meskipun sudah tertutup rapat di dekat pintu, lemari pakaianku tampak tak tersentuh. Gaun-gaun yang pernah dibelikan Arya untukku masih tergantung di

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 3

    Sudut Pandang Karina.“Karina! Mana sarapannya?” Suara Arya melengking seperti lecutan cambuk.Aku mengerjap bangun. Masih dalam keadaan linglung, aku melihat dia berdiri di ambang pintu dengan rasa jengkel yang sudah terlihat di wajahnya.“Jadi ini caramu bekerja keras di rumah? Kau bahkan nggak bi

  • Kebangkitan Dokter Karina di Tanah Afrika   Bab 2

    Sudut Pandang Karina.“Iya, aku memang bilang untuk menunda karirmu demi mengurus rumah dan keluarga. Tapi maksudku bukan seperti ini. Apa kau bisa bayangkan apa yang akan dikatakan teman-temanku sesama bos mafia kalau aku membawamu ke pesta sekarang? ‘Di mana kau menemukannya, Arya? Di penampungan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status